Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 139 Doa untuk mama


__ADS_3

Pak Supir terus mencari keberadaan Dodi di taman.


dengan menggaruk-garuk belakang kepala. Pak supir sangat kebingungan mencari Dosi yang tiba-tiba hilang di taman, lelaki tua itu takut jika Dodi kenapa-napa.


Melihat jam tangan sudah menunjukkan jam 8 malam, tapi Dodi belum juga ketemu. Pak supir merasa menyesal, karena telah mengijinkan Dodi untuk pergi ke taman sendirian.


"Ya ampun gimana ini jadinya, Kalau Dodi enggak ketemu, Tuan pasti marah sama saya." Keluh Pak Supir dalam rasa khuatirnya.


"Dodi."


Teriakan Pak Supir begitu terdengar keras, membuat rasa kuatir pada hati lelaki tua itu, semakin menjadi-jadi.


Saat di mana Pak sopir melihat Dodi tengah menatap ke arah depan, yang entah lelaki tua itu tidak tahu Dodi sedang apa. Membuat bulu Kuduk Pak supir sedikit merinding.


"Dodi kamu sedang apa di sini, ayo kita pulang."


Dodi mulai memperlihatkan wajahnya yang begitu terlihat muram kepada pak supir.Tatapan yang Sayu penuh dengan kesedihan, bergitu pun deraian air mata yang berlinang terus-menerus. Membuat hati Pak sopir seakan teriris perih.


"Loh, Dodi. Nak kamu menangis?" tanya Pak Supir yang mulai berjongkok dihadapan Dodi yang tengah duduk di atas ayunan.


"Tidak Pak, Dodi hanya kelilipan saja!" jawab Dodi menundukan pandangan, ucapanya tak sama dengan gerakan tubuh, yang terlihat dirinya tengah berbohong.


"Dodi Kamu jangan bohong, coba jawab sama pak supir. Kenapa kamu sedih. Ayo bicara sama Bapak," desak pak supir agar Dodi berkata jujur.


" Sekarang Ibu tidak mau dekat sama Dodi, katanya ketika ibu deket sama Dodi. Ibu merasakan penderitaan yang luar biasa dan rasa sakit yang tak bisa ia tahan," ungkapan dari anak kecil itu. Membuat relung hati pak supir sedikit sakit, lelaki tua itu mulai memeluk anak majikan, mengusap punggung Dodi perlahan. Seraya berkata," Kamu harus sabar ya. Apapun yang terjadi adalah ujian untuk kamu, terus doakan ibumu agar dia sehat selalu dan bisa ingat kembali kepada kamu. Dodi."


Anak tampan itu mulai mengusap air mata yang terus saja berlinang dari pelipis mata nya, mengusap pelan dengan punggung tangan yang sudah terlihat kotor oleh debu yang menempel dari tempat bermain.


" Ya sudah, sekarang Kita pulang yuk," ajak Pak Sopir.

__ADS_1


"Dodi Pengen Sendiri Dulu, di sini." rengek Dodi.


Tangan Dodi seakan berat, pak supir yang sudah berdiri menarik lengan anak majikannya, mulai kembali lagi menatap anak itu dan berkata," kalau Dodi disini terus sendiri. Nanti Dodi enggak tidur, ini kan udah malam. Waktunya Dodi istirahat."


"Ta-pi pak supir," sahut Dodi.


Pak supir menganggukkan kepalanya tersenyum, lelaki tua itu mulai menarik lagi lengan tangan Dodi. dan berkata," Yuk kita pulang, nenek kamu pasti menunggu."


Dodi yang sudah mulai kelelahan menuruti perkataan Pak sopir. Ia naik kedalam mobil.


Pak supir menatap pada cermin yang memperlihatkan Dodi dari belakang mobil, Dodi seakan susah untuk tersenyum. kepalanya terus saja menunduk, membuat lelaki tua itu ikut merasakan kesedihan anak majikan.


Setelah sampai di rumah, Dodi melihat Pak Gunadi dan juga Bu Sumyati. Tengah berduaan di samping kiri mobil mereka.


