Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 143


__ADS_3

Mobil pun sampa, dimana Dodi mulai menarik nafasnya, melihat acara pernikahan sang mamah yang sederhana. kakinya seakan berat Dodi begitu takut untuk melangkah maju menuju acara pernikahan sang mama.


Pak Gunandi meraih tangan Dodi, menarik untuk masuk ke dalam acara pernikahan Ami dan juga Rudi.


Dodi benar-benar ragu saat itu, ia mulai mengurungkan niatnya untuk melangkah maju pada acara pernikahan sang mama.


"Ayo Dodi."


"Dodi takut."


" Jangan takut kamu harus berani."


Pak Gunandi menampilkan senyuman untuk anak tampan itu, perlahan Dodi mulai berjalan mengikuti langkah Pak Gunandi dan Bu Sumyati.


Setelah masuk pada ruangan, terlihat Ami begitu cantik memakai gaun putih dengan rambut yang terikat. Dodi yang melihat sang Mamah berpenampilan seperti pengantin, begitu senang. Rasanya ingin sekali Dodi mendekat kearah sang mama hanya untuk menemani dan juga memberi selamat.


Di pernikahan itu, Delia dan Alan menatap Dodi mereka menghampiri anak tampan itu." Hai Dodi apa kabar, sayang?" sapa Delia dengan senyuman manisnya.


"Tante Delia."


Dodi yang begitu senang. Langsung memelukan Deliam


"Sudah lama sekali tidak melihat anak tampan ini, ternyata Dodi sudah gede ya. Sekarang," puji Delia.


Mencubit kedua pipi Dodi, membuat Dodi merasa malu.


"Apa sih tante jangan lebay deh."


Mereka tertawa mendengar perkataan Dodi yang terbilang begitu lucu.


Acara pun segera di gelar Dodi tak mampu mendekat kearah sang mama, ia melihat dari kejauhan bersama Pak Gunandi dan juga Bu Sumyati.


Alan mengerti perasaan Dodi saat ini, wajahnya anak itu terlihat begitu muram. Alan merasakan Dodi terlihat tertekan dengan apa yang terjadi pada Ami yang tak lain ibunya.


Alan mendekat dan berbisik pada telinga Dodi," kamu harus kuat ya. apapun yang terjadi. Ini adalah sebuah ujian yang harus kamu lewati."


Dodi tersenyum seraya berkata," Terima kasih atas kata semangat ya Om Alan."


"Pastinya, tos dulu dong."


Di dalam acara pernikahanya, Ami mendengar tawa Dodi yang terdengar nyaring. Membuat ia melirik ke arah anak tampan itu.


"Anak itu, kenapa ada di sini?"

__ADS_1


Kedua mata Ami membulat ia benar-benar kesal dengan apa yang tengah ia lihat.


Gaun pengantin yang berkibar, ia angkat ketika berjalan ke arah Dodi, menarik lengan tangan Dodi Seraya menatap tajam." Kamu ngapain ada disini," cetus Arumi bernada kesal."


Dodi menatap sayu ke arah Ami dan berkata," mama."


"Apa kata kamu."


Ami tampak tidak suka saat mendengar kata mama dilayangkan oleh Dodi.


Dengan Sigap Rudi menutup mulutnya, saat itulah Alan melindungi Dodi dari kemarahan Ami.


"Tenangkan dirimu Ami, Dodi hanyalah anak kecil, Tak usah kamu marah seperti itu," ucap Alan membela Dodi, berharap agar Ami sabar.


"Aku bukan marah tapi aku kesal dengan dia karena dia itu pembawa sial!" jawab Ami dengan kemarahan yang mendera.


" Jaga mulutmu Ami Jangan kamu lukai hati anak kecil yang tak berdosa ini," bela Alan.


Rudi mendekat, menarik pelan tangan istrinya.


"Kamu harus tenang ini acara pernikahan kita. Jangan emosi seperti itu?" kami mulai tenang mendengar ucapan Rudi, Ami kembali duduk di atas pelaminan saat Rudi mengajaknya untuk tetap tenang dan menikmati acara pernikahan.


Tatapan Ami masih tetap sama, menaruh kebencian, dari kejauhan Ami menatap tajam kearah Dodi.


Dodi mulai melangkah maju ke luar tanpa orang tahu ia berjalan mengikuti Angin Malam.


Menatap ke arah langit," kapan mama akan ingat padaku."


Delia yang tak sanggup melihat kesedihan Dodi, kini mulai menghampiri anak kecil itu, memegang bahu ringannya. Seraya membalikan badan Dodi ke hadapannya," Dodi kenapa kamu ada di sini?"


"Tante."


