
Tanpa berpikir panjang, Pak Hendra langsung menelpon Delia saat itu.
"Hallo pah, ada apa?" tanya Delia dalam sambungan telepon.
"Sisi kabur dari vila bersama pemuda yang pernah menolongnya waktu itu!" jawab Pak Hendra asal bicara.
Delia terhentak kaget, dengan ucapan mertuanya, kenapa Pak Hendra berbicara seperti itu. Bukanya Alan sudah memberitahu pada Delia bahwa Pak Hendra sudah pulang dari bali.
Delia mencoba memancing dengan bertanya balik pada mertuanya itu, ada kejanggalan merasuki hatinya.
"Loh, ko papah bisa tahu? Bukanya papah sudah pulang dari bali kenapa papah masih ada di vila?"
"Emh, kebetulan tadi ...,"
Belum Pak Hendra menjelaskan semuanya. Delia memotong pembicaraan mertuanya.
"Terus, papah kenapa bisa tahu kalau Sisi pergi bersama lelaki?" Delia terus memutar perktaan nya membuat Pak Hendra terperangkap dalam pertanyaannya.
"Itu ...," perkataan Pak Hendra yang salah tingkah membuat Delia yakin bahwa. Telah terjadi sesuatu pada Sisi saat itu.
"Papah kenapa?" tanya Delia. Ia menanggapi mertuanya dengan santai.
Pak Hendra langsung mematikan panggilan teleponnya. Dia lupa, harusnya tidak langsung berkata seperti itu.
"Akh, aku bodoh. Harusnya tidak langsung berbicara seperti itu pada Delia, dia kan dektektif. Bodoh kamu Hendra," gerutu Pak Hendra. Menepuk kepalnya, langkahnya gontai. Masih terasa sakit di bagian tubuh belakang.
Lelaki tua itu, kesal dengan pembantu yang menolong Sisi. Harusnya aku menikmati tubuhnya lagi seperti dulu, tapi malah gagal.
Berusaha keluar rumah, menghampiri mobil. Dan menaikinya. Pak Hendra segera mencari Sisi, sebelum Sisi memberitahu semuanya.
"Aku harus menemukan rumah pemuda itu? tapi dimana!" ucap pelan Pak Hendra.
***********
Delia sedikit bingung dengan Pak Hendra, apa lagi perkataannya di dalam telepon. Sampai akhirnya dia mengecek ponselnya, beberapa panggilan telepon dari Sisi dan juga pesan.
"Kenapa? ko kaget gitu!" tanya Alan pada istrinya. Delia langsung memberikan isi pesan itu.
"Papah berulah lagi!" ucap Alan. Matanya membulat, mengepal kedua tangan. Rasanya kesal dengan kelakuan lelaki tua yang tak lain adalah papahnya sendiri.
"Ada apa?" tanya Ami. Melihat kebingungan di antara Alan dan juga Delia.
Delia menyodorkan ponsel dari pesan Sisi kepada Ami.
"Sisi dalam bahaya."
"Iya, Am. Sisi dalam bahaya, Pak Hendra mertuaku, entah kenapa menjadi seperti itu."
"Aku merasa bersalah."
Ami menyeder pada diding tembok rumahnya.
"Bersalah kenapa?" tanya Delia.
"Karna dulu, aku yang menyuruh Om Hendra membantuku. Menguak rencana jahat Sisi!"
__ADS_1
"Am, semua sudah menjadi masa lalu biarkan sajA. Sekarang sudah beda lagi jamannya."
"Papah benar- benar tidak tahu malu, harusnya papah sadar diri. Dia malah memanfaatkan perubahaan Sisi," gerutu Alan.
"Aku ingin tahu, kenapa Om Hendra begitu?" tanya Ami ada rasa ragu di hatinya.
Saat itu Delia menjelaskan semuanya, hingga Ami terkejut dan tak menyangka.
Delia langsung menelpon Arpan, karna dia tahu pasti Arpan yang menjaga Sisi saat itu.
Untung saja panggilan pun terangkat.
"Hallo, Arpan," panggilan tersambung. Delia menyebut nama Arpan saat itu. Tapi Arpan belum menjawab.
"Ya," ucap Arpan. Dia langsung berkata dalam panggilan telepon," siapa?"
"Ini aku Delia!" jawab Delia.
"Oh, ada apa Del?" tanya Arpan. pada sambungan telepon.
"Apa, Sisi bersama mu?" tanya Delia
"Ya, Sisi bersama ku dan juga pembantu di vila. Mereka aman bersamaku."
