
Kata-kata yang terucap dari bibir Dodi seakan menusuk pada relung hati Ami, sakit terasa sakit, sampai Ami merasakan rasa sesak yang bekepanjangan.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Rudi, tampak panik melihat Ami meringis kesakitan.
"Entahlah, dadaku rasanya sesak. Seakan ada hal yang akan aku rasakan, sakit!" jawaban Ami membuat Rudi terburu-buru pergi ke dapur mengambilkan sebuah gelas berisi air.
" Kamu mau kemana, mas?" tanya Ami. Sedikit menudukan pandangan menahan rasa sesak pada dadanya.
Wanita berbulu mata lentik itu bergumam dalam hati," ada apa sebenarnya ini, kenapa seperti akan ada sesuatu yang hilang pada diri ini."
Rudi dengan berlari tergopoh-gopoh, memberikan air minum pada sang istri." Sayang cepat minum ini," ucap Rudi menyodorkan gelas minum pada bibir istrinya.
Saat itulah Ami meneguk satu gelas berisi air yang di bawakan Rudi.
"Gimana sekarang perasaannya tenang?" tanya Rudi.
Ami langsung menganggukan kepala menatap kearah suaminya, kedua air matanya berlinang," mas, entah kenapa aku masih merasakan rasa sesak pada hati dan pikiranku, entah apa yang akan terjadi, kenapa bisa seperti ini. Padahal tadi siang aku tidak kenapa-napa."
"kamu harus tenang, sayang. Kamu belum sembuh total, sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu. Jangan pikirkan apa-apa, ayo tidur." Ucap Rudi. Mengusap pelan pundak sang istri.
Ami mulai membaringkan badannya di atas kasur, menatap kearah wajah Rudi, tiba-tiba air matanya terus berlinang membuat Rudi terus saja mengusap pelan air mata itu dengan tangan kanannya.
" Sudah Jangan memikirkan apa-apa lagi, kamu harus tenang ya."
" Bagaimana aku bisa tenang. Mas, hatiku rasanya sesak sekali .Sebenarnya ada apa ini?"
" Sebaiknya kamu tidur, tutup kedua matamu. Jangan sampai pikiran yang tidak penting membuat badanmu kembali lagi drop."
"Baiklah Mas."
Saat itulah Ami mulai memaksakan kedua matanya menutup, ia memaksa dirinya untuk terlelap tidur di atas ranjang kasur, hatinya benar-benar terasa sesak menderai membuat sekujur tubuhnya lemas.
Ia memaksakan diri untuk tetap tidur karena Rudi masih terjaga, menunggu sang istri tercinta untuk terlelap dalam tidur.
Saat kedua mata itu terlelap, tidak ada sebuah mimpi yang terus menghantui Ami. Saat itulah, ia terbangun di pagi hari melihat makanan sudah berada di atas meja.
"Ayo sarapan."
" Kamu sudah bangun mas?"
" Iya dong, sayang, ini kan hari pengantin kita."
Sesaat Rudi duduk di sisi Ami, saat itulah. Satu Panggilan telepon datang pada ponsel Rudi, ia menatap pada layar ponsel itu, ternyata ialah sang ibu yang tak lain Bu Sumiyati.
__ADS_1
"Ibu nelpon? Ada apa ya tumben pagi-pagi sekali," gumam hati Rudi.
" Kenapa Mas?"
pertanyaan Ami membuat lamunan Rudi seketika membuyar. Ami belum tahu bahwa ibu Rudi yang sebenarnya adalah Sumyati.
"Mas, loh. Ko diam?"
Rudi mengaruk belakang kepalanya, ia terseyum kecil. Dan pamit kepada sang istri untuk ke luar sebentar.
"Aneh, tidak biasanya Mas Rudi seperti itu?" Gumam Ami.
Rudi berjalan pelan ia pergi keluar rumah untuk segera mengangkat panggilan dari sang ibu."
" Halo Bu, ada apa?" Terdengar dari sambungan telepon itu Bu Sumyati menangis terisak-isak. Membuat Rudi mengerutkan kedua alisnya, ia tak mengerti kenapa sang ibu manangis tiba-tiba
" Halo Rudi. Apa kamu bisa datang ke sini?" ucap sang ibu dengan bertanya, terdengar suara wanita itu begitu gemetar ketakutan.
