Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 148


__ADS_3

Tok .... tok ....


"Iya, tunggu."


Bu Sumyati langsung membuka pintu depan rumahnya," Rudi. Kenapa kamu malam-malam datang ke sini, kemana Ami?"


Rudi tak menjawab perkataan sang ibu, ia malah masuk dan merebahkan tubuhnya. Sudah beberapa kali Ami menelpon, tapi Rudi tak menganggkat panggilan telepon istrinya.


"Rudi, kamu kenapa?" tanya sang ibu yang duduk di samping anakknya. Rudi mulai mengusap kasar rambut, membalikan wajah ke arah sang ibu.


"Rudi bertengkar dengan Ami!" jawab Rudi. Kedua matanya memerah. Bu sumyati tampak sok berat," kenapa bisa?"


"Entahlah, bu!" jawab Rudi. Ia seketika menitihkan air mata.


"Sebaiknya kamu temui istrimu lagi, jangan sampai Ami sakit lagi," ucap sang ibu. Mengenggam tangan kanan Rudi, menguatkan lelaki berbadan kekar itu.


"Untuk apa bu, pasti ujung-ujungnya kaya kemarin berpura-pura pingsan saat aku ingin mencegah Dodi pergi," ungkap Rudi. Hatinya belum terima dengan kepergian Dodi yang pergi bersama Alan dan Diana.


" Tenangkan hati kamu, itu hanya emosi sesaat. Kamu harus ingat apa yang dikatakan Dokter. Ami tak boleh mengigat masa lalunya, jika ia mengigat akan masa lalu, bisa-bisa fatal akibatnya untuk dirinya sendiri," ucap Bu Sumyati. Nasehatnya terlontar, begitu saja.


"Astaga, bu. Aku tadi salah berucap," balas Rudi. Tampak panik, ia sadar dengan apa yang telah ia perbuat.


"Sekarang cepat kamu telepon Ami, takut terjadi apa-apa dengan dirinya," ucap Bu sumyati.


"Baik, bu."


Rudi mulai menelpon Ami, beberapa kali, tapi Ami tak mengangkatnya juga.


"Bodoh, bodoh. Kamu Rudi." Gerutu Rudi pada dirinya sendiri.


"Bu, aku pulang dulu, ya. Maafkan aku bu."


Rudi bergegas pergi untuk segera menemui Ami, dengan sigap ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menemui sang istri.


Kadang kemarahan bisa menguasai kita, tanpa kita sadari kita sudah melukai orang yang sudah kita cintai, Rudi terus menyalahkan dirinya sendiri.


Dodi pergi karna ingin Ami bahagia, tapi Rudi malah egois. Menyangka semua karna kesalahan Ami.


Setelah sampai di rumah, Rudi mulai mengetuk pintu. Ternyata pintu sudah terbuka begitu saja.


Ia mencari keberadaan sang istri.


"Ami, sayang. Dimana kamu."


Saat ia pergi ke dalam kamar, Ami tengah terbaring lemah menahan sakit.

__ADS_1


"Ami, kamu tidak kenapa-napa. Sayang."


"Mas, akhirnya kamu pulang juga."


"Iya, maafkan aku. Sayang."


Rudi langsung membopong tubuh sang istri, menidurkan di atas kasur. Lelaki berbadan kekar itu langsung mencari obat pereda sakit pada kepala istrinya.


"Ayo cepat minum obatnya."


Ami dengan sigap meminum obat yang di berikan Rudi, rasa sakitnya mulai mereda.


"Aku kira kamu akan pergi lama."


Rudi memeluk tubuh sang istri, ia takut akan kehilangan Ami. Sudah merasakan sakit kehilangan Dodi, ia sadar bahwa ada wanita yang harus ia jaga.


"Maafkan aku."


"Sudah, mas. Ini bukan salahmu, ini salahku."


"Mas, aku ingin tanya sama kamu. Apa benar Dodi itu anak kandungku. Kenapa aku tidak bisa mengigat masa lalu, setiap aku ingat kepalaku rasanya sakit sekali."


Rudi mulai menutup mulut Ami dengan telunjuk jari tangannya dan berkata," lupakan. Aku hanya tak sadar saja sudah salah berucap."


Rudi memeluk tubuh Ami dengan erat, mengusap pelan rambut kepala sang istri. Perlahan, rambut itu seakan rontok lagi.