Delia mengusap pelan air mata yang mengalir pada pipi Dodi, ia mulai memeluk anak kecil itu. Seraya mengusap pelan punggung dan berkata," Kamu harus sabar ya."


Pelukan hangat dari Delia mampu membuat Dodi bernafas lega, pada saat itulah Alan melihat mereka berdua dalam kesedihan yang mendera. Mulai melangkahkan kaki berjalan ke arah mereka.


Mendudukan kedua lutut dan berkata," Dodi semangat."


Pernikahan yang belum selesai membuat Alan dan Delia berniat mengajak Dodi untuk pergi dari acara pernikahan sang Ibunda, mereka berniat mengajak Dodi untuk berjalan-jalan sebentar. Hanya untuk menghirup udara di malam hari.


"Gimana? kalau kita jalan-jalan sebentar?"


Dodi tampak senang, senyumnya mulai kembali mengambang, menganggukan kepala setuju dengan perkataan Alan. Yang mengajaknya untuk berjalan-jalan.

__ADS_1


Alan mengajak Dodi ke sebuah tempat yang baru, Dodi lihat, setelah sampai pada tujuan. Dosi melihat di tempat itu begitu ramai. Dikunjungi setiap orang di mana banyak sekali orang-orang yang suka berjualan di tempat itu.


Apalagi Dodi yang masih kecil begitu bahagia ketika melihat sebuah mainan.


"Dodi lihat kan di sana toko mainan semua, oh ya, Dodi boleh pilih mainan apa saja yang Dodi suka. Om traktir deh."


Tawaran Alan membuat Dodi tersenyum membuka, ia membuka lebar mulutany


"Wah yang bener Om?" tanya Dodi yang masih tak percaya dengan tawaran Alan.


"Benaran sayang, Dodi bisa pilih apa aja yang Dodi suka, pokonya hari ini keponakan Om akan om buat bahagia dan senang." Ucap Alan.


"Makasih ya om," seyum Dodi terpancar dengan kedua pipi yang tampak merah.


Dodi dengan senangnya berlari memilih-milih mainan yang ia suka, pada saat itulah Delia mulai membuat sesuatu rencana, yang Delia harapankan berhasil.


" Alan, gimana kalau kita bawa Dodi ke tempat kita dan lagi kan kita tidak mempunyai anak. Apa salahnya Dodi kita angkat menjadi anak kita," ucap Delia. Senyuman wajahnya terlihat berbinar penuh harapan.


"Kalau aku boleh boleh saja, tapi dengan Rudi? bagaimana?" balas Alex, mempertanyakan tentan Rudi yang tak lain ayahnya Dodi.


Bagaimana pun Dodi tak boleh seenaknya di ambil atau di angkat sebagai anak oleh orang lain, walau saundaranya sendiri. Karna masih ada seorang ayah yang mengurus Dodi.


"Iya juga sih, tapi kan Rudi masih mengurus Ami yang memang amnesia tidak mengingat Dodi? Apa salahnya kita bawa saja dulu, Dodi," pinta Delia. Ia ingin sekali mengurus Dodi semenjak kepergian anak dalam kandungannya.


Hatinya kian terasa hampa, di rumah atau kemana pun ia pergi. Delia tak sanggup kesepian tanpa hadirnya seorang anak.


Alan yang menjadi seorang suami mengerti apa yang di inginkan, istrinya. Dengan mengusap pelan kepala sang istri dan bekata." Bagaimana nanti, setelah kamu mengambil Dodi, untuk kamu angkat menjadi seorang anak. Pada saat itulah Ami sadar. Apa kamu akan rela, memberikan Dodi kepada ibunya."


Delia mulai menahan dagunya, memikirkan apa yang dikatakan sang suami.


"Aku akan rela, demi Dodi bahagia."


Alan masih tidak percaya dengan perkataan istrinya, yang berniat sekali ingin mengadopsi Dodi sebagai seorang anak dari keluarga Alan dan Delia. Alan berusaha menolak keinginan sang istri karena itu tidak mudah, ada rasa takut ketika Ami sadar dari amesianya, ia akan mengambil alih Dodi dan membuat Delia kehilangan Dodi.


" Apa kamu yakin?" Alan terus bertanya dengan nada lembutnya, walau sebenarnya hatinya tak terima dengan keputusan Delia.


Namun Delia masih dengan lamunannya, membuat Alan bertanya lagi.


"ku takut kalau kamu sudah mengurus Dodi. Kamu tidak akan mau kehilangan dengan Dodi."


Seketika Delia malah melamun dengan memikirkan perkataan Alan," Hei kamu melamun."


Teriakan Alan membuat Delia tertohok kaget.

__ADS_1


__ADS_2