Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 348 penjelasan Putra


__ADS_3

Si Mbok yang melihat Ane membentak terus menerus bayi Delia, membuat ia tak tega. Langsung mengambil bayi itu dari pangkuan Ane.


"Sini, Non. Biar bibi aja yang gendong." Ucap Si Mbok. Mengambil bayi itu dari pangkuan Ane.


Ane hanya terdiam menahan emosi, rambutnya begitu berantakan tak karuan, dengan mata panda yang begitu terlihat jelas.


"Non, istirahat dulu. Sarapan dulu ya." Ucap Si Mbok. Mulai membawa bayi itu ke dalam kamar. Menenangkan tangisannya yang tiada henti.


"Kasihan sekali kamu nak, pasti kamu mau sama ibumu ya." Gumam hati Si Mbok.


Perlahan bayi Delia mulai tenang pada pangkuan Si Mbok, ia terlelap tidur dan si Mbok mulai menidurkan bayinya di dalam kamar.


"Sudah tidur. Tinggal beresin pekerjaan rumah yang belum selesai."


Ane mulai berdiri dari sofa tempat duduknya, ia berjalan ke arah kamar untuk tidur di dalam kamar. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu letih, " Hah. Akhirnya aku bisa istirahat juga."


Kedua anak Ane, mengintip pada kamar bayi Delia. Melihat bayi itu sudah terlelap tidur.


"Eh, de kamu lihat bayi itu. Semenjak ada bayi itu, mamah tidak pernah memperhatikan kita lagi. Mamah sering bentak dan abaikan keinginan kita." Ucap sang kakak kepada adiknya.


Sang Adik yang ikut serta mengintip pada kamar menjawab perkataan kakaknya." Iya kak. Semenjak ada bayi itu di rumah ini, sifat mamah berubah."


"Iya, jadi kamu sudah mengertikan rencana kita," ucap sang kakak kepada adiknya.


"Iya kak, aku mengerti," balas sang adik.


"Ayo les go."


Mereka saling menepuk tangan satu sama lain, entah apa rencana yang akan mereka lakukan terhadap bayi Delia.


Sang adik, kini mulai melihat situasi di rumah, yang di mana si Mbok masih dengan pekerjaanya. Dan Ane tertidur pulas di dalam kamarnya," bagus semua sudah aman."


Sang adik mulai berjalan ke arah sang kakak dan berkata," semua aman, kak." Sembari menunjuk dengan kedua tangannya sang kakak tersenyum dengan senyuman liciknya.


Entah apa yang memasuki pikiran kedua anak itu, mereka bisa berubah sederastis itu. Anak yang baik berubah menjadi nakal dan mempunyai dendam.


Mereka masuk ke dalam kamar yang di mana di kamar itu ada bayi mungil tengah tidur.


"Kakak, harus hati hati. Biar ade jaga di luar."


"Oke."

__ADS_1


Si Mbok benar benar sibuk, tak menyadari dengan kedua anak Ane yang mencoba masuk ke dalam kamar.


Kini sang kakak, mulai memberanikan diri menggendong. Bayi mungil itu, perlahan tapi pasti, mereka seakan tak punya rasa kasihan pada bayi mungil itu.


"Ayo de."


Entah sang kakak mau membawa bayi mungil itu ke mana.


"Mau kita apakan bayi itu, kak."


"Sudah, kamu ikut saja sama kakak."


Mereka berjalan ke luar dari kamar, dengan mengendap- ngendap. Karna sang kakak yang tak kuat menggendong bayi mungil itu. Langsung menaruh alat dorongan mainan mereka.


"Ayo de. Sebelum si Mbok mencurigai kita."


"Ya, ka. Ayo."


Bagaimana nasib bayi Delia?


@@@@@@


Perdebatan berlanjut, kini Putra menjelaskan semuanya. Ia sudah tak tahan dengan Ane yang berubah semenjak membawa bayi Delia ke dalam rumah.


Deg ....


Penjelasan yang belum jelas, namun membuat hati Delia bertanya tanya dan memotong penjelasan Putra.


"Bayiku ada di rumahmu. Maksud kamu?"