"Mas aku mau tanya?"


"Tanya apa sayang!"


"Sebenarnya aku sakit apa? Kenapa kepalaku sering sakit akhir-akhir ini."


Rudi bingung harus menjawab apa, karna Ami yang tengah hilang ingatan ini. Membuat Rudi harus lebih waspada.


"Kamu tidak sakit apa-apa. Hanya pusing biasa, makanya sekarang jangan ingat masa -masa lalu yang tak berguna. Sebaiknya kita nikmati pernikahan kita."


Ami mulai mengangkat kedua bibirnya, menampilkan sebuah senyuman. Kedua matanya mengeluarkan setetes air mata dalam hati bergumam," seperti ada kejangalan. Mas Rudi. berbohong.


********


Setelah sampai di rumah Diana dan Alan, Dodi ditunjukkan sebuah kamar untuk ia tempati, ada rasa senang dan juga sedih menyelimuti hati dan pikirannya. Mengingat sang Mama yang jatuh pingsan setelah kepergiannya.


"Maafkan aku mah, ini yang terbaik untuk Mama dan Papa. Dodi ingin melihat kalian bahagia tanpa Dodi."


Diana mengetuk pintu kamar Dodi, saat itulah Dodi mulai membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


" Dodi, Kamu belum tidur, nak."


" Dodi belum mau tidur tante, Dodi teringat sama mama."


Diana Langsung membawa Dodi duduk di ujung kasur, melihat ke arah jendela Kamar tidurnya," kamu lihat bintang itu bersinar terang."


Dodi masih dengan wajah murung, nya. Diana tak henti membuat anak itu tak bersedih lagi," emang, apa hubungannya dengan bintang di langit bersinar. Bukannya setiap malam bintang di langit selalu menujukan sinarnya."


"Betul, tapi. kamu harus tahu. Dalam bintang bersinar itu ada cahaya wajah mamamu. Coba kamu lihat," bujuk Diana.


"Mana ada tante. Tante aneh nyamai bintang sama wajah mama, beda banget," balas Dodi.


Diana terus menjelaskan dengan apa yang ia tahu." coba kamu lihat dulu, jangan tundukan terus wajahmu."


Mau tidak mau Dodi mulai mengangkat wajahnya, menatap ke arah bintang yang bersinar.


"Kamu lihatkan indah."


"Memang indah."


"Coba bayangkan, bintang itu membentuk wajah mama kamu, dengan terseyum menatap pada kamu Dodi."


Perlahan Dodi mulai menuruti perkataan Diana, ia mulai membuka hati dan perasaannya, membayangkan apa yang dikatakan Diana.


"Sudah nampak kah?" tanya Diana.


Kini Dodi mulai terseyum, ada bayangan wajah sang mama terseyum. Ia senang di kala itu," tante wajah mama."


Diana menitihkan air mata, perlahan ia usap, memeluk kepala Dodi." Benar kan kata tante."


"Benar tante. Dodi enggak kesepian lagi, setiap Dodi mau tidur Dodi bisa liat bintang-bintang itu. Membayangkan mama terseyum menatap Dodi."


"Dodi sayang banget sama mama Ami?"


"Dodi sayang banget, setiap tidur. Mama selalu membacakan cerita. Mengajak Dodi bermain, mama tidak pernah membentak Dodi. Pokonya mama terbaik, tapi kini. Mama berubah."


"Sayang, jangan sedih, kan ada tante. Kamu harus kuat tegar oke."


"Baik tente."


"Sekarang, waktunya tidur. Ayo."


Diana mulai menutup jendela kamar tidur, namun Dodi berucap," jangan tutup jendelanya tante. Biarkan bintang itu bersinar menemani tidur, Dodi."


Diana terdiam pilu, ia mulai menghampiri Dodi, mengusap pelan kepalanya dan berkata," tidur yang nyenyak, ya. Sayang."

__ADS_1


Satu kecupan bibir Diana mendarat pada kening Dodi, ia mulai melangkah ke luar kamar. Menutup pintu kamar Dodi, tubuhnya ia senderkan di balik pintu dan berkata," sakit sekali rasanya. Melihat Dodi menderita seperti itu."


Air mata perlahan jatuh, Alan menghampiri Diana memeluk tubuh istrinya. " Kita jaga Dodi baik-baik."


__ADS_2