
Rudi begitu bahagia telah menemukan sosok Ibu Sumyati, yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
Pelukan hangat dari sang ibu mampu Rudi rasakan, baru kali ini dia merasakan di peluk oleh sang ibu
Berbeda saat bersama Bu Nunik ia terkesan kaku, selalu mementingkan dirinya sendiri kadang Rudi selalu terabaikan.
"Rud, ibu harap kamu harus kuat ya. Nak, karna Bu Nunik bukan orang sembarang, dia mampu membuat lawannya lemah. Banyak sekali rencana busuknya. Ibu cuman selalu ngigetin kamu jaga mata dan hati kamu, jangan sampai tergoda dengan wanita bernama Sisi itu," ucap Bu Sumyati mengigatkan Rudi.
"Baik, bu."
Rasa kebahagian terpancar dari keluarga mereka, Ami yang berpura-pura buta sekarang bisa hidup normal. Mengasuh anaknya Dodi, dan memperkerjakan Bi Lasmi.
Berbeda dengan Sisi ia di rendungi dengan kekesalan karna Bu Nunik tidak bisa membuat Ami menandatangani surat itu.
Sisi terus saja memikirkan cara, bagaimana Rudi bisa masuk dalam pelukanya.
"Bu, kenapa Ibu bisa keluar begitu saja. Bukanya alasan ibu kuat tinggal di sana karna Ami buta?!" tanya Sisi ia terus saja mempertanyakan masalah Bu Nunik karna tiba-tiba di usir oleh Ami dan Rudi.
"Selama ini, ibu bodoh. Ami lebih pintar dari apa yang ibu bayangkan, dia berpura-pura buta. Dan sialnya Rudi sudah tahu rencana busuk kita!" jawaban Bu Nunik membuat Sisi mengepal ke dua tanganya.
"Berarti Ami, sudah siap melawan aku. Ternyata dia tidak lemah." wanita berwajah bulat itu melipatkan kedua tangannya.
"Belum lagi, di rumah itu ada Bu Sumyati," ucap ibu membuat Sisi berbalik badan menatap Bu Nunik. Dahi wanita berwajah bulai itu seketika mengkerut.
"Bu Sumyati, bukanya dia pembantu si Ami sialan itu?" pertanyaan Sisi membuat Bu Nunik harus mengatakan masa lalu yang telah lama ia simpan.
"Asal kamu tahu Si, Rudi itu bukan anak ibu," ucap Bu Nunik membelakangi tubuh Sisi.
Sisi menghampiri perlahan dan berkata." Maksud ibu. Rudi bukan anak ibu?"
"Rudi adalah anak yang ibu culik, dulu ibu merebut ayah Rudi yaitu Mas Tono. Dari tangan Bu Sumyati, sebenarnya ibu dan Bu Sumyati adalah sahabat dekat. Karna ibu yang belum saja menikah. Melihat Bu Sumyati yang bahagia mambuat hati ibu menjadi iri!"
"Jadi, ibu tak jauh dari seorang pelakor yang masuk tanpa di udang. Merebut suami wanita tua yang bernama Bu Sumyati?"
"Iyah, Si! Sebutan pelakor itu sudah mendarah daging pada ibu. Karna rasa iri membuat ibu tega melakukan semua itu. Ya, walau pun merusak kebahagian orang lain, tapi ibu puas!"
"Terus kenapa dia bisa datang lagi ke sini dan bisa berada di keluarga Ami?"
"Entahlah, ibu kurang tahu. Padahal ibu sudah masuki dia ke rumah sakit jiwa, kemungkinan dia tidak bisa keluar!"
"Apa dia kabur?"
"Bisa jadi!"
Bibir wanita berwajah bulat itu terseyum memikirkan sesuatu.
"Aku ada ide!"
__ADS_1
"Ide apa, Si?"
"Sudah, nanti ibu tahu sendiri!"
*******
Saat di kantor, Rudi melihat Sisi dan Luky sedang berbicara serius. Entah apa yang mereka bicarakan membuat Rudi semakin penasaran.
"Apa yang akan di rencanakan wanita gila itu lagi?" ucap Rudi ketika langkah kakinya terhenti di pintu depan kantor.
"Apa aku harus menggunakan orang untuk menyelidiki mereka," gumam hati Rudi ketika ia teringat akan Ami yang mempunyai teman sebagai detective.
Rudi langsung pergi ke dalam mobil, sebelum Sisi dan Luky melihat dia sudah ada di kantor.
Tutttt ...
