Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 41


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul 17:05 dimana pertemuan antara Luky dan Sisi.


Mereka bertemu di cafe bintang tempat yang aman tanpa satu orang pun tahu.


Karna cafe ini sangat kecil dan letaknya jauh dari kantor jarang teman-teman yang ada di sana nongkrong di cafe itu.


Tak lupa di barengi dengan Sinta yang juga ikut serta.


Melihat Sinta wajahnya begitu pucat karna kehamilan yang menginjak dua bulan, fase dimana ibu hamil merasakan mual dan pusing, sering lelah.


"Apa kamu baik-baik saja Sinta?" tanya Sisi yang melihat keadaan Sinta yang begitu murung.


"Sekarang gimana loe bisa bantu gue engga?" tanya Luky, keringatnya bercucuran dia seakan kebingungan dengan apa yang menimpa dirinya.


"Gue bisa bantu kalian, asal kalian juga bisa bantu gue!" jawab Sisi terseyum manis.


"Apa pun yang loe mau gue bantu, asal loe mampu buat bayi dalam kandungan Sinta lenyap dan suaminya tidak tahu menahu dalam hal ini!" jawab Luky, dia mengelus kasar rambutnya seakan kesal apa yang telah menimpa dirinya saat ini.


"Is, is. Loe Luky, tenang sedikit napa. Masalah yang loe hadapi itu gampang," ucap Sisi mensentilkan kedua kukunya.


"Ya, gue mau tenang gimana?" Asal loe tahu gue sudah jengah dengan keadaan ini."


Sinta manatap raut wajah Luky, " jadi loe udah jengah hubungan sama gue ky."


Luky dan Sinta malah berperang adu mulut, Sisi yang mendengarnya menenangkan mereka. Bukan malah tenang mereka malah semakin menjadi-jadi.


"Bisa diam tidak," teriak Sisi sembari memukul meja dengan kedua tanganya.


Semua orang langsung melirik ke arah Sisi. "Maaf." Sisi meminta maaf pada semua pengunjung.


"Kalian ini seperti anak kecil, saat enak-enaknya diam aja. Lah saat ada masalah ribut mulu. Bukanya menyelesaikan masalah malah menambah."


Sinta dan Luky terdiam.


"Ya, Maaf."


"Ya, sudah sekarang kalian dengarkan intruksi gue. Loe Sinta hari minggu ikut gue. Loe jemput gue di Jalan Alina no 35."


"Mau apa?"


"Ya, ampun. Loe dari dulu begonya masih ada ajah di otak. Bikin cape kalau ngomong sama loe, pantes aja loe mau di rayu sama buntelan kentut ini."


"Tapi kan Ky lucu dan jantan."


Sisi menepuk jidanya, seraya berkata." Dasar istri kesepian."


"Terus gimana dengan gue?" tanya Luky.


"Ya sudah loe ikutan aja, sama kita. Loe yang bawa mobilnya. Kebetulan kan hari minggu kita libur kerja."


Luky dan Sinta mengangguk setuju dengan intruksi yang di berikan Sisi.


Sisi menghelap nafas panjangnya bahwa rencananya harus berjalan mulus besok.


Setelah alur pembicaraan sudah selesai mereka memesan makanan masing-masing.


"Oh, ya. Si. Padahal loe cantik dan semok, ngapain sih, loe masih mengharap si Rudi cowok enggak normal itu!?"


Sisi terseyum tipis mendengar perkataan Luky. Seraya berkata." Dia sepesial bagi gue."


"Ya elah, loe gayanya. Emang si Rudi makanan di pinggir jalan pake ada sepesial-sepesial."


Sisi yang mendengar perkataan Luky, seketika menggigit bibir bawahnya.


Memukul kepala lelaki bertubuh gendut itu.


"Aw, sakit Si. Emang benar kan apa kata gue."


"Tapi, gak usah di samaain sama makanan. Emang dia martabak sepesial."


Luky tertawa terbahak-bahak, " ya elah, loe segitu juga ngamek. Dasar bucin."


