Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 247 Sebuah jebakan Rudi untuk Sarah


__ADS_3

Rudi mulai menutup ruangan itu, sedangkan sang suster hanya berdiri dengan wajah polosnya.


Setelah pintu ruangan itu tertutup, pada saat itulah Rudi mulai menarik tangan sang suster. Menghentakkan tubuhnya pada dinding, wajah mereka saling berdekatan. Kedua bola mata Rudi tak henti menatap sang suster, membuat rasa gejolak di dada bergetar tak karuan.


Hawa panas Kian dirasakan sang suster, kedua pipi nya memerah. Tatapan Rudi sungguh menusuk, membuat keringat tiba-tiba berhamburan.


“Kenapa semakin dekat seperti ini.” Gumam hati sang suster.


“Tolong jangan terlalu dekat.”


Kini bibir Rudi mulai mendekat kearah telinga sang suster, ia membisikkan sebuah kata yang membuat suster itu tercengang kaget.


“Diam, jangan bertindak. Seseorang mengikuti kita, tetaplah seperti ini sementara waktu,” bisik Rudi.


Suster itu merasa harga dirinya direndahkan begitu saja, ia mengira Rudi akan melakukan hal-hal yang berada pada pikiran kotornya. Rudi hanya menjadikan dirinya sebuah pancingan untuk orang yang mengikuti dirinya.


Suster itu menundukkan pandangan, ia tak mampu melihat ke tampanan Rudi yang menggairahkan jiwa membuat tubuhnya seakan pasrah jika berdekatan dengannya.


Sarah yang mengikuti Rudi hingga ke ruangan itu, kini Sarah perlahan mengintip pada jendela yang sedikit terbuka.


Melihat pemandangan yang sangat menjijikkan bagi dirinya, di mana Sarah mengira jika perawat dan suster itu tengah melakukan hal yang tak pantas dilakukan di rumah sakit.


“Dasar pegawai mesum, bisa-bisanya mereka melakukan hal tak pantas di ruangan kosong.”


KIni Sarah mulai pergi setelah melihat pemandangan, kedua insan yang dianggap telah melakukan hal yang tak pantas.


Sarah berjalan dengan wajah kesalnya,” buang-buang waktu saja.”


KIni situasi aman, di mana Rudi mulai berjalan mundur. Menjauh dari hadapan sang suster.


“ Hanya begitu saja,” ucap Sang suster. Hawa panas mulai menyelimuti tubuhnya.


Rudi tersenyum kecil mengangkat kedua alisnya,” ya.”


Namun Suster itu seakan tak mau jika gairah hasratnya tak tersalurkan, hatinya benar-benar tak menerima. Dirinya seakan dicampakkan begitu saja.


Maka dari itu sang suster memberanikan diri, memegang kedua kerah baju Rudi. Membuat kedua bibir mereka saling berdekatan.


Namun Rudi yang ingat dengan sang istri, dengan Sigap mendorong bibir sang suster dengan telapak tangannya.


“Maaf bukan muhrim.”


Sang suster yang menahan hasratnya, malah merobek baju belakang Rudi. Iya menarik paksa Rudi,” kamu harus tanggung jawab.”


Rudi yang Sudah lama tak menyalurkan hasratnya, kini berusaha menahan sekuat tenaga. Iya tak mau rumah tangganya hancur begitu saja, maka dari itu Rudi mendorong tubuh Sang suster. Sehingga Suster itu terjatuh ke lantai.

__ADS_1


“Maafkan saya, saya sudah mempunyai istri.”


Ucap Rudi. Mungkin ini memang keterlaluan, tapi ini cara terbaik, agar Suster itu tak membuat Sarah menyadari jika Arpan dan Alan kabur dari rumah sakit.


Sang Suster itu mengepal kedua tangannya, ia memukul lantai.


“Aw, sakit.”


Rudi terus berjalan, mengacuhkan suster yang meringis kesakitan. Sampai di mana suster itu berteriak.


“Tolong ....”


Rudi yang menyadari akan jebakan suster itu kini, menutup mulutnya.


“Jangan berani-beraninya berteriak, atau aku akan patahkan urat lehermu,” ancam Rudi.


Suster itu kembali menutup mulutnya, ia ketakutan akan ancaman Rudi. Maka dari itu dia hanya terdiam dan berusaha berdiri kembali.


