
"Semua gara-gara ibu, kalau saja ibu tidak menggadaikan rumah dan mobil ayah kita tidak akan seperti ini luntang lantung di jalanan. Seperti pengemis." hardik Arsyla. Ia nampak kesal sekali terhadap ibunya. Raut wajahnya begitu muram.
"Benar-benar ibu itu tidak berguna, kalau saja ibu tidak selalu melarang aku untuk menghancurkan Arpan mungkin kita tidak akan seperti ini," teriakan Arsyla terus begeming di telinga ibunya.
"Lihat sekarang Arpan dia jadi pengusaha sukses, dan bahagia, di atas penderitaan kita," cecar Arsyla.
"Arpan sukses karna dia orang baik nak. Dia bekerja keras, kita tidak boleh membeci Arpan bagaimana pun dia tidak salah terhadap kita, kalau kita menderita ini sudah takdir yang maha kuasa. Jadi jangan salahkan Arpan," nasehat Arpan terlontar dari mulut Bu Ira.
"Sudah cukup teman ku bilang Arpan itu lelaki baik-baik, dan juga sekarang ibu bilang lagi seperti itu. Telingaku seakan bosan mendengar kata-kata Arpan baik," teriakan Arsyla membuat Bu Ira seakan sakit hati. Ibu mana yang mau di bentak anaknya, apalagi di tempat umum seperti di jalanan ini.
Bu Ira hanya menagis terisak-isak.
"Hanya itu yang bisa ibu lakukan, menagis dan menagis. Ahk," hardik wanita berhidung mancung itu. Mendudukan tubuhnya.
"Bunda, ini sedih liat kamu berubah nak," ucap Ibu Ira.
"Stop jangan panggil dirimu bunda, aku lebih nyaman panggil wanita tua sepertimu ibu saja. Kalau aku panggil bunda. Jika dirimu sudah buat Arpan menderita," teriak Arsyla. Gadis itu memberi dua pilihan.
Apalah sebuah panggilan untuk seorang ibu, hanya seperti itu pun Arsyla seperti kanak-kanank jika tengah marah. Mulutnya tak segan-segan memaki sang ibu.
Kalau saja ayah masih hidup, dia pasti akan mengerti diriku, tidak seperti ibu yang tidak mengerti diri ini dan selalu membela lelaki bodoh itu, gerutu Arsyla dalam hati.
Saat itu mereka meneruskan perjalanan yang tanpa arah entah mau kemana, berjalan menelusuri jalanan, Arsyla dan Bu Ira. Seakan kelelah, tubuh mereka merasakan rasa lapar yang teramat perih menusuk perut, rasa haus dalam tengorokan mereka.
Seharian berjalan kaki berharap menemukan tempat untuk berteduh dan bisa makan. Bu Ira benar-benar tidak memiliki uang sepeserpun.
"Nak, apa kamu tidak mempunyai uang untuk kita makan dan beli minum," ucap Bu Ira. Bibirnya terlihat pecah-pecah. Tengorokannya begitu kering, Arsyla tidak meperdulikan ibunya itu.
"Punya, emang kenapa?" tanya Arsyla.
"Kamu beli makanan dan minuman ya nak, uang ibu sudah tidak ada lagi di dompet," ucap Bu Ira.
"Enak saja minta, ini uang aku. Ibu cari saja sendiri, siapa suruh rumah dan mobil di sita pihak bank!" jawaban Arsyla membuat Bu Ira sedih. Begitu tega dia seperti itu terhadapa ibu yang pernah melahirkan dan mengurus dia hingga beranjak besar seperti sekarang.
Bu Ira seakan tak sanggup berjalan lagi, ia terpaksa berhenti dan mendudukan tubuhnya di pinggir jalan.
Arsyla menjauhi diri pada ibunya, dia seakan enggan beriringan berjalan bersama sang ibu. Entah karna kesal atau malu.
__ADS_1
Sesaat Ami tengah berjalan bersama Rudi ia melihat Bu Ira menagis terisak-isak, hati Ami seakan tersentak ingin menolong wanita tua itu.
"Lihat, pah. Kayanya wanita tua itu seakan butuh bantuan kita," ucap Ami pada suaminya.
Dodi terseyum ia anak yang sudah tumbuh besar, menarik tangan mamanya, membeli satu porsi makanan untuk ibu tua itu.
