Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 81 Wanita itu?


__ADS_3

Aku tak menyangka Arsyla datang tanpa rasa malu sedikit pun. Apa sudah cukup dia menghina keluargaku, membuat hidup Dipa menderita. Setelah kepergiaan Dipa dia baru saja datang. Gumam hati Arpan.


"Apa kabar saudaraku?" Menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Arpan seakan enggan bila melihat raut wajah wanita berhijab merah itu.


"Kamu masih punya muka datang ke sini, setelah kepergian adikku kamu kemana saja," ucap Arpan sedikit ketus. Melihat wanita berhijab merah itu menampilkan kepolosannya.


"Ya ampun, Dipa meninggal. Aku merasa sangat sedih, bukanya adikmu itu memang penyakitankan."


Perkataan Arsyla sudah membuat relung hati Arpan sakit sekali. Ia menahan amarah yang menjalar tiba-tiba, mengepal kedua tangannya. Ingin sekali memukul mulut wanita yang menjadi saudaranya itu.


"Jaga mulutmu, Arsyla!"


Wanita itu meyungingkan bibir atasnya, matanya melirik kearah tamu.


"Ya, sudah mana calon pengantin wanitamu. Katanya dia janda ya?" tanya wanita di hadapan Arpan. Sembari melipatkan kedua tangannya.


"Kamu tidak harus tahu itu. Tak penting bagimu!" jawaban Arpan membuat Arsyla. Sedikit mendengkus kesal.


"Ya sudah, lebih baik aku cepat pulang dari sini. Enggak level kalau datang ke tempat rendahan ini," ucap Arsyla.


"Silahkan pintu keluar terbuka untuk wanita macam kamu. Oh ya katanya perusahaan Om Ridwan hampir bangkrut, siap- siap jadi miskin dong," bisik Arpan pada telinga saudara wanitanya itu.


Wanita itu membulatkan matanya tak terima dengan perkataan Arpan saat itu.


"Tidak ada kata miskin di keluarga ku, kamu tahu itu," hardik Arsyla. Menunjuk pada wajah Arpan.


Telunjuk tangan itu berhasil di raih Arpan. Lelaki berkulit sawo matang itu hampir saja membuat tangan Arsyla nyaris patah. Melepaskan dengan keras.


"Sakit, ingat Arsyla aku bukan lelaki lemah seperti dulu. Yang selalu kamu hina dan maki-maki, ingat itu," acam Arpan. Membuat Arsyla seakan malu dan pergi begitu saja.


Wanita itu berjalan hingga menyenggol Delia begitu keras.


"Hati-hati dong kalau jalan," ucap Delia. Arsyla malah pergi begitu saja. Ia seakan geram dengan tingkah Arpan pada dirinya.


"Dasar sinting, nabarak pergi gitu aja. Tanpa minta maaf. Engga ada sopan santunnya," teriak Delia.


Arsyla yang mendengar itu, melirik sebentar dan pergi begitu saja.


*************


Saat itu Sisi datang menghampiri Arpan ia memegang erat tangan sang suami, terseyum ceria. Membuat Arpan kaget.

__ADS_1


"Sayang, sudah baikan?" tanya Arpan. Sisi terseyum manis mengangguk. Siap menerima tamu undangan.


Acara pernikahan selesai. Badan Arpan seakan remuk karna tamu undangan yang begitu banyak. Membuat Arpan merasakan lelah sekali.


Di sisi lain, Sisi duduk memijit bahu sang suami. Seraya berkata," pernikahan kita begitu banyak sekali masalah. Apa kedepannya akan selalu begini, di hadapi masalah, maafkan aku Arpan. Karna aku kamu ...,"


Belum mulut berucap sepenuhnya. Arpan menjawab pertanyaan sang istri saat itu." Biarkan saja. Yang penting kita sudah sah menjadi suami istri."


Betapa simpel jawaban Arpan saat itu. Membuat Sisi ingin mencubit pipi suaminya.


"Aw, sakit," teriak Arpan. Tatapan mata mereka saling beradu memandang satu sama lain. Kecupan mulai di layangkan pada bibir Sisi saat itu.


"Manis," bisik Arpan mengheduskan nafas beratnya.


Belum acara malam pertama di mulai.


Brug ... suara pintu terjatuh tiba-tiba. Membuat Sisi dan Arpan kaget bukan main.


"Pintunya," ucap Arpan. Sisi ingin sekali tertawa, tapi dia tahan.


