Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 104


__ADS_3

"Loh kok ibu melamun?" tanya Sisi yang duduk berhadapan dengan Bu Ira. Lamunan masa lalu Bu Ira seketika menghantui pikirannya.


Apa Bu Ira harus berkata jujur tentang masa lalunya kepada wanita dihadapannya? Bahwa dirinyalah yang membunuh Roby lelaki yang menjadi suaminya.


Hati Bu Ira merasakan rasa ketakutan, wanita tua itu berlalu pergi tanpa berkata sepatah kata pun pada Sisi.


Sisi sempat bingung dengan tingkah Bu Ira yang tiba-tiba saja menangis dan berlalu pergi meninggalkan dirinya.


Sebenarnya ada apa dengan Bu Ira, seperti dia sedang menyembunyikan rahasia. Apa cerita yang di ceritakan Bu Ira kepadaku adalah kebohongan besar. Jujur saja, rasanya tidak masuk akal jika Bu Ira menceritakan kejadian yang tidak pasti dan kurang aku pahami. Gumam hati Sisi, wanita berwajah bulat itu seketika beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia melangkah pelan menelusuri kamar Bu Ira.


Aku harus mencari tahu kenapa dengan Bu Ira, apa yang terjadi dengan dirinya, sehingga. Iya tiba-tiba saja menangis dan pergi meninggalkan aku begitu saja, gumam hati Sisi. Ia melangkah maju mendekati kamar Bu Ira saat itu, mengintip dari balik pintu.


Melihat Bu Ira yang masih menatap cermin, Iya begitu fokus melihat dirinya sendiri.


Ada apa dengan dia, gumam hati Sisi, wanita berwajah bulat itu masih berdiri di balik pintu.


Sisi hampir ingat dia sudah memasang CCTV di setiap kamar , ruang tamu.


Bodoh kamu Sisi Kenapa juga kamu harus mengintip, kan kamu sudah memasang CCTV di kamar Bu Ira. Gurutu Sisi pelan.


Saat itulah Sisi pergi ke kamarnya untuk melihat rekaman CCTV di kamarnya. Sisi begitu fokus melihat Bu Ira yang masih duduk di hadapan cermin, Sisi melihat tangan kanan Bu Ira tengah membuka laci bawah cermin.


"Sebenarnya apa yang diambil dari laci itu," ucap Sisi yang fokus melihat rekaman CCTV.


Dia berharap pada hatinya," mudah-mudahan buka hal yang aneh."


Ternyata dugaan Sisi salah. Bu Ira mengambil suatu barang yang membuat Sisi tercengang kaget.


" Loh Bukannya itu pisau yang tadi malam aku lihat, saat berjalan melewati kamar Bu Ira? Ada apa sebenarnya dengan pisau itu, Kenapa pisau itu dibungkus begitu rapi."


Pertanyaan mulai mengelilingi pikiran Sisi saat itu, ia mulai curiga dengan Bu Ira.


"Aku harus mencari tahu semuanya."


Ketukan pintu seketika terdengar, membuat Bu Ira yang tengah memegang benda tajam yang terbungkus oleh pelastik putih tebal. Membuat ia terkejut, tangannya dengan sigap langsung menyimpan benda tajam itu dengan mengunci rapat-rapat di dalam laci.


Mengusap air mata dengan punggung tangannya, Bu Ira merapikan pakaiannya bergegas melihat. Siapa yang mengetuk pintu saat itu. Berjalan pelan menghampiri pintu depan.


Saat pintu dibuka. " Arpan kamu sudah pulang nak?" tanya Bu Ira tersenyum manis.


"Loh kok ibu yang buka pintu, ke mana istriku?"


Bu Ira sempat lupa, iya lupa meninggalkan Sisi begitu saja di ruang tengah.


"Loh, Bu Ira. Kok malah melamun."


" Astaga maafkan Ibu nak, tadi ibu ngobrol sama Istrikamu di ruang tengah. Tapi Ibu lupa berpamitan soalnya ibu tadi kebelet pipis ke toilet."


"Oh begitu."

__ADS_1


"Ya sudah ayo masuk."


" Ya bu."


Sisi masih melihat rekaman CCTV itu, ia melihat reaksi Bu Ira saat bertemu Arpan. Bu Ira begitu hebat dia bisa menyembunyikan kesedihannya sendiri.


"Sebenarnya ada apa dengan Bu Ira," ucap Sisi yang duduk dengan Menatap layar laptop.


Arpan datang membuka pintu kamar.


"Loh. Sayang kamu ada disini."


"Coba deh kamu lihat kesini Mas."


Sisi menarik lengan Arpan.


"Ada apa?"


