
Flasblack Ami dan Sarah.
Tiga hari berlalu, di mana masa cuti sudah selesai, Sarah mulai masuk untuk segera bekerja. Hatinya masih tak terima dengan pesan yang di kirim Ami.
“Tanganku sudah gatal, tak sabar aku ingin meninju wanita bernama Ami itu.”
Sarah kini mulai berjalan, mencari keberadaan Ami. Tapi yang ia temui hannyalah Sisi. Yang duduk tegak tengah fokus menghadap laptop.
Sisi yang tak menyadari kedatangan Sarah, tiba-tiba terkejut. Saat Sarah meletakan sebuah oleh-oleh, dari habis ia berlibur bersama keluarganya.
Sisi menatap bingkisan itu, membuat ia tersenyum.
“Wah, aku kira siapa. Ternyata kamu Sarah sudah datang.”
Sarah mulai duduk, berhadapan dengan Sisi. Ia mulai bertanya tentang Ami.
“Apa kamu melihat wanita munafik itu?” tanya Sarah dengan raut wajah penuh emosi.
Sisi mulai membuka bingkisan yang di berikan Sarah, isi dalam bingkisan itu ternyata makanan ringan. Yang mulai membuat Sisi mencoba makanan itu.
“Enak juga.”
Sisi menikmati makanan ringan itu, tanpa ia sadari. Dirinya telah mengabaikan Sarah yang terus bertanya di mana Ami berada.
“Si, kamu dengar enggak apa yang aku katakan?” Tanya Sarah dengan serius. Sedangkan Sisi hanya mengangguk kan kepala sembari mengunyah makanan ringan, yang ia ambil dari bungkus plastik.
Sarah yang sudah emosi, kini mengambil bingkisan itu dari tangan Sisi. Membuat Sisi terdiam tertohor.
“Kok, kamu ambil sih. Makanannya, kan itu buat aku.”
Sisi meronta, ia mulai merebut bingkisan yang berada di tangan Sarah.
Namun, Sarah malah menjauhkan makanan itu dan mengikat erat bingkisan makanan yang ia pegang.
“Sekarang aku mau tanya sama kamu? Ke mana Ami?”
Sarah memajukan bibir bawahnya, ia menatap ke kiri dan ke kana. Melihat orang-orang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Saat itulah ia mulai mendekatkan bibirnya, membisikan sesuatu pada telinga Sarah.
“Asal kamu tahu, Ami sudah mengeluarkan diri dari kantor ini.”
Deg ....
“Jangan bercanda, Sisi.” Ucap tegas Sarah pada Sisi, yang masih tak percaya jika Ami sudah tak ada di kantor.
__ADS_1
Sisi mulai merebut bingkisan berisi makanan itu dari tangan Sarah, di mana Sarah masih termenung.
“Aku katakan kebenaran kamu tak percaya?’
Sisi mulai berpura-pura tak tahu, tentang masalah yang tengah di hadapi Ami dan Sarah. Ia bertanya dengan berpura-pura polos.
“Sebenarnya ada apa, sih. Antara kalian berdua?”
Sarah langsung menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan Ami, saat itulah Sisi berpura-pura tak menyangka jika persahabatan mereka hancur. Karna ternyata Ami adalah wanita licik.
Sisi yang senang dengan semua itu, malah semakin membuat Sarah emosi ke pada Ami. Fitnah demi fitnahan ia layangkan, membuat Sarah semakin tak mau memaafkan Ami.
Saat itu obrolan mereka terhenti, saat Rudi datang.
“Permisi apa ada yang bisa menjelaskan ini, saya kurang mengerti.”
Tentu saja dengan rasa senang, Sarah langsung membantu Rudi, menjelaskan apa yang ia tidak tahu.
Sisi yang tak suka, kini mulai membuat sebuah fitnahan untuk Rudi dan Ami.
Rudi berterima kasih sekali pada Sarah. Membuat Sarah sedikit malu, kedua pipi Sarah memerah. Sedangkan Sisi merasa jijik dan tak menyukainya.
Sisi berpura-pura mendukung, padahal dalam hatinya ia berucap,” dasar bodoh. Mana mau Rudi sama gadis cupu, jelek macam kamu. Sarah.”
