
"Ada apa,Bapak, memanggil saya?" tanyaku sembari sedikit menundukan kepala.
Pak Hendra langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri diri ini.
Dia memegang bahu kananku dan berkata." Apa kamu sudah tahu tentang penyakit yang di derita istrimu."
"Yah pak," ucapku, mengangkat sedikit kepalaku.
Menatap ke arah wajahnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan pak atau Bos, panggil saja, aku om, kita saudara Rudi," ucap Bos Hendra.
Perkataannya membuat aku tercengang kaget, maksud dari perkataannya apa.
"Baik pak, oh maaf, Om Hendra."
"Aku menyuruh kamu datang ke sini, hanya untuk membahas tentang perusaahan ini, bahwa sebenarnya perusahaan ini milik Ami sepenuhnya, Om hanya menjalankan bisnis orang tua Ami selama ini.
"Jadi, maksud Om." aku masih dibuat binggung dengan perkataannya.
kulihat Om Hendra membalikan badannya, menuju meja kerja dan membuka laci di bawahnya.
Ketika laci yang sudah di buka, dikeluarkannya berkas berwarna biru. Berkas apa itu sebenarnya? Sepertinya penting.
Om Hendra menghampiriku, dan menyodorkan berkas berwarna biru itu kepadaku.
"Baca lah!"
Ucap pria tua yang berada dihadapanku, menyuruh untuk membuka setiap lembar dan membaca setiap rinci kata-kata dalam lembaran berkas itu.
Aku pun membaca dengan seksama, membuat hati ini tak menyangka, orang tua Ami yang meninggal, mewarisi harta yang berlimpah, dan aset perusahaan, jatuh kepada Ami.
Namun, tertuliskan di lembaran ini, Ami boleh memegang Aset perusahan kalau umurnya sudah menginjak 28 taun.
Sekarang istriku tepat bulan depan menginjak umur 28 taun.
Entahlah, hatiku tidak merasakan senang, percuman harta berlimpah, kalau Ami sekarang menderita karna penyakit Tumor Otak stadium akhir.
"Om tidak menyangka, kalau, Ami akan sakit parah dan baru om ketahui sekarang, kalau saja om tau mungkin tidak akan terlambat seperti ini." ucap Om Hendra.
"Mungkin, ini sudah di garis tangani oleh sang Maha Kuasa, Ami harus menerima semua ini, tapi saya yakin om, pasti Ami istriku bisa sembuh." jawabku sembari terseyum penuh harapan.
"Sebenarnya, ada satu rahasia lagi ..."
Tiba-tiba Hp-ku berbunyi, kulihat dalam layar Hp, no baru, siapa yah?
"Angkat saja Rud, takut penting."
Segara ku angkat no baru yang tidak aku kenal sama sekali. Ada rasa gelisa menyelimuti hatiku saat itu.
"Halo, Halo, Mas Rudi, ini Mba Rani." terdengar suara wanita memanggil namaku.
__ADS_1
"Yah, Halo, Mba Rani, teman Ami kah?" Tanyaku.
"Ya Mas, cepet pulang." ucap wanita yang menelpoku dengan nafas tersengah-sengah.
"Ada apa?" Tanyaku sedikit kuatir.
"Ami tak sadarkan diri, dari tadi pagi."
Aku mendengar suara anakku yang menagis, kebetulan sekarang Dodi sudah berajak 1 taun dimana ia sedang belajar berbicara menyebut nama, ma-mah baguu-n, dangan tangisan yang mebuat hati teriris.
Tangganku gemetar hebat, aku segera mematikan telepon dan berlari, tapi Bos Hendra menahanku.
"Ada apa?"
Air mata jatuh tak terbendung lagi, " Maaf om, istriku tak sadarkan diri."
"Ami ..."
"Yah, saya mau pergi menemui istri saya om."
Aku berlari dengan cepat, menghiraukan. setiap orang yang menghalagi jalanku.
Tangisan ini pecah, takut, cemas, itu yang ada dipikiran diriku saat ini.
mudah-mudahan Ami tidak kenapa-napa.
Ku lajukan mobil yang aku kendarai dengan kecepatan tinggi.
Terlihat di depan rumah mobil ambulan yang sudah terparkir, aku segera berlari ke arah mobil ambulan itu.