"Bodo amet. Asal kalain tau banyak lelaki di luar sana menggodaku, tapi berbeda dengan Rudi. Dia susah sekali di taklukan, bikin tantangan buat gue."

__ADS_1


"Terus, apa yang loe mau dari gue."


"Gampang, elo cukup yakinin si Rudi aja bahwa gue sudah berubah sepenuhnya."


"Terus dia bakal, langsung mau sama loe."


"Ya, pastinya lah. Dia bakal luluh karna sifat gue yang udah berubah."


"Kayanya bakal susah kita yakini si Rudi cowok berhati batu, dan bermata duri itu." timpal Sinta.


"Makanya dari itu usaha," tekan Sisi agar Sinta dan Luky berusaha.


"Ya, iya kami usahain bos."


"Bagus."


Mudahan-mudahan saja mereka mau bantu, kalau mereka gak bisa bantu. Bagaimana dengan nasib hutang yang meliaran yang Andi bebankan sama gue. Sedangkan rentenir itu terus saja meneror, gumam hati Sisi.


Setelah mereka selesai mengobrol, tiba-tiba Luky menabrak salah satu pengunjung yang tengah melewati mereka.


"Aduh, mba maaf gak sengaja," ucap Luky membantu membangunkan wanita yang tertabrak oleh badan gendutnya itu.


Sesaat wajah wanita itu terlihat, Luky yang menatapnya terpesona.


Sinta langsung memukul pipi kekasihnya itu.


"Dasar."


"Eh, maaf beb."


Sisi mendekat, kearah wanita itu.


"Sori temen gue emang ceroboh."


"Oh gak papa mba, maaf saya juga bikin kalian kaget."


"Enggak ko," ucap Luky terseyum pada gadis itu, seketika Sinta menjewer kuping Luky menarik pergi dari hadapan wanita itu.


"Oke."


Wanita itu langsung menggambil ponsel dalam saku bajunya dan mengirim pesan pada seseorang.


"Musuh, sudah saya temukan. Informasi saya dapatkan sudah terkumpul."


Terkirim pada Rudi dari Delia


Rudi melihat isi pesan yang dikirim suruhan Ami ialah Delia, Rudi terseyum.


"Bagus, ternyata wanita bernama Delia bisa di andalkan juga. Dia datang tidak menunggu besok, sekarang dia juga bisa mulai bekerja," ucap Rudi.


********


Baru Rudi pulang, dari rumah. Rudi di kagetkan dengan Bu Sumyati yang di tarik paksa oleh petugas rumah sakit jiwa.


"Ada apa ini? Kenapa kalian menarik tangan ibu saya," hardik Rudi, memarahi kedua petugas itu.


"Maaf pak, ini pasien Bu Sumyati harus di bawa ke pihak rumah sakit jiwa. Karna kebetulan pasien melarikan diri sudah 1 bulan!" jawab petugas perawat itu dengan memberikan surat laporan dari pihak rumah sakit.


Sesaat membaca surat itu, Rudi menggumpal perlahan surat itu dan menyobeknya.


"Biar saya yang urus, urusan ibu saya di rumah sakit. Agar saya bisa membawa ibu saya ke rumah ini," ucap Rudi menarik tangan Bu Sumyati dari gengaman petugas itu.


"Tapi pak, bapak harus izin ke rumah sakit dulu untuk membawa Bu Sumyati. Dan itu juga harus anggota keluarga Bu Sumyati yang bertanggung jawab atas bebasnya Bu Sumyati."


"Saya keluarganya."


"Kalau bapak benar anggota keluarganya, bapak harus memperlihatkan akta bapak dengan Ibu Sumyati, agar pihak rumah sakit kita percaya."


"Sudah lah Rud, biarkan ibu masuk ke rumah sakit jiwa lagi." timpal Bu Sumyati dengan keadaan pasrah.


Rudi terus saja mengelak, pada petugas itu.


"Besok saya akan pergi ke rumah sakit, dan meminta izin pada pihak rumah sakit kalian paham."

__ADS_1


Karna melihat Rudi yang sudah emosi, petugas itu langsung pamit pergi.


