
“Kalian harus diam di dalam mobil, aku akan menemui Arpan dan juga Alan,” ucap Rudi kepada Dodi dan yang lainnya.
“Memangnya kenapa, Rudi?” tanya Sisi dalam perasaan yang tak sabar ingin segera bertemu sang suami.
“Kamu lihat mobil itu!” jawab Rudi menunjuk mobil yang terparkir di rumah sakit.
Sisi menatap ke arah mobil itu, terdapat Sarah yang tengah menunggu di samping kiri mobilnya.
“Kalian harus tetap di sini, ini sangat berbahaya sekali,” ucap Rudi. Mencoba memberi sebuah arahan pada Pak Tejo dan yang lainnya.
“Aku ikut, Rudi,” balas Sisi.
Rudi berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Sisi,” jika kamu ikut, aku takut Sarah akan curiga. Jadi tunggulah di sini aku akan membawa Alan dan juga Arpan suamimu.”
Sisi yang benar-benar tak bisa menahan ingin bertemu dengan suaminya, kini hanya memalingkan wajah. Berubah menjadi wanita yang egois tak mau mendengarkan perkataan Rudi.
“ Si, tolong mengertilah. Ini juga demi kebaikanmu dan suamimu.”
Sisi terdiam saat Rudi, berusaha membuat Sisi mengerti.
@@@@
Rudi yang tak mau banyak basa-basi, saat itu menutup pintu mobil dan bergegas pergi masuk ke dalam rumah sakit. Mencari ruangan di mana Arpan dirawat, Rudi tak menyangka jika Sarah dengan gesitnya sudah ada di depan rumah sakit.
“Aku harus cepat, sebelum Sarah datang.”
Rudi kini menelusuri setiap ruangan, tapi dirinya malah di usir oleh perawat yang berada di sana secara tiba-tiba.
Namun karna Rudi tak mempunyai banyak waktu, pada saat itulah Rudi membekam mulut perawat itu. Melihat situasi sangat lah aman, membuat Rudi membawa perawat itu masuk ke dalam toilet untuk menukar bajunya.
Setelah itu Rudi ke luar dengan berusaha tetap tenang, memperlihatkan bahwa dirinya adalah seorang perawat.
Saat ia melangkah masuk, dirinya langsung berpapasan dengan Sarah. Rudi berusaha tetap tenang berjalan, membereskan kursi roda bekas para pasien.
Hatinya seakan tak karuan, takut jika Sarah mencurigai dirinya. Saat membereskan kursi roda, Sarah kini mendekat ke arah Rudi dan bertanya.
“Permisi, apa kamu tahu ruangan pasien Arpan?” tanya Sarah kepada Rudi.
Rudi mulai menujukan tempat keberadaan Arpan dengan info yang salah, menujukan ruangan mayat saat itu pada Sarah.
“ Nona tinggal lurus saja, nanti belok ke kiri!” jawab Rudi.
__ADS_1
Sarah mengerutkan dahi, seakan tak yakin dengan perkataan perawat itu.
Namun, karna Sarah terburu-buru. Pada akhirnya ia langsung percaya begitu saja, berjalan menuju informasi jalan yang di berikan perawat yang tak lain ialah Rudi.
Saat Sarah sudah sedikit menjauh dari hadapnya, kini Rudi tergesa-gesa menuju ruangan yang di berikan Sisi saat itu.
Ia tak punya waktu yang sangat cukup, karna bisa saja Sarah datang dengan cepat.
Setelah sampai di ruangan Arpan, semua tampak kosong. Tak ada satu orang pun di sana, hanya ada suster yang tengah membereskan kasur bekas Arpan.
“Ke mana Arpan dan Alan?”
Dengan perasaan cemas, pada saat itulah Rudi mulai bertanya pada sang suster.
“Sus, ke mana pasien yang berada di ruangan ini?”
“Oh, pasien ini di pindahkan ke ruangan lain!”
Suster itu langsung menujukan di mana Arpan di pindahkan, dan betapa kagetnya saat Rudi mendengar yang di katakan Suster.
Dengan berlari ia mulai mengejar Arpan dan Alan yang belum jauh, Rudi kuatir jika nanti Arpan dan Alan akan berpapasan langsung dengan Sarah.
