
Sore menjelang, Ane masih duduk di ruangannya. Ia seakan malas sekali untuk pulang ke rumah. Rasanya ia ingin menyendiri di ruangannya sendiri tanpa satu orang pun yang mengganggu.
Melihat pada layar ponsel, rasanya ia ingin sekali menghubungi Alan dengan harapan Alan akan mengangkat panggilan teleponnya.
Tapi itu tidak mungkin, yang Ane tahu Alan adalah korban kecelakaan pesawat dan kemungkinan hidup sanggatlah kecil.
Ane merenungi dirinya sendiri membayangkan, jika memang Delia sembuh. Ia akan mempertaruhkan kebahagiaan keluarganya.
“ Kenapa lelaki bernama Deni itu datang lagi ke kehidupanku. Belum puas dulu dia mengejarku sampai melakukan hal yang tak pantas, dan sekarang dia datang mengejarku lagi dan aku sudah mulai jatuh dalam jebakannya. Ane, apes sekali hidupmu.”
Memukul kepala beberapa kali. Ane terus menyalahkan dirinya sendiri.
Ia menggigit kukku jari tangannya. Menenangkan rasa kekesalannya sendiri.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu beberapa kali terdengar, Ane sengaja mengunci ruangannya. Ia tak ingin orang melihat rasa kesalnya di dalam ruangan sendiri.
Ane berpura-pura tak mendengar ketukan pintu itu, ia mencoba mengabaikan ketukan pintu itu.
Beberapa menit kemudian terdengar seorang pria memanggil namanya. Pria itu tak lain ialah Deni.
“ Ane, kamu kenapa?”
Ane mengepal kedua tangannya, kesal dengan suara itu. Rasanya ia ingin membunuh lelaki bernama Deni itu di tempat, tapi itu tidak mungkin yang ada Ane akan menderita dan hidup di penjara.
Sang papah tidak akan mempercayai Ane lagi untuk memiliki rumah sakit dan akan mengusirnya begitu saja.
“ Ane, tolong buka pintunya. Kenapa kamu kunci segala. Apa kamu melupakan sesuatu Ane.”
Ane dengan terpaksa membuka pintu ruangannya, ia tak ingin suster yang tanpa sengaja melewati ruangannya mendengar teriakan Deni.
Teriakan lelaki bereng*ek itu, akan membuat reputasi Ane hancur seketika.
Membuka pintu, saat itulah Deni masuk ke dalam ruangan Ane. Tanpa Ane minta Deni mengunci ruangan Ane begitu saja, tubuhnya mulai ia dekatkan pada Ane.
“ Deni, jangan kurang ajar kamu, ya.”
Deni menatap tajam ke arah Ane, seakan dirinya tak bisa menahan hasrat yang menggebu-gebu.
Ane yang merasa tak suka, terus maju kearah belakang.
“ Kenapa langkahmu semakin menjauh, sayang?”
Deni mulai berani meraih wajah Ane, sebisa mungkin ia ingin mencium bibir tipis sang dokter.
Kedua mata Deni menatap tajam ke arah Ane.
__ADS_1
Sedangkan Ane terus menghindari tatapan itu.
Deni langsung membisikan sesuatu pada Ane, bisikan yang membuat Ane semakin kesal.
“ Bagaimana kamu sudah mengerti apa yang aku inginkan?”
Ane hanya menganggukkan kepala berusaha untuk mengerti walau dengan terpaksa.
“ Sayangku, Ane.”
“ Iya.”
Jawaban Ane sanggatlah cetus, membuat Deni mencuil hidung Ane.
“ Kamu sangat manis sekali Ane, kenapa wajahmu membuat aku selalu cinta dan tambah cinta padamu.”
“ Itu bukan cinta, melainkan hanya nafsu kamu saja, Deni!”
“Ane, kamu tahu kan. Dari dulu aku sangat mencintai kamu. Masa ia yang aku tanamkan di hatiku ini hanya nafsu saja.”
Deni benar-benar keterlaluan, tangannya tak henti terus memegang pipi Ane.
“ Kamu sudah siapkan untuk malam ini?”
Ane menundukkan pandangan, sedangkan Deni tak suka dengan wajah Ane yang jika di tanya selalu menunduk seakan terpaksa.