Rudi memeluk sang ibu, dengan begitu erat. Tangisan pecah, begitu menderitanya Bu Sumyati waktu itu.


Fitnahan yang sangat keji.


Rudi menyuruh Bu Sumyati untuk beristirahat.


Saat itu juga, Ami menarik tangan Rudi.


"Bagaimana ini pah? tanya Ami tangannya gemetar.


Rudi langsung memegang ke dua tangan yang bergetar itu.


"Tenang, kita masih butuh bukti yang kuat."


Ami mengelak dan berkata." Bukti yang kuat, bagaimana. Sedangkan bukti itu hanya ada pada Bu Sumyati dan lagi ibumu mempunyai riwayat ganguan jiwa karna fitnahan Bu Nunik. Apa polisi akan percaya. Begitu saja."


Rudi mendengkus kesal, ia harus mencari bukti kuat, atau tidak menjebak Bu Nunik.


Sesaat itu Rudi teringat dengan Alan, ia adalah seorang dokter kalau dia bisa membuat laporan bahwa Bu Sumyati sehat tanpa ganguan jiwa. Mungkin polisi akan mempercayai semuanya,


Rudi hampir lupa. Dulu sewaktu melihat Ibunya memegang surat kelahiran Rudi ia melihat akta yang sudah kumuh. Dari rumah sakit yang dulu ia di lahirkan.


Rudi harus mencari akta itu dari ibu, agar semua jelas.


Ami memikir kan cara terbaik untuk bisa mendapatkan akta itu.


Sesaat di ruang tv, sudah lama Ami dan Rudi tidak bercanda dan bergurau.


Mereka terlalu lelah, dengan apa yang menimpa keluarga mereka akhir-akhir ini.


"Mamah, tahu tidak. Kalau mamah itu kaya berbie. Lucu imut gemesin," ucap Rudi mencuil dagu dan mengedipkan ke dua matanya.


"Apa sih, pah dari kemarin gombal terus!" jawaban Ami pipinya memerah, di baluti dengan seyum merekah.


Satu ciuman mendarat pada pipi Rudi. Ciuman sang istri yang menghangatkan seluruh jiwa.


"Ih, mamah curang ya. Awas nanti papah tangkap baru tahu rasa lo."


Ami berlari mengelilingi sofa rumah, Dodi yang melihatnya tertawa melihat pemandangan ayah dan ibunya sedang bemain kejar-kejaran.


"Hey, nak."


Ami dan Rudi mencium sang buah hati dengan dekapan rasa cinta.


Kalian taakan pernah aku lepaskan, Ami dan Dodi adalah harta yang paling berharga. gumam hati Rudi.


"Rudi, Ami. Coba lihat," ujar ibu.


"Ada apa bu?"tanya Rudi dan Ami mereka langsung menghampri sang ibu.


Ibu Sumyati menyodorkan satu berkas kumuh.


"Ini akta yang ibu ambil dari laci Bu Nunik saat tak sengaja mengerjai Sisi waktu itu, ibu ambil. Apa kamu ingat Rudi, saat membongkar rahasia Bu Nunik ibu sempat berkata akta."


"Ia, Rudi ingat. Tak usah kita memikirkan cara lain lagi. akta ini sudah ketemu. Besok ibu bebas dari rumah sakit jiwa.


Dan dari tuduhan bahwa ibu mempunyai ganguan jiwa."


"Bagaimana caranya."


"Delia dia adalah detektive dan pengacara. Rudi sempat menggobrol dengan gadis itu."


Dua jempol di acungkan Ami.


"Kalau kita menghancurkan ke dua insan itu hanya dengan menjebloskan ke penjara rasanya tidak asik. Kita kerjain dulu mereka, bagaimana merasakan jadi yang teraniaya."


"Tapi kasian juga sih," ucap Ami.


"Justru kedua wanita itu kita kasihani mereka malah melunjak. Coba kita beri pelajaran agar dua wanita itu tahu gimana rasanya menjadi yang teranianya," ucap Rudi sambil terkekeh tertawa.


Jangan lupa komen dan like ceritanya ya.

__ADS_1


__ADS_2