Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 315


__ADS_3

Pelayan itu berhasil merekam aksi Pak Andre yang menyiksa Sarah dan Syakira. Ia dengan sigap pergi, karna takut jika orang lain yang berada di rumah itu menyadari aksinya.


Hingga di mana pelayan yang bernama iyem itu menabrak salah satu pelayan di sana.


Brug ....


"Iyem. Kalau jalan itu pakai mata." Hardik Marni yang tengah membawa selimut.


"Marni, maafkan saya," ucap Iyem bernada polos.


Marni mengerutkan dahi seraya menatap ke arah wajah Iyem dengan begitu teliti.


"Kenapa nada bicaramu gugup sekali, iyem?" tanya Marni.


Iyem menundukkan pandangan menelan ludah." saya gugup. Mungkin karna kaget."


"Oh."


Iyem langsung berpamitan pada Marni dengan tergesa gesa, membuat Marni berucap dalam hati," dasar gadis kampung. Aneh."


saat itulah Marni bergegas pergi untuk menaruh selimut sang tuan yang sudah rapi dan wanggi.


"Hampir saja aku ketahuan, untuk Marni tak mencurigaiku." menghelap napas. Menahan setiap ketakutan dalam hati.


@@@@@


Namun, di dalam mobil, Rudi mulai berucap pada Tama.


"Tama sepertinya dengan cara baik baik seperti tadi tidak akan berhasil, Pak Andre tidak akan memberikan Sarah semudah itu pada kita," ucap Rudi yang memegang stir mobil.


"Jadi dengan cara apa? Biar kita bisa membebaskan, Sarah. Aku takut lelaki tua itu malah menyiksa Sarah habis habisan," balas Tama.


"Makanya itu, aku sudah memikirkan cara lain, yang mungkin bisa menyelamatkan Sarah, tanpa Si bandot tua itu tahu," ucap Rudi.


"Aku hanya bisa mengikuti caramu, Rudi," balas Tama dalam ke pasrahan diri.

__ADS_1


Rudi awalnya kesal dengan lelaki yang berada di samping kirinya, ia tak mau menolongnya sama sekali. Apalagi mengasihaninya, tapi hati nuraninya berkata lain, tidak baik membalas orang yang jahat dengan kejahatan lagi. Apa bedannya kita, tak jauh sama seperti mereka, jika membalas balik kejahatan yang mereka perbuat.


"Malam ini kita buat rencana kita," ucap Rudi.


Tama hanya bisa menganggukkan kepala dan menurut pada Rudi, ia lemah sekarang. Semenjak bermimpi bertemu dengan ibunya, ia seakan sadar akan apa yang di lakukannya.


Rudi mulai membawa Tama ke rumahnya, untuk sementara waktu. Karna tak ada tempat lain. Jika Tama di bawa ke hotel mungkin polisi akan menemukan keberadaannya.


"Kamu yakin akan membawaku ke rumahmu, bagaimana dengan istrimu. Ami?" tanya Tama.


"Sudah, kamu tenang saja. Aku akan mengatur semuanya!" jawab Rudi.


Rudi mulai membawa Tama ke rumahnya.


saat Rudi membawa Tama ke rumah, pada saat itulah Ami datang dengan wajah penuh amarah dan rasa kuatir pada Rudi.


"Papah, Kenapa pergi enggak bilang-bilang mama dulu. mama kan jadi kuatir," ucap Ami sedikit bernada cetus.


Rudi mendekat ke arah sang istri, memegang kedua bahu Ami dan berkata." Maafkan papah, sayang. Tadi papah ada urusan mendadak. jadi tidak sempat memberitahu kamu."


Rudi mengusap pelan kedua pipi istrinya, tersenyum dan berkata,'' sebenarnya Papa tidak pulang sendirian, Apakah membawa seseorang ke rumah ini. apa Mama tidak keberatan?"


sosok seorang lelaki datang menghampiri Ami, yang di mana lelaki itu Tama. Ami yang melihat sosok Tama, membulatkan kedua matanya dan berkata." Bukannya dia itu lelaki jahat yang selalu bersama Sarah," cetus Ami kesal saat melihat Taman menampakan diri.


Ami melipatkan kedua tangannya, memalingkan wajah dari pandangan Rudi dan Tama. yang di mana saat itu Tama menyodorkan tangan mengajak Ami bersalaman. Ami seakan mengabaikan sodoran tangan Tama saat itu.