Sisi ingin melihat, Rasa senang itu kini hilang seketika pada raut wajah Sarah, saat Sisi mulai mengatakan bahwa Ami hamil.
“Kamu tahu tidak, kenapa Ami ke luar dari kantor ini?”
Sara langsung bertanya dengan rasa penasarannya.
“kenapa?”
“Ami itu hamil!”
Saat jawaban itu terlontar dari mulut Sisi, Sarah malah tertawa terbahak-bahak.” Pasti bapaknya banyak.”
Sisi melipatkan kedua tangannya.
“Kamu ini pasti bakal syok, kalau tahu siapa bapak dari anak yang Ami kandung sekarang.”
“Maksud kamu?”
“Anak yang di kandung Ami sekarang adalah anak, Rudi.”
__ADS_1
Deg ....
Seketika jantung Sarah berdetak tak karuan, ia tak percaya dengan apa yang di katakan Sisi.
“Kamu tahu dari mana?”
“Jelas, aku kan sahabat Ami. Jadi dia selalu bercerita padaku. Ya mereka melakukan hubungan sebelum menikah!”
“Picik sekali cara Si wanita munafik itu. Cara murahan, kurang ajar.”
Benar saja, wajah Sarah berubah seketika. Membuat Sisi ingin tertawa dalam penderitaan Sarah.
Padahal yang sebenarnya, Ami sudah menikah dengan Rudi. Hanya saja orang-orang kantor belum mengetahui gosip itu, yang mengetahui semuanya hannyalah Sisi dan Pak Hendra.
“Ya, aku juga enggak menyangka Ami bisa menjadi wanita serendah itu. Padahal aku mengira dia wanita baik-baik, eh nyatanya.”
Sisi mulai berucap pada hatinya," hah begitu mudah, membuat wanita bodoh ini. Emosi."
@@@@
Jam sudah menujukan pukul delapan pagi, di mana Sarah di tugaskan untuk menyelesaikan dokumen penting yang di berikan Pak Hendra.
"Sarah, kamu urus dokumen ini. karna kebetulan Ami sudah mengundurkan diri, jadi aku mempercayai pekerjaan ini padamu."
Pak Hendra begitu saja langsung menberikan tugas pada Sarah, membuat Sisi yang mendengar Pak Hendra mempercayai Sarah. Memulai rencana untuk mengeluarkan Sarah dari kantor.
"Awas saja kamu Sarah, aku tidak akan tinggal diam membuat kamu keluar dari sini. Seperti Ami."
Sarah senang dengan apa yang di tugaskan Pak Hendra kepada dirinya, ia tak menyangka jika Ami ke luar dari kantor. Dirinya mendapat kepercayaan Pak Hendra.
Dengan semangatnya menyalin dokumen, hingga tak terasa jam istirahat sudah mulai. Sarah dengan gigihnya, sudah menyiapkan dokumen yang di inginkan pak Hendra dengan sempurna.
"Oh, ya. Sarah ayo kita makan keluar?"
Salah satu teman kantornya bernama Nia mengajak dia untuk makan siang, dengan Sigap Sarah mulai mengiyakan ajakan Nia pada saat itu.
Sarah tak menyangka jika setelah tidak adanya Ami, banyak teman-teman kantor yang mendekati dirinya. mengajak cara untuk makan siang ataupun mengobrol dengan dirinya.
Tapi berbeda dengan Sisi, dirinya mempunyai kesempatan emas untuk mengambil dokumen yang sudah disalin oleh Sarah pada saat itu, dengan berjalan pelan Sisi mulai melihat kearah meja Sarah.
menatap Dokumen itu sudah tersusun begitu rapi, Sisi Mulai mengambil beberapa lembaran Dokumen itu, tanpa ada satu orang pun tahu.
" Lihat saja Sarah Kamu tidak akan bertahan lama di kantor, Aku tidak suka ada orang yang terlalu cari muka di kantor ini. Apalagi kamu gadis kampung. Cupu. Dan mudah aku bodohi, sebentar lagi kamu akan menderita hancur seketika."
Sisi mulai membawa dokumen itu, ia langsung membakar habis hingga tak tersisa sedikit pun.
Rasa senangnya kini semakin memuncak, membuat ia bisa mengendalikan apa yang ia inginkan.
__ADS_1