Tangan Deni mencekam erat dagu Ane, membuat wajah Ane mengangkat ke atas. Deni lancangnya Deni mencium leher Ane.
Membuat Ane seakan jijik sekali. Dengan ke tidak sukaan Ane dengan perlakuan Deni, Ane langsung menginjak kaki Deni. Membuat Deni meringis kesakitan, karna Ane tak segan-segan menancapkan hak tinggi pada sepatu Deni.
“ Kenapa kamu menginjak kakiku, Ane?”
Ane terus mencapkan hak tingginya pada kaki Deni. Semakin Deni memberontak, semakin tekanan Ane semakin kuat menekan kaki Deni yang memberontak.
“ Lepaskan Ane, ini menyakitkan.”
Ane seakan tak puas dengan apa yang ia lakukan, ia mulai berucap pada Deni.
“ perjanjian kita itu nanti malam, bukan sekarang. Harusnya kamu tahu diri Deni.”
Deni tersenyum dengan menahan sakit pada kepalanya.
“ Iya maafkan aku, Ane,”
Ane mulai melepaskan kakinya sendiri, ia menjauh di hadapan Deni.
Saat itulah Deni tersenyum kecut, meninggalkan ruangan Ane.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang cepat Deni langsung membanting pintu ruangan Ane.
Dokter Ane, langsung melipatkan kedua tangannya melihat tingkah Deni sepri anak kecil. saat itulah ia meraih ponselnya. Terdapat pesan yang belum terbaca, dimana pesan itu datang dari sang suami yang sangat menghuatirkannya.
Ia mulai mengetik pesan, membalas pesan suami, jika malam ini dia tak akan pulang ke rumah karna di haruskan untuk menangani pasien darurat.
Setelah pesan terkirim, Ane memeluk ponselnya sendiri seraya berkata," maafkan aku terlah membohongimu, pah."
Tak terasa air mata menetes perlahan mengenai pipi kiri Ane,
karna menolong satu orang dia harus meletakkan kebahagiannya, Ane bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
" Apa yang aku lakukan ini sudah benar, apa aku terlalu mempedulikan hidup orang lain.'
Ingin rasanya Ane berteriak sekeras mungkin, untuk meluapkan kekesalannya sendiri.
malam yang akan menjadi petaka buat Ane
.Tiba-tiba salah satu suster mengetuk pintu, memberi tahu bahwa ada pasien yang harus di tangani dengan segera. karna pasien terlihat parah.
Ane mulai mengelap air matanya, berusaha tetap profesional di depan suster, jangan sampai ada hal yang akan merusakmartabatnya sebagai dokter.
" Ini pasien kenapa?"
Tanya Ane pada para suster yang tergesa-sega membawa pasien ke ruang UGD.
Salah satu keluarganya datang, menangis histeris. Tak ada satu pasien pun kenapa orang yang mereka bawa tak tahu apa keluhannya.
Ane mulai menatap lekat pada pasien, melihat apa yang terjadi padanya sampai pasien luka-luka dan juga menangis tiada henti.
Bekas luka pada pasien seperti sebuah sayapan pisau di segaja.
Setelah sampai di ruangan UGD, Ane dengan sigap mulai menangani pasien. sampai pasien itu berkata.
" pesawat jatuh, pesawat jatuh."
Entah apa yang sedang di pikirkan pasien yang baru datang ini, membuat Ane memikirkan keadaan Alan.
Ane mulai menyuntikan obat bius untuk menenangkan pasien. Mengobati luka-luka yang harus di obati.
karna luka yang di Alami pasien cukup berat.
" kalian tak tahu kenapa pasien ini begitu banyak sayapan?" tanya Ane tegas.
salah satu pasien berkata pada Ane dengan lancangnya " Pasien kehilangan kendali, ia berusaha membunuh dirinya sendiri. karna kehilangan orang yang ia cintai dalam pesawat."
Ane mulai paham, ternyata lelaki yang kesakitan karna sayapan pisau ini, sangat sedih karna kehilangan belahan jiwanya, membuat ia terus murung sendiri sampai nekadnya akan melakukan percobaan bunuh diri.
__ADS_1
.