Mengobrol sembari berdiri bercanda dan bergurau, Dodi yang melihatnya amat senang di mana kesedihan melanda di sanalah kebahagian datang.


Teriakan Dodi mampu membuat kedua sejoli itu langsung menatap kearah Dodi, mereka kaget ketika Dodi berteriak seperti itu.


" Dodi kamu baru pulang nak?" tanya sang nenek.


Dodi yang sedih ini menampilkan senyuman yang ceria." Yaelah ada cinta bersemi, nih."


Pak sopir yang sudah memarkirkan mobilnya, langsung melihat tingkah Dodi yang kadang sedih dan kadang senang.


Pak Gunandi mulai berpamitan kepada Bu Sumyati, untuk pulang ke rumah.


"Ya, sudah saya permisi pulang dulu ya. Bu."


Dodi langsung mencium pungung tangan Pak Gunandi. Seraya berkata," bidadarinya enggak di cium."

__ADS_1


Pak Gunandi yang mulai bisa bercanda berkata," nanti belum muhrim."


Dodi dan Bu Sumyati pergi masuk ke dalam rumah, Dodi amat bahagia. Melihat raut wajah sang nenek yang begitu terlihat ceria, tidak seperti hatinya yang kini terasa sangat sakit. Anak kecil itu mulai menutupi rasa kesedihan pada hati dan pikirannya.


"Gimana keadaan Mama kamu di Rumah Sakit? Apa mamah Ami sudah sadar?"


Dodi menampilkan senyum palsu nya, ia berkata kepada sang Nenek," Mama baik-baik saja kok. Sekarang mama sudah bisa tersenyum lagi tidak merasakan sakit lagi, asalkan Dodi menjauh di hadapan mamah Ami."


Sang nenek memberhentikan langkah kakinya berbalik arah ke arah Dodi dan berkata," kamu yang sabar, ya. Nak. Apapun Yang terjadi kepada kita dan juga Mamah Ami semua adalah ujian, kamu harus bisa melewati semuanya. Kamu harus kuat. Nenek yakin walaupun kamu masih kecil, tapi kamu begitu sabar dan bisa menjalani semua ujian yang diberikan sang Maha Kuasa."


Kedua tangan yang sudah mulai mengkerut itu, kini memegang kedua pipi cucunya. Belaian tangan itu mulai membuat bibir Dodi mengangkat ke atas, ia menampilkan senyuman manis layaknya seorang anak kecil tanpa menanggung beban apapun.


Mereka mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan diri, beristirahat dan segera tidur.


Jam sudah menunjukkan angka 12 malam di mana Bu Sumyati membuka mata melihat ke samping kiri cucunya yang membelakangi tubuhnya. Bu Sumyati mendengar tangisan Anak kecil itu.


Beberapa menit kemudian Dodi terbangun dari tidurnya, ia melangkahkan kaki pergi ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya, sang nenek berpura-pura memejamkan mata untuk melihat gerak gerik sang cucu.


Ternyata setelah Dodi keluar dari kamar mandi, anak laki-laki itu langsung keluar dari kamar sang nenek. Entah mau ke mana Dodi saat itu, membuat rasa kuatir pada diri Bu Sumyati.


Wanita tua itu mulai bangkit dari ranjang tempat tidurnya, mencari keberadaan Dodi yang tiba-tiba saja pergi dari kamar sang nenek.


Dengan berjalan pelan pada akhirnya, Bu Sumyati menemukan Dodi yang berada di kamar tidurnya, melihat anak itu tengah mengerjakan shalat malam.


Hati Sang nenek tersentak pilu, ketika melihat kedua telapak tangan Dodi yang mengangkat sedikit ke atas, sembari duduk diatas sajadah, Dodi mengucapkan kata doa untuk sang mama.


"Ya Allah, tolong sembuhkan mama dari penyakitnya. Kuatkan dia dalam segala hal yang membuat dirinya tertekan. Dodi mohon jangan buat mama kesakitan lagi dan juga bikin mama menangis, kasian mama Ya Allah, Dodi sayang mama, amin."


Setiap ucapan doa dari Dodi membuat air mata jatuh dari kedua pelipis mata sang nenek.

__ADS_1


__ADS_2