Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 49 Teror.


__ADS_3

Delia langsung membuka ketukan pintu rumahnya yang di ketuk berulang-ulang. Hingga ketukan itu semakin keras terdengar seperti orang yang tengah marah-marah.


Saat pintu terbuka, terdapat satu kotak yang terletak di depan luar rumah. Melihat surat dari kotak itu ada nama yang tertera. Untuk Delia.


Delia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri,"biasanya kalau paket. Pengantarnya selalu menunggu tapi ini tidak ada siapa-siapa."


Delia langsung membuka kotak itu perlahan, saat melihat isi kotak itu. Tiba-tiba Delia menjerit dan membanting kotak itu dengan keras.


Alan yang mendengar jeritan Delia, terbangun dan menghampiri Delia. Wanita bermata sipit itu langsung memeluk Alan, saat Alan baru saja datang.


"Ada apa Delia?" tanya Alan. Wanita bermata sipit itu menunjuk isi dari kotak itu yang telah Delia banting, menyebabkan isi dalam kotak itu berhamburan.


Alan terkejut saat melihat isi dari kotak itu. Ada darah dan bangkai tikus, yang sudah membusuk.


Alan langsung memungut isi dari kotak yang tengah berhamburan itu kemana-mana. Membuang ke tempat jauh, karna melihat Delia yang seakan ketakutan


Dari sana Alan curiga apa ada orang di lingkungan rumah ini yang sengaja mengirim kotak berisi bangkai tikus di depan rumah Delia.


Mencari ke semua tempat, tapi Alan tidak menemukan orang itu. Siapa sebenarnya dia ada maksud apa meneror Delia.


Mencari kesetiap tempat, tapi tetap saja Alan tidak melihat orang yang berulah di rumah Delia.


Saat itu Alan melihat Delia yang menagis, sembari memegang satu lembar surat.


"Ada apa Delia? Kenapa kamu menangis?" tanya Alan. kebingungan.


Delia menyodorkan satu lembar kertas itu pada Alan, perlahan membuka isi dari surat itu. Terdapat kata-kata yang membuat Alan membulatkan kedua matanya.


Isi surat itu, Aku akan membunuhmu Delia. Dengan lumuran darah tikus yang sangat bau menyengat, menusuk hidung. Membuat Alan ingin mengeluarkan isi dalam perutnya.


Siapa sebenarnya yang berani meneror Delia saat ini? Apa Delia mempunyai salah? Kenapa sampai sesadis ini?


Baru saja Delia bangkit dari keterpurukanya. Seseorang menerornya. Membuat Delia terpuruk kembali.


"Kenapa dengan Delia?" tanya Ami yang baru saja datang bersama Rudi.


Alan memberikan satu lembar surat itu kepada Rudi.

__ADS_1


Rudi langsung meremas kertas itu. Menggumpal dan membuangnya jauh-jauh.


"Sial, siapa yang melakukan semua ini? Ada masalah apa dengan orang ini, sampai dia berani membuat ancaman murahan ini?"


Ami yang mendengar perkataan Rudi langsung menjawab."Seperti ada seseorang yang ingin membuat kita ketakutan, dari acamannya. Jujur saja aku sedikit mencurigai Luky, karna kemarin ketika di tempat. Dimana Fairus kehilangan nyawa. Aku melihat gerak gerik seseorang yang mencurigakan. Melihat postur tubuhnya seperti Luky."


"Apa kita pergi ke penjara saja, untuk melihat keadaan Luky?" tanya Rudi.


Lelaki bertubuh kekar itu seakan curiga dengan sahabatnya.


"Tunggu, Luky itu siapa?" tanya Alan pada Rudi. karna Alan belum mengetahui sosok seorang Luky, saat itu Rudi menjelaskan siapa Luky itu dan apa hubungannya dengan Rudi.


"Tapi kita jangan dulu asal menuduh, harus menyelidiki lebih dulu. Bisa-bisa kalau kita asal menebak, orang itu kena masalah karna kita asal menuduh!" timpal Delia.


Rudi dan Ami bergegas pergi ke penjara untuk mengecek keadaan Luky saat itu.


Setelah sampai di penjara, sang polisi menjelaskan bahwa Luky sudah terbebas dari penjara. Ada salah satu keluarganya yang membebaskan dia, dari tuduhan tentang Klinik Ilegal.


