
"Selama ini kita berteman baik, tapi setelah kamu memiliki Rudi pertemanan kita hancur. Karna kamu merebut Rudi kekasihku," hardik Sisi menampar pipi Ami.
"Siapa yang merebut Rudi dari kamu, dia adalah suamiku. Harusnya kamu sadar Sisi, otakmu sudah di cuci oleh Luky," ucap Ami. Melawan kedua lelaki yang memegang tangan kekarnya.
Sisi tertawa, mendengar perkataan Ami saat itu. Hatinya kian meresah kesal dengan wajah orang yang telah merebut kekasihnya.
Alan yang tergeletak tak berdaya begitu juga dengan Delia yang pingsan belum sadarkan diri, karna hantaman dari lelaki bertubuh kekar itu.
Plak satu tamparan Sisi layangkan kepada Ami. Ami hanya bisa meringis kesakitan.
"Sakit kan, ini tak seberapa wanita bodoh," ucap Sisi memperlihatkan satu pisau tajam yang telah ia siapkan dari tadi.
"Jangan jadi wanita bodoh Sisi, kamu harus sadar diri," Ami memberontak. Hingga saatnya Ami berusaha merai alat kecil yang bisa menyetrum tubuh seseorang dari saku celananya.
Saat tangannya mulai berhasil menggambil alat kecil itu, wanita berwajah tirus itu langsung menempelkan setruman itu pada kedua lelaki berbadan kekar itu.
Lelaki itu hampir menghepaskan alat itu, tapi Ami dengan sigap menendang alat kelamin kedua lelaki berbadan kekar itu dengan kakinya sendiri.
Sisi yang melihatnya langsung mengasongkan pisau tajam di hadapan Ami, tapi berhasil Ami singkirkan dengan tangan kanannya.
"Kurang ajah kamu Ami, ternyata kamu bisa bela diri juga," ucap Sisi yang tergeletak tak jauh dari hadapan Ami saat itu.
Alan dengan sekuat tenaga bangkit, mengambil pistol dan Dor ... dor ....
Satu tembakan mengenai kedua lelaki berbadan kekar itu.
Alan menggendong Delia keluar dari rumah itu. Berjalan bersama Ami.
Delia yang dari tadi tak sadarkan diri. Membuat Alan semakin khuatir.
"Cepat kita harus keluar dari sini," ucap Ami.
Sisi yang tak terima melihat mereka lolos begitu saja langsung merai pisau yang tergeletak tak jauh dari Sisinya.
Berlari menghampiri Ami saat itu juga. Satu pisau gagal mengenai tubuh Ami, pisau itu malah mengenai tanganya.
Saat pintu terbuka.
Sosok seorang lelaki datang, dia adalah Luky.
"Waw, pemandangan yang sangat menarik. Ada Delia, Ami dan juga lelaki penyelamat," tepukan tangan dari Luky. Membuat Ami seakan kesal.
__ADS_1
"Kamu gila Luky," hardik Ami. Menunjuk wajah lelaki berbadan gendut itu.
Luky merai telunjuk tangan Ami, seraya berkaya.
"Wow, aku gila. Bukanya kamu yang gila, Ami ku sayang."
Luky mencuil dagu Ami, membuat Ami menepiskan tangan itu.
"Jangan berani kamu sentuh aku!"
"Wah, melawan kamu Ami."
Tangan kanan Ami hampir melayang mengenai Luky saat itu.
"Jangan Ami, " ucap seseorang yang baru saja datang.
"Papah, itu kah kamu?" tanya Ami. Sosok lelaki itu menghampiri Ami, dia adalah Rudi.
"Bagus semua keluarga sudah berkumpul di sini," tepuk tangan Luky semakin keras. Ia puas telah menggiring Rudi ke rumahnya, hanya untuk menjadikan tersangka pembunuhan Faisal.
Air mata Ami mulai jatuh begitu saja, ia tak terima bila suaminya yang tersalahkan.
Namun, harus bagaimana lagi demi Ami. Rudi rela melakukan semuanya.
Rudi yang melihatnya begitu syok, hingga akhirnya Luky menawarkan sesuatu. Kalau saja Rudi bisa membuat tuduhan pembunuhan itu menjadi tersangkanya.