“Kenapa bisa mendadak seperti ini?”
Sisi yang tengah menunggu di dalam mobil, seakan resah, ia tak sabar menunggu kedatangan Rudi yang membawa Arpan dan juga Alan untuk keluar dari rumah sakit ini.
Sisi melihat ke arah jam tangan yang ia pakai, melihat Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Di mana Rudi sudah setengah jam berada di dalam rumah sakit, melihat pada ponselnya. Tak ada informasi yang didapat dari Rudi saat itu, hati Sisi benar-benar tak tenang.
Sisi bergegas mengambil dompetnya, membuka pintu mobil untuk segera menyusul Rudi di dalam rumah sakit.
Namun Dodi yang melihat Sisi keluar dari dalam mobil, kini menarik tangan Sisi.
“ Tante mau ke mana? Tante jangan gegabah, tante lupa apa yang di katakan papah?”
Dodi mencoba menahan Sisi agar tidak masuk ke dalam rumah sakit menyusul sang ayah yang berada di sana.
“Tante merasa tak tenang Dodi, tante ingin menemui suami tante.”
Sifat ketidaksabaran Sisi, membuat Dodi harus mencari cara agar bisa menahan sang tante untuk tidak masuk ke dalam rumah sakit.
“Tante, itu berbahaya sekali.”
__ADS_1
Saat itulah Sisi mulai turun dari dalam mobil, mengacuhkan ucapan Dodi, yang Sisi anggap sebagai anak kecil. Yang tak akan pernah mengerti perasaan orang dewasa, Dodi yang merasa kuatir dengan keadaan Sisi.
Ya terpaksa keluar bersama cucu Pak Tejo, menarik kedua tangan Sisi agar masuk ke dalam.
.”Tante.”
“Dodi apa-apaan kamu ini.”
Pak Tejo yang melihat kelakuan Dodi dan juga cucunya hanya terdiam di dalam mobil, Iya tak bisa bergerak sedikit pun karena bekas pukulan yang membuat otot-ototnya sedikit lemas.
“Lepaskan tante.” Teriak Sisi.
. Dodi tak mempedulikan teriakan sang tante, Iya terus menarik paksa tubuh dan juga tangan Sisi untuk masuk ke dalam mobil.
Keringat mulai terasa bercucuran pada jidat Dodi, betapa kuatnya sang tante.
Cucu Pak Tejo kini mencari sebuah akal, agar sang tante diam dan tak melawan. Iya melepaskan kaos kaki yang sudah beberapa hari ia pakai, pada saat itulah ia memberanikan diri menempelkan kaos kakinya pada mulut dan hidung Sisi.
Sampai Sisi tak kuat menahan bau kaos kaki itu, hingga ia terkulai pingsan di atas tanah.
Kedua bocah itu kini menggotong badan Sisi yang begitu berat, Pak Tejo yang tak tega melihat kedua bocah kecil itu membopong Sisi.
. Pada saat itulah Pak Tejo memaksakan diri untuk berdiri keluar dari dalam mobil.
.
“Apa kakek yakin bisa membopong tubuh Tante Sisi?” tanya sang cucu.
Lelaki tua itu tertawa, saat cucunya berkata seperti itu, dengan tatapan mata buayanya itu. Tiba-tiba saja Pak Tejo bisa mengangkat tubuh Sisi dengan begitu ringan, kedua bocah itu hanya tersenyum, mereka seakan sudah biasa, melihat sang kakek yang tiba-tiba kuat saat melihat wanita cantik. Apalagi sampai membopong tubuh wanita cantik itu.
"Kakek, kakek. Kalau urusan beginian tiba-tiba aja kuat, dasar kakek mesum." ledek cucu pak Tejo.
Lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata," kapan lagi dapat gendong wanita cantik."
"Kalau nenek masih hidup, baru tahu rasa kau ke," canda sang cucu.
"Orang matikan enggak bisa hidup kamu ada-ada aja." timpal Sang kakek.
"Kalau hantunya nenek ada baru tahu rasa loh, ke."
Mereka kini masuk ke dalam mobil, menunggu ke datangan Rudi.
__ADS_1
yang tak kunjung datang-datang.