Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 101


__ADS_3

flashback Bu Ira


Saat itu Roby mengatakan cinta kepadaku di dalam kelas, semua anak melihat menantikan jawaban dari mulutku.


" Bagaimana Ira? Apa kamu mau menjadi pacarku?"


Semua anak di kelas nampak berteriak-teriak menunggu jawabanku, apa yang harus aku jawab? sedangkan aku tidak menyukai Roby sama sekali.


Roby begitu tak sabar menunggu jawabanku saat itu, semua orang berteriak.


"Jawab ... jawab ...."


"Ayo jawab Ira?"


Mereka seakan tak sabar mendengar jawabanku saat itu, dimana Roby menyatakan cinta kepadaku. Di saat itulah, Naira menggandeng Ardan ke dalam kelas, tatapan Naira begitu bengis kepadaku Mungkin dia begitu kesal karena telah aku kerjain.


" Bagaimana Ira? Apakah kamu menerimaku?"


Entah setan apa yang merasuki diriku, hingga aku menerima cinta Roby saat itu. Dengan menganggukan kepala bahwa aku setuju berpacaran dengannya.


Mereka nampak senang dan saling bersorak hore atas resmi nya aku berpacaran dengan Roby.


Berbeda dengan Ardan. Entah kenapa raut wajahnya begitu Murung ketika semua orang tengah bersorak dan memberi selamat kepada ku.


Rasanya Ardan tidak suka jika aku berdekatan dengan Roby apalagi berpacaran dengannya.


Ardan apa kamu marah? Sehingga raut wajahmu begitu kesal kepadaku.


Setelah waktu jam sekolah untuk pulang, tiba-tiba Ardan menarik lenganku ke belakang halaman sekolah.


" Ardan, Apa yang kamu lakukan, Kenapa kamu tarik tarik tanganku," teriaku pada lelaki berbadan tinggi itu.


Ardan terus menarik lenganku, hingga melepaskannya begitu saja.


" Apa kamu gila Ardan, Kenapa kamu tarik-tarik lenganku," ucapku ketus.


Tubuh Ardan mendekat kearah tubuhku, membuat aku perlahan mundur. Hingga tubuh ini menghentak tembok, tapi badan Ardan semakin mendekat.


Tangannya menempel pada tembok seraya bertanya," kenapa kamu menerima cinta Roby. Apa kamu gila?"


Perkataan Ardan membuat aku seakan bingung. Kenapa dia berkata seperti itu, apa maksud Ardan kepadaku.


" Memangnya kenapa?"


" Roby itu bukan lelaki baik baik untuk kamu Ira, kalau dia macam-macam padamu bagaimana?"


" Untuk apa kamu peduli padaku Ardan? lebih kamu urusin saja Naira dari pada harus mengurusi kehidupanku?"


" Aku sayang padamu Ira!"


" Sayang sebagai teman, tapi tidak lebih untuk apa?"


Aku mencoba menghepaskan tubuh Ardan dari hadapanku. Tapi Ardan malah menarik lenganku dan mencium bibirku.

__ADS_1


"Apa kamu gila Ardan," teriakku. Tatapan Ardan begitu dekat, membuat jantungku tak tertahan lagi, hatiku lulus saat itu. Ardan mencium bibirku lagi hingga aku mersepon balik.


Saat itulah, Ardan menceritakan kenapa dia bisa berpacaran dengan Naira. Karna desakan orang tua, Naira sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Arpan sejak kecil.


Awalnya Ardan menolak, tapi kedua orang tua Ardan mendesak. Jika Ardan menolak kedua orang tua Naira akan murka dan kesal, karna mereka sudah membantu perusahaan ayah Ardan hingga berjaya sampai sekarang.


"Sebenarnya aku sudah menyukai kamu dari dulu Ira. Tapi, aku bingung dengan diriku sendiri dan kedua orang tuaku."


Aku mencoba meraih kedua tangan Ardan dan berkata," turuti apa perkataan orang tuamu."


"Tapi, aku tidak menyukai Naira."


"Cobalah untuk mencintai saudaraku, bagaimana pun itu, lupakan aku. Suatu saat nanti kamu bisa melupakan aku secara perlahan."


Aku meninggalkan Ardan dalam kesendirian, sebenarnya hatiku sakit, aku juga tidak mau seperti ini. Tapi aku juga tidak mau melihat Ardan dan keluarganya sengsara.


"Mungkin, yang tadi adalah ciuman terakhir dalam hidupku."


"Ngapain kamu masih ada di sini?"


Sosok Roby tiba-tiba datang membuat aku tercengang kaget.


