
“Rud, maafkan aku. Dodi tidak ingin bertemu dengan Ami, entah kenapa? Padahal aku sudah menyiapkan 2 tiket untuk keberangkatan kita ke sana,” ucap Alan. Kedua matanya begitu sayu, ia terpaksa harus berkata jujur, ada rasa takut jika memaksa Dodi akan mengganggu kesehatan mentalnya.
Sedangkan Rudi masih merenungi kata-kata Alan, ia berucap dalam hati,” kenapa Dodi tidak mau bertemu dengan ibunya sendiri. Ada apa?”
“Halo, Rudi.”
Panggil Alan dalam telepon, membuat lamunan Rudi membuyar.
“Iya Lan, apa boleh papahnya ini mendengar suara Dodi anak semata wayangnya.”
Ucapan Rudi membuat Alan, menatap sayu ke arah Dodi yang masih termenung. Menatap jendela kamar. Semenjak Alan mengajak Dodi pergi menemui sang ibu, Dodi menjadi pendiam dan tak mau diajak bicara.
Membuat Alan semakin bingung, apalagi setiap hari Dodi selalu bersama Diana. yang ternyata Diana tak ingin melihat Dodi menemui Ami lagi.
Apa pikiran Dodi sudah dikuasai ucapan Diana?
Alan mencoba mendekati Dodi dengan lembut, mengusap kepala anak itu dan berkata,” Dodi. Papah kamu ingin mengobrol dengan kamu.”
Dodi hanya diam, tak menjawab perkataan Alan. Dirinya seakan tak berselera mengobrol dengan sang papa, kepalanya tak menatap kearah Alan, Dodi hanya menundukkan pandangan.
“Dodi, kamu jangan begini. Kasihan papah dan mama kamu, mereka sangat rindu padamu,” ucap Alan. Duduk di samping Dodi.
Kini Dodi mulai menatap ke arah sang om dan berkata,” Dodi belum siap, Om.”
Alan hampir saja putus asa saat membujuk Dodi yang keras kepala. Ia mulai berucap pada Rudi dalam sambungan telepon.
“Rudi, anakmu belum siap mengobrol denganmu,” ucap Alan.
Rudi mengusap kasar wajahnya, ia memikirkan cara agar bisa membujuk sang anak agar mau mengobrol dengannya.
Tidak biasanya Dodi seperti ini, tak ingin berbicara dengan papahnya sendiri. Hati Rudi mulai curiga. Namun ia tetap tenang tak ingin salah paham.
“Ya sudah, tolong besarkan nada teleponnya biar anakku mendengar apa perkataanku.”
“Baiklah.”
Saat itulah Alan mulai membesarkan nada telepon agar Dodi bisa mendengar suara sang papah.
Pikiran Rudi mungkin dengan cara ini, dia bisa membujuk sang anak agar mau datang menemui Ami di rumah sakit.
Menarik nafas pelan.
“Dodi, ini papah nak. Apa kabar, papah rindu sekali denganmu, apa kamu tidak rindu dengan papah nak?”
Ucap lembut Rudi, air matanya tak terasa menetes secara perlahan.
Dodi yang menatap jendela, perlahan mendengarkan ucapan sang papah dari telepon.
“Hey, Dodi kamu marah sama papah dan mamah Nak. Papah dan Mamah minta maaf.”
Alan yang memegang ponsel itu, tak kuat menahan air mata, sesekali ia mengelap dengan tangan kirinya.
Dodi hanya terdiam, tak menjawab perkataan sang papah.
“Dodi nak, kalau kamu marah. Kenapa kamu tidak langsung bicara. Mamah kamu di sini butuh kedatangan kamu sekarang.”
__ADS_1
Dodi begitu egois, ia mengacuhkan ucapan sang papah. Entah kenapa dengan hatinya, begitu keras.
Alan heran dengan perubahan Dodi yang derastis seperti sekarang ini.
“Sudah cukup.” Bentak Dodi.
Rudi yang mendengar bentakan itu kini terdiam, kenapa bisa Dodi anak yang penurut menjadi seorang yang egois ada apa?
Rudi mulai berburuk sangka kepada Alan, ia mengerutkan dahi.
“Ucapan papah hanya omong kosong saja, Dodi tahu papah hanya butuh Dodi saat mamah sakit. Sedangkan ketika mamah sembuh papah acuhkan Dodi.” Teriak Dodi.
Entah kenapa anak itu bisa berucap sedemikian, membuat Alan merasa aneh.
“Dodi ini papah kamu kenapa kamu berkata seperti itu.” Ucap Alan sedikit bernada tinggi. Ia heran dengan perubahan Dodi akhir-akhir ini.
Rudi mulai memikirkan cara bagaimana membujuk Dodi agar datang menemui Ami, tanpa putus asa Rudi mencari cara agar hati Dodi luluh.
“Dodi, papah janji setelah kamu datang ke sini papah tidak akan mengacuhkan kamu lagi.”
Rudi berharap dengan ucapannya ini Dodi mau menemui Ami yang sekarang tengah kritis. Ia yakin anaknya akan luluh dengan ucapannya.
Namun ternyata keyataan tak sesuai harapan.
“Papah bohong, sekarang papah dan mamah Dodi adalah Om Alan dan Tante Diana.”
Ucapan Dodi membuat lutut Rudi seketika melemas, kenapa bisa sang anak berkata seperti itu. Kini perasaan Rudi mulai kesal, ia mulai menuduh Alan telah mencuci otak Dodi, sampai Dodi menjadi anak yang pembangkang. Hatinya menjadi keras dan egois.
“Halo, Rud. Kamu jangan salah paham dulu, yang dikatakan Dodi itu tidak benar, kami terus mengatakan jika papa dan mamanya adalah kamu dan Ami.”
Ucap Alan, ia tak menyangka jika Dodi akan berkata sedemikian. Alan takut persaudaraannya menjadi kacau hanya gara-gara ucapan Dodi.
Rudi tak menjawab perkataan Alan, dirinya seakan tak percaya dengan apa yang di jelaskan Alan. Rasa curiganya sudah menyebar pada hati dan pikirannya saat ini.
“Rudi, kumohon kamu percaya. Aku tidak akan memisahkan ikatan kamu dengan anakmu sendiri.”
“Entahlah, Alan. Aku tidak yakin, kamu sudah hasut anakku sampai seperti itu. Bagaimana aku bisa percaya.”
Alan