
Pagi hari.
"Selamat pagi Nona Ami," sambut gadis bernama Delia.
"Delia, itu kamu. Wah kamu makin cantik saja!" ucap Ami. Memeluk sang sahabat.
"Gimana, rencana pernikahan kamu?"tanya Ami sesaat setelah memeluk sang sahabat.
"Baik Am, dan rencananya bulan depan. Aku akan menikah. Doain ya, moga lancar sampai hari H."
"Sip deh."
Ami mempersilahkan Delia masuk ke rumah. Di sana sudah di sambut oleh Rudi. Delia yang melihat Rudi terseyum kecut.
"Pantas saja, wanita yang kamu sebut namanya itu Sisi terpesona dengan suamimu Am,"ucap Delia matanya mengarah pada Ami.
"Emang kenapa?" tanya Ami.
"Terlalu menebar pesona, sok cool."
Ami tertawa tebahak-bahak, Delia yang melihatnya hanya melongo.
Rudi menghampiri mereka berdua dan terduduk.
"Jadi apa Rencana Sisi selanjutnya?" tanya Rudi pada wanita bermata sipit itu.
"Dia hanya merencanakan abor*i, untuk temannya yang bernama Sinta!" jawab Delia.
Ami yang mendengarnya menutup mulut kaget dengan pernyataan Delia.
"Terus. Apa lagi?"
"Terus, terus. Emang saya tukang parkir apa!" jawaban Delia membuat wanita berwajah tirus itu terus tertawa dan menepuk punggung suaminya.
Rudi langsung mencubit bibir Ami yang tipis itu, agar berhenti tertawa.
"Kemarin saya berhasil membawa Hp wanita bernama Sisi itu."
"Apa isi dari data itu semua."
"Aku berhasil melihat isi pesan dari seseorang yang entah itu siapa, dari laki-laki dan juga rentenir."
"Wanita janda itu sebenarnya hanya ingin harta kalian, buat melunasi hutang suaminya yang bernama Andi." pernyataan Delia membuat Ami angkat bicara.
"Bukanya, aku sudah bantu dia. membayar hutang suaminya!"
"Menurut informasi yang saya dapatkan, Hutang suaminya sampe miliaran. Dia sudah menggait beberapa laki-laki hanya untuk menutupi hutang yang kecil-kecil saja, Ami kamu tahu sendiri wanita model dia. Barang-barang pun semua branded" ucap Delia, pernyataan detektive seperti Delia mampu di acungi jempol. Dia mampu menghecker semua data pribadi.
"Sekarang apa rencana dia?" tanya Rudi.
"Seperti yang saya simpulkan, Luky teman ada bersekongkol. Agar ada takluk dalam pelukan wanita bernama Sisi itu. Setelah Sisi mendapatkan Pak Rudi, otomatis peluang untuk mengambil perusahaan Ami sangat besar," ujar Delia.
"Pantas saja dalam berkas berwarna biru yang aku curi, saat berpura-pura buta. Sisi menulis dalam berkas itu. Hak warisan dan parusahaan akan di ambil alih oleh suamiku Rudi!" jawab Ami.
"Betul Am, otomatis dia akan memanfaatkan Rudi agar menikah dengan Sisi. Lalu tulisan itu bisa ia ganti dengan semanah-menah."
Rudi dan Ami mengangguk tanda mengerti.
"Tapi Del, bukanya Sisi benar-benar terobsesi denganku," ucap Rudi mengetes wanita di sampingnya.
Ami mendelik memperlihatkan ketidak sukaannya saat Rudi berkata seperti itu.
"Geer banget si Pak Rudi ini. Kayanya mau di pukul pake tangan ini ya," tukas Ami melipat-lipat tangan bajunya.
"Awalnya ia, karna Pak Rudi terlalu setia. Jadi bikin si janda itu, lama-lama bosan. Pak Rudi terlalu jual mahal," jawab Delia, sambil tertawa terkekeh.
"Iya, Dong kan suami sayang istri."
Ami dan Delia berkata." Lebai."
"Oh, ya. Untuk melaporkan Bu Nunik kekantor polisi, apa masih bisa?" tanya Rudi.
"Apa kalian punya bukti!" jawab Delia.
"Hanya akta dan satu saksi!"
