Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 201 Falsblack Ami dan Sarah 5


__ADS_3

Jam istirahat sudah selesai, di mana Sarah mulai beranjak untuk bekerja kembali. Ia mulai menatap dokumen yang sudah ia buat.


 


Kedua matanya seketika membulat, membuka dokumen sudah tidak ada pada map.


“Dokumennya ke mana?”


 


Salah satu teman Sarah yang berada di sampingnya terheran- heran melihat Sarah, ke sana ke sini mencari berkas yang sudah susah payah ia buat.


 


“Kamu kenapa, Sarah?”


 


“Nia kamu lihat berkas dokumen yang tadi siang aku buat tidak!?”


 


Nia menggelengkan kepala tak tahu berkas yang di maksud Sarah.


 


Sarah mulai resah, pikirannya kini seakan bingung.  Mencari keberadaan berkas dokumen yang sekarang akan di pakai meeting oleh Pak Hendra.


 


Ia mengusap kasar kepalanya, waktu tinggal beberapa menit lagi. Sedangkan  Sisi yang duduk tak jauh dari Sarah, hanya bisa tersenyum senang.


 


“Ha, tinggal beberapa detik. Sarah akan pergi dari kantor ini.”


 


@@@@


 


Sarah yang terus mencari ke sana ke mari, tak menyadari keberadaan Pak Hendra sudah berada di dekatnya.


 


Lelaki tua yang menjadi pemimpin perusahaan, hanya mengerutkan dahi. Heran dengan Sarah yang tak menjawab panggilannya beberapa kali.


 


“Sarah, hem.”


 


Nia yang menyadari itu, terus memukul- mukul pelan bahu Sarah. Agar kedatangan pak Hendra bisa ia sadari.


 


“Apa sih. Ni.”


 


“Sarah, ada Pak Hendra. Dari tadi mangil nama  kamu.” Bisik Nia.


 


Pada saat itu, Sarah langsung berdiri tegak. Menatap ke arah Pak Hendra yang memang dari tadi berdiri tak jauh dari hadapannya.


 


“Heh, pak. Kenapa, ya?”


 


Pak Hendra membulat kan kedua matanya, menatap tajam ke arah Sarah,” dari tadi saya panggil kamu, kenapa kamu sibuk ke sana ke mari.”


 


“Maaf pak!”


 


“Ya sudah, setengah jam lagi kita akan metting jadi kamu siapkan berkas yang saya beri. Untuk kamu salin dan benarkan.”


 


Deg ....


 


Sarah benar-benar bingung, ia harus mengatakan apa lagi. Setengah jam bukan waktu yang lama, dia tak sanggup menyalin dan membenarkan ulang dokumen itu lagi.


 


Menggaruk belakang kepala yang memang tak gatal, Sarah ingin mengatakan bahwa berkas itu sudah hilang.


 


 

__ADS_1


“Kamu dengar tidak apa kata saya?”


 


“Dengar pak.”


 


“Ya sudah cepat siapkan?”


 


“Baik, pak.”


 


 


Sarah duduk di atas kursi, ia menundukkan wajah, yakin jika dia bisa mengulang lagi berkas yang telah hilang selama setengah jam.


 


“Aku pasti bisa. Jangan sampai Pak Hendra memecatku sekarang.”


 


 


Dengan kegigihan yang ia punya, Sarah berusaha keras.


“Akhirnya aku bisa.”


 


Sarah datang ke ruangan metting dengan wajah percaya diri, ia berusaha menjelaskan dengan detail isi dari dokumen yang sudah ia benarkan selama setengah jam.


 


@@@


 


Sedangkan Sisi yang tersenyum senang berharap akan melihat nasib buruk Sarah.


Sesaat metting selesai, semua klien ke luar. Mereka tersenyum puas dengan hasil yang di buat Sarah.


 


“Dokumen Anda saya terima, penjelasannya sungguh detail. Saya suka sekali.”


 


 


Sisi yang mengintip dari balik pintu tak percaya, jika semua berubah terbalik. Ia melihat Sarah di puji begitu hebat oleh para klien.


 


Sisi yang hampir saja ketahuan, kini membalikkan badan bergegas untuk ke duduk di tempat ia bekerja.


 


Mendengus kesal tak percaya jika Sarah berhasil, pada saat itu Sisi mulai mencari sebuah ide untuk membuat Sarah ke luar dengan cara yang tak baik.


 


 


Jam kantor kini mulai selesai, Ami. Ternyata datang menjemput sang suami. Yaitu Rudi, Sisi yang melihat semua itu menarik tangan Sarah dan memberi tahu Sarah.


