
"Ibu dibawa ke rumah Arpan," ucap Arsyla pelan. Hatinya nampak lega.
"Ada untungnya juga si, aku bisa datang ke sana merusak rumah tangga mereka dan juga Arpan dan Sisi. Apalagi sekarang ibu sudah berada di rumah itu, pastinya akan seru jika aku yang membuat mereka menderita di depan mata ku." Tawa Asryla terbahak-bahak membuat semua orang yang berjalan melewati gadis itu bergidik heran.
"Ahk, aku lupa. Di sini kan jalan raya, tertawa sendiri membuat orang berpikir bahwa aku ini wanita gila, dasar kamu Arsyla."
Dia berjalan sendirian menenteng koper besar, mencari kontrakan sementara untuk tempat tinggalnya.
"Untung saja aku bisa menemukan kontrakan kosong di daerah sini, dan lagi aku masih mempunyai simpanan uang untuk membayar sewa kontrakan ini,"
ucap Arsyla membawa koper bajunya.
*********
Sesaat di dalam mobil, Bu Ira masih memikirkan Arsyla anaknya. Dia takut terjadi apa-apa dengan anak gadis satu-satunya, berusaha mengirim pesan pada anaknya itu.
[ Nak, apa kamu baik-baik saja.] pesan pun terkirim Arsyla tidak membalas pesan ibunya.
Bu Ira benar-benar khuatir saat itu juga, ia merasa dirinya salah telah meninggalkan Arsyla sendirian.
"Ibu kenapa melamun?" tanya Dodi.
Bu Ira langsung mengusap bulir bening yang berjatuhan mengenai pipi kirinya dengan punggung tangannya.
"Ibu enggak kenapa-napa ko bu!" jawab Bu Ira. Menundukan pandangan.
Ada rasa bahagia yang kini rasakan oleh Bu Ira, dan ada juga rasa sedih yang di rasakan Bu Ira. Pikiran wanita tua itu masih tertuju pada anaknya. Arsyla.
Setelah sampai di rumah, Ami menuntun Bu Ira ke luar dari mobil, entah kenapa Bu Ira seakan kaget ketika melihat rumah di depan matanya. Seakan tak asing bagi Bu Ira.
"Ayo masuk."
Ami menyuruh Bu Ira untuk cepat masuk ke rumah Arpan saat itu.
Berjalan beriringan, melihat isi rumah terlihat banyak poto Arpan yang terpajang di diding ruangan, Bu Ira begitu syok dan kaget. Ia datang ke rumah Arpan yang tak lain keponakannya sendiri, tidak terlihat tanda-tanda Arpan saat itu.
Delia dan Alan datang," loh ini siapa?" tanya Delia.
"Ini pembantu baru Arpan saat ini!" jawab Ami.
"Maksud kamu pembantu Arpan saat ini?" tanya Delia.
"Nah, kebetulan aku tinggal di rumah Arpan ibu ini bekerja dulu di sini, setelah Arpan pulang aku akan membawa ibu ini ke rumah ku!" jawab Ami saat itu.
"Oh begitu."
Saat itu Bu Ira memperkenalkan diri pada Delia dan Alan, keraguan Bu Ira nampak memuncak. Mana mungkin dirinya sekarang sudah berada di rumah Arpan saat ini.
Ami menyuruh Bu Ira untuk memasuki kamar yang akan dia tempati, menyuruh Dodi untuk mengantarkan Bu Ira ke kamarnya.
__ADS_1
"Ayo bu, Dodi antar."
Tring ... tring ..., satu pesan datang. Bu Ira mengecek pesan itu ternyata dari anaknya.
[ Ibu, tak perlu khuatir aku sekarang sudah mempunyai tempat tinggal.]
Bu Ira mengelus dada rasa tenang kini menyelimuti hati dan pikirannya. Jari jemarinya dengan sigap membalas pesan dari anaknya
[ Ibu, mau pulang dari rumah ini. Kalau kamu sudah menemukan tempat tinggal.]
[ Sebaiknya ibu tinggal saja di sana sementara.]
[ Tapi ibu tidak mau, ini rumah Arpan, Arsyla. Mana mungkin ibu tinggal di sini.]
[ Sudahlah bu, Arpan akan memaklumi ibu ada di sana ko.]
[ Ibu malu Arsyla.]
[ Kenapa ibu harus malu, bukanya ibu selalu membela Arpan di hadapanku.]
