
Sarah tak menyangka ternyata yang berada di dapur itu adalah pembantunya.
“Nona, saya minta maaf,” ucap pembantu Sarah menundukkan pandangan.
“Kenapa kamu bisa masuk ke sini, mbok?” tanya Sarah menatap tajam kearah pembantu itu.
“Saya ....”
Belum perkataan pembantu terucap semuanya, Sarah langsung memegang lengan tangannya dan berkata,” aku tak peduli apa alasan simbok datang ke sini, yang terpenting sekarang. Mbok masak in aku makanan, cepat.”
“Tapi?”
TOK .... TOK ....
Suara pintu diketuk begitu keras, membuat pembantu itu menyuruh Sarah untuk segera bersembunyi.
“Sebaiknya Nona, cepat sembunyi. Dari sini.”
“Memangnya kenapa, Mbok?”
Pembantu itu langsung menarik tangan Sarah, mendorong cara masuk ke dalam kamar mandi. Dan menutup pintu kamar mandi itu.
Ternyata polisi yang berjaga di luar datang menghampiri pembantu itu.
“Bagaimana, sudah cukup kami beri waktu,” ucap pak polisi kepada pembantu itu.
“Sudah, pak. Tinggal sedikit lagi.” balas pembantu itu.
“Ya sudah saya kasih waktu kamu 10 menit lagi,” ucap pak polisi.
“Baik pak,” balas Pembantu itu.
Ternyata pembantu itu datang ke sana untuk sekedar mengambil barangnya yang ketinggalan, polisi hanya mengizinkan wanita itu sebentar.
Pembantu yang berada di rumah Sarah, tak bisa di tahan oleh polisi karna. Ia tidak masuk dalam rencana pembunuhan Pak Anton dan juga ke tiga istri Pak Anton.
Sarah mengusap pelan dadanya, tak menyangka jika pembantunya itu menyelamatkannya dari polisi.
Saat itulah polisi keluar dari ruangan dapur, sedangkan pembantu itu langsung membuka pintu kamar mandi.
“Nona, baik-baik saja kan?” tanya pembantu itu pada Sarah.
“Jadi simbok tidak sengaja datang ke sini!” jawab Sarah.
Wanita tua itu menggeleng-gelengkan kepala.
Sarah merasa senang masih ada orang yang mau menyembunyikannya dari polisi.
“ maaf Nona, simbok nggak bisa bikinin Nona makanan sekarang. Karna di luar polisi menunggu simbok.”
“ Ya sudah tak apa simbok, hanya saja. Aku minta ikut ke rumah simbok. Apa boleh.”
__ADS_1
Ada rasa kasihan pada hati pembantu itu kepada Sarah, melihat wajah Sarah yang begitu memelas. Tapi pembantu itu juga merasa takut, jika nanti dirinya dan keluarganya akan terkena masalah.
“Mbok saya mohon, hanya simbok yang bisa membantu saya saat ini.” Pinta Sarah memohon-mohon dengan memegang tangan wanita tua itu.
“Bagaimana ya, non. Simbok bisa saja membantu nona tapi ....”
Ucapan wanita itu terpotong oleh Sarah yang memohon dengan berucap,” Mbok tenang saja, aku tidak akan membawa -bawa keluarga si mbok jika aku tertangkap polisi lagi.”
Wanita tua itu menelan ludah, saat mendengar ucapan Sarah.
“Ayolah mbok.”
Dengan terpaksa simbok mau menuruti apa perkataan Sarah, karna banyak sekali hutang budi wanita tua itu pada Sarah.
“Baiklah, Non.”
Sarah sanggatlah senang, ini kesempatannya untuk bisa membuat sebuah rencana.
“Terima kasih, simbok.”
“Terus bagaimana Nona ke luar dari rumah ini, sedangkan di luar ada polisi yang berjaga.”
“Si mbok tenang saja, aku punya jalan yang tak di ketahui polisi.”
“Benarkah itu, Nona.”
Sarah menganggukkan kepala, saat itulah. Wanita tua itu ke luar dari jalan depan. Sedangkan Sarah lewat pintu rahasia, yang di mana nanti mereka akan berpapasan di tempat sepi.
Si Mbok ke luar dari dalam rumah, hingga di mana.
Rasa ketakutan terasa pada hati wanita tua itu, ia membalikkan wajahnya ke arah polisi dan berkata,” ada apa ya. Pak?” tanya Si mbok bergetar hebat ketakutan.
Polisi itu mendekat dan berkata,” tidak saya hanya ingin memastikan di tas kamu tidak ada barang yang mencurigakan.”
Wanita tua itu memberikan tasnya, untuk di cek oleh polisi itu, sampai di mana sang polisi mengambil tas si mbok dan mengeceknya.