Semua perawat menggotong tubuh istriku.
Aku segera masuk ke dalam mobil ambulan menemani Ami yang sudah di pakaikan selang infus dan tak sadarkan diri.
Ku pegang tangan kanannya, ciuman dari bibirku mendarat seketika, air mata jatuh bercucuran membasahi tangan sang istri.
"Bertahan sayang, mamah pasti kuat, papah yakin, mamah pernah berjanji kalau mamah bakal nemenin papah sampai tua nanti.
Mamah harus kuat, Dodi butuh mamah, dan juga papah.
"Mah, mamah dengarkan, perkataan papah."
Aku membelai pipi yang jarang selama ini tersentuh oleh tanganku.
Aku lupa bagaimana memanjakan istriku.
Sampai di rumah sakit, istriku langsung mendapatkan penaganan dokter.
Aku melihat dari luar, ruangan, istriku yang terkulai lemah, bertahan hidup, dengan penyakit yang di deritanya.
"Rud, gimana keadaan Ami?" Ucap Om Hendra yang tiba-tiba sudah ada dihadapanku.
__ADS_1
"Memburuk om, Ami tak sadarkan diri dari tadi!" jawabku menyenderkan punggung ke kursi.
"Kamu harus kuat,"
Tiba-tiba dokter menghampiriku.
"Maaf, apa bapak suaminya Ibu Ami." ucap pria berseragam putih menghapiriku.
"Iyah." jawabku menoleh pria itu. Lelaki itu bukanya yang pernah mambawa Ami dalam mobilnya.
"Bisa ikut dengan saya," ucapnya menyuruh aku ikut denganya.
"Baik."
Aku mengikuti langkah dokter itu, dan dokter itu mempersilahkan aku masuk dengan sangat ramah.
Dokter itu mempersilahkan, untuk duduk.
Terlihat indetitas nama dari dokter itu, bernamakan Dokter Alan.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya?" Tanyaku kepada dokter itu.
"Saya sudah menangani Mba Ami sudah lama." jawabnya membuat bola mataku membulat.
"Maksud, dokter, Mba Ami, kenapa dokter menyebut istri saya dengan sebutan mba, apa mungkin."
"Saya adalah sepupu Mba Ami, yang selama ini mengantar jemput untuk kontrol ke rumah sakit."
Berarti selama ini memang istriku tak selingkuh, Lelaki yang bernama Alan adalah keponakanya. Bagaimana hal semacam ini aku tak tau.
"Jadi selama ini, anda sudah lama tau tentang penyakit istri saya, ta-pi kenapa istri saya tidak menceritakan kepada saya secara langsung."
"Mba Ami tidak mau mebebankan anda sebagai suaminya. Jadi dia menutupi semua penyakitnya," ucapan dokter itu sungguh mengiris hatiku, seakan aku berdosa. Selalu memarahi istriku yang tengah sakit itu.
"Berarti selama ini Ami sering menahan rasa sakit dari penyakitnya. sampai sejauh ini, kenapa baru aku menyadarinya."
"Saya sudah berusaha membujuk Mba Ami untuk oprasi, tapi Mba Ami sering menolak, saya mohon bujuk istri anda, agar bisa menjalankan oprasi secepatnya, kalau tidak bisa fatal akibatnya."
Kenapa kamu begitu bodoh Ami, membiarkan penyakitmu meradang dan menjadi separah ini. Gumamku dalam hati.
"Apa anda bisa membujuk istri anda, untuk segera di tindak lanjuti, pembedahan kepala."
"Dengan cara apapun, lakukan yang terbaik untuk istri saya dok."
"Maaf, dok, pasien Ibu Ami." ucap suster yang baru saja membuka pintu ruangan.
"Ada apa dengan Ami ?"
Aku kaget, dengan kedatangan suster. Apa lagi menyebut nama Ami istriku.
Saat itu kami segera berlari menemui Ami, karna suster yang panik, apa lagi aku istrinya yang takut dengan ke adaan Ami yang sekarang.
__ADS_1
Bertahan Ami, aku yakin kamu kuat. Demi aku dan Dodi.
Kita harus selalu bersama, walau banyak rintangan yang ada. Aku yakin semua akan berakhir indah. bersama selamanya.