"Sejak kapan kamu ada di sini Roby?"


Lelaki berbadan kekar di hadapanku menarik lengan tanganku tiba-tiba.


"Ayo ikut."


"Kemana?"


Ternyata Roby membawaku ke sebuah tempat, dimana tempat itu begitu indah ketika dilihat oleh kedua mata.


"Kamu suka."


Aku mengaggukan kepala, tanda suka dengan tempat yang di tujuki Roby.


"Setelah kita lulus nanti, aku akan memikahi kamu? Apa kamu mau Ira?"


Tak menyangka rasanya, ternyata Roby begitu serius menyukaiku. Ia sampai melamarku dan mau menikahiku saat itu.


"Baik, aku terima. Setelah lulus nanti aku akan menikah denganmu."


Roby begitu senang dengan jawaban yang aku lontarkan.


"Terimakasih Ira."


*****************


Sampai akhirnya kelulusan itu datang juga. Rasa bahagia menyelimuti diriku, Ardan entah ada dimana dia tiba-tiba tak ada. Aku mencoba mencarinya, ingin mengatakan tanda selamat.


Saat itulah, tanganku di tarik. Di sebuah gudang, ternyara Ardan.


"Ardan ngapain kamu."

__ADS_1


Ardan menempelkan telujuk jarinya pada bibirku seraya berkata." Lulus nanti aku akan pergi kuliah, apa kamu mau ikut."


Aku menundukan pandangan, bahwa aku sudah di lamar oleh Roby, setelah lulus nanti.


"Apa kamu gila Ira. Aku mencintai kamu, kenapa kamu malah menerima Roby menikah dengan kamu."


"Maafkan aku, Ardan. Ini semua aku lakukan demi kebaikan kamu."


Aku melihat, kekecewaan dari mata Ardan saat itu. Ia membuka pintu gudang dan meninggalkan aku sendirian di dalam gudang.


Aku menagis, rasanya sesak dadaku." Maafkan aku Ardan."


**************


Satu bulan kelulusan, Roby melamarku saat itu, aku menikah dengan dirinya.


Dalam pernikahan yang digelar mewah, aku tidak melihat kedatangan Ardan saat itu. Dia tidak menujukan batang hidungnya sama sekali.


Mungkinkah Ardan marah? Biarlah, ini menjadi kebahagian untuk dirinya?


Setelah pernikahan yang ke tiga tahun lamanya


Hidupku tidak bahagia, menikah dengan Roby tidak juga di karuniai seorang anak. Sudah berusaha ikhtiar namun hasilnya tetap nihil.


Roby sering memarahiku dan menghinaku habis-habisan. Berkata bahwa aku mandul. Padahal dalam pengecekan dokter Robylah yang mandul.


Sebagai seorang istri aku mencoba menyembunyikan kemandulan suamiku. Rasanya hatiku tak tega jika Roby tahu bahwa dirinya mandul.


Tapi, semakin aku menutupi kemandulan suamiku, Roby semakin menjadi-jadi.


Rasanya aku rindu kata-kata manis dari suamiku sendiri, tapi tenyata itu hanyalah hayalan semata. Karna bukan kata-kata manis yang terlontar dari mulut Roby. Malah kata-kata kasar. Yang membuat hatiku terus terluka.


Sampai kapan aku akan bertahan dengan suamiku Roby.


Setiap pertengkaran terjadi di dalam rumah tanggaku, aku selalu mencoba menenangkan diri melihat ke sekolah. Mengingat masa-masa indah saat bersama teman-teman, bercanda mengobrol. Hingga aku lupa rasa sakitku karna Roby.


"Ira, sedang apa kamu di sini?" tanya sosok lelaki tinggi berkulit putih bersih, terseyum kepadaku.


"Ardan," ucapku. Kaget melihat lelaki yang aku cintai berada di depan mata dengan tampilan gagahnya. Sedangkan aku seperti pembantu.


Karna rasa malu, aku pergi begitu saja meninggalkan Ardan. Tapi dia malah menarik lenganku.


"Kamu mau kemana?"


"Maaf aku mau pergi!"


"Papah." Teriakan anak kecil membuat langkah kaki ku terhenti. Membalikan wajah kearah belakang, anak itu begitu lucu dan tampan tak kalah dengan Ardan.


Aku mencoba mendekat kearah anak itu.


"Apa kah dia anakmu Ardan?" tanyaku.


Ardan terseyum seraya menjawab," iya dia anakku bersama Naira.

__ADS_1


Bertapa bahagianya hidup Ardan sudah dikaruniai seorang anak. Sedangkan aku?


__ADS_2