Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 219 Alan berusaha bebas.


__ADS_3

Di dalam gubuk tua itu, Alan mulai memanggil nama Dodi.


“Dodi.”


Dodi yang ketakutan kini mulai menjawab dengan nada gemetar,” Om. Om Alan ada di mana?”


“Om ada di sebelah Tante Dina! Kamu bisa lemparkan pisau pada om.”


“Leparkan bagaimana om, ini gelap sekali.”


Pak Tejo kini meraba-raba ke setiap gudang, hingga.


Ahkkk .....


Riri berteriak sekeras mungkin, membuat Alan dan yang lainnya kaget.


“Kenapa Ri?” tanya Pak Tejo.


“Ah, bapak pegang anu Riri!” jawab Riri menahan rasa geli. Karna tangan Pak Tejo yang terus meraba ke sana ke sini.


“Ya ampun, maaf Ri, tak kira tanah lembek,” ucap Pak Tejo dalam kegelapan. Tanpa sadar area sensitif Pak Tejo sedikit tegang.


Ia mencoba menahan, sekuat tenang. Hingga Alan berbisik,” pak. Ingat umur.”


Pak Tejo kini mengelap napas panjangnya, ia beristigfar beberapa kali. Agar nafsunya tak naik ke otak, jika itu terjadi mungkin lelaki tua itu akan menjadi sangar.


Dodi mulai menuruti ucapan Alan, ia melemparkan secara perlahan ke bawah lantai. Membuat Alan kini membalikkan badan, hingga tawa Dini yang berada di samping Alan terdengar nyaring.


“Dini, kenapa kamu tertawa.”


“Ah, geli Alan.”


“Apanya yang geli.”


“Kamu memegang telapak kakiku.”


“Maaf Dina.”


Pak Tejo yang mulai usil dengan ucapannya, kini berbisik pada telinga Alan yang tak jauh dari sampingnya.


“Yang di raba atasnya bukan telapak kakinya.”


“Hus, Pak Tejo ini.”


Gubuk tua itu benar-benar gelap gulita, tak di beri penerang sedikit pun. Membuat mereka enggan bergerak karna takut jika salah menyentuh.

__ADS_1


Saat itu, Alan memegang benda keras yang ia kira itu adalah pisau.


“Alan, burung bapak jangan kau cabut.” Teriak Pak Tejo, yang awalnya berada di samping kiri Alan, kini menggeserkan badan ke arah depan Alan.


Alan benar-benar terkejut dengan teriakan Pak Tejo, sedangkan yang lainnya saling tertawa satu sama lain. Tidak ada rasa takut pada diri mereka masing-masing, karna mungkin alam sudah bersahabat dengan mereka semenjak kecelakaan di dalam pesawat.


“Makanya pak, punya burung jangan di biar in tegang. Bahaya loh,” sindir Alan.


“Bapak kan masih normal,” balas Pak Tejo dengan sedikit berbisik.


Kini Alan mencoba meraba ke arah yang lain, hingga saat nya tangannya sedikit tergores.


Akhirnya pisau itu dapat Alan ambil, dengan sangat hati-hati Alan mulai memotong tali yang mengikat pada tangannya. Saat itulah ia terlepas dari ikatan yang mengikat tangannya begitu kuat, ia mulai meraba ke arah kaki untuk melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua kakinya.


Hingga akhirnya, kakinya terlepas bebas.


Sebelum membantu semua orang yang berada di sana, Alan mencoba mencari batu atau pun bensin yang di tinggalkan para penjahat yang berpura-pura menjadi penyelamat.


Alan hampir putus asa, karna suasana yang gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Hingga ia putuskan untuk mencari pintu, siapa tahu setelah membuka pintu, ada penerang dari langit. Agar Alan bisa menemukan batu atau pun benda yang bisa membuat api.


Dengan meraba-raba, ke arah gubuk tua. Kini Alan mulai menemukan pintu yang ternyata pintu itu begitu susah di buka.


Dengan sekuat tenaga Alan mendobrak pintu gubuk tua itu, walau gubuk tua itu di kunci. Tapi ternyata dengan sekali dobrak pintu itu terbuka.


Karna memang sudah terlihat rapuh dan banyak rayap yang memakan pintu gubuk itu.


Tanpa berpikir panjang, saat pintu terbuka. Kini ada cahaya terang dari bintang dan juga bulan. Membuat Alan tak kerepotan mencari batu yang bisa menghasilkan api jika di gesek.


