
Di tengah ke panikan Rudi, dokter datang untuk menangani pasien Ami.
"Maaf pak, bapak bisa ke luar sebentar. Biar kami tangani pasien."
Karna perintah sang dokter, pada akhirnya Rudi dan Dodi ke luar dari ruangan, mereka hanya bisa melihat dari balik kaca ruangan, dimana Ami tengah bertaruh nyawa di bantu oleh dokter dan beberapa perawat.
Dodi, mengangkat kedua tangannya berdoa." Berikan yang terbaik untuk mama ya tuhan."
Rudi melirik ke arah anaknya dan berkata," kamu harus kuat Dodi."
*********
Berbeda dengan Bu Ira dimana ia mulai mengumpulkan Arsyla dan Arpan di ruangan keluarga, begitu pun dengan Sisi.
Bu Ira ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama di simpan dalam benaknya.
"Ada apa ibu, mengumpulkan kami di ruangan keluarga?" tanya Arpan yang mulai duduk pada kursinya.
Begitu pun dengan Arsyla, yang baru saja datang. Segera duduk di samping Sisi.
Bu Ira menjawab pertanyaan dari Arpan," maafkan ibu. Sebenarnya ibu mengumpulkan kalian di sini ada sesuatu yang ingin ibu katakan, karna sesuatu itu sangatlah penting.
Arsyla mulai angkat bicara dan berkata," pastinya ibu hanya ingin membahas pernikanku kan!"
Bu Ira menggelengkan kepala dan berkata," tidak Arsyla."
Sisi yang sudah tahu dari awal, hanya bisa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab oleh Bu Ira.
"Terus ada apa?"
Mereka bertanya-tanya, tentang apa yang akan di bahas oleh Bu Ira.
"Apa kalian siap mendengarkan perkataan ibu?"
Bu Ira bertanya, berharap agar anak-anaknya akan menerima apa yang di ceritakan olehnya.
Arsyla yang masih bingung hanya bisa, mengerutkan kedua alisnya.
"Sebenarnya kalian itu adalah saudara seayah!"
__ADS_1
Sontak mereka kaget bersamaan, bangun dari tempat duduk dengan raut wajah tak percaya.
"Apa ibu tidak salah?" tanya Arpan.
Mereka tidak akan percaya karna belum tahu bagaimana semua bisa terjadi begitu saja.
"Sebenarnya ibu telah mengkhianati, papa kamu Arsyla, dimana Pak Burhan bukanlah ayah kamu yang sebenarnya," ucap Bu Ira. Semua nampak bingung dengan penjelasan wanita tua itu.
Hingga pada akhirnya Sisi angkat bicara dan menjelaskan semua masa lalu tentang Bu Ira, bersama ayahnya Arpan yang tak lain Pak Ardan dan juga suami Bu Ira ialah Pak Burhan.
Setelah mendengar penjelasan dari sisi, Asyla langsung membentak ibunya dan berkata," itu tidak mungkin. Ayahku tetaplah Ayah Burhan, bukan ayah dari ayahnya Kak Arpan."
Bu Ira yang mendengar perkataan Arsyla langsung mendekat ke arahnya dan berkata," inilah yang terjadi Arsyla, kamu harus terima bahwa ayahmu, ialah ayahnya Arpan."
"Tapi Bu, Aku tidak Sudi mempunyai kakak seperti Arpan," teriak Arsyla. Mengepal kedua tangannya, melihat kesekilas pada wajah ibunya.
" Jaga ucapanmu Arsyla," bentak sang ibu. Menatap tajam kearah anaknya.
Arsyla tidak pernah berubah, dia selalu seperti itu. Tidak mau mendengar kebenaran yang sesungguhnya. Hanya selalu mengandalkan ego sendiri, Bu Ira yang bingung langsung dihampiri oleh Arpan dan berkata," ibu yang sabar, ya. Aku juga mengerti, mungkin semua ini sudah terjadi, aku akan tetap menerima Arsyla sebagai adikku sendiri."
"Terima kasih, Arpan. Kamu memang anak yang baik."
Bu Ira mulai memberanikan diri, dengan berkata," Arsyla ibu mohon terimalah, Arpan, sebagai kakak kadungmu sendiri. Karna bagaimanan pun ada darah yang mengalir dari ayah yang sama pada kalian berdua."
