Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 328 ssbuah Ancaman


__ADS_3

kini mobil yang ditumpangi Ane sudah sampai di depan rumah, yang ternyata Putra Tengah menghadapi para wartawan.


" kamu lihat Ane di rumahmu, begitu banyak wartawan." Ucap Zakia.


" Iya tante, aku juga baru tahu," balas Ane.


" sepertinya mereka ingin mencari berita tentang rumah sakit," ucap Zakia.


"Ya, aku kira tidak sampai seperti ini, ternyata berita tentang rumah sakitku sudah menjalar di setasiun Tv," keluh Ane.


"Kamu jangan kuatir, sebaiknya kamu hadapi mereka dulu. Jelaskan apa yang menurutmu baik untuk rumah sakitmu itu," ucap Zakia.


Sebenarnya Ane tampak ragu tapi dia harus melakukan semuanya, jika tidak kemarahan sang papah tidak akan redam.


Zakia, sang tante mengusap pelan bahu Ane, menguatkan Ane," kamu pasti bisa, Ane."


Zakia memegang punggung Ane seraya mengusap pelan, menenangkan semua keresahan pada hati Ane. Pada saat itulah Ane mulai membuka pintu mobil, dan wartawan yang melihat semuanya langsung menghampiri Ane menanyakan tentang isu rumah sakit.


Ane sempat gugup akan pertanyaan yang menyulitkannya, membuat ia hampir salah berucap. Putra mulai mendekat menyemangati sang istri agar berterus terang, dengan keadaan yang sebenarnya.


"Dokter Ane, apa benar yang terjadi di rumah sakit. Bahwa ada pasien yang mengalami tindakan *****l oleh dokter?"


"Dan pasien itu sampai hamil?"


"Kenapa dokter itu bisa bebas dengan dari penjara. Bukanya dokter itu harus menerima hukuman."


"Tolong jelaskan, Dokter Ane."


Pertanyaan wartawan membuat Ane terdiam, pada saat itulah Zakia datang merangkul bahu Ane.


"Ayo jawab Ane," ucap Zakia.


Ane menelan ludah, saat itulah ia mulai berucap," saya selaku dokter yang mempunyai rumah sakit. Akan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi."


Ane menarik napasnya pelan saat itulah ia menjelaskan semuanya," sebenarnya dokter itu sudah saya jerat dengan hukuman setimpal setimpalnya. hanya saja saya sekarang lagi menyelidiki kenapa dokter itu bisa keluar dari dalam penjara."


Suara ponsel Ane tiba tiba berbunyi, yang ternyata sang papah menelepon. " Halo, Ane, Papa lihat kamu di televisi. Papa harap kamu tidak mengatakan sesuatu hal yang akan membuat dirimu sendiri menyesal."


Tut ....


panggilan pun tiba-tiba mati, yang dimana sang Papa membuat kepercayaan Ane berubah menjadi down.


Ane memegang ponselnya, dengan tangan yang bergetar. Saat wartawan bertanya lagi kepadanya. Ane tiba tiba jatuh pingsan, membuat putra dan Zakia. menghentikan para wartawan yang terus bertanya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Putra membawa Ane masuk ke dalam rumah, membuat Zakia penasaran, saat menerima telepon Ane langsung jatuh pingsan.


Saat itulah sang tante mulai mengecek ponsel yang terjatuh di atas tanah, melihat siapa yang menelepon. Setelah mengecek ponsel Ane, betapa kagetnya Zakia.


"Pantas saja Ane pingsan."


zakia pergi untuk menemui papah Ane, yang di mana kelakuan papahnya sendiri sangat keterlaluan.


"Aku harus bergegas pergi, menemui lelaki tua itu. Sikapnya sangat keterlaluan terhadap Ane." Gerutu Zakia. membuka pintu mobilnya untuk bergegas pergi menemui papah Ane.


@@@@


Setelah Delia dan anaknya dipindahkan, kini Alan menyusul ke ruangan sang istri.


"Delia."


"Alan, apa kamu baik baik saja, ke mana Deni lelaki b*j*gan itu?"