"Semua gara-gara kamu ni." Arpan mengelitik badan Sisi membuat Sisi tertawa.


Mereka merasakan indahanya cinta yang sesungguhnya.


"Apa kamu akan biarkan pintu itu terbuka begitu saja," ucap Sisi. Arpan memeluk erat tubuh istrinya.


"Biarkan saja, toh hanya kita berdua yang berada di rumah ini!" jawab Arpan. Ia memulai semua itu dengan lebut.


************


Arsyla pulang dengan raut wajah ke tidak sukaannya atas perilaku Arpan saat itu. Ia kesal harga dirinya seakan di ijak- ijak.


"Loh, ada apa ini. Ko pulang marah-marah?" tanya sang bunda yang tiba-tiba datang.


Arsyla mendengkus kesal Ia menjawab perkataan sang bunda," itu tuh si Arpan sombongnya selangit. Dia bikin Arsyla emosi."


"Bukanya Arpan itu selalu berkata lembut dan rendah hati. Mana mungkin dia seperti itu," ucap sang bunda. Tak percaya dengan perubahan keponakannya itu.


"Entahlah, pokonya aku kesal. Apalagi sekarang dia menikah dan hidup bahagia, aku tidak suka itu. Aku ingin melihat Arpan menderita dalam kemiskinan," hardik Arysla.


"Sudah jangan begitu sama dia, bagaimana pun yang salah itu kita, kamu harusnya baik-baik sama dia," ucap sang bunda. Membuat Arsyla tak suka dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang ibu.

__ADS_1


"Loh, bunda kenapa bela dia. Harusnya bunda tetap seperti aku. Yang benci dengan dia?" teriak Arsyla.


"Tidak baik harus membenci saudara berlebihan. Kita harus sadar diri, Arpan itu orang baik Arsyla. Kamu harus baikan dengan dia," nasehat ibu terlontar begitu saja.


"Ahk, aku sudah tidak suka sama dia sejak. Kecil," hardik Arsyla. Ia mengusir bundanya keluar dari kamarnya.


"Arsyla. Bagaimana pun. Arpan saudara kamu jangan salahkan dia atas semua kematian bapak, Arpan tidak salah sepenuhnya," ucap Bu Ira. Arsyla malah semakin marah kepada sang bunda.


"Pokonya Arpan lelaki pembawa sial, kalau saja papa tidak menolong Arpan dari kecelakaan itu. Papa tidak akan meninggal. Makanya dia pantas kita hina miskin, toh orang tua dia miskin dan hanya anak yatim."


Perkataan Arsyla membuat sang bunda mengeleng-gelengkan kepala. Entah kapan Arsyla akan berubah menyadari bahwa semua adalah takdir.


Ibu Ira seakan lelah menasehati anaknya, apalagi sekarang Bu Ira di hadapi dengan perusahaan suaminya yang hampir bangkrut.


"Arpan aku tidak akan memanggil kamu saudara melainkan seorang musuh," ucap pelan Arsyla.


****************


Pagi hari, tetangga Arpan datang tiba-tiba membawa gadis nya menemui Arpan. Sisi yang melihatnya terpaku heran.


Ia segera menghampiri suaminya. Berkata pada Arpan.


"Di depan ada tamu, ibu- ibu bawa anak gadisnya," ucap Sisi pada sang suami.


"Bilang saja, mas pergi entah kemana!" jawab Arpan pada sang istri.


"Emang kenapa mas?" tanya Sisi.


"Mereka tetangga sinting. Biarkan mereka pergi jangan ladenin."


Sisi langsung menganggukan perkataan istrinya itu, menyurih pembantu di rumah untuk menemui ibu- ibu itu bahwa tuan Arpan pergi entah kemana.


Bi Marni mengangguk mengiyakan printah nonanya.


Saat itu Bi Marni menghampiri tamu yang ingin menemui Arpan.


Bi Marni sudah berusaha mengusir dengan halus. Tapi ibu tua itu sungguh ngeyel. Membuat Arpan geram, sampai menghampiri tetangganya itu.


"Tu, ini Nak Arpan ada. Kamu ini bohongi saya," ucap Ibu tua itu.


Bi Marni menunduk pandangan, Arpan saat itu menyuruh pembantunya untuk pergi saja. Biarkan Arpan yang menghadapi tetangganya itu..

__ADS_1


__ADS_2