Saat itu Ami menanyakan tentang keadaan Sisi bagaimana? Sang polisi menjelaskan bahwa Sisi dibawa ke rumah sakit, dan keadaannya sedang krisis sekarang.


"Ko bisa pak?" Ami terus bertanya kenapa Sisi bisa masuk ke rumah sakit, bukanya kedaan Sisi kemarin baik-baik saja.


Ami meminta Alamat rumah sakit, dimana Sisi tengah di rawat saat ini.


Sesaat setelah sampai di rumah sakit, Ami melihat Sisi yang tergeletak lemah di atas ranjang rumah sakit.


Rudi hanya bisa menenangkan Ami saat itu juga. Seraya berkata."Ini sudah takdir, mugkin ini ganjaran dari semua perbuatan jahat Sisi, mudah-mudahan Sisi berubah, setelah apa yang menimpa dirinya.


Saat itu Rudi melihat pria yang tengah duduk dan menunduk pandangan seakan tengah bersedih.


Rudi yang semakin penasaran dengan lelaki itu, Rudi langsung menghampiri pria itu.


Saat ini juga.


"Aldo apa benar itu kamu?" tanya Rudi, pria itu langsung menatap wajah orang yang menyapanya.


"Eh, Pak Rudi!" jawabnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang sakit?"


Aldo terdiam bibinya keluh, seakan dia tidak sanggup mengatakan tentang kesedihan yang ia rasakan saat ini.


"Sinta meninggal," ucap lelaki bernama Aldo itu, matanya merah. Bekas air mata yang terus saja mengalir.


Rudi tertohok kaget, bukan kah baru kemarin Sinta dikeluarkan dari penjara dan sekarang kabar duka datang begitu saja.


"Sinta meninggal, karna apa Aldo?" tanya Rudi yang masih tidak percaya mendengar duka itu.


Padahal kemarin Sinta masih bekerja di tempat kerja Rudi. Tapi dua hari Sinta menghilang tanpa kabar.


"Sinta bunuh diri Rud!" jawab Aldo. Tubuh Rudi seakan melemas, ia terduduk dan tak percaya apa yang dikatakan Aldo saat itu.


Hati Rudi terus berbisik, apa Sinta depresi. Karna aku? Tapi ini semua sudah jadi takdir!


"Aku tak menyangka Sinta nekad bunuh diri, dia meminum beberapa obat hingga menyebabkan tubuhnya lemah. Dua hari Sinta dirawat di rumah sakit tapi tidak ada perkembangan membuat, mantan istriku harus merengut nyawa di rumah sakit ini. Tanpa seorang yang menemani," ucap Aldo.


Rudi dan Ami hanya menenangkan Aldo saat itu juga. Bagaimana pun Aldo masih perduli dengan Sinta.


*********


Sesaat Di rumah sakit seseorang mengintip, Orang itu tengah terseyum menatap kearah, Ami dan juga Rudi.


"Nekad sekali mereka datang ke rumah sakit, apa tidak punya malu kah. Menghancurkan rumah tangga orang lain dan juga membuat Sinta meninggal, Rudi, Ami. Aku yakin hidup kalian tidak akan bahagia, selama aku masih hidup dan bisa membalaskan dendamku," ucap lelaki berbaju hitam yang tengah mengintip dari kejauhan.


Lelaki itu, datang ke ruangan Sisi yang tergeletak tak berdaya. Melihat dia teraniaya.


Lelaki berpakaian hitam itu. Berbisik pada telinga Sisi." Bangunlah, kita balas dendam bersama-sama."


Tetap saja Sisi wanita berwajah bulat itu hanya diam, dan bernafas saja. Tubuhnya lemah.


Saat Ami hendak melihat Sisi di ruangan pasien. Ami melihat lelaki itu lagi berdua bersama Sisi, Ami segera berlari menghampiri lelaki itu.


"Siapa kamu?" Menunjuk kearah wajah lelaki yang memakai masker dan berbaju hitam.


Saat Ami menghampiri lelaki itu, satu pukulan melayang pada kepala Ami. Hingga wanita berwajah tirus itu tersungkur jatuh dan kesakitan.

__ADS_1


Rudi dan Aldo yang mendengar teriakan Ami langsung menghampiri Ami?


__ADS_2