
Setelah Rudi sampai di dalam penjara, ia mulai bertanya pada para polisi yang tengah berjaga di sana.
“ Selamat siang pak, Saya ingin bertanya? Apa benar tahanan bernama Sarah dibebaskan?”
Pertanyaan Rudi membuat polisi itu menganggukkan kepala dan menjawab.” Benar pak.”
“Kenapa semudah itu, pak?” tanya Rudi dalam kebingungan.
“Maaf sebelumnya pak, ada orang yang menebus tahanan Sarah saat tadi pagi!” Jawab para polisi itu.
Rudi langsung bertanya pada hatinya,” apa semudah itukah?”
“Ada lagi yang mau bapak tanyakan?” tanya Pak polisi membuyarkan lamunan Rudi.
“Tidak pak.”
Polisi itu langsung berpamitan pada Rudi, untuk menjalankan tugasnya.
Rudi yang penasaran langsung menghampiri Tama.
“Apa aku harus bertanya pada Tama, tapi .... Sudahlah lebih baik aku tanyakan pada dia.” Ucap Rudi. Berjalan berniat menemui Tama pada saat itu.
Betapa kagetnya Rudi, melihat Tama di pisahkan dari ruangan penjara. Yang tadinya bersama para tahanan, sekarang sendiri.
Rudi melihat Tama tengah duduk, dengan memeluk kedua lututnya. “Tama.”
Panggil Rudi.
Tama langsung bangun dan melihat orang yang memanggil namanya. Dengan tergesa-gesa Tama memegang jeruji besi, dan berucap.” Rudi. Akhirnya kamu ke sini.”
Kedua mata Tama terlihat sebab, seperti habis menangis. Membuat Rudi bertanya.” Ada apa dengan wajahmu. Seperti habis menangis.”
Tama langsung menjelaskan semuanya,” Rudi. Sarah ....”
“Aku tahu, memangnya kenapa?”
“Tolong selamatkan dia, dia dalam bahaya!” jawab Tama.
Rudi sangat penasaran kenapa Tama berkata seperti itu,” maksud kamu apa?”
Tama langsung menjelaskan tentang lelaki tua yang membebaskan Sarah di dalam penjara. Rudi yang mendengar penjelasan Tama sangatlah kaget, ia langsung menekan Tama pada saat itu juga.
“Apa kamu tidak salah dengan ucapanmu, Tama?” tanya Rudi. Ia takut jika Tama hanya mengada-gada.
Tama bersumpah pada Rudi, sembari menangis memohon. Agar Rudi percaya padanya, karna hati yang tak tega pada Sarah. Apalagi cinta Tama begitu besar kepada Sarah. Dirinya tak bisa memiliki Sarah sepenuhnya, tapi ia tetap berusaha berkorban untuk Sarah. Walau caranya salah dan keterlaluan, bukan membuat Sarah nyaman malah menjadikan Sarah dendam padanya.
“ jika itu yang kamu katakan benar, aku akan menyelamatkan Sarah. Tapi jika itu salah kamu tahu, apa yang akan aku lakukan pada Sarah, aku akan membuat dia masuk kembali ke dalam penjara. Membusuk seperti halnya kamu. Tama,” tegas Tama.
__ADS_1
“Aku siap dengan perkataanmu, Rudi,” ucap Tama sayu.
Badan Tama begitu terlihat kering kerontang, membuat Hati kecil Rudi merasa kasihan. Tapi ia berusaha menjadi orang yang tega, agar orang yang berbuat kesalahan menyadari perbuatannya sendiri. Dan mau merubah sifat dan juga hatinya.
Walau itu tak mudah bagi sebagian orang, tapi Rudi tetap pada pendiriannya sendiri. Merubah orang yang benci kepadanya menjadi sadar akan kesalahannya.
Rudi langsung berpamitan kepada Tama, yang di mana Tama bisa bernafas lega. Jika Sarah kenapa- napa Rudi akan menolongnya.
Tama seakan sadar akan kesalahannya yang ia perbuat, pintu hatinya sedikit terbuka untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Dia mengusap kasar air matanya, dan berucap dalam hati,” apa aku harus berubah dari sekarang? Tapi, apa masih ada kesempatan untukku berubah.”
Menutup keduanya matanya, merenungi apa yang sudah ia lakukan di masa lalu hingga dirinya sekarang berada di dalam penjara, teringat akan sang ibu yang sudah meninggal.
