
Setelah mimpi yang sangat menyeramkan itu, Ami kini mulai tenang, sosok itu hilang seketika.
Sosok seseorang yang Ami kenal waktu dulu, membuat Ami sedikit curiga.
Kedua mata Ami mulai menatap tajam ke arah Rudi, ia mulai bertanya dengan nada tinggi," Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan anakku Dodi?"
"Kamu tenang dulu ya, sayang. Dodi tidak kenapa-napa kok, dia ada di rumah baik-baik saja!"
Jawaban rudi tak membuat Ami percaya, ia terus bertanya dengan nada yang tak biasa. Sedikit membentak," Jawab dengan jujur pah, mamah tahu Papah pasti sedang berbohong saat ini, keadaan Dodi sekarang tidak baikkan pah?"
Rudi menundukkan pandangan ia tak kuasa mengatakan apa yang sudah terjadi dengan anaknya, tapi tidak dengan Bu Sumyati. Wanita tua itu memegang pundak sang anak, membuat Rudi menatap kearah sang ibunda. Bu Sumyati langsung berucap," jujurlah, nak?"
Menghembuskan napas yang terasa sangat berat, pada saat itulah Rudi dengan terpaksa mengatakan kejujuran Bagaimana keadaan Dodi yang sekarang.
"Baik, papah akan berkata jujur padamu mah. Tapi papah berharap kamu akan menerima semua yang papah ucapkan."
"Maksud papah?"
Rudi mulai memegang kedua tangan Ami, Seraya menjawab dengan nada lembut," papah hanya ingin kamu tetap tenang saat papah bercerita tentang ke adaan Dodi."
"Baik, akan mamah usahakan."
Rudi mulai menceritakan semua dari awal, dari mana Ami Hilang Ingatan dan tak mengingat Dodi sama sekali. saat itulah Rudi menceritakan tentang Delia dan juga Alan yang sudah membawa Dodi pergi ke ke luar negri.
Ami yang mendengar cerita dari sang suami, seketika meneteskan air mata. Tak percaya dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya yang sudah membuat Dodi pergi jauh.
Belum cerita selesai, Ami langsung bertanya pada sang suami.
"Jadi apa Dodi akan kembali menemui mamah lagi pah?"
Inilah pertanyaan yang sangat berat, di jawab Rudi. Rudi tak kuasa menceritakan tentang Dodi dan Alan yang hilang dalam kecalakaan pesawat.
Hening, semua tampak diam. Tak ada ucapan yang terlontar dari mulut Rudi atau pun Bu Sumyati.
"Kenapa kalian diam, ayo jawab?"
Ami terus bertanya dengan nada sedikit meninggi, sedangkan orang-orang yang berada di sana. Terdiam keluh mulut mereka seakan terkunci rapat- rapat.
Rudi yang tak tahan dengan Ami, yang terus bertanya kini mengatakan kejujuran yang sebenarnya.
"Sebenarnya, Dodi dan Alan mengalami kecelakaan pesawat menuju pulang untuk menemui kamu di rumah sakit."
"Itu tidak mungkin pah. Kamu bohongkan?"
Air mata Ami tak henti keluar dari kedua matanya, membuat Rudi hanya bisa terdiam dan menundukan pandanga.
Ami langsung memegang kerah baju Rudi, mencekram dengan erat.
"Ami, ini semua kenyataan. Kamu harus terima."
Tangan yang mencekram erat kerah baju itu, kini Ami lepaskan sektika. Berat memang terasa pada hati Ami, tapi di sisi lain ia harus menerima dengan apa yang di katakan sang suami.
__ADS_1
Rudi mengusap pelan air mata yang mengalir pada pipi Ami, menenangkan semua kesedihan yang di rasakan sang istri.
"Kamu tenang, percaya Dodi masih hidup."
" Apa kamu menjamin semua perkataan kamu, Pah?"
Pertanyaan Ami membuat Rudi langsung memeluk tubuh sang istri, berucap penuh dengan isak tangis," kamu harus yakin. Mah."
"Mimpi itu?"
Rudi mulai melepaskan pelukan sang istri pada saat itu, iya mulai bertanya tentang mimpi Ami." Memang kamu bermimpi apa, mah?"
Ami sedikit bingung, ia harus bercerita mulai dari mana. Karna dari mimpi itu sangatlah menyeramkan. Sosok itu pun begitu membuat Ami ketakutan.
