Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 51 Memanfaat kan Sisi


__ADS_3

Setelah Sisi sadar Luky membawa wanita berwajah bulat itu pergi dari rumah sakit.


Luky membebaskan Sisi dengan begitu mudahnya.


Sisi mari kita pulang, "Ucap Luky sambil mendorong kursi roda yang di naiki Sisi.


Membawa pulang kerumah dimana rumah itu menjadi saksi bisu rumah tangga Luky bersama Aurora, kini tak ada suara anak-anak dan juga kata-kata manja dari seorang istri, dan takkan tercium lagi aroma masakan dari seorang istri yang sedang memasak di dapur.


Tak ada senyum dan tawa sambutan dari anak-anak sepulangnya aku bekerja, hal itu takkan di rasakan lagi oleh Luky.


Sekarang yang Luky rasakan hanyalah kehampaan dan kekosongan menyelimuti setiap waktunya.


Terlihat di setiap sudut ruangan terdapat sampah yang berhamburan dan mengeluarkan bau tidak sedap karena tak Luky bersihkan semenjak Aurora pergi dari rumah, Luky terlihat depresi.


Tidak ada lagi penyemangat bagi Luky, karna Sinta telah pergi untuk meninggalkan dunia ini selamanya.


Luky kira setelah kepergian Aurora dia akan bahagia dengan menjalani hidup baru dengan Sinta.


Namun, semua itu tidak sesuai kenyataan, Sinta lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada bahagia bersama Luky.


Tok...tok...tok, ada seseorang mengetuk pintu rumah Luky, lalu Luky membuka pintu dan melihat seorang lelaki mengantarkan sesuatu.


"Pak Luky?" Tanya lelaki itu.


"Iya, Saya sendiri!" Sahut Luky.


"Ada paket dari Ibu Sinta"


Luky mengambil paket tersebut yang entah apa isinya.


Sebelum Sinta meninggal ternyata sempat menulis sesuatu untuk Luky.


Luky pun membawa paket itu kedalam dan membuka paket tersebut secara perlahan yang ternyata satu lembar surat dari Sinta.


Untuk Luky...


Maafkan aku yang harus pergi dengan cara tak wajar.


Maafkan aku juga telah membawa janin ini ikut bersamaku, rasanya tak sanggup harus menahan derita sendiri.


Maafkan aku Luky ini semua aku lakukan karna aku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan semua hinaan dan cacian orang lain.


Maafkan aku Luky


Dear Sinta


Tak terasa air mata Lelaki bertubuh gendut itu terjatuh menetes pada isi surat itu. Luky seakan tak terima dengan semua ini, ia menyobek surat itu menghamburkan kemana-mana.


Kedua tanganya menjabak rambutnya,"Ahk ...," teriakan Luky terdengar oleh Sisi yang mengintip di pintu ruang tengah.


"Kenapa orang itu? Aneh," ucap Sisi pelan.


Luky membanting semua barang yang ada di rumahnya, seakan di matanya semua tak berharga.


Hingga satu pukulan menghantam satu tembok dekat kamarnya. Dimana kamar itu tempat ia mengeluh pada Aurora.

__ADS_1


Bayangan bersama Aurora tiba-tiba muncul lagi, menghantui pikiranya. Membuat Luky semakin tertekan dan kehilangan.


Tak terasa tangannya mengeluarkan darah, bukan merasakan sakit. Ia terus memukul-mukul temboknya dengan tangan yang sudah berdarah.


"Stop ...," teriak Sisi. Wanita berwajah bulat itu menghampiri Luky, gemuruh nafasnya seakan tak beraturan. Melihat lelaki gendut itu menyiksa dirinya sendiri.


Mata Luky begitu merah bengkak semalaman ia tak tidur, hanya menangis.


Menatap kearah Sisi, Luky menunduk. Menyender pada paha Sisi yang tengah duduk di kursi roda.


Sisi mengelus rambut Luky seraya berkata." jangan siksa dirimu sendiri itu tidak baik," ucap Sisi.


Luky yang mendengarnya seakan lebih tenang, benar-benar ucapan Sisi begitu beda saat ia hilang ingatan.


Hingga pada akhirnya Luky tertidur di paha Sisi. Sifat peleboy Luky hampir ke luar lagi.


Demi menghilangkan kekesalanya, Luky memanggul Sisi kekamar.


