
Sarah berusaha untuk tetap tenang, menghadapi polisi pada saat itu. Sedangkan Alan yang masih menyamar memakai baju seragam, mendekat ke arah Dina yang tengah berada di belakang punggung Sarah.
“Dina.”
Dina membalikkan badan saat bisikan Alan terdengar pada telinganya, ia membulatkan kedua mata dan berucap dengan nada kaget,” Alan.”
Alan mulai menempelkan jari tangannya pada bibir tipisnya.
Saat itulah Dina berusaha tenang.
“Kamu kenapa?” Tanya Sarah, membalikkan badan ke arah Dina.
“Tidak kenapa- napa nyonya!” jawab Dina.
Saat itu Sarah mulai menghadapi segerombolan polisi yang mengepung rumahnya. Dengan bersikap tenang.
“ permisi nona.”
“ Iya Pak. Ada apa ya?”
“ Apa benar anda bernama Nona Sarah?”
“ Iya betul saya sendiri!”
“ kami memiliki laporan bahwa anda sudah menyekap saudara bernama Arpan?”
“Arpan? Saya tak mengenal nama lelaki itu. Sahabat pun bukan apalagi saudara!”
“Tapi menurut keterangan di sini ...,
Belum sang polisi menerangkan semuanya, Sisi datang dengan wajah kesalnya, menghampiri Sarah.
“Jangan bertele-tele kamu Sarah, kebalikan suamiku,” teriak Sisi.
Sarah berusaha bersikap tenang, agar polisi tak mencurigai dirinya.
“Nona Sisi. Anda tenang dulu, biar kami yang bertanya.”
Rudi menghampiri Sisi, menarik lengannya. Agar tetap tenang. Sedangkan Sarah yang melihat Rudi, tiba-tiba merasakan rasa yang tak biasa, rasa rindu yang terpendam kini muncul bertebaran. Membuat Sarah seakan hilang kendali.
“Rudi.”
Rudi yang sudah membuat Sisi tenang, kini berdiri tegak menatap ke arah Sarah dengan wajah penuh kebencian.
“Nona Sarah.”
Sang polisi terus memanggil-manggil nama Sarah. Tapi Sarah terus saja terdiam mematung menatap lelaki yang selama ini dia cintai, ada di hadapannya.
“Nona, ada baik- baik saja?” tanya sang polisi menepuk bahu Sarah. Membuat lamunan Sarah seketika membuyar.
__ADS_1
“Eh, iya pak kenapa?”
Bukan jawaban yang terlontar dari mulut Sarah, melainkan sebuah pertanyaan yang membuat polisi sedikit curiga.
“ Apa boleh kami melihat lihat ke dalam rumah Nona Sarah,” ucap sang polisi. Pada saat itulah Sarah memperbolehkan Polisi melihat-lihat ke dalam rumah.
Sarah tetap saja bersikap tenang, walau polisi menggeledah rumahnya. Iya sudah membersihkan semua bukti yang menempel pada rumahnya, menyembunyikan Arpan di tempat khusus. Yang tidak akan diketahui 1 orang pun.
Polisi mencari kesana kemari, tak ada apapun yang mereka temui. Barang yang mencurigakan atau orang yang sengaja disekap di rumah itu.
“Bagaimana pak, apa bapak menemukan orang yang saya sekap.”
“Maafkan atas kesalahan kami, ternyata rumah anda bersih, tak ada yang mencurigakan.”
“Jadi saya tidak bersalahan kan pak.”
“Tidak, Nona.”
Kina Sarah bisa bernapas lega, Iya begitu pintar memainkan semua drama yang ia jalani. Sampai-sampai polisi begitu tak bisa membuat dirinya bersalah dan masuk ke dalam penjara.
Sisi dan Rudi hanya menunggu di luar, menunggu Polisi datang menjelaskan semuanya.
Saat polisi datang hanya kekecewaan yang dirasakan Sisi dan juga Rudi, Bagaimana bisa polisi tidak menemukan keberadaan Arpan di dalam rumah Sarah.
Pada saat itulah polisi berpamitan pergi untuk menjalankan tugas mereka kembali. Sedangkan Sisi dan Rudi masih berdiri mematung melihat Sarah yang tersenyum penuh kemenangan.
“Hey ... Hey. Kalian tak pulang, sudah jelaskan aku tak bersalah.”
