
"Hallo, Si, ada apa?" tanya Rudi pada sambungan telepon.
Rudi mengira panggilan telepon itu dari ibunya, tapi ternyata dari Sisi.
"Rudi, gimana keadaan Ami sekarang?" tanya Sisi, dalam panggilan telepon yang terhubung.
Rudi menjawab dengan hati yang masih merasakan rasa sedih yang mendera," Ami masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Sekarang ke adaanya keritis.
"Semoga saja Ami cepat sadar dari masa-masa koma dan sembuh sedia kala lagi," ucap Sisi hanya mampu mendoakan dari jauh.
"Terima kasih, Si!" jawab Rudi.
"Aku hanya ingin memberi tahu kamu, bahwa Arsyla akan segera menikah," ucap Sisi. Membuat Rudi senang. Pada akhirnya Arsyla menerima Rafa.
"Hanya saja ...,"
Ucapan Sisi terdengar ragu, membuat Rudi bertanya," hanya kenapa?"
"Sudahlah kamu tak usah tahu, oh ya. Sudah dulu ya. Rud. Ada hal penting."
Sisi seakan tak jelas saat berkata pada Rudi membuat rasa penasaran pada hati Rudi saat itu, entah apa yang akan di katakan Sisi. Di langsung mematikan panggilan telepon begitu saja.
Dodi bertanya pada sang papa," siapa yang menelpon, pah?"
Rudi mengusap pelan rambut Dodi dan berkata," tante Sisi sayang."
"Oh."
Perjalanan menuju toko kueh sudah sampai, dimana Dodi menyuruh papanya jangan ke luar dulu dari dalam mobil. Anak itu mulai membuka ras seleting pada tas gendongnya membuka celengan yang ia bawa.
"Kamu ngapain bawa celengan ke sini?" tanya Rudi melihat tingkah anaknya yang semakin lucu.
"Dodi mau beliin mama kue, dengan hasil Dodi menabung dari celengan ini, pah!" jawab Dodi. Mulai membelahkan celengan yang sudah lama ia isi dengan uang pemberian dari Ami, saat Dodi selalu di suruh.
"Kenapa enggak di rumah sama nenek pas buka celengannya?" tanya Rudi. Sedikit tertawa kecil saat melihat anaknya yang tengah menghitung uang koin, dimana uang itu tergambar angka lima dan beberapa nol di belakangnya.
"Papah, nenek kan, udah tua. Kalau ngitung kaya gini mana ngerti, penglihatannya udah banyak berbinar-binar kasian nenek!" jawah bocah kecil itu. Dengan keluguannya.
__ADS_1
"Ya sudah papa bantuin."
Ayah dan anak itu menghitung beberapa uang pecahan lima ratus perak dengan bersemangatnya, hingga beberapa menit kemudian, uang terkumpul.
Senilai dua ratus ribu.
"Ya, uangnya dikit, pah. Mana bisa beliin mama cincin permata," ucap Dodi. Menundukan pandangan dirinya begitu kecewa dengan hasil yang di dapat dari tabungan celengan yang ia kumpulkan.
Rudi mengusap pelan rambut belakang sang anak dan berkata," nanti papa tambahin, kalau memang Dodi pengen beliin mamah cincin permata. Segitu juga anak papah kan udah berusaha."
Dodi terseyum senang, melihat ke arah raut wajah Rudi," asik, benaran ya. Pah. Nanti kalau Dodi udah gede udah bisa nyari duit sendiri, Dodi bakal ganti uang papah."
Tanpa banyak mengobrol pada akhirnya mereka pergi menuju toko cincin permata. Dodi memilih salah satu cincin yang ia suka, dengan senang dan bahagianya Dodi tak sabar ingin memberikan pada sang mamah dengan harapan Ami akan bangun dari komanya.
"Cari apa, de?" tanya salah satu pelayan di toko permata, dengan ramah menyapa Dodi.
Dodi menujuk salah satu emas permata berwarna putih yang terlihat berkilauan, membuat pelayan langsung memperlihatkan kepada Dodi.
