Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 113 Sisi bersiap-siap


__ADS_3

Dengan memakai baju seadanya, Sisi mulai bersiap-siap berangkat ke rumah sakit yang ia lihat dari surat kunjungan Bu Ira. Karna rasa penasarannya ia tak sabar ingin menemui orang yang selalu dikunjungi Bu Ira setiap hari minggu.


Bagi Sisi tidak ada waktu lain lagi, selain waktu hari ini.


"Aku baru tahu ada surat kunjungan, apa ini privasi supaya orang tidak tahu? Untung saja aku membawa satu lembar surat kunjugan di tas Bu Ira."


Ucap Sisi berjalan tergesa-gesa, menuju garasi mobil.


"Nona, mau kemana?" tanya Pak Satpam yang berjaga di rumah.


"Oh, ya. Pak. Kalau misalkan suamiku sudah pulang, beritahu bahwa aku ada urusan mendadak!" jawab Pak Satpam.


"Baik, bu."


Dengan menaiki mobil Arpan Sisi bergegas berangkat sendiri, dengan mengendari mobil berkecepatan tinggi.


"Mudah-mudahan semua terungkap."


Tak perlu perjalanan lama, Sisi sudah sampai di rumah sakit dengan waktu dua puluh menit saja.


Sisi mulai menghampiri stap penjaga di rumah sakit, dan memberi surat kunjungan.


"Saya mau menemui, orang yang selalu di kunjungi ibu saya."


"Dengan ibu siapa?"


"Bu Ira."


"Saya cek dulu ya, bu."


"Oke, silahkan."


Pada akhirnya, Sisi bisa masuk dan menemui orang yang selalu di kunjungi Bu Ira.


Suster langsung menujukan orang yang selalu di kunjungi Bu Ira pada Sisi saat itu.


Sisi mulai mendekat kearah orang yang selalu di kunjungi Bu Ira. Lelaki tua itu tak menyadari kedatanga Sisi.


Sisi langsung menghampiri lelaki tua itu. Tenyata


Lelaki yang dihampiri Sisi, langsung berbalik arah pada diri Sisi. Wanita bermata bulat itu, sampai terperajat kaget, saat melihat wajah lelaki yang berbalik arah kehadapannya.


"Wajahnya lelaki tua itu kenapa percis di poto yang Bu Ira simpan di buku usang, apa jangan-jangan Pak Ardan belum meninggal. Dan dia masuk ke rumah sakit jiwa."


Dengan perlahan Sisi mulai bertanya pada lelaki tua itu, "Selamat sore, Pak Ardan."

__ADS_1


Kedua mata lelaki tua itu, menatap kearah Sisi yang memanggil namanya.


Tapi, Lelaki tua itu malah terdiam, ia menyenderkan kepalanya pada tembok seraya mengucap kata," Rindu Arpan."


Deg .... Dugaan Sisi selama ini benar, jadi lelaki tua yang berada di rumah sakit jiwa adalah ayah Arpan.


Lelaki yang selalu disebut telah meninggal oleh Bu Ira tenyata masih hidup dan membekam di rumah sakit jiwa.


"Kamu siapa?" tanya lelaki tua itu pada Sisi.


Rasa takut pada diri Sisi mulai menghilang, wanita bermata bulat itu mulai berani mendekati kearah lelaki tua yang tak lain adalah Pak Ardan.


" Kenalkan nama saya Sisi!" jawab Sisi duduk di pinggir Pak Ardan.


"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Pak Ardan, Sisi merasa bahwa Pak Ardan tidak memiliki gangguan jiwa. Terlihat dari perkataanya yang seperti orang sehat.


"Apa bapak kenal lelaki ini," ucap Sisi. Menujukan poto Arpan dari ponselnya pada Pak Ardan.


"Ini siapa?" tanya Pak Ardan. Melihat poto lelaki dewasa yang tak lain Arpan.


Saat itu Sisi mulai menujukan poto masa kecil Arpan.


Sampai saatnya. Pak Ardan tiba-tiba menangis terisak-isak meraih ponsel Sisi dan memeluk poto pada ponsel Sisi.


Terjawab sudah semua pertanyaan pada hati dan pikiran Sisi, bahwa ternyata ayah Arpan belum meninggal.


Pak Ardan menganggukan kepala seraya berkata," ini anakku."


