
MASA LALU SARAH 4
Mengikuti arahan dari Tama, kini Sarah mulai memakai obat yang disediakan Tama di atas meja. Sarah meneteskan obat itu pada kedua matanya, dia melihat ke arah cermin wajahnya, kedua matanya begitu terlihat bengkak karena kurangnya tidur di malam hari.
Obat itu membuat kedua mata Sarah terus mengeluarkan air mata perlahan demi perlahan, seperti dirinya yang sudah Menangis Semalam. Sarah masih bingung dengan apa yang akan di rencanakan Tama, Iya hanya bisa menurut, karena dirinya yang tak mau masuk ke dalam penjara.
Tring ....
Beberapa pesan datang dari ponsel Sarah.
( sebelum kamu keluar dari kamarmu sendiri, Aku pastikan rambut dan bajumu berantakan.)
Setelah membaca pesan itu, Ini Sarah mulai mengacak-ngacak rambutnya. Membuat pakaiannya sedikit tak beraturan, Dia terlihat seperti orang yang depresi.
( setelah waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, barulah kamu bisa keluar dari kamarmu. Menghampiri semua orang di meja.)
Itulah pesan yang dikirim Tama yang terakhir, Sarah mulai duduk menunggu jam menujukan pukul 8 Pagi.
@@@@@
Di tengah Sarah yang menunggu jam menujukan pukul 8 pagi, kini Alda bangun dari pingsannya. Ia membuka kedua matanya perlahan, melihat ke arah sekitar. Begitu terlihat gelap dan pengap. Seakan nafasnya terasa sesak.
“Di mana aku?” tanya Alda dalam hati.
Dirinya tak bisa menggerakkan tubuh, kedua tangannya terasa sakit. Ia menatap ke atas, ternyata dirinya digantung dan diikat begitu kuat.
Tubuhnya begitu terasa lemas, ia seakan kehilangan energi. Rasa haus mulai menyelimuti tenggorokan, ingin sekali mulutnya merasakan air minum yang menetes walaupun sedikit.
“Gadis itu dan anak tiriku sanggatlah keterlaluan,” gerutu Alda.
Iya tak bisa apa-apa, mulutnya diperban kembali. Untuk berteriak pun ia tak mampu. Apalagi melepaskan dirinya sendiri, karena ia dikurung di dalam lemari kosong yang begitu pengap.
Untung saja ada udara yang masuk Walau sedikit, dirinya masih bisa merasakan bernafas walau entah kapan ia akan bertahan lama.
. Karena pintu lemari itu sedikit terbuka, membuat cahaya kecil masuk ke dalam lemari yang ia tempati.
“Aku ingin bebas.” Teriak Alda dalam hati.
Saat itulah Alda hanya bisa menangis, berteriak-teriak dalam hati. Dirinya masih ingin hidup, seperti biasa. Iya sangat menyesal karena sudah ikut campur dalam pernikahan Sarah dan juga suaminya.
__ADS_1
“Kalau saja aku berpura-pura tak ikut campur, mungkin hidupku tidak akan seperti ini,” gerutu Alda dalam hati.
Kakinya yang terikat, berusaha menggedor gedor pintu lemari. Dia Mengayunkan tubuhnya, agar pintu lemari terbuka.
Dengan tenaga yang ia punya, ia berusaha beberapa kali Mengayunkan kakinya, hingga ke-10 kalinya, pintu lemari itu terbuka lebar. Pada saat itulah cahaya terang mulai Iya rasakan, membuat nafasnya terasa tak pernah lagi. Alga mulai melihat tubuhnya, yang ternyata ia tidak memakai baju, hanya kain merah yang menyelimuti tubuhnya.
“Ke mana bajuku?”
Alda bertanya pada hatinya, mencari-cari di mana bajunya.
“Aku harus bebas. Dari sini.”
@@@@@@
Sarah yang mendengar gedoran gedoran pintu lemari, hanya bisa diam. Iya mengacuhkan suara itu, berusaha membuang rasa kasihan terhadap Alda.
“Ini demi kebaikanmu.” Ucap Sarah.
.