“Dasar wanita licik, aku tahu kamu telah menyembunyikan suamiku.”
Rudi langsung memisahkan Sisi dengan Sarah agar tak berkelahi.
“Sudah hentikan, sebaiknya kita cepat pergi dari sini.” Ajak Rudi pada Sisi.
“Tapi, suamiku,” balas Sisi.
“Kalian mau pergi begitu saja, apa tidak mau masuk ke rumahku dulu sebentar,” tawaran Sarah pada Rudi dan Sisi.
Sisi dan Rudi tak menjawab ucapan Sarah, membuat Sarah kesal dan berkata,” kalian ternyata sama-sama tak tahu diri.”
Sisi dan Rudi mulai menenangkan hatinya, ia berusaha bersikap acuh.
@@@@@
Alan yang menyadari Rudi dan juga Sisi berada di lingkungan rumah Sarah, kini bergegas menyuruh Dina untuk ikut dengan Alan.
“Ayo, Dina kita ke luar dari rumah ini, sebelum Sarah melakukan hal yang tidak-tidak padamu.”
Dina hanya diam, ia tak mau ikut dengan Alan.
__ADS_1
“Aku tidak bisa Al, aku mempunyai perjanjian dengan Sarah. Maafkan aku Al, aku egois.”
“Kamu ini bicara apa, ayo kita keluar dari rumah terkutuk ini. Riri menunggu kita di luar.”
Kedua mata Dina berkaca-kaca, hatinya merasa bersalah. Sahabat yang baru ia kenal, selalu mepedulikannya, sampai mencari keberadaannya.
“Ayo cepat. Dodi dan cucuk Pak Tejo sedang menunggu di dalam mobil, aku kuatir dengan mereka,” ucap Alan.
“Sudah lepaskan aku Alan, kamu pergi saja dengan yang lainnya. Aku akan tinggal di sini, dan aku berharap kamu bisa menjaga Dodi dengan baik. Jangan sampai Dodi menjadi korban Sarah,” balas Dina. Membuat Alan tak mengerti.
“Apa maksud kamu, kenapa wanita kepa*at itu menginginkan Dodi. “
Belum jawaban terlontar dari mulut Dina kepada Alan, tiba-tiba Sarah memanggil nama Dina.
“Dina di mana kamu?”
Dina mendorong-dorong tubuh Alan, agar cepat pergi dari hadapannya. Dina takut jika Sarah melihat Alan berada di sini.
" kumohon cepat pergi dari sini Alan, aku takut jika Sesuatu terjadi kepada kamu, apalagi kepada Dodi."
" aku akan tetap berada di sini, membawa kamu keluar dari rumah ini!"
pada saat itulah Alan, mulai pergi menjauh dari hadapan Dina.
"Sarah kamu sedang mengobrol dengan siapa?" tanya Sarah mendekat ke arah Dina.
"Eh, aku hanya mengibrol dengan para penjaga di sini, karna di rumah kamu sangatlah menbosankan tak ada teman mengobrol!" jawab Dina. berbohong.
Sarah mendelik kan mata, saat Dina berkata seperti itu, dia pergi dari hadapan Dina.
@@@@@
Pak Tejo yang berusaha keluar dari rumah Sarah, kini mulai menemui anak-anak di dalam mobil.
namun betapa kagetnya Pak Tejo saat melihat dari kejauhan pintu mobil sudah terbuka lebar, membuat Ia berlari dengan cepat menghampiri mobil itu.
"Anak-anak."
Pak Tejo masuk ke dalam mobil mencari keberadaan cucunya dan juga Dodi, mereka berdua sudah tidak ada di dalam mobil membuat rasa kuatir menyelimuti hati Pak Tejo.
"Ke mana kalian."
saat itulah Pak Tejo mulai berjalan berteriak memanggil-manggil nama cucu dan juga Dodi.
"Nak, Dodi kalian di mana?"
sudah setengah perjalanan Pak Tejo tak menemukan Dodi dan juga cucunya," kenapa bisa mereka hilang begitu saja."
"Apa yang harus aku katakan pada Alan."
__ADS_1
"Lepaskan kami."
Terdengar suara Dodi, membuat Pak Tejo berlari ke arah sumber suara itu. Daerah ini sangatlah sunyi tak ada satu orang pun melintas, membuat Pak Tejo mendengar suara yang berteriak.