"Aku sudah mengusirnya pergi dari rumah sakit ini!"


"Syukurlah."


Deni yang kesal dengan perlakuan Alan pada dirinya, kini mulai melayangkan sebuah rencana baru. yang di mana dia akan menghancurkan Delia dan juga Alan.


Deni tersenyum kecil, ia menjalankan kursi rodanya. Dan berucap kembali." Delia, tunggu saja nanti, apa yang akan aku lakukan padamu."


Tawa kelicikan kini di layangkan Deni, terlihat Deni seperti orang yang gila, tertawa sendiri.


Lelaki yang memakai kursi roda itu, kini mencari sebuah sasaran untuk membantunya agar bisa meluruskan rencana jahatanya.


"Aku harus mencari seseorang untuk membantuku. Tapi siapa ya dia."


Deni mulai menjalankan kursi rodanya, ke setiap tempat mencari sebuah mangsa untuk bisa membantunya.


Banyak suster dan para perawat yang bulak balik ke sana ke mari. Tapi Deni tak menemukan orang dengan dirinya.


" Aku harus mencari sesorang yang bisa aku ajak kerja sama sekarang, tapi kenapa begitu susah." Mengerutu kesal saat itulah ia mendengar sebuah percakapan sang suster dengan perawat. Tengah mengobrol dengan begitu santainya di saat jam kerja.


" Eh, Ida. lihat deh video rekaman ku tadi pagi."


Suster itu menunjukkan sebuah rekaman kepada sahabatnya, yang di mana rekaman itu menampilkan wajah Alan dan juga Deni.


"Wah, rekaman nya bagus nih, bisa viral nanti."

__ADS_1


Ida tersenyum kecil saat sahabatnya berkata seperti itu.


" tapi, jika aku nanti sebarkan video ini. bisa-bisa beresiko untukku sendiri."


"Iya juga, sih. Tapi kalau cuman di simpan di hp kamu kayanya enggak seru."


"Emang iya sih. Tapi aku takut da, nanti aku malah masuk penjara gara gara nyebar video orang yang berdebat."


Deni berucap di saat mereka tengah asik membicarakan sebuah video yang sengaja di rekam.


"Kalian mempunyai video pertengkaranku."


Kedua suster itu kini menatap ke arah Deni, membuat salah satu suster menjatuhkan ponselnya karna kaget.


Saat itulah Deni mulai mengambil ponsel sang suster yang tergeletak tak jauh dari dirinya.


menatap tajam kearah mereka berdua, kami tersenyum kecut. saat pertengkaran dirinya dengan Alan sengaja direkam.


"Kalian."


Kedua susuter itu ketakutan melihat wajah Deni, yang seakan meluapkan segala amarah.


"Maafkan saya tuan, semua tidak seperti yang anda bayangkan. Saya tidak akan menyebarkan video itu." Ucap sang suster berusaha membela diri.


"Apakah benar yang kamu katakan itu, suster. Karna video ini sangatlah sensitif," balas Deni. Sengaja menekan suster itu agar ketakutan.


Tangan suster itu bergetar dan berkata kembali." saya berani bersumpah."


"Kamu bisa saja berkata seperti itu kepadaku karna aku mengetahui semua, tapi jika nanti saat aku tak mengetahui semua yang kamu lakukan, pastinya kamu akan membuat video ini viral dan diketahui banyak orang."


"Saya ...."


belum perkataan Suster itu terlontar semuanya, Deni kini berucap." kamu tahu Resiko yang akan menimpamu saat video ini tersebar luas dan menjadi viral di semua orang."


Suster itu menundukkan pandangan tak berani menatap kearah Deni.


"Kamu akan aku jebloskan ke dalam penjara, karna sudah merekam privasi orang lain."


Deg ....


jantung sang Suster itu seakan ingin copot, saat Deni mengatakan penjara. Kedua matanya berkaca kaca. Tak mau jika dirinya di masukan ke dalam penjara.


"Kamu takut, suster?"

__ADS_1


__ADS_2