"Sekarang anak bapak sudah beranjak dewasa, dan ini poto anak bapak yang sekarang," ucap Sisi, menujukan satu lebar poto Arpan yang sudah dewasa.


"Anakku sudah dewasa?" tanya Pak Ardan. Sisi menganggukan kepala seraya menjawab," ya, Arpan sudah dewasa dan sudah menikah."


Sisi mulai heran dengan kunjungan Pak Ardan oleh Bu Ira. Kenapa bisa Pak Ardan tidak mengetahui anaknya sudah dewasa.


Sisi masih tak yakin jika Pak Ardan terkena gangguan jiwa.


"Apa bapak rindu anak bapak?" tanya Sisi pelan. Wanita bermata bulat itu terus bertanya pada Pak Ardan.


Pak Ardan menganggukan kepala, seraya mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Sisi terus menguji mental dari Pak Ardan.


Dengan lancangnya Sisi mulai menunjukkan foto Arsyla pada Pak Ardan, di mana foto Arsyla yang masih kecil.


Dengan perlahan agar Pak Ardan tetap tenang.

__ADS_1


Tapi kedua mata Pak Ardan membulat, lelaki tua itu langsung terseyum senang." Arsyla, anakku!"


"Dia anak bapak?" tanyaku lembut.


"Dia anakku bukan anak Roby!" jawab Pak Ardan.


Menarik nafas pelan, Sisi tak perlu bertanya pada Bu Ira tentang kejujuran yang disimpan oleh dirinya sendiri, semua sudah terungkap bahwa Arsyla adalah anak kandung Pak Ardan.


Dimana Arsyla adalah anak hasil perselingkuhan Bu Ira dan Pak Ardan.


"Kamu siapa?" tanya Pak Ardan. Lelaki tua itu bertanya lagi. Padahal Sisi sudah mengenalkan diri.


"Aku adalah istri, Arpan!" jawab Sisi dengan lembut. Agar Pak Ardan tidak terpacing amarahnya.


Sisi selalu menjawab dengan tenang, Tapi Pak Ardan menundukan pandangan. Seraya bertanya," untuk apa kamu mencari tahu tentangku?"


"Maafkan saya Pak Ardan, ini atas kehendak Arpan. Karna Arsyla yang selalu menuduh Pak Ardan yang membunuh ayah Arsyla."


Tiba-tiba saja Pak Ardan berdiri dari tempat duduknya, lelaki tua itu langsung mengamuk pada Sisi seraya berkata," memang aku yang membunuh Robbyan syah burhan."


Sisi sempat kaget, saat Pak Ardan berkata bahwa dia adalah pembunuh.


Pak Ardan yang berteriak dan memarahi Sisi tanpa sadar, membuat para perawat menjauhkan Sisi dan Pak Ardan.


Sisi menangis tak tega melihat amarah Pak Ardan yang terlihat memaksakan.


"Sebaiknya, ibu pergi dari sini. Karna takut amarah Pak Ardan semakin menjadi-jadi, mentalnya belum sembuh seutuhnya, dan dikuatirkan takut menyakiti orang lain."


Ucapan sang suster pada Sisi. Membuat Sisi mengerti dan tak lagi memaksa untuk menemui Pak Ardan yang mengamuk,


"Ya, sudah kalau begitu, Sus. Saya pamit pulang," ucap Sisi.


Perawat langsung mepersilahkan Sisi untuk pulang.


Sebelum pulang sisi tak lupa berucap kata terima kasih pada suster di rumah sakit.


"Aku tak menyangka, jika Pak Ardan marah saat aku membahas tentang pembunuhan suami Bu Ira. Kenapa aku jadi yakin, bahwa dalang pembunuhan ini bukan Pak Ardan."


Gumam Sisi berjalan sendiri menuju parkiran mobil.


"Sepertinya yang membunuh Pak Roby bukanlah Pak Ardan, tapi siapa, ya. Aku harus mencari tahu dari sekarang."


Dengan sigap Sisi mulai beranjak pergi dari rumah sakit jiwa, untuk segera pulang. Ia takut jika Arpan sudah pulang.


Jam sudah menujukan jam lima sore dimana, Sisi sudah harus sampai di rumah saat ini juga. Kalau tidak Arpan akan bertanya tentang kepergianku.

__ADS_1


"Mudah-mudahan, Arpan sudah pulang, aku kuatir dengan mereka."


__ADS_2