Panggilan pun tersambung.
"Hallo, Pah. Ada apa?" tanya Ami ketika sambungan telepon terhubung.
"Apa, mamah punya teman orang suruhan seperti detective yang pernah mamah ceritakan kepapah?" tanya Rudi dalam sambungan telepon.
"Deira, dia masih ada. Emang kenapa pah?" tanya Ami. Rudi menghelap nafas beratnya, dia sekarang benar-benar butuh seorang suruhan agar bisa menghancurkan Sisi dan membuat dia sadar dari kesalahannya.
"Apa mamah bisa suruh dia besok kemari, berpura-pura melamar kerja?"
"Baik lah."
Sambungan telepon pun terputus, harapan Rudi saat ini wanita yang bernama Delia mampu bekerja sama dengannya.
Sesaat menunggu tak berapa lama, Hp Rudi berbunyi lagi. Panggilan dari Ami.
Rudi dengan sigap langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Tadi mamah telepon Delia katanya bisa. Besok dia akan datang ke kantor, berpura-pura menyamar sebagai orang baru yang melamar kerja."
"Oke, terimakasih mamah sayang, Muachhhh."
Terdengar Ami tertawa mendengar Rudi yang tengah gombal pada istrinya itu.
"Apa sih, pah."
"Ko gak di bales."
"Lebai ah."
Ami langsung menutup panggilan telepon, manampilkan pipinya yang memerah karna rasa malu.
__ADS_1
"Kenapa Nak, Ami ko seyum-seyum sendiri?" tanya ibu mertuanya, tak lain dia lah Bu Sumyati.
"Oh enggak ko,bu."
Ami pergi begitu saja, sedangkan Bu Sumyati mengeleng-geleng kepala sembari berkata." Anak jaman sekarang, pake seyum-seyum sendiri kalau udah dapat panggilan dari telepo, syukurlah Ami dan Rudi masih selalu bersama."
***********
Rudi langsung ke luar dari dalam mobil, seakan menampilkan karismanya yang baru saja datang. Jas hitam yang ia kenakan perpadu dengan dasi berwarna silver yang melingkar pada lehernya. Menampakan karisma sebagai bos besar di perusahaan.
Sapaan dari karyawan perusahaan, bukan menjadi sapaan sosok seorang kawan melainkan sapaan pada atasan. Sudah satu bulan Rudi menjadi pemimpin perusahaan.
Sisi yang menatap Rudi seakan tak ingin berpaling dari tatapannya yang di rasa mampu menyegarkan pandanganya.
"Loe, masih terpesona dengan Rudi kan?" tanya Luky, melihat mata Sisi yang tak berkedip-kedip memandang lelaki yang menjadi suami Ami itu.
"Sepertinya gue udah cinta mati sama suami orang," ucap Sisi. Luky yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.
"Sudah beberapa cara gue lakukan, tapi tetap saja dia tak melirik padaku sedikit pun."
Luky yang mendengar perkataan Sisi, tanganya langsung mengelus-ngelus punggung Sisi yang terkesan mulus.
Mata Sisi langsung melirik pada tangan Luky, segera mungkin ia menepis tangan yang mengelus-ngelus punggungnya itu.
"Gapain sih loe," ucap Sisi mendengkus kesal.
"Ya, gue kan nenangin loe!" jawaban Luky, membuat bibir Sisi mengangkat sebelah seraya berkata." Mencari kesempatan dalam kesempitan, dasar buaya."
Satu tamparan pelan melayang pada pipi Luky.
Luky yang menagapi ucapan Sisi, membuat dia berkata." ya, terus loe apa. Pelakor gagal atau pelakor bodoh."
Sisi menatap ke arah wajah Luky, seraya berkata." Pelakor jaman now."
Tangan wanita berwajag bulat itu langsung menjewer telinga Luky, seraya berkata." Mau gue bantu, atau gue biarin loe di bunuh sama laki orang."
Luky mengosok-gosok telinganya yang memerah bekas jeweran Sisi." songong lu Si."
Sisi berlalu pergi sembari melirik sebentar menutup mulutnya yang tertawa.
"Gue tunggu loe, di cafe jam lima sore," teriak Sisi berlalu pergi.
Luky yang mendengar teriakan itu langsung mengacukan jempol.
Apa yang akan Luky dan Sisi rencanakan jam lima sore?
Akankah Delia datang segera mungkin?
__ADS_1
Jangan lupa ya, kakak-kakak like komen di bawah, biar aku lebih semangat...