Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 214 Delia tak menerima


__ADS_3

Disaat suster Ina tengah menjaga Delia, wanita bermata sipit itu kini berpura-pura bangun, melihat ke arah samping suster Ina yang begitu teliti menjaga Delia.


Suster Ina mulai bertanya kepada Delia,” Kamu sudah bangun Delia? Dari tadi kamu dari mana?”


Pertanyaan suster membuat Delia mengusap-ngusap kedua matanya, meyakinkan suster Ina bahwa dirinya tidak pergi jauh.


Sesekali Delia meluap di depan suster Ina, ia menjawab dengan wajah polos sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya, yang mungkin tidak terasa gatal.


“Maksud suster?”


Delia berpura-pura tidak paham dengan perkataan suster Ina pada dirinya, Delia mencoba untuk menjadi seorang pasien yang polos. Agar tidak ada rasa curiga pada suster Ina kepada dirinya.


“Delia, dari tadi saya mencari- cari keberadaan kamu. Saya kira kamu kabur!”


Jawaban suster Ina membuat bibir Delia sedikit tersenyum kecil, suster Ina begitu polos ia mampu ditipu oleh Delia.


“Aku kabur? Dari tadi aku ada di rumah sakit ini. Hanya saja aku pergi ke toilet. Karna toilet di ruangan aku ini Tengah dipakai oleh suster Ina, Mana mungkin aku harus mengganggu suster Ina yang tengah berada lama di dalam toilet.”


Kedua pipi suster Ina sedikit terlihat memerah, saat Delia mengatakan bahwa dirinya begitu lama berada di dalam toilet.


Jika suster Ina ingin berkata jujur kepada Delia, pasti Delia akan mentertawakan dirinya. Kenapa suster Ina begitu lama di dalam toilet.


Ternyata dirinya tengah tertidur karna siang ia habis shopping bersama kekasihnya hingga suster Lina lupa untuk tidur.


“ Kenapa kedua pipi suster terlihat memerah? Apa aku salah bicara?”


Suster Ina bukannya menjawab, Iya Malah membalikkan badan mengecek semua vitamin yang harus diberikan kepada Delia pada pagi hari.


Delia memajukan bibir bawahnya, Iya sangat senang jika dirinya mendapatkan kemenangan saat ini juga.


Namun Delia juga harus berhati-hati, karena ada CCTV yang terus mengintai dirinya. Dia harus berusaha menghilangkan semua bukti, agar dirinya tidak bersalah.


Delia berusaha bersikap tenang, Iya akan berusaha kembali ke kamar mandi menghilangkan bukti besok. Walau sebenarnya, tapi ia akan berusaha. Agar dirinya tidak bersalah.


“Oh ya, besok kamu ada terapi dengan Dokter Afdal. Saya mohon kamu bersikap baik padanya,” ucap Suster Ina. Menasihati Delia.


Delia hanya menganggukan kepala mengerti apa yang dikatakan suster Ina.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, di mana suster Ina harus bersiap-siap mengganti seragam suster menjadi seragam biasa. Karena waktunya bekerja sudah selesai, saatnya ia pulang dan beristirahat.

__ADS_1


Suster yang menjaga Delia kini digantikan oleh suster Ita, suster yang kurang Delia sukai.


@@@@


Di kamar mandi, Suster Ainun kini kembali sadar dari pingsannya. Ia menepuk- bahu, merasakan akan rasa pegal, karna pukulan keras yang di layangkan Delia.


Iya tak ingat kejadian semalam, kenapa dirinya bisa tertidur di dalam toilet. Suster Ainun mulai berdiri merasakan rasa sakit pada pundaknya, dengan sedikit meringis kesakitan, suster Ainun berusaha berdiri tegak.


Iya memaksakan diri, agar bisa keluar dari toilet. Namun saat ia meraba pada tubuhnya sendiri, suster Ainun begitu kaget. Dirinya tidak memakai baju seragam yang biasa ia pakai, suster Ainun hanya memakai bikini yang menutup bagian bagian sensitifnya saja.


“Bajuku ke mana?”


Suster Ainun melirik kesana kemari, mencari baju untuk Iya pakai.


Namun saat itu tanpa ia sadari, ada seseorang yang melempar kan baju kepada dirinya.


Ternyata orang yang tengah melempar baju kepada ada suster Ainun, adalah Delia.


Pada saat itulah Delia mulai bergegas pergi dari toilet itu, Iya tak lupa membuka kunci kamar mandi yang mengunci suster Ainun.


Dengan tergesa-gesa suster Ainun memakai baju dia takut jika suster lainnya melihat dirinya dalam keadaan tanpa busana.