Luky tidak akan menggangu, orang yang ia cintai.
Dari sana Rudi sudah memikirkannya matang-matang dia lebih baik menyerahkan diri untuk menjadi tersangka, walau sebenarnya Rudi tak salah. Harus bagaimana lagi Rudi takut Ami kenapa-kenapa.
Beberapa saat Delia terbangun ia baru menyadari sudah ada di rumah sakit.
Bersama Ami dan Alan.
"Kita selamat?" tanya Delia terbangun dari tempat tidurnya.
Ami menunduk pandangan, pipinya sudah basah di lumuri air mata
"Kenapa kamu menagis Ami?" tanya Delia.
Ami menjelaskan semuanya kepada Delia, hingga wanita bermata sipit itu mengepal kedua tanganya. Kesal dengan penawaran bodoh yang di berikan Luky saat itu.
__ADS_1
"Kita di jebak, oleh Luky."
Delia memikirkan cara agar Rudi terbebas dari acaman Luky, dan tidak menyerahkan diri pada polisi.
Delia hampir ingat semua yang ia temukan di rumah Luky saat itu. Ini bisa menjadi bukti kalau Rudi tidak bersalah.
Dan lagi Alan, memperlihatkan rekaman percakapan Rudi dan Luky.
Rudi mengirim rekaman itu lewat wathsapp kepada Alan.
Wanita bermata sipit itu langsung mengajak Alan dan juga Ami untuk secepatnya kekantor polisi.
Namun, di luar sana ada dua pria bertubuh kekar itu menunggu. Alan, Ami dan juga Delia keluar dari ruangan.
Delia memikirkan cara, untuk bisa keluar dari rumah sakit ini tanpa kedua orang suruhan Luky itu tahu. Dengan membisikan sesuatu pada Ami.
Setelah itu Ami setuju dengan rencana Delia saat itu Juga.
Rencana di mulai, Ami keluar dari ruangan rumah sakit mencari seorang perawat. kedua lelaki itu menatap ke arah Ami seraya berkata." Mau kemana kamu?"
Dengan menampilkan raut wajah yang begitu sedih, di iringi dengan isak tangis, Ami berkata." Aku mau cari perawat, Delia kejang-kejang."
Dua lelaki itu saling menatap satu sama lain, mereka saling berbisik, hingga akhirnya mereka mensetujui Ami untuk mencari perawat.
Karna mereka percaya bahwa Delia benar-benar kejang.
Ami mencari ke tiga perawat sembari di ikuti satu lelaki bertubuh kekar.
Ami berhasil mendapatkan dokter dan juga perawat saat itu. Wanita berwajah tirus itu, sedikit memberikan satu surat kecil pada tangan sang perawat ketika lelaki yang mengikutinya tengah lengah pada pandangan Ami yang menggobrol.
Perawat itu setuju, sang perawat memanggil satu dokter dan juga temanya. Menjelaskan di ruangan lebih awal. Nafas Ami sedikit lega, karna sang perawat mengerti apa yang tengah di hadapi Ami saat ini.
Saat seorang perawat dan juga dokter sudah siap, Ami langsung bergegas masuk ke ruangan Delia, wanita bermata sipit itu menujukan satu jempolnya, berpura-pura kejang.
Saatnya rencana di mulai, ketika kedua lelaki yang tengah mengawasi Ami. Ami membisikan sesuatu pada sang perawat untuk menutup gordeng.
Kedua lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan, tapi berhasil di usir oleh sang dokter. Karna hanya ada dua orang saja yang boleh melihat keadaan pasien.
Saat itulah kedua penjaga itu langsung menutup pintu ruangan Delia.
Dari sana Delia dan juga Ami. Alan. Bergegas menukar baju mereka, menjadi sang dokter dan dua perawat. Menghias wajah agar semirip mungkin dengan mereka bertiga.
__ADS_1
Setelah baju terpasang semua waktunya untuk keluar dari rumah sakit ini, kedua perawat itu menunjukan satu jempolnya dan memberi satu ucapan." Semoga kalian berhasil."
Apa Ami, Alan dan Rudi berhasil melalu sang penjaga. Yaitu orang suruhan Luky?