Bu Ira berusaha menelpon Arsyla anaknya, namun Arsyla tidak mengangkat panggilan telepon ibunya saat itu.
Angkat nak, kenapa kamu tidak mengangkat telepon ibu. Kamu ini kenapa nak, gumam hati Bu Ira.
Saat itu Ami datang menghampiri Bu Ira di kamarnya.
"Iya, nak."
"Ini selimutnya, ibu sementara tinggal di rumah ini dulu, kalau nanti yang punya rumah ini pulang. Ibu pulang bersama aku ke jakarta."
"Jadi ibu tidak bekerja di sini?"
"Tidak bu, ibu kerja di rumah aku di jakarta. Karna aku yang akan memperkerjakan ibu, bukan yang mempunyai rumah ini."
Bu Ira melamun memikirkan bagaimana nanti dengan Arsyla gadis yang masih terbilang manja.
"Sekarang ibu istirahat dulu di sini ya. Yang punya rumah ini sebentar lagi pulang ko," ucap Ami. Pada Bu Ira.
"Terimakasih nak."
*********
Saat itu Delia menarik tangan Ami seraya berkata," apa kamu tidak mencurigai wanita tua itu?" tanya Delia.
Ami mengelengkan kepala seraya berkata," tidak."
Delia menepuk jidad seakan tak percaya Ami ini terlalu baik dan juga terlalu bodoh. Kebodohannya itu tidak pernah hilang dari dulu, ia terlalu mepercayai orang lain, sampai orang itu selalu memangpaatkan kebaikannya.
"Gimana kalau wanita tua itu orang jahat," ucap Delia. Kedua matanya membulat.
__ADS_1
"Ya elah kamu, kalau mikir itu negatif terusss!" tangan Ami mengibas kedua mata Delia saat itu.
"Ami, aku khuatir sama kamu, harusnya kamu jangan terlalu kasian sama orang lain. Sudah berapa kali orang selalu merugikan kamu, dan ujung-ujungnya kamu di manfaatkan oleh mereka," ucap Delia. Melipatkan kedua tangannya, ada rasa kesal menghantui hatinya, memberi tahu Ami tapi dia tak mendengarkan perkataan Delia.
"Aku merasa enggak dirugikan ko, kamu ajah berpikir begitu," ucap Ami ketus.
"Aduh Ami, apa kamu tidak ingat, Sisi kamu baik sama dia. dan ...." Belum mulut Delia berucap Ami langsung memotong pembicraan sahabatnya itu.
"Dan apa, sekarang kan Sisi udah berubah dan hidup bahagia," ucapan Ami. Membuat Delia tidak bisa berkata lagi.
"Ya, sih."
"Tapi ...."
"Sudah, enggak baik ngomong kaya gitu. Orang baik itu tidak akan di rugikan, malah dia akan mersakan kebahagiaan," ucap Ami. Seakan menasehati Delia.
"Ya sudah terserah kamu aja," ketus Delia.
Delia berlalu pergi begitu saja, ia sedikit kesal dengan temannya yang terlalu baik.
Ami melipatkan kedua tanganya mengeleng-gelengkan kepala, melihat Delia pergi begitu saja.
Setelah sampai di dalam kamar, Alan melihat Delia yang marah-marah tak jelas. Ia bertanya pada istrinya itu, "Kenapa marah-marah?"
"Kesal sama mba mu, yang ngeyel kalau di bilangin," ucap Delia memoyongkan bibir atas bawahnya.
Alan langsung memeluk istrinya itu dari belakang dan berucap," emang kenapa dengan Mba Ami."
"Kata aku jangan terlalu baik pada orang yang baru dia kenal, bagaimana kalau nanti Ami yang tersakiti lagi dan dirugikan."
"Oh karna itu."
"Cuman gitu doang, belain aku ke. Apa ke."
"Emang sifat Mba Ami kaya gitu, harus gimana lagi, biarin aja."
"Ya, tapi aku peduli."
"Biarkan saja, toh Mba Ami tahu yang terbaik untuk dirinya."
"Tapi kan ...."
Jari tangan Alan menempel pada bibir istrinya seraya berkata," dari pada ngurusin hidup orang, mending kita bikin dede bayi."
Delia terseyum, pipinya memerah mendengar perkataan suaminya yang genit itu.
"Gimana."
Menganggukan kepala, terseyum lebar. Alan memulai saat itu juga.
__ADS_1