Tiba-tiba saja Tama mulai tertidur, dan di mana mengantarkan ke dalam mimpi yang begitu menyedihkan.
Seorang wanita berjalan ke arahnya, di mana sosok itu menyapa Tama dengan senyuman manis.
“Tama.”
Wanita itu menangis mengeluarkan darah segera dari kedua matanya, membuat kedua tangan Tama bergetar hebat.
Tama berusaha mengusap air mata yang mengalir seperti darah itu, pada mata sang ibunya. Yang di mana sang ibu tak mau berhenti menangis.
“Tama, kenapa kamu membuat ibu menderita.”
Ucapan Wanita itu membuat, Tama merasa bersalah,” ibu maafkan Tama. Tama Salah.”
Saat air mata itu redam, kini keluar hewan kecil yang menggeliat. Meloncat pada tangan Tama, membuat Tama bergidig ngeri.
“Ahhk.”
Tama menjerit, membuat sang ibu merasa sedih.” Kenapa kamu menjerit Tama, ibu kesakitan.”
Mimpi yang seakan nyata, Membuat Tama tak segan- segan langsung membersihkan wajah sang ibu, tapi semakin Tama membersihkan wajah sang ibu, semakin banyak hewan yang menggeliat membuat bau busuk tercium.
Tama seakan tak kuat dengan bau yang masuk ke dalam hidungnya.
“Tama, kenapa? Tolong ibu. Ibu sanggatlah kesakitan. Lepaskan hewan kecil ini pada wajah dan tubuh ibu.”
Ucapan sang ibu begitu kaku, membuat Tama. Bergidik geri.
Bau pada tubuh ibunya semakin tercium, membuat Tama ingin memuntahkan isi perutnya.
“Kamu kenapa, Tama?” tanya sang ibu.
__ADS_1
“Enggak bu!” Jawab Tama berbohong.
“Kenapa wajahmu begitu pucat, Tama. Kamu takut dengan ibu?” tanya wanita itu. Pada sang anaknya, yang tak henti melepaskan perlahan hewan kecil itu.
“ sudah ya, bu. Ibu diam saja, Tama tidak mau ibu kesakitan lagi.” Ucap Tama menahan rasa mulai yang sudah terasa pada kerongkongannya.
Tiba- tiba saja, mata sang Ibu keluar. Membuat kamu benar-benar kaget bukan kepalang, wajah kamu begitu pucat Pasih. Menahan rasa takut karena tiba-tiba saja sebelah mata ibunya keluar.
“kenapa dengan mata ibu?” tanya Tama.
Lelaki itu langsung meraih satu mata sang ibu.yang terjatuh di atas lantai. Ya berusaha memberanikan diri mengambil mata sang ibu, untuk memasangkannya kembali.
Tapi tetap saja saat Tama mengambil mata itu dan memasangkan kembali pada tempatnya, mata itu tak mau terpasang.
“Bu, maafkan Tama.”
Air mata mengalir deras di hadapan sang ibu, membuat Sang ibu kembali mengagetkan hati perasaan Tama.
“Kenapa kamu bersedih, nak? Ini perbuatanmu. Yang sudah kamu lakukan pada ibu.
Tama tak tahan, ia menangis histeris di bawah telapak kaki sang ibu yang sudah membusuk membuat Tama tak peduli dengan bau menyengat dari badan Sang ibu.
"Tama, kenapa kamu meminta maaf."
Saat itulah, badan sang ibu mulai perlahan habis di gerogoti hewan kecil yang tak henti semakin banyak dan tak henti memakan daging sang ibu yang sudah membusuk.
Tama kembali lagi berdiri, menyaksikan semua itu membuat rasa sesak di dalam dadanya. kecewa dan menyesal kini terasa pada hati lelaki itu.
Semakin lama, tubuh itu habis tak tersisa, yang di sisakan hannyalah sebuah tulang belulang. membuat Tama menjerit dan meraih tulang belulang sang ibu.
"Ibu. maafkan aku. Ibu."
Penjaga yang menjaga di luar melihat Tama mengigau. Memvuat polisi itu mengedor jeruni besi agar Tama bangun dari mimpi buruknya.
."Tama selamat tinggal."
Tama terbangun dan menjerit berteriak, memanggil nama sang ibu.
"Ibu ...."
__ADS_1