
Kedua mata Rudi tak henti mengeluarkan air mata, hatinya benar-benar rapuh. Belahan jiwa terluka parah karna keteledorannya.
"Mas Rudi."
"Ami, bertahanlah. Aku mohon."
Nafas Ami terengah-engah, dadanya naik turun. Seperti orang yang tengah bertaruh nyawa, tangan kekar Rudi memagang erat tangan Ami.
Setelah sampai kini tangan itu terpisah. Rudi cemas, hatinya gundah.
" Ami bertahanlah kumohon."
Langkah kaki Rudi terus berjalan ke sana ke mari, ia tak sabar menunggu dokter ke luar.
"Ami kumohon bertahanlah."
Hanya ucapan itu yang terus terlontar dari mulut Rudi, ia tak bisa berbuat banyak hanya bisa berdoa. Dan melihat istrinya bertaruh nyawa.
Di dalam ruangan, Ami di tangani sang dokter dan beberapa suster. Mereka sempat sedih melihat kepala Ami yang terus di oprasi hingga beberapa kali. Bekas jaitan begitu masih terlihat baru, membuat salah satu dokter menangis dan berkata," keajaiban sang ilahi. Wanita seperti dia bisa bertahan."
Dokter seakan pasrah dengan apa yang sudah mereka lakukan, berusaha sekuat tenaga. Keadaan Ami begitu lemah. Sampai dokter tak berani mengoprasi Ami dalam ke adaan tubuhnya yang tak setabil.
"Dok, apa yang harus kita lakukan?"
Pertanyaan salah satu suster membuat sang dokter, berpikir keras agar bisa menyelamatkan nyawa pasien.
"Kita harus berusaha, selalu ada keajaiban!"
Jawaban sang dokter membuat para suster yakin. Jika pasien bisa sembuh walau resikonya sangat besar.
Oprasi belum dilaksanakan, sang dokter hanya memberi obat pereda nyeri dan menghentikan pendarahan.
Kondisi pasien benar-benar tak setabil, sampai dokter menyuntikan obat bius pun taj berani.
Bibir tipis Ami mulai berucap perlahan menyebut nama Dodi.
"Dodi."
Ami mamanggil nama Dodi apakah ingata Ami kembali pulih? Entahlah, karna kedua mata Ami masih menutup begitu rapat.
"Dok, pasien ini terus memanggil nama Dodi. Apa kita pertemukan saja dengan nama Dodi itu."
"Boleh juga, coba kamu ke luar kasih tahu suaminya."
Salah satu suster langsung datang menghampiri Rudi, mengatakan ucapan pasien yang terus memanggil sebuah nama.
"Suster."
Rudi langsung menghampiri sang suster.
"Maaf pak, apa bapak keluarganya?" tanya sang suster pada Rudi.
Kedua mata Rudi yang sudah terlihat memerah, karna air mata yang terus ke luar membasahi pipi.
"Sebanrnya pasien harus di oprasi segera. Hanya saja kondisi pasien tak setabil, setiap kali kamu ingin menyuntikan obat bius. Pasien selalu menyebut nama Dodi. Apa bapak orang yang bernama Dodi itu?"
Tanya sang suster, kedua mata Rudi tampak sayu ia menjawab," Dodi itu adalah anak saya. Suster."
__ADS_1
"Apa anak bapak ada?" tanya sang suster. Menatap ke arah belakang Rudi.
"Anak saya tidak ada di sini, ia berada di luar negri!" jawab Rudi. Hatinya bergetar, ia mengira akan Ami yang mengigat tentang Dodi.
"Kalau tidak ada, boleh bapak menelponnya," ucap sang suster kepada Rudi.
"Bisa sus, tapi saya tak yakin anak saya akan menganggkat panggilan telepon dari saya," balas Rudi. Dengan keraguan hatinya.
"Kenapa bapak berpikir seperti itu, kalau belum mencoba," ucap Sang suster.
Rudi mulai mengambil ponsel pada saku celananya, menelpon Dodi. Saat itulah ia menekan nomor yang terhubung pada Alan.
Akhirnya suara ponsel terdengar terhubung, Rudi amat senang.
"Hallo, Rud. Ada apa?" tanya Alan dalam sambungan telepon.
"Aku ingin berbicara dengan anakku, apa dia bersamamu!" jawab Rudi.
"Aku lagi di perjalanan menuju pulang," ucap Alan.
"Jika suka sampai tolong kabarkan aku lagi," balas Rudi.
"Baiklah."
"Bagaimana Pak Rudi?" tanya sang suster.
"Sebentar lagi, sus!" jawab Rudi.
"Baiklah kalau begitu, saya kasih waktu 10 menit," ucap sang suster.
Rudi hanya menganggukan kepala mengerti apa yang di katakan sang suster.
******
"Kenapa kamu terburu-buru begitu?" tanya Diana yang menunggu ke datangan Alan, di abang pintu.
"Mana Dodi?" bukan jawaban yang terlontar dari mulut Alan. Sebuah pertanyaan bahwa dirinya tengah mencari keberadaan Dodi.