"Ibu menangis? Ada apa Bu?" tanya Rudi tampak panik, mendengar suara Bu Sumyati yang serak karna menangis terus menerus.
Disaat obrolan Rudi dengan Bu Sumyati, saat itulah Ami mengikuti langkah suaminya. Ia berusaha mengintip dan mendengarkan obrolan Rudi yang sedikit Ami tidak mengerti.
"Sebenarnya Mas Rudi, di telepon siapa? Kenapa harus sembunyi-sembunyi dariku?" Pertanyaan pada kepala Ami membuat kepalanya sakit.
"Tahu apa, bu. Kenapa perasaan Rudi jadi tak enak begini," balas Rudi. Tangannya seketika bergetar, ada rasa takut yang menusuk pada hatinya.
Dengan suara tangisan dari Bu Sumyati, saat itulah ia berucap.
" Sekarang Dodi meminta izin pada ibu, untuk pergi bersama Diana dan Alan."
Ponsel yang menempel pada telinga Rudi, hampir saja ia jatuhkan. Sok berat yang di rasakan sang ayah, ketika anak sekecil Dodi ingin pergi bersama orang lain.
"Apa." Teriak Rudi. Sok.
"Sesakit itukah Dodi, sampai dirinya ingin pergi bersama Diana dan Alan. Aku merasa menjadi ayah yang tak berguna," gumam Rudi. Telepon dari sang ibu, hampir saja ia abaikan.
"Rudi, nak. Hallo."
Bu Sumyati terus memanggil nama anaknya, berharap menjawab.
"Rudi, kamu tidak kenapa-napa kan. Nak, hallo."
Tubuh Rudi seketika merosot ke atas lantai, ia menangis sesenggukan. Ami yang melihat sang suami menutup mulut, ingin sekali ia menghampiri Rudi. Namun, apa daya ia tidak mengerti dan tak paham kenapa dengan suaminya. Apa yang mereka obrolkan.
__ADS_1
"Rudi."
Ponsel yang ia pegang dengan tangan gemetar, ia tempelkan lagi pada telinga kanannya.
"Iya, bu."
" Rudi. Ibu tahu, pasti ini tidak mudah untukmu, sekarang kamu harus cepat datang ke sini sebelum Diana dan Alan membawa pergi jauh Dodi."
" Baik, bu. Aku akan pergi ke sana sekarang juga."
Rudi benar-benar cemas ketika mendengar Dodi akan pergi bersama Alan dan. Dengan kepanikan yang menggebu Rudi kesal dan bergumam dalam hati." Bagaimana ini, kenapa bisa Dodi berpikir ingin pergi jauh dariku, Ya Tuhan aku harus pencegahan aku sekarang juga."
Rudi mulai berjalan tergesa-gesa, tanpa sadar melewati badan Ami yang tengah berdiri di dekat pintu dalam rumah.
" Mas kamu mau kemana." Panggil Ami9 wanita berbulu mata lentik itu melihat kedua mata suaminya memerah.
" Mas kenapa kamu diam saja?" Bentak Ami.
Rudi tidak membalikkan wajahnya, mengabaikan teriakan sang istri. Ia terus berjalan membuat Ami berlari dan mengejar Rudi
" Mas Kenapa kamu tidak menjawab perkataanku? kamu mau kemana?" Teriak Ami.
Rudi tampak bingung,bagaimana ia harus menjelaskan bahwa dirinya akan pergi menemui Dodi.
Dimana anak yang tidak pernah diinginkan Amin saat Ami terbangun dari komanya.
"Apa yang harus aku jelaskan." Gumam hati Rudi.
Saat ini hati Rudi benar-benar kacau, bingung, tangan Ami mulai meraih lengan Rudi.
"Mas. Ayo katakan, kamu mau kemana?"
Seketika Rudi yang tak sabar ingin menahan Dodi segera mungkin, langsung melepaskan tangan Ami yang memegang lengannya.
"Mas buru-buru ada urusan penting," ucap Rudi berbohong.
" Mas tidak biasanya kamu seperti ini. Sesibuk apapun, tidak ada alasan untuk menjelaskan masalah yang terjadi," balas Ami.
" Ini hal yang penting, aku tidak bisa menjelaskan hal ini, sebaiknya kamu diam di rumah," ucap Rudi
"Kamu berbohong, mas."
Rudi sudah kesal, ia dengan terpaksa mengabaikan ucapan istrinya, berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1