Saat itulah Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, di mana drama Sarah dan Tama dimulai. Kini Sarah mulai berjalan membuka pintu kamarnya, mendekat ke arah meja makan yang sudah tersedia dengan beberapa macam makanan.
Sarah mulai menatap Naina. Iyalah istri ketiga Pak Anton yang tak lain Ibu dari Tama.
Kini Sarah mulai berakting menatap wajah Naina, kedua mata Sarah kini terlihat berkaca-kaca, membuat Naina merasa tak tega. Sedangkan dengan Meri ia seakan biasa saja, karna rasa tak sukanya pada Sarah sejak ia di bawa Pak Anton ke rumah.
“Coba kamu katakan, kamu kenapa?” tanya Naina dengan lembutnya.
“Alah, sudalah Naina jangan sok perhatian. Bisa saja dia hanya cari simpati dan membuat kita merasa kasihan padanya,” cetus Meri yang mulai menggeser kursi untuk segera duduk.
Naina sudah terbisa dengan ucapan Meri yang memang selalu asal dalam berbicara, Meri tak pernah berpikir dua kali dalam berkata, ia tak pernah memikirkan perasaan orang lain saat berucap.
Pada saat itulah Naina, mulai menyuruh Sarah untuk duduk. Menenangkan hati dan pikirannya yang terlihat tak tenang.
Meri yang terbiasa makan bersama Alda, kini seakan Kehilangan sosok sahabatnya yang selalu menemaninya bergosip.
Dia melihat kesana kemari, tak terlihat batang hidung ada sama sekali.
“Ke mana Alda?” tanya Meri.
__ADS_1
Membuat Sarah menatap ke arah wajahnya, Tama yang baru saja datang, menampilkan tubuhnya yang terlihat segar. Dia tersenyum melihat penampilan Sarah.
Meri mulai menyuruh pembantu di rumahnya untuk mencari keberadaan Alda.
“Bi, tolong dong bangunin Alda. Kayanya dia masih ngorok deh.” Pinta Meri.
“Baik non.” Ucap pembantu di rumah. Mulai berjalan menghampiri kamar Alda.
Sarah dan Tama saling menatap satu sama lain, mereka sedikit gugup.
Saat itulah pembantu mulai berlari ke arah meri dan berucap,” nona Alda tidak ada di rumah. Semua lemarinya kosong. Hanya ada surat ini.”
Pembantu itu langsung menyodorkan lembaran kertas kepada Meri.
"Sebuah kertas." Gumam hati Meri.
Naina langsung melihat kertas yang di pegang Meri, pada saat itulah Naina mulai berucap pada Meri," coba kamu baca isi surat dari Alda."
Saat Meri membuka surat itu, bertapa terkejutnya dia. Hatinya kesal dan tak percaya sahabatnya begitu tega. Rasanya Meri ingin sekali menjabak rambut Alda yang menurut dia keterlaluan.
"Kamu kenapa, Meri?" tanya Naina.
Saat itulah Meri mulai menyodorkan kertas putih yang bertuliskan tulisan Alda." Coba kamu baca sendiri."
Naina mulai mengambil kertas putih itu, membaca dalam hati. Kedua matanya membulat ia syok. Tak menyangka jika Alda sangatlah keterlaluan.
"Bisa-bisanya si Alda ini." Gerutu Naina.
Meri yang masih tak percaya, hanya bisa menahan kekesalan.
Sedangkan Tama hanya bisa bersikap santai, melihat kedua istri Pak Anton yang tengah menahan amarah.
Meri kini mulai berjalan ke arah ruang kerja Pak Anton.
"Mau ke mana kamu Meri?" tanya Naina.
"Aku ingin kejelasan yang pasti, karna kenapa bisa Alda mendadak membuat surat itu dengan alasan yang tidak masuk akal. Padahal tafi malam aku sempat berbicang dengannya!" jawab Meri.
Ya sebelum kejadian itu terjadi, di mana Alda masuk menyelidiki kamar Sarah, Alda sempat berbicang dengan Meri untuk waktu yang lama.
__ADS_1
Meri tak percaya kenapa Alda dengan sesingkat itu pergi meninggalkan rumah, dan tak ada tanda-tanda Alda pergi. Atau pun kabur.