Rudi yang menyadari bahwa Ami tak menyukai kehadiran Tama, "Sayang, dengarkan dulu Papa. Tama ini hanya meminta bantuan Papa saja, Tama pastinya tidak akan membuat masalah juga di rumah ini," ucap Rudi meyakinkan Ami.


Ami menarik lengan Rudi ia membawa Rudi menjauh dari hadapan Tama." Papah ini, nggak mikirin diri sendiri. kalau misalkan dia membuat masalah dan tidak seperti apa yang papa ucapkan kan. Papah mau menanggung resikonya." ucap Ami bernada pelan.


Rudi mulai terdiam menatap kearah Tama. yang di mana lelaki itu berdiri dengan raut wajah sedih.


saat itu Rudi mulai menjawab pertanyaan istri tercintanya," Papah yakin Tama tidak seperti yang Mamah bayangkan."


" ya sudah, terserah papa. Mama nggak mau menanggung resikonya. jika lelaki itu membuat masalah di rumah kita," ucap Ami sedikit bernada tinggi, ya langsung berjalan dengan begitu cepat pergi ke dalam kamar.

__ADS_1


Rudi langsung menghampiri Tam dan berucap," maafkan atas perilaku istri saya, Tama."


Tama tersenyum dihadapan Rudi dan menjawab," kamu tak perlu meminta maaf, Rudi. harusnya aku yang meminta maaf akan kesalahanku yang sudah membuat keluargamu menderita.".


Rudi menepuk bahu Tama dan berucap." sudahlah itu hanyalah masa lalu, Aku sudah memaafkan kesalahanmu dari dulu. biarlah masa lalu itu menjadi benalu dan tak usah diingat-ingat kembali. sekarang kita tinggal fokus melangkah kedepan untuk merubah diri menjadi lebih baik."


Tama hanya menghela nafas panjang, Walaupun dia berubah dari saat ini juga. mungkin dirinya tidak akan menatap masa depan. karena yang ada dalam kehidupannya adalah jeruji besi di masa depan nanti."


saat itulah Rudi mulai menyuruh Tama untuk mengikutinya," Ayo, kamu ikut denganku."


kini Rudi mulai berjalan bersama Tama untuk masuk ke dalam rumah, Rudi mulai menunjukkan salah satu kamar untuk ditempati Tama.


" beristirahatlah di sini Tama, besok kita akan pikirkan cara untuk membebaskan Sarah dari rumah Pak Andre."


"Terima kasih, Rudi."


"Kamu jangan kuatir. Aku pergi dulu."


Saat Rudi pergi, Tama mulai berjalan, ke arah ranjang tempat tidur, yang begitu terlihat nyaman. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua matanya berkaca-kaca, sampai dimana ia menitikkan air mata. menyadari jika orang yang sudah ia buat menderita adalah seorang Malaikat Tak Bersayap.


saat itulah Rudi yang sudah mengantarkan tamak untuk beristirahat di kamar tamu, kini mulai melangkah menghampiri Ami yang berada di dalam kamar.


Tok ... tok ... tok ....


ketukan pintu dilayangkan beberapa kali pada pintu kamar," sayang buka ini aku suamimu."


Rudi terus berteriak mesra, berharap sang istri membuka pintu kamarnya.


"Sayang ayolah buka pintu kamarnya, kamu tega ya sama papah, tidur kedinginan di sofa."


Rayuan dan teriakan terus di layangkan Rudi untuk Ami.


Ami yang berada di dalam kamar, hanya mendengarkan sang suami yang terus berteriak Memanggil nama nya dengan sebuah rayuan. hati Ami merasa cuek saat kata-kata rayuan itu terlontar dari mulut Rudi.


Ami malah mengabaikan sang suami yang terus saja mengetuk pintu, ia tak membuka pintu kamarnya untuk sang suami.

__ADS_1


."Ami sayang, buka donk pintunya. Kamu masih marah sama papah?" Tanya sang istri yang berada di dalam kamar menjawab pertanyaannya.


20 menit mengetuk pintu, kami tak kunjung membuka pintu kamarnya." ya Tuhan, semarah itu kah istriku kepada suaminya ini." Gumam hati Rudi.


__ADS_2