 


“Eh kamu lihat tuh, si Ami. Enggak tahu malu, datang ke kantor sok kecentilan, pake acara ngejemput Si  Rudi.”


 


Jelas Sarah, merasa kesal. Hatinya terasa panas saat Sisi mengomporinya.


 


Sarah mulai menggerutu kesal pada hatinya.” Si Ami sialan itu lagi.”


 


Amarah Sarah tak bisa tertahan lagi, ia datang menghampiri Ami dengan tatapan penuh kebencian.


Sisi yang melihat semua itu tersenyum dan menyaksikan apa yang akan di lakukan Sarah pada Ami.


 


“Hey, Sarah apa kabar?” tanya Ami, keluar dari dalam mobil. Menyambut kedatangan Sarah, ia hampir memeluk sahabatnya itu.


 


Namun dengan sigap Sarah, menyingkirkan pelukan Ami. Ia memperlihatkan wajah rasa tak sukanya.


 


“Kamu kenapa Sarah, akhir-akhir ini seperti menghindariku. Apa aku punya salah padamu.”

__ADS_1


 


Sarah, membuang ludah ke arah kiri, mendorong tubuh Ami hingga Ami tersungkur jatuh.


“Jangan sok baik kamu Ami, dasar wanita licik.”


 


 


Ami benar-benar heran dengan perubahan sahabatnya itu, “ kamu kenapa Sarah?”


 


“Jangan tanyakan aku kenapa? Tanya pada dirimu sendiri kenapa aku bisa jadi begini,” pekik Sarah menunjuk-nunjuk wajah  Ami.


 


“Aku tak mengerti apa maksud kamu, selama ini kita tidak pernah ada masalah!” balas Ami. Mulai berdiri dengan menahan rasa sakit pada perutnya.


 


“Ahk dasar licik.” Sarah malah mendorong kembali tubuh Ami.


 


Hingga perlakuan Sarah terlihat oleh Rudi, dengan sigap Rudi menghampiri Ami. Membantu istrinya untuk berdiri.


 


“Kamu ini gila, kamu mau membuat ....”


 


Sisi datang, saat ucapan Rudi belum terucap sepenuhnya. Ia mulai menenangkan keributan  yang sudah terjadi.


 


“Ada apa ini?” Tanya Sisi yang pura-pura sok polos.


 


 


Rudi yang kesal, langsung menunjuk wajah Sarah sembari sedikit menghina Sarah tanpa Rudi sengaja.


 


Hati Sarah tiba-tiba hancur, hatinya seakan teriris pisau yang sangat tajam. Lelaki yang ia cintai tega menghina dan membela wanita yang ia benci.


 


Sarah langsung menangis pergi  begitu saja. Sedangkan Ami meneriaki Sarah, tapi Rudi malah berucap,” ayo kita pergi dari sini. Kamu harus ke rumah sakit. Aku takut jika kandunganmu kenapa-napa.”


 


Sisi yang melihat adegan yang menyenangkan tersenyum kecil, saat itulah ia berusaha mengejar Sarah mencari simpati pada dirinya agar Sarah mudah terpancing akan ucapannya.


 


"Sarah tunggu, kamu mau ke mana?"


Sarah begitu cepat berjalan, membuat Sisi sedikit kewalahan mengejar gadis cupu yang ia selalu hina dalam hatinya.


"Sarah, tunggu."


Sarah kini mulai berhenti berjalan, ia menatap ke arah Sisi yang berlari mengejar dirinya.


"Kenapa kamu kejar aku Sisi?"


tanya Sarah dengan isak tangis, yang terus saja mengalir membasahi kedua pipinya.


"Kamu dengarkan dulu perkataanku. Aku ini sahabat Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian, Sarah!" balas Sisi menampilkan wajah sedihnya.


"Sisi, aku tidak tahu Kenapa dengan hatiku ini rasanya sakit sekali, saat Rudi menghinaku begitu saja," ucap Sarah. Meluapkan semua kesedihannya.


Sisi mulai mengusap pelan rambut panjang Sarah," kamu jangan terlalu menganggap ucapan Rudi ya."


"Tapi."


" sudah dengarkan apa yang aku katakan, Rudi itu tak bermaksud Menghina kamu, dia hanya emosi."


"Tapi aku kesal."


"Hey."


"Rasanya aku ingin pergi dari kantor ini."


"Untuk apa kamu pergi."


"Aku ingin merubah diriku, dan jika aku sudah berubah aku akan menghancurkan Ami dan mendapatkan Rudi."


Sisi sangat senang dengan apa yang di ucapkan Sarah, ini yang ia inginkan dari kemarin. Melihat kepergian Sarah.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2