"Ayo cerita, kamu mimpi apa?"
Deg ....
Jantung Ami serasa berdetak tak karuan, rasa takut masih menyelimuti hati dan perasaan.
"Jangan takut ada aku di sini?"
Saat itulah mulutnya mulai berucap secara perlahan, ia mengatakan tentang sosok yang masuk ke dalam mimpinya. Sosok itu membawa Dodi.
"Sosok itu siapa maksud kamu, mah?"
"Sosok itu seakan tak asing bagiku, pah!"
"Kamu kenal dengan sosok itu."
Ami memegang kepalanya, memijit secara perlahan. Terasa menyakitkan. Membuat ia tak bisa mengigat jelas sosok wanita itu.
"Ahk, kepalaku sakit pah."
"Kamu istirahat dulu. Biar besok kamu cerita lagi."
"Aku baru ingat wanita itu, dia bernama Sarah?"
"Sarah?"
"Ya, wanita yang pernah datang ke rumah bersama Sisi!"
"Itu sudah lama sekali, Ami."
"Tapi, entah kenapa wanita itu seakan ingin membawa Dodi pergi."
"Sudah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti cerita lagi, jangan di pikirkan. Itu hanya sebuah mimpi."
Ami mulai menurut, dia membaringkan tubuhnya, untuk terlelap tidur. Berusaha untuk tenang.
Saat itu Rudi mulai memikirkan perkataan Ami yang bermimpi tentang seorang wanita bernama Sarah.
__ADS_1
"Untuk apa Ami bermimpi seperti itu? Apa kemungkinan Dodi masih hidup?"
Pikiran Rudi seakan tak karuan, besok pagi ia berniat menelpon Sisi yang sudah lama. Tak pernah mendengar kabar darinya.
Bu Sumyati yang melihat ke adaan anaknya, langsung mendekat dan bertanya," kenapa?"
Rudi mengusap kasar wajah nya dan berkata pada sang ibu," Bu, apa sebuah mimpi bisa jadi kenyataan?"
Bu Sumyati tertawa pelan, membuat Rudi sedikit heran," Ibu kenapa malah tertawa?"
"Ibu tertawa karna pertanyaan kamu yang sedikit konyol!"
"Rudi bertanya apa adanya, Bu. Karna Ami bermimpi ...,"
Belum pertanyaan Rudi terlontar semuanya, sang ibu langsung berucap," mimpi itu hanya bunga tidur. Dan jarang sekali menjadi kenyataan, tapi ...."
"Tapi .... Apa Bu."
Ucapan Bu Sumyati langsung terpotong begitu saja, karna Rudi yang tak sabar mendengar pernjelasan dari sang ibu tentang mimpi Ami.
"Tapi terkadang mimpi juga bisa jadi kenyataan, atau sebuah pertanda."
"Maksud ibu pertanda apa?"
"Pertanda jika ....."
Rudi semakin penasaran dengan jawaban sang ibu, yang sedikit bertele-tele membuat dirinya penasaran.
"Sudahlah ibu mau menemui bapakmu. Ibu lupa hari ini ada pertemuan dengan saudara Pak Gunandi, jadi kamu baik- baik dulu di sini sama Ami."
Bu Sumyati tak meneruskan ucapannya, ia malah berpamitan pulang pada Rudi.
"Bu, ibu belum meneruskan jawaban ibu tentang pertanyaanku bu."
Bu Sumyati membalikan wajah tersenyum pada anaknya," besok saja nak. Ibu teruskan."
Rudi menghelap napas beratnya, ia sedikit kesal dengan sang ibu yang mengantung jawabannya.
"Ibu ...."
Rudiiiiiiiiii
Rudi yang mendengar suara tengah malam yang memanggil dirinya, membuat buluk kuduknya seketika merinding. Membuat ia berdiri.
"Siapa?"
Rudi mulai mencari sumber suara itu, ke sana ke mari tapi tak nampak terlihat. Sosok orang yang memanggil namanya. Ruangan Rumah sakit terlihat sepi, tak ada suster atau pun dokter yang tengah berjaga.
Kini Rudi mulai melangkah ke ruangan Ami, membuka pintu.
Gubraakkkk
__ADS_1
Tiba- tiba saja.
"Siapa itu?"