"Baiklah. Aku ingin kamu menjaga dia?"
"Tentu saja."
Delia sangat bergantung sekali pada Arpan hanya dia yang Delia tahu. Selalu perduli pada Sisi. Bernafas sedikit lega, Delia yakin Arpan bisa menjaga Sisi.
"Kamu jangan khuatir Ami, Sisi baik-baik saja. Karna ada seorang lelaki yang mau menjaganya!" jawab Delia terseyum manis pada sahabatnya.
"Benarkah?"
Delia mengangguk mengiyakan jawabanya.
"Aku punya hadiah untuk kamu Ami, dari Sisi," ucap Delia menyodorkan sebuah vidio yang berdurasi tiga puluh menit.
"Vidio Sisi," ucap Delia.
Sisi membuat vidio perkataan maaf untuk Ami. Dengan deraian air mata ia meminta maaf dengan sangat tulus.
Ami seakan tak percaya jika Sisi berubah. Ami berharap agar Sisi benar- benar berubah sampai nanti.
"Mungkin Sisi tersadar karna banyak sekali penderitaan yang ia alami saat di bali."
"Aku sungguh senang jika benar Sisi berubah, rasanya seperti mimpi."
"Mungkin ini lah keajaiban sang maha kuasa."
Di tengah-tengah kebahagian itu, Delia seakan tak enak badan, ia berlari menuju kamar mandi.
"Kamu kenapa Delia?" tanya Ami.
"Aku pusing, enggak enak badan. Dan lagi mual terus?"
__ADS_1
Ami terseyum, ia mengelus perut Delia," kayanya kamu hami deh."
"Masa sih?" Delia seakan tak percaya. Apa benar dia hamil.
"Coba periksa," ucap Ami. Menyuruh Delia cepat memeriksa dirinya ke dokter.
"Kalau belum siap ke dokter, nih pake ini," ucap Ami menyodorkan sebuah tespek untuk Delia.
"Ini apa?" tanya Delia. Alan saat itu tertawan.
"Masa kamu engga tahu sayang, itu tuh tespek. Alat pengecek kehamilan!" jawab Alan. Terukir di bibirnya seyum sumringah.
Ami menggeleng-gelengkan kepala, menyodorkan satu buah tespek itu ke tangan Delia.
"Kamu pake nantinya."
"Cie-cie ada yang mau punyak anak?"
"Apa sih!"
Apa benar Delia sedang mengandung.
Pagi hari dimana Delia mencoba mengecek air kencingnya dengan tespek. Ada rasa dag dig dug dalam hatinya. Karna baru pertama kali.
Mencoba sabar menunggu melihat hasil dari alat kecil bernama tespek itu. Alangkah bahagianya Alan jika Delia hamil. Karna itu yang Alan tunggu.
Saat stip merah itu mulai terlihat, Delia langsung menujukan pada suaminya.
"Stripnya satu?" tanya Alan.
Delia mengganguk ada rasa sedih menyelimuti hatinya kini, dia berharap sekali memiliki seorang anak. Melengkapi keluarganya.
Alan hanya bisa menenangkan Delia saat itu, memeluk dan menyemangatinya.
"Kamu harus semangat dong, jangan sedih gitu?"
Bibir Delia memoyong, ia masih kesal dengan tespek yang ia pakai. Alan mencoba menggoda sang istri agar terseyum, mencubit ke dua pipi istrinya seraya berkata." gemes."
"Ih Alan, sakit tahu."
Alan sungguh senang melihat Delia terseyum kembali, hatinya sedikit lega karna wanita bemata sipit itu tidak ngamuk lagi.
Saat itu, Ibu Alan datang, membuat Alan dan Delia sontak kaget.
"Mamah, sejak kapan datang?" tanya Alan. Melihat sang ibu nampak marah. Pipinya merah padam, Alan tahu sifat mamahnya galak.
Delia menghampiri ibu mertua dengan mengecup punggung tangan Ibu mertuanya. Begitu pun dengan Alan. Namun di saat itu, istri dari Pak Hendra terus mendesak Alan. Untuk memberitahu dimana Pak Hendra berada.
Alan bingung harus berkata seperti apa? takut sosok seorang ibu terluka oleh pengkhianatan suaminya.
"Mungkin papah sibuk, di luar kota?" tanya Alan pada ibunya.
Sang ibu tidak puas dengan perkataan anaknya.
Apa yang akan di katakan Alan. Kebohongan atau kejujurannya, ayahnya berada dimana?
__ADS_1