“Ingatnya, aku tidak akan melakukan hal seperti ini. Jika kamu tak mengacau dari awal,” tegas Rudi. Ia membenarkan kerah bajunya, memakai masker kembali.


“Awas saja.” Ucap suster itu.


Di dalam perjalanan ke luar rumah sakit, satu pesan dari Alan datang. Di mana ia mengirim pesan.


Rudi dengan tegas membalas.


(Situasi tak aman, sebaiknya kamu jaga Sisi dan yang lainnya di rumah. Aku akan pulang segera mungkin.)


Misi selesai, di mana Rudi tersenyum kecut. Ia berdiri menunggu taksi di pinggir jalan.


@@@@@@


Sedangkan Sarah masih mencari-cari keberadaan Arpan, karna ruangan yang di tunjukkan beberapa suster tak ada yang benar.


Hingga di mana Sarah berpapasan dengan suster yang membuat dirinya jijik. Suster itu berjalan lunglai, seakan apa yang di pikirkan Sarah itu benar.


Melakukan hal tak senonoh di ruangan kosong.


Sarah berpura-pura tak mengintip apa yang sudah di lakukan suster dan perawat tadi. Ia hanya berjalan pelan melewati suster yang mengoceh sendiri.


“Ahk, sial aku di jadikan bahan pancingan, ke*arat . Awas saja kalau aku bertemu dia lagi. AHK, Aku tak menyangka jika lelaki tampan itu sudah beristri.” Gerutu sang suster tanpa ia sadari ocehannya di dengar Sarah.


Sarah kini berpura-pura duduk, tak jauh dari samping kiri suster itu. Ia berpura-pura memainkan ponselnya, agar suster itu tak mencurigai gerak- geriknya yang menguping.


Di tengah ocehan dan omelan sang suster. Salah satu sahabatnya datang, melihat keadaan sang suster itu.

__ADS_1


Suster yang membuat Rudi menjadikannya bahan pancingan ialah suster Alisa.


“Suster Alisa.” Panggil sang sahabat yang tak lain ialah Suster Meli.


“Meli,” ucap Alisa.


“Kamu kenapa di sini, bukanya kamu harus mengecek keadaan pasien Arpan yang baru kemarin di tangani,” balas Meli.


Kini Alisa duduk begitu pun dengan Meli yang ikut duduk bersamanya. Alisa memajukan kedua bibir atas bawahnya, raut wajahnya terlihat gusar. Membuat Meli mengusap pelan punggung Alisa.


“kamu kenapa?” tanya Meli.


“Asal kamu tahu, pasien yang aku tangani itu kabur!” jawab Alisa. Meluapkan kekesalan yang berada pada hatinya.


“Loh, kok bisa. Kenapa? Coba kamu jelaskan?” tanya Meli memegang kedua tangan Alisa.


Pada saat itulah Alisa menceritakan semuanya, ia menangis terisak-isak. Dengan rasa kesal pada hatinya, Meli yang dekat dengan Alisa mencoba menenangkan sahabatnya yang bersedih itu.


Sedangkan Sarah yang tak jauh dari obrolan mereka berdua, tersenyum senang. Ia mempunyai informasi yang lumayan membuat dirinya tak kesal lagi.


Saat itulah Sarah mulai mendekat ke arah suster itu. dan bekata," hai boleh aku duduk di sini," ucap Sarah.


Alisa langsung memperbolehkan wanita itu duduk di samping, ia tak mengenal wanita itu sama sekali. Membuat dirinya bertanya," anda siapa ya?"


Pertanyaan Alisa membuat Sarah tertawa pelan, saat itulah ia mulia menjawab dengan menyodorkan tangan mulusnya pada Alisa.


"Perkenalkan namaku Sarah."


Alisa kini meraih tangan wanita itu, dan memperkenalkan dirinya," aku Alisa suster di rumah sakit ini."


"Ya."


" Ada apa?"


"Aku hanya ingin bertanya padamu, tadi di ruangan kosong kamu bersama siapa?"


Deg ....


Ucapan Sarah membuat Alisa terdiam, saat ia bersama Rudi. Ia mengira tak ada orang lain yang mengintip dirinya di sana.


"Eh ... eh."


Alisa kebingungan menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Sarah.


"Tak usah malu, aku akan menutupi semuanya," bisik Sarah.

__ADS_1


__ADS_2