Putra mendekat ke arah Alan dan Delia. Sedangkan Deni terlihat syok, ia bertanya pada hatinya. Kenapa bisa bayi Delia ada di rumah Putra sedangkan ia juga menyimpan bayo Delia di rumahnya.


"Kejadian itu berawal pada malam hari, di mana aku menemukan Ane masuk ke dalam rumah dengan memakai jas berwarna merah yang menutupi kepalanya. Aku mengira dia bukan istriku, tapi saat dia membuka jas merah itu, dia menjelaskan semuanya. Bahwa Ane sudah menculik bayimu Delia. Dengan alasan untuk menyelamatkan bayimu itu dari icaran Deni."


Delia dan Alan saling menatap satu sama lain, saat itulah Alan mulai berucap pada Putra." Tapi kenapa Ane tidak mengakui semuanya saat aku bertanya, jika dia yang menculik bayiku."


"Aku juga heran, dia tak mau memberitahu kalian terlebih dahulu. Karna mempunyai rencana. Yang entah aku tidak tahu rencana apa," balas Putra.


"Putra aku tak menyangka jika kamu senekat itu memberitahu jika istrimu yang berulah akan hilangnya bayi Delia," ucap Alan. Salut dengan keberanian Putra untuk mengungkapkan kebenaran.


"Karna aku tak ingin rencana yang di pikirkan istriku itu, malah membuat dia menderita dan malah dirinya tersiksa. Apalagi istriku tengah mengalami tekanan karna orang tuanya," balas putra. Berusaha tetap tenang menjelaskan semua yang di alami Ane.

__ADS_1


Deni mengepal kedua tangannya, ia mulai pergi dari hadapan Delia dan juga Alan.


"Deni, kamu mau ke mana?" tanya Delia pada Deni.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Deni. Terlihat wajah kesalnya, ia ingin segera pergi, untuk menemui Lita dan Ida. Menanyakan bayi yang mereka curi.


Kalau saja bayi Delia berada di rumah Ane, terus bayi yang di bawa Lita dan Ida bayi siapa? Pertanyaan itu terus terngiang pada hati Deni.


"Tapi ini jadi urusanku Deni, karna kamu mau menipu kami," ancam Alan. Dengan begitu tegas, ia berjalan ke arah Deni Begitupun dengan Putra.


Putra mulai menahan Deni dari kursi rodanya.


"Apa-apaan kamu Putra, kenapa kamu menahan kursi rodaku," gerutu Deni.


"Aku akan membawamu, ke kantor polisi. Aku tahu kedua orang tua Ane berubah pasti karna mu," ucap Putra. Dengan begitu tegas dan kuat menahan kursi roda Deni.


"Heh, kenapa kamu menyalahkanku. Jelas kedua orang tua Ane bukan urusanku, aku hanya di bebaskan karna aku punya jasa pada kedua orang tua Ane," jelas Deni. Dengan harapan di Putra melepaskan kursi rodanya.


"Jasa apa, jasa menipu. Membuat istriku menderita," balas Putra.


Deni tertawa terbahak bahak. Hingga tiba di mana polisi datang, membuat Delia dan Alan kaget.


."Polisi."


Pada saat itulah, Lita dan Ida di bawa di hadapan Deni, mereka di borgol.


"Lita , Ida."


Deni begitu syok berat, kenapa Ida dan Lita di tangkap.


"Maafkan kami, tuan."


Lita dan Ida menangis, mereka berlutut di hadapan Deni dengan meminta maaf beberapa kali.


"Jadi benar dugaanku saat ini, bayi yang kalian bawa itu bukan bayi Delia."


Lita dan Ida menganggukan kepala, mereka terus meminta maaf kepada Deni.


"Kalian."


Para polisi mulai berucap," sebaiknya pak Deni ikut dengan kami untuk menjelaskan semuanya di kantor polisi."

__ADS_1


Mau tidak mau, dengan terpaksa Deni ikut serta untuk ikut ke kantor polisi. Untuk menjelaskan kejahatan yang di lakukan Lita dan Ida.


__ADS_2