Sedangkan Delia berlari dengan cepat, berharap tidak ada satu suster yang melihat dirinya. Karena ia tahu 06.00 dimana suster Tengah bersiap-siap mengganti pakaiannya di ruang ganti, untuk segera pulang.


Delia tiba-tiba tersungkur jatuh, tanpa ia sadari ia menabrak seseorang. Dirinya begitu panik ya tak mampu menatap orang itu, namun orang itu mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Delia.


Perlahan wajah Delia mulai mengangkat menatap kearah uluran tangan orang yang sudah ia tabrak.


Lelaki berkulit putih dengan bibir tipis dan kedua mata yang sipit, lelaki itu tersenyum ramah menatap kearah wajah Delia.


“Kamu tidak apa-apa?”


Delia mengabaikan uluran tangan lelaki itu, Iya bergegas berdiri sendiri. Dengan wajah juteknya ia melewati tubuh lelaki itu, lelaki berkulit putih itu hanya menggelengkan kepala tersenyum dan kembali melanjutkan kan tujuannya untuk bertemu dokter Ane.


Saat perjalanan Delia sudah mulai sampai menuju ruangan, Delia dikejutkan dengan suster Ita yang sudah menunggu dirinya di dalam ruangan.


“Siapa suruh kamu berjalan- jalan saat pagi sekali?”


Suster Ita seakan kesal dengan tingkah Delia yang akhir-akhir ini tidak mau diam di dalam ruangan, Delia banyak sekali menghabiskan waktu keluar ruangan padahal kondisi tubuhnya sangat tidak baik.

__ADS_1


Delia mengabaikan ucapan suster Ita, Iya kembali naik ke atas ranjang untuk segera tertidur kembali.


Sedangkan suster Ita melarangnya untuk tidur kembali, karena hari ini adalah hari pertemuan Delia dengan dokter Afdal.


Delia benar-benar mengabaikan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut suster Ita, Entah kenapa dia begitu membenci suster yang kini bertugas untuk dirinya pada pagi hingga sore hari.


“Saya ingin tidur.”


Ane dan juga Afdal kini mulai masuk ke dalam ruangan Delia, Iya melihat Ita tengah menjaga Delia dengan baik.


Pada saat itulah Anda mulai mendekat ke arah Delia, mencoba mengobrol dengan Delia.


“Delia, ini sudah pagi. Waktunya kamu bangun dan menjalani terapi, kamu inginkan bayi dalam kandunganmu sehat.”


Mendengar ucapan membuat kedua tangan Delia mengepal begitu erat, ya berucap dalam hatinya,” Kenapa Ane harus berbohong kepadaku?”


Dengan rencana yang dimainkan Delia pada saat itu, Delia berpura-pura polos dan tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya, Iya hanya bisa mengakui anak dalam kandungan nya bahwa anak itu adalah anak Alan. Padahal dia tahu semuanya anak yang ia kandung bukanlah anak Alan melainkan anak Deni.


Delia kini mencoba bangun, menatap ke arah Ane. Dan betapa terkejutnya Delia melihat lelaki yang baru saja tadi pagi Bertemu Dengannya kini kembali bertemu di dalam ruangan.


“Delia, perkenalkan ini dokter yang akan menyembuhkan kamu.”


Ane memperkenalkan Afdal pada Delia, tapi Delia seakan enggan Jika iya harus disembuhkan lagi oleh dokter laki-laki.


“Memangnya tidak ada dokter perempuan, bukanya kamu Ane adalah seorang dokter. Harusnya kamu menyembuhkanku bukan malah menyuruh orang lain menyembuhkanku.”


Perkataan Delia begitu membuat Ane heran, Delia seakan sadar dari depresinya.


Tapi, itu tidak mungkin. Karna bisa saja Delia berubah-ubah.


Karena melihat seragam yang dipakai Afdal, kini Delia mulai berdiri menghampiri Afdal. Dengan lancangnya Delia mencekik lelaki itu dengan begitu erat.


“Delia apa yang kamu lakukan.”


Ane benar-benar panik, melihat perubahan Delia seketika. Apalagi ia langsung mencekik Afdal.


“Kamu harus mati, kamu tak boleh hidup. Dasar lelaki bajingan.” Teriakan Delia.


Sepertinya saat Delia melihat Afdal, Iya ingat akan wajah Deni. Sampai ia berani melukai Afdal.

__ADS_1


“Delia sadar.” Teriak Ane.


Cekikan Delia begitu kuat terhadap Afdal, membuat Ane tak bisa melepaskan tangan Delia.


__ADS_2