"Kamu mau buat aku bahagia," seyum Luky. Pada Sisi.


Sisi yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya ia hanya menggangguk pasrah. Saat Luky membawanya ke kamar.


Saat Sisi terbaring Luky bertanya." Apa kamu ingat padaku."


Sisi menggeleng-geleng kepala, dia tidak mengigat apa-apa. Apalagi Luky.


Bibir Luky mencium kening Sisi, dia berbisik lembut." Rasakanlah ketika aku menyentuhmu."


Sisi tiba-tiba memberontak dan berteriak." Jangan sentuh aku, kamu bukan suamiku."


Sisi tetohok kaget siapa Rudi, dalam dirinya ia terus bertanya-tanya.


"Mau tidak?"


"Aku tidak mau!"


"Baiklah."


Luky keluar kamar itu ia tertidur di sopa.


Sisi masih binggung dengan ucapan Luky saat itu.


"Apa yang dia maksud, Rudi siapa dia? Kekasihku? Apa aku mempunyai kekasih?"


Luky melihat Sisi yang jauh dari tempatnya, terseyum melihat wanita itu seakan kebingungan.


"Sisi, Sisi dari dulu loe gue kasih kenikmatan selalu menolak. Apa gue harus memperkosa loe, mana mungkin kasia sekali dia. Menjadi linglung semenjak di penjara," ucap pelan Luky.


Luky mulai menutup matanya, tetidur.


Hingga pagi menjelang tercium bau masakan, dia segera bangun mengigat istrinya Aurora yang suka sekali memasak.


"Harum."


Menghampiri dapur, terlihat saat berjalan ke dapur, nampak sekali bersih. Di atas meja sudah terpapang masakan, yang hanya telor dadar saja.

__ADS_1


Sisi terseyum menatap kearah Luky.


Dia menyuruh Luky duduk.


"Cepat makan mungpung hangat."


Seyuman Sisi membuat Luky heran, Luky duduk menikmati masakan yang di buat oleh Sisi saat itu.


"Ada gunanya juga Sisi di sini." Bisik hati Luky.


"Kenapa ngelamun?" tanya Sisi.


"Oh enggak."


"Oh, ya. Kamu tunggu rumah, aku mau kerja dulu!"


"Oke."


Luky menyusun rencana untuk pergi bekerja ke prusahaan Rudi lagi, dengan cara menghancurkan perlahan perusahaannya.


Menjadi orang yang seperti biasanya tak menaruh rasa curiga. Saat itu pria berbadan gendut itu datang melihat Rudi yang menatap meja Luky, ia langsung mengagetkan Rudi dari belakang.


"Heh, brow, ngapai loe bengong. Kaya cacing kepanasan saja?" tanya Luky. Menepuk bahu sang sahabat.


Rudi tertohok kaget, kenapa bisa Luky datang begitu saja.


"Kenapa? Gue masih di terima di tempat loe bekerja kan!"


"Tentu."


"Makasih brow."


Ada rasa heran menyelimuti Rudi saat itu, tiba-tiba. Luky datang begitu saja seperti biasa. Apa dia tidak merasa bersalah saat memukul Rudi di rumah sakit.


"Oh, ya. Kejadian kemarin di rumah sakit maafin gue ya. Gue syok saat loe narik tangan gue. Jadi tangan gue mukul loe. Sengaja gue berbaju kaya begitu, karna gue takut, Aldo tahu bahwa gue ada di rumah sakit.


Melihat keadaan Sinta, dan saat itu juga gue menengok keadaan Sisi," ucap Luky. Rudi hanya bisa memaklumi sahabatnya itu.


Mungkin ia salah mengira mana mungkin, pembunuh Faisal dan peneror Delia adalah Luky.


"Ya, gak papa. Namanya manusia tak luput dari kesalahan!" jawab Rudi.


Dua jempol Luky acungkan di hadapan Rudi.


Rudi menepuk bahu sahabatnya dan berkata." Selamat bekerja."


Lelaki bertubuh gendut itu menatap punggung Rudi yang semakin menjauh, matanya di selimuti dengan kelicikan.


mengepal tangan kanannya, yang telah di perban oleh Sisi saat itu.


"Ini baru permulaan."


Apa Luky bisa menghancurkan Rudi?


Apa Rudi percaya begitu saja dengan Luky?

__ADS_1


__ADS_2