"Dodi kamu mau menolong ibu tua itu?" tanya Rudi kepada anaknya, saat itulah Dodi menganggukan kepala.
"Kita kan sebagai manusia harus tolong menolong!" jawab Dodi pada orang tuanya.
Ami menujukan dua jempolnya terseyum kepada sang anak.
Saat menghampiri wanita tua itu, Ami seakan mengenal sosok gadis yang pernah berada di pernikahan Arpan saat itu. Sosok gadis itu tak asing bagi Ami.
"Kenapa?" tanya Rudi pada sang istri.
"Aku seperti mengenal gadis yang berada di samping wanita tua itu!" jawab Ami. Ia sedikit melirik sekilas, namun wanita itu malah memalingkan muka, seakan takut jika raut wajahnya terlihat. Arsyla menutup wajah dan menjauh dari ibunya saat itu.
"Bu, ibu kenapa menagis?" tanya Dodi, duduk di samping Bu Ira.
Bu Ira terseyum, seraya menjawab," ibu enggak papa ko nak."
Ibu Ira terseyum bahagia di kala ada seorang anak kecil peduli padanya.
"Kamu anak baik, makasih ya nak," ucap Bu Ira mengelus kepala Dodi saat itu.
"Oh ya, ibu di sini sendirian. Apa ada saudara atau anak bu?" tanya Ami.
"A ...," baru saja bibir Bu Ira ingin berucap. Arsyla melirik menatap pada raut wajah sang ibu, agar tidak memberi tahu bahwa Bu Ira besama anaknya.
"Kenapa bu?" tanya Ami.
"Ibu sendirian di sini nak, tidak ada saudara atau pun anak," ucap Bu Ira sedikit berbohong.
Rasa kasihan mulai menyelimuti hati Ami saat itu, Ami tak tega membiarkan wanita tua jalan sendirian di kota yang lumayan luas ini.
"Bu dimakan dong, ayo," ucap Ami.
__ADS_1
Bu Ira merasa tak enak hati jika makan sendiri, ia seakan ingat dengan Arsyla yang berada tak jauh dari dirinya.
"Loh, ko diliatin. Ayo makan bu," ucap Ami.
Bu ira seakan tak kuat menahan perih pada perutnya, ia terpaksa memakan sendiri makanan yang di beri oleh Ami saat itu.
"Enak bu?" tanya Dodi.
"Enak sekali nak, makasih ya!" jawab Bu Ira terseyum sembari menyuapkan nasi pada mulutnya.
Arsyla hanya bisa menelan luda melihat ibunya yang makan sendiri, rasa haus dan lapar membuat tubuhnya sekaan lemas.
Ibu makan sendiri, benar-benar menyebalkan, gerutu hati Arsyla.
Saat itu Bu Ira menagis.
"Ibu kenapa menagis?" tanya Dodi.
"Ibu enggak kenapa-napa ko de!" jawab Bu ira.
"Gimana kalau ibu ikut dengan kita ke rumah, dari pada ibu tinggal di sini," tawaran Ami pada Bu Ira.
Wanita tua itu melirik ke arah kiri melihat anaknya yang seakan tak memperdulikan dirinya. Wanita tua itu bingung harus berkata apa, sedangkan anaknya berada di dekatnya.
"Ibu kenapa melamun?" tanya Ami membuyarkan lamunan wanita tua itu.
"Ibu enggak kenapa-napa ko!"
"Gimana bu, mau ikut kita enggak. Di sana ibu bisa bekerja di rumah saudara kami, kebetulan kami hanya menginap sebentar di sini," ucap Ami membuat pandangan wanita tua langasung menatap raut wajah Ami.
Bu Ira bingung dengan perkataan Ami saat itu, ia melirik pada raut wajah anaknya. Saat itulah Arsyla memberi kode untuk ikut dengan mereka.
"Ya sudah ibu mau," ucap Bu Ira, ia berpikir dengan bekerja bisa membutuhi kehidupannya.
Saat itulan Ami membawa Bu Ira ke rumah Arpan, untuk memperkerjaakan wanita tua itu, kebetulan sekali Arpan sedang tidak ada di rumah saat itu.
Ami membawa Bu Ira masuk ke dalam mobil menarik tangan Bu ira yang masih ragu.
__ADS_1
"Jangan takut bu, kita tidak ngapa-ngapain ibu ko," ucap Ami, terseyum manis pada Bu Ira.