"Aku tidak mau bu, aku tidak mau punya ayah pembunuh! Apalagi harus mengakui Arpan sebagai kakakku sendiri," hardik Arsyla. Melipatkan kedua tangannya.
"Asal kamu tahu, Ayah Ardan bukanlah pembunuh yang sebenarnya, yang membunuh Ayah Burhan sesungguhnya adalah ibu sendiri," ucap Bu Ira. Menangis sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Itu tidak mungkin, ibu berbohongkan?" tanya Arsyla. Berlinangan air mata.
"Itu kenyataan yang sesungguhnya, Arsyla!" jawab Bu Ira. Dengan harapan Arsyla menerima semua yang telah ibunya lakukan di masa lalu, walau pun menyakitkan, tapi ini yang terbaik.
Arpan hanya terdiam pilu, saat Bu Ira berkata tentang pembunuhan.
Hingga dimana Bu Ira berkata pada Arpan," temuilah ayahmu yang berada di rumah sakit jiwa."
Arpan yang terdiam, sesaat bertanya pada Bu Ira," maksud ibu, bagaimana? Ayahkan sudah meninggal."
Sisi angkat bicara berkata pada Arpan," ayahmu belum meninggal, dia di masukan ke dalam rumah sakit jiwa karna depresi berat."
__ADS_1
Arpan berbalik arah ke hadapan Sisi dan bertanya," apa kamu tahu semua tentang hal ini?"
Sisi menganggukan kepalanya pelan, hingga Bu Ira berucap," istrimu yang membuat ibu mengatakan kejujuran, Arpan. Kalau bukan karna istrimu siapa lagi, mungkin kamu tidak akan tahu ayahmu masih hidup."
Arpan masih dengan kebingungannya sendiri.
"Aku tidak mengerti."
Bu Ira merogoh saku celananya, memberikan lembaran kertas yang selalu ia bawa ketika ke rumah sakit jiwa.
" Ini apa? Bu."
"Lihatlah, Jika kamu datang ke sana, kamu akan tahu ayah kamu yang sebenarnya."
Tangan kekar Arpan langsung meraih surat lembaran yang berada di tangan Bu Ira.
" Apa aku boleh bertemu dengan ayahku, sekarang?" pertanyaan itu membuat Bu Ira menangis tersedu-sedu ia menjawab pertanyaan Arpan pada saat itu," tentu Arpan, temuialah ayahmu sekarang!"
Sedangkan Arsyla masih tidak perduli jika Ayah kandungnya masih hidup.
"Ya sudah, mungpung. Belum masih pagi, gimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya Sisi. Memperlihatkan kunci mobil, ia sudah bersiap ingin menjenguk sang ayah.
Mereka semua bersiap-siap, untuk segera berangkat. Kecuali dengan Arsyla yang masih duduk di kursi ruang tengah.
"Arsyla, ayo. Nak. Kenapa kamu belum, siap-siap nak?"
Tanya Bu Ira, Arsyla hanya diam dalam lamunannya. Saat sang ibu bertanya?
"Arsyla, apa kamu tidak ada rasa simpati sedikitpun untuk ayah kandungmu sendiri. Yang rela menutupi kesalahan ibumu dimasa lalu?" tanya Sisi, membuat Arsyla menatap kearah dirinya.
"Untuk apa aku mempunyai rasa simpati untuk lelaki yang menjadi selingkuhan ibuku, yang ada aku malu di lahirkan pada rahim ibuku. Karna aku tercap sebagai anak haram!" jawab Arsyla mampu membuat tangan sang ibu melayang ke dasar pipinya begitu saja.
Plak ....
"Jaga ucapanmu, Arsyla. Asal kamu tahu kenapa ibu melakukan semua ini. Karna ayahmu yang baj*ngan tak mempercayai bahwa dirinya mandul, ia berani bermain gila di depan ibu dengan wanita lain. Hanya untuk mempunyai seorang anak, berapa banyak wanita yang ia bawa ke hadapan ibu," teriak sang ibu mengatakan semua penderitaan yang ia lalui di masa lalu.
"Aku tak percaya, ayah Burhan yang terbaik," hardik Arsyla.
Arsyla sangat menyayangi Pak Burhan, karna lelaki itu begitu memanjakan Arsyla.
__ADS_1