Dengan teliti, polisi itu mengecek semua isi dalam tas simbok.
“Bagaimana pak?” tanya Simbok.
“Semua aman, kamu boleh pergi!” jawab Pak polisi.
Wanita tua itu langsung terburu-buru pergi, saat polisi sudah mengecek semua barang pada tasnya.
Iya bener lega, saat itulah wanita tua itu mulai menghampiri Sarah. Dimana mereka berjanji akan bertemu di tempat sepi yang jarang diketahui orang lain.
Setelah sampai di tempat itu, wanita tua itu melihat Sarah Tengah duduk memegang Laptop ada tangannya.
Dengan tergesa-gesa wanita tua itu langsung menutup wajah Sarah dengan kain yang berada dalam tasnya.
“Nona, harus pakai ini agar orang-orang tak muncul lagi wajah Nona.”
__ADS_1
Sarah hanya bisa menurut, saat itulah ia mulai memakai kain yang dipasangkan oleh pembantunya itu.
Wanita tua itu menarik tangan Sarah untuk segera pergi dari tempat itu menuju rumahnya.
Rumah wanita itu tampak sepi, Tak ada satupun orang yang berada di dalam rumah. Membuat Sarah duduk di atas kursi dan menatap ke sana ke mari.
“ ke mana orang-orang Di Sini, mbok?” tanya Sarah.
“ Suami simbok pergi ke ladang, dan anak-anak si mbok Tengah bekerja di luar kota saat ini!” jawab wanita tua itu.
Wanita itu apa itu berjalan menuju arah dapur, memasakkan makanan untuk Sarah.
Sarah seakan tak menyukai tempat pembantunya itu yang terbilang kumuh sekali, ia segi sedikit bergidik ngeri. Walaupun begitu ya harus bisa bertahan di rumah pembantu yaitu, agar polisi tak menemui keberadaannya saat ini.
“Ini Non, makanannya. Maaf seadanya dan tempatnya Aku mau sekali.”
Sarah tersenyum kecil ia langsung meraih makanan yang sudah disiapkan wanita tua itu.
“Simbok kan kerja di tempatku, dengan gaji yang lumayan besar. Tapi kenapa Simbok tak memanfaatkan gaji yang besar dariku.”
Ucapan Sarah membuat wanita tua itu menundukkan pandangan, ih bingung harus menjawab apa? Karena dirinya malu jika menceritakan kelakuan suaminya yang selalu menghabiskan uang hanya untuk minum dan bersama wanita lain.
“Simbok aku tanya kenapa malah diam saja?” Ucap Sarah.
Ucapan Sarah membuat lamunan simbok membuyar. Membuat ia bertanya balik.
“Iya non, kenapa?”
Tanya wanita tua itu, ketika gedoran pintu terdengar begitu keras dari depan. Sarah yang mendengar suara gedoran pintu merasa penasaran, Siapa orang yang mengetuk pintu begitu keras?
“ Maaf ya Non, sepertinya itu suami mbok yang baru saja pulang dari ladang.”
Wanita tua itu langsung pergi untuk segera membuka pintu depan rumahnya.
Seketika Sarah yang sangat penasaran langsung mengikuti langkah kaki wanita tua itu, yang mengintip di balik tembok. Dan benar saja orang yang datang dengan mengedor pintu tanpa rasa sabar. ternyata adalah suaminya sendiri.
Lelaki tua itu datang dengan memegang botol yang berisi minuman keras, jalannya tergopoh-gopoh. Ya pulang dengan keadaan mabuk.
“Buka pintu lama sekali sih,” bentak lelaki tua itu pada sang istri.
.”Maaf mas, tadi ....”
Belum perkataan simbok terucap, pada saat itulah sang suami langsung mendorong tubuh istrinya, hingga tubuhnya terbentur tembok.
“Menghalangi jalan saja kamu bisanya.” Gerutu sang suami Simbok.
Saat itulah Sara mulai berlari kearah meja makan, ia berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan suami Si Mbok.
Saat lelaki tua itu berjalan kearah dapur, kedua matanya membulat bibirnya tersenyum. Melihat wanita cantik duduk di meja makan.
“Siapa dia cantik sekali,” ucap lelaki tua itu dalam hati. Kedua matanya terus menatap kearah Sarah membuat sang istri langsung memukul kepalanya.
__ADS_1
Sarah hanya bisa fokus menyantap makanannya pada saat itu, ia tak mempedulikan tatapan lelaki tua yang tak lain suami simbok.
Entah apa yang ada di pikiran suami simbok. Tatapannya begitu tak terkendali, membuat ia terus tersenyum kecil.