Pada saat itulah Alan menemukan batu yang bisa menghasilkan api, ia dengan sigap mengesek batu itu beberapa kali. Tanpa putus asa, hingga akhirnya. Percikan api sudah terlihat.


“Akhirnya.”


Alan tersenyum senang, ia bisa menyalahkan api untuk penerangan. Pada saat itulah Alan masuk ke dalam gubuk, untuk membuka tali yang mengikat mereka.


Betapa terkejutnya Alan saat masuk lagi ke dalam gubuk tua itu.


Ada beberapa ekor ular yang sudah berada di depan Dina.


Penerangan itu membuat ular itu langsung melirik ke arah Alan, dengan tenangnya Alan berusaha menyingkirkan ular itu.


Pak Tejo yang melihat keberanian Alan hanya bisa berucap,” hati-hati Al. Itu ular berbisa.”


Alan dengan gesitnya, kini bisa menyingkirkan ular itu dengan mengobarkan api pada ular. Hingga ular menyingkir dan menjauh.


Pada saat itulah, Alan mulai membuka ikatan tali yang mengikat pada Pak Tejo dan cucunya terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah itu Dodi dan Riri, yang terakhir Dina.


Alan menyuruh semua ke luar, setelah ikatan tali terlepas. Tapi dengan Dina, ia malah menatap lekat ke arah Alan, wajah mereka saling bertatapan. Hingga di mana Dina tiba-tiba mencium bibir Alan dengan lembut.


Ciuman yang baru Alan rasakan, setelah lama berpisah dengan Delia. Hasrat kelaikannya kini ke luar, tapi Alan coba tahan, sebisa mungkin dirinya harus bisa tahan.


Setelah Dina puas mencium Alan, pada saat itu dia ke luar menyusul yang lain. Alan masih terpaku pada ciuman itu, rasanya ingin marah tapi ia tahan. Takut jika nanti melukai hati Dina.


Karna bagaimana pun Dina juga seorang wanita.


Pak Tejo yang sudah memegang kayu tanpa api, kini memanggil Alan dengan berteriak.


“Alan, kamu kenapa? Malah bengong.”


Saat itulah lamunan Alan membuyar, saat Pak Tejo memanggilnya dengan berteriak.


“Iya pak.”


Alan mulai memberikan api pada kayu pak Tejo, mereka bergegas mencari jalan. Untuk ke luar dari hutan itu, saat Alan mengarahkan kayu berapi ke atas tanah, Alan melihat bekas mobil terlihat.


Membuat Alan berucap pada Pak Tejo,” pak lihat.”


Pak Tejo langsung menghampiri Alan dan melihat tanah ada bekas mobil.


“Ayo sebaiknya, kita ikuti bekas mobil ini.”


“Ya.”


Di setiap perjalanan, Dina mencoba berjalan di samping Alan, ia seakan tak mau jauh dengan lelaki yang selalu menyelamatkannya saat tengah kesusahan.


Namun berbeda dengan Alan, ia mencoba bersikap acuh dan cuek. Agar Dina tidak berharap padanya.


Saat dalam perjalanan Dina tiba-tiba terpeleset, membuat kakinya membengkak tiba-tiba. Mau tidak mau Alan harus membantunya lagi dengan mengendongnya.


Sedangkan Dina tersenyum senang, dirinya seakan sengaja melakukan semua itu. Riri yang melihat pemandangan itu, kini berdecap kesal. Seakan tak suka jika Dina terlalu dekat dengan Alan.


Kedua wanita itu seakan menyimpan perasaan pada Alan, lelaki yang belum mereka tahu, jika Alan sudah beristri.


Jika Alan berkata jujur, mereka pun pasti tidak akan percaya. Karna wajah Alan yang terlihat muda tak menandakan dia seakan mempunyai istri.


Wanita mana yang tidak akan terpana dengan wajah tampan Alan.


Saat di dalam perjalanan, Alan mulai menasihati Dina.


“Kalau jalan itu harus hati-hati, jadinya gini kan. Kalau aku tak kasihan sama kamu. Mungkin aku sudah tinggal kan kamu di hutan ini.”

__ADS_1


Dina bukannya kesal ia malah tersenyum dengan kata-kata Alan, seakan bukan sebuah peringatan melainkan sebuah gurauan.


Riri yang mengikuti mereka dari belakang kini berucap dalam hati,” dasar si Dina kecentilan.”


__ADS_2