"Sini Mas, duduk di sini ya. Aku akan Perlihatkan rekaman yang CCtv sebelumnya."


Setelah suaminya duduk di depannya. Sisi berdiri menutup pintu kamarn, agar tidak ada orang yang mencurigai dirinya nya.


"Lagi pengennya," rayu Arpan mencolek hidung istrinya.


"Sini lihat, aku mau tunjukin kamu sesuatu."


Saat itu Sisi memutar rekaman CCTV, dimana rekaman Bu Ira yang tengah memegang benda tajam.


" Ya Mas. Baru saja aku lihat Bu Ira Tengah memegang benda tajam, di dalam kamarnya. Begitupun semalam aku melihat Bu Ira seperti inu. Makanya aku sampai pingsan. Sebenarnya sih enggak pingsan cuman pura-pura."


"Jadi semalam bukan pinsan?"


"Ya, hanya pura-pura. Supanya Bu Ira enggak tahu kalau aku sudah mengetahui benda tajam itu.


Arpan mencurigai Bu Ira saat itu." Sepertinya kita harus mencari tahu apa yang disembunyikan Bu Ira," ucap Arpan pada istrinya.


"Apa kamu sudah bertanya pada Bu Ira?" tanya Arpan pada sang istri.


"Aku sempat bertanya Mas, pada Bu Ira. Tapi Bu Ira seakan membuat cerita yang tidak masuk akal dan dalam cerita itu seperti kebohongan yang ia buat buat."


Perkataan istrinya membuat Arpan semakin curiga, bahwa dalang kematian suami Bu Ira, bukan orang lain atau pun ayah Arpan sendiri.


"Kebohongan, maksud kamu?"


" Iya dia menceritakan masa lalunya di mana suaminya itu terbunuh oleh orang lain, cuman ceritanya itu loh nggak masuk akal banget. Sepertinya ada yang mengganjal."


"Kita harus mencari tahu yang sebenarnya"


" Terus apa rencana kita selanjutnya."

__ADS_1


"Aku akan menghubungi Rudi saat ini, semoga dia datang ke sini."


" kalau saja Delia bisa mungkin aku akan meminta bantuan dia. Tapi dia sedang hamil, Bagaimana ya?


Padahal dia itu detektif yang luar biasa."


Arpan mengusap bahu istrinta seraya berkata," kita juga bisa. Menjadk detektif abal-abal."


Ucapan Arpan membuat Sisi tertawa, terbahak-bahak.


"Sudah lebih baik kita makan dulu. Pasti kamu lapar?"


"Ya sudah, ayo."


Sisi saat itu Menyiapkan makan siang untuk suaminya yang baru saja pulang, kebetulan Arpan pulang begitu cepat. Karena di kantor pekerjaannya sudah beres semua.


Sisi Masih bingung dengan Bu Ira saat itu, ia ingin benar-benar tahu tentang masa lalu Bu Ira yang sebenarnya bukan kebohongan yang dibuat-buat oleh Bu Ira.


Sisi memanggil Bu Ira untuk makan bersama begitupun dengan Arsyla .Tapi saat Sisi melihat ke kamar Arsyla. Ternyata, gadis itu sudah tidak ada di kamarnya.


"Kemana Arsyla, kenapa dia tidak ada dari pagi. Aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali."


Bu Ira datang dan duduk di meja makan, karna Arsla tidak ada Sisi mulai bertanya pada Bu Ira.


"Bu?"


"Eh iya, Sisi ada apa?" jawaban Bu Ira.


Begitu terlihat tubuh Bu Ira seakan ketakutan saat Sisi bertanya.


" Ngomong-ngomong kemana Arsyla?


"Oh Aryla anak Ibu."


" Ya iyalah Bu. Arsyla kan anak ibu, ibu Kok aneh gitu."


" Iya Maafin Ibu. Sebenarnya ibu sedikit gak enak badan, jadi kurang fokus."


" Loh kenapa nggak bilang, Nanti sudah makan kitak periksa ke rumah sakit."


" Tidak, maksud ibu tidak perlu, nanti juga kalau udah ditidurin. Ibu mendingan lagi."


"Ya sudah ayo makan."


Saat menikmati makanan di atas meja makan, tiba-tiba seseorang datang dengan menggedor-gedor pintu depan rumah.


"Kayaknya itu Arsyla, biar aku buka," ucap Sisi.


Bu Ira langsung berdiri," sudah biar Ibu saja. Anak itu tidak tahu sopan santun ya dia selalu kayak begitu."

__ADS_1


Ketika membuka pintu, betapa terkejutnya Bu Ira saat itu.


"Arsyla."


__ADS_2