"Dodi sedang tertidur di kamarnya!" jawab Delian. Menatap wajah suaminya yang seakan cemas.
"Apa kamu bisa bangunkan Dodi sebentar," ucap Alan. Wajahnya begitu panik, karna ia terus di kirim pesan oleh Rudi untuk terhubung dalam vidio call bersama Dodi.
"Kasian dia baru tidur, semalaman Dodi terus menangis memikirkan ibunya," balas Delia. Ia begitu santai menjawab pertanyaan suaminya.
Padalah Alan begitu panik.
"Bagunkan Dodi ini darurat, Ami butuh pertolongan Dodi sekarang juga," ucap Alan tanpa basa basi. Menyuruh sanh istri, namun Delia begitu tak peduli dengan apa yang diucapkan suaminya.
"Alah palingan hanya akal-akal Rudi saja, mana mungkin Ami butuh Dodi. Kamu tahu sendirikan Ami begitu cuek pada Dodi," balas Delia. Melipatkan kedua tangannya. Dia seakan tak ingin jika Dodi, menelpon ibunya atau mengobrol.
"Delia, kamu jangan egois bagaiman pun Rudi dan Ami adalah orang tua Dodi. Kamu tidak ada hak untuk melarang Dodi," hardik Alan. Mengigatkan sang istri, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah hal yang baik.
"Memang aku tidak ada hak, tapi aku kasian dengan anak kecil seperti Dodi yang sudah merasakan rasa sakit hati," balas Delia. Ia menuruti kata hatinya yang menurut dirinya ini sudah benar.
"Aku harus menemui Dodi, sekarang," ucap
Alan mulai berlari menuju kamar Dodi, tapi tertahan oleh tangan Delia.
__ADS_1
"Jangan bangunkan Dodi, biarkan saja Ami merasakan. Sakit hati yang Dodi rasakan," pekik Delia. Kedua matanya membulat, menatap tajam kepada suaminya.
Jelas ucapan Delia membuat Alan kesal. Kenapa istrinya berubah menjadi pedendam seperti itu.
"Aku akan bangunkan Dodi. Kamu harusnya lebih tahu apa yang terjadi, Ami tidak akan seperti itu pada anaknya. Jika Ami dalam ke adaan sehat dan tak hilang ingatan," hardik Alan. Tapi Delia masih dengan pendiriannya yang tak ingin melihat Dodi mengobrol dengan Ami.
"Tidak ada ibu yang mencampakan anaknya, karna hilang ingatan," ucap Delia. Dirinya seakan berkata benar, hatinya merasakan naluri seorang ibu. Tapi tetap saja Delia seakan tak mengerti posisi Ami yang tengah bertarung nyawa.
"Delia, ini tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan," balas Alan. Alan bingung dengan jalan pikiran Delia yang seperti itu.
Sampai Alan berpikir bahwa Delia seakan ingin memisahkan Dodi dengan ibunya.
"Tapi aku merasakannya mas," ucap Delia. Membentak sanh suami.
"Sudah cukup, buang ke egoisanmu itu," hardik Alan. Berusaha menyadarkan sang istri.
"Aku tidak peduli, aku tidak mau Dodi sakit hati lagi," teriak Delia
"Sudah cukup."
Kini Alan berlari, berniat untuk membangunkan Dodi. Dengan harapan dia bisa mengobrol dengan Ami. Ibunya.
"Dodi bangun, nak."
Dodi masih tidur dengan begitu lelap.
"Dodi."
Delia yang kesal malah, melakukan hal yang tidak pantas di lakukan, ia malah meraih batang kayu dan memukul suaminya.
Brug, satu pukulan mengenai kepala Alan. Hingga lelaki itu pingsan dan tersungkur jatuh.
Dodi terbangun dan Delia menyembunyikan kayu itu di belakang punggungnya.
"Ada apa tante?"
"Tidak apa-apa, sayang kamu tidur lagi aja."
Dodi hanya bisa menurut apa yang di katakan sang tante, pada saat itulah ia kembali tidur lagi.
Alan yang terbaring di bawah kasur Dodi, kini terpaksa Delia tarik dengan pelan dan membawanya ke kamarnya.
Delia mulai mencari keberadaan ponsel Alan, melihat isi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab.
Saat itulan ia mulai mematikan ponsel Alan, agar Rudi tak menelpon lagi.
"Maafkan aku Rudi, aku tidak ingin melihat Dodi terus menangis. Ini yang terbaik untuk Dodi, karna aku sangat menyayanginya."
Kini Delia mulai menyimpan ponsel suaminya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, agar Dodi tidak terluka lagi."
*******
Rudi tampak sok berat, ponsel Alan sudah tak aktip lagi, padahal ia berharap sekali pada Alan agar Rudi bisa mengobrol dengan Dodi.
"Gimana Pak Rudi."
__ADS_1
"Nomor teman saya sudah tidak aktip lagi."
Sang suster mulai terdiam sejenak, ia berpamitan pada Rudi untuk menemui dokter.