"Wah, cantiknya. Pah, lihat ini cantik banget. Mama pasti suka?" tanya Dodi menatap pada raut wajah ayahnya.
"Pastinya dong, de. Pas mama kamu lihat cincin permata ini, mama kamu pasti terseyum dan memeluk kamu," ucap pelanyan wanita itu terseyum ramah kepada Dodi.
Deg .... Pelayan wanita itu terdiam pilu saat mendengar perkataan anak kecil yang membeli cincin padanya.
Rudi mengacak rambut kepala anaknya dengan berkata," iya, pasti mama suka."
Pelayan itu diam tanpa bersuara lagi, hanya terseyum dan berkata," jadi, de?"
"Iya ka. Aku mau yang ini."
Saat pelayan itu membungkus cicin permata yang di pilihnya untuk sang mama. Ia terpikir untuk memberikan coklat kecil tanda maaf karna salah dalam berkata.
"Ini, de. Sudah kaka bungkus ya."
"Loh, ko ada coklatnya ka."
"Ini untuk dede, biar semangat. Kaka doain ya, mudah-mudahan mama dede senang."
__ADS_1
"Makasih ka."
Di setiap perjalan menuju toko kueh, air mata Rudi tampak berkaca-kaca. Perlahan mulai menetes ke dasar pipi, hingga terus ia usap.
Dodi mengikuti langkah kaki sang papa, beriringan berjalan, merangkul jari jemari papahnya dan berkata," papa. jangan sedih lagi, kan nanti mama bakal bangun dari tidurnya."
Ahk, rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin, saat Dodi berkata seperti itu, kenapa diri ini tidak bisa berkata jujur. Apa yang harus aku katakan pada Dodi, dia begitu polos dan tidak tahu apa-apa, gumam hati Rudi.
Rudi mulai mendudukan lututnya, memegang kedua bahu Rudi dan berkata," Dodi, gimana kalau nanti suatu saat mama pergi ninggalin kita. Dodi apakah ikhlas?"
Dodi mengeleng-gelengkan kepala seraya berkata," papah, jangan bercanda. Dodi yakin mama tidak mungkin meninggalkan kita."
"Dodi, kita tidak pernah tahu, ajal akan menjemput kita kapan saja. Tidak ada orang yang akan tahu, begitu pun dengan mama."
"Pokoknya, mamah tidak akan meninggalkan Dodi titik," ucap Dodi berlari, pergi menjauhi sang papa.
Rudi langsung berdiri mengejar Dodi mencari anaknya entah kemana.
"Dodi .... kemana kamu, nak."
Mencari ke sudut kota tapi tak ketemu juga. Dimana kah Dodi.
Rudi bertanya pada orang-orang yang melintas di jalanan bertanya tentang anaknya yang pergi, jauh.
Sudah beberapa orang yang di tanya Rudi.
Akan tetapi Rudi tidak mendapatkan petunjuk tentang anaknya yang hilang itu.
Lantas seseorang mendatangi Rudi yang kebingungan, dan bertanya "kenapa Pak kaya kebingungan gitu"
"Saya sedang mencari anak saya yang pergi entah kemana, apa Ibu melihatnya sambil menunjukkan photo Dodi yang ada di Handphone-nya," Jawab Rudi.
"Tadi saya sempat berpapasan dengan anak kecil yang ada di photo tersebut di perempatan jalan di depan sana, dia terlihat tergesah-gesah, ketika saya panggil dia malah menangis." Jawab Ibu itu, menunjuk ke arah jalan dimana Dodi berlari sembari menangis.
"Terima kasih Bu. "Rudi langsung bergegas pergi untuk mengejar Dodi.
Sesampainya di perempatan Rudi mengejar seseorang yang mirip seperti Dodi, tapi ternyata sosok tersebut bukanlah Dodi.
__ADS_1
Tak jauh dari tempat itu, ada jembatan panjang, Rudi melihat Dodi yang sedang berdiri di pinggir jembatan, sembari menangis terisak-isak. Sesekali tangannya yang memegang batu kerikil kecil ia lemparkan pada jurang.