"Emh, sepertinya tidak mudah. Pak Rudi, apalagi ini kasus sudah lama, dan saya mencari info bahwa kasus ini sudah di tutup oleh pihak polisi. Oleh seorang lelaki bernama Tono. Kalau pun kalian mau memenjarakan Bu Nunik, kalian harus cari kesalahan kriminal lainya?"
__ADS_1
Penjelasan Delia membuat Ami sedikit kagum.
"Tunggu, kenapa almarhum ayah menutupi kasus itu!" ucapan Rudi membuat dia semakin bertanya-tanya.
Delia langsung angkat bicara." kemungkinan pihak keluarga tidak mau kalau dalam keluarganya, menyangkut paut nama polisi. Kalau pun ada nama besar keluarga Pak Tono akan tercontreng, atau juga ada rahasia lainnya yang mereka sembunyikan."
"Halo tante cantik?" tanya Dodi dia berjalan menghampiri Delian terseyum manis.
"Dodi kamu jangan gitu, malu-maluin. Sebagai cowok kita harus cuek," ujar Rudi seketika langsung menggendong Dodi.
Ami dan Delia saling menatap satu sama lain dan tertawa bersama.
************
Rencana Di mulai.
Delia masuk memakai kemeja berwarna putih layaknya karyawan yang sedang melamar kerja.
Melihat wanita itu Sisi tertohok kaget.
"Bukannya itu wanita yang tertabrak di cafe itu ya."
Sisi wanita berwajah bulat itu menghampiri Delia.
"Apa kita pernah ketemu?" tanya Sisi terseyum ramah pada Delia.
"Oh tentu saja, di cafe bintangkan!" jawab Delia terseyum ramah. Sembari menunduk dan memberikan Hp yang pernah ia ambil dalam tas Sisi. Ia berpura-pura menemukan Hp- wanita berwajah bulat itu terjatuh.
"Hp-ku, dimana kamu menemukan ini." Sisi berterimaksi pada wanita bernama Delia itu.
"Saat kita berkenalan, kayanya Hp kakak terjatuh. Dalam tas."
Tidak ada rasa curiga dalam hati Sisi kepada Delia saat itu.
"Apa kamu mau melamar kerja?" tanya Sisi terseyum ramah.
"Iya, ka. Dimana ya, saya bisa menemui Pak Rudi pemegang perusaahan ini?"
Sisi langsung menyuruh satpam mengantar Delia memasuki ruangan Rudi.
Pak satpam itu langsung terseyum dan mebukukan kepalanya. Seraya berlalu pergi.
Delia langsung saja masuk tanpa basa basi.
"Permisi pak."
"Kamu datang juga akhirnya! Bagaimana kamu sudah siap bekerja?" tanya Rudi yang terduduk di kursi.
Delia mengacungkan jempol tanda dia sudah siap.
"Sekarang tempat ku dimana Pak Rudi?" tanya Delia.
"Kamu tinggal bertempat bersama Sisi."
"Oke."
Rencana di mulai.
Delia dengan sigap mendekati Sisi, dengan tingkah sok polos dan tak tahu menahu.
Sisi memperlihatkan dan mengajarkan Delia untuk membuat sebuah laporan perusahaan.
Delia terseyum dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Ketika meeting sebentar lagi akan di mulai Sisi sibuk dengan dokumen yang ia buat semalaman. Dokumen tentang rekomendasi pembangunan perumahan bersekala subsidi. kepada klien.
Sesaat Sisi tengah sibuk, Delia tak luput dari pandangan leptot Sisi. Ia terus melihat apa yang Sisi ketik di leptopnya.
Sesaat Sisi pergi bergitu saja. Delia beraksi dengan menggambil dokumen itu mengganti dengan yang lain, data dari laptop pun ia hapus semua.
"Rasain ini baru permulaan Sisi."
Sesaat itu Sisi datang. Ia melihat tangan Delia menyentuh leptopnya.
"Sedang apa kamu?" tanya Sisi membuat Delia terhentak kaget.
"Maaf ka, aku lupa apa yang tadi di ajarkan kakak!" jawab Delia dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Kamu juga kan punya leptop pake punya kamu," hardik Sisi. Membuat Delia menundukan kepala.
Dengan terburu-buru Sisi mengambil leptop dan menutupnya. Matanya sedikit kesal pada Delia, karna ia memegang leptop pentingnya.
Meeting di mulai, Sisi terburu-buru mendengar Rudi memanggil namanya dan semua karyawan yang ada di sana. Begitu pun dengan Delia yang ikut serta.
Ketika Sisi merekomedasikan gambar dari leptopnya. Tiba-tiba gambar itu berubah menjadi gambar poto dirinya, yang tengah berpose seksi.
Semua orang dan klien langsung tertawa, Sisi yang baru sadar membalikan badan. Dan buru-buru menutup poto itu.
Seketika Rudi menatap ke arah wajahnya, memberi kode untuk duduk.
Di saat itu Rudi angkat bicara, " maaf ada kesalaha, sistem."
"Sisi, apa ada berkas Dokumennya."
Sisi terseyum, hatinya masih merasakan malu. Ia memberikan dokumen itu kepada klien.
"Apa-apaan ini, kalian mau mepermainkan saya. Dokumen macam apa ini?" tanya Pak Hartono yang menjadi klien di sana.
Rudi langsung mengambil berkas yang di letakan oleh Pak Hardi dengan keadaan marah. Melihat semua isi dokumen itu adalah curhatan Sisi.
"Maaf pak, saya tidak tahu. Kalau karyawan saya akan bersikap seperti ini."
"Saya kecewa Pak Rudi. Sekarang saya ingin yang jelas. Tolong rekomendasikan perusahaan bukan curhatan hidup."
"Pak beri saya kesempatan."
"Baik, saya beri kesempatan. Silahkan rekomendasikan lagi dengan benar."
"Biar saya yang merekomendasikan di depan," ujar sosok seorang wanita yang berjalan pelan, tak lain ia lah Ami.
Semua orang tertohok kaget melihat wanita bernama Ami datang tiba-tiba
Begitu pun dengan Sisi, dia seakan tak percaya Ami masuk ke perusahaan ini.
Pak Hardi langsung berkata." Silahkan."
Semua orang menatap ke arah Ami, Pak Hardi langsung setuju dengan rekomendasi yang di berikan Ami. Mereka mau mengeluarkan dana dan bekerjasama.
Sisi yang melihatnya, seketika rahangnya mengeras. "Sial, ada yang mengerjaiku."
Setelah meeting selesai. Sisi langsung menarik tangan Delia.
"Apa kamu penyebabnya hah?" tanya Sisi menekan perkataan Delia.
Delia berpura-pura seakan ketakutan.
"Aku tidak tahu, mba. Menghapus berkas itu pun aku tak tahu."
Sisi langsung berpikir dan berkata dalam hati." Ada benernya nih, anak. Dia kan masih baru mana mungkin bisa."
"Terus siapa kalau bukan loe. Jelas-jelas di ruangan ini hanya ada loe dan gue, anak baru." telujuk tangan Sisi menujuk pada badan Delia.
"Sisi jaga bicaramu," teriak Rudi saat melihat Sisi memerahi Delia, yang tak lain karyawan baru.
Sisi menunduk ada rasa takut menghantui dirinya.
"Kalau kamu bikin kesalahan lagi, aku akan pecat kamu dari perusahaan ini," hardik Rudi. Membuat Sisi menunduk, Rudi berlalu pergi begitu saja.
Sisi yang kesal, meperlihatkan ketidak sukaan ya pada Delia.
Seketika Ami melirik pada Delia mengancukan jempol, dari kejauhan.
Saat di meja kantor, ia seakan stres dengan keadaan ini. Kalau bikin kesalahan lagi Sisi akan di keluarkan dari perusahaan ini bagaimana nasib wanita berwajah bulat itu kedepannya.
Sesaat setelah pulang dari kantor, Sisi melihat rentenir mengobrak abrik rumah Ibu Nunik.
"Mereka datang lagi, bagaimana ini. Aku harus kabur."
Melihat Bu Nunik yang di usir dari rumahnya sendiri menagis, karna rentenir itu memperlihatkan surat jaminan rumah Bu Nunik yang di serahkan oleh Sisi untuk menutupi setengah hutangnya.
"Sisi, kamu kurang ajar," ucap Bu Nunik.
Bu Nunik bingung harus pergi kemana rumah tidak ada. Uang pun tidak ada.
"Sial, aku terlalu percaya pada Sisi." gurutu Bu Nunik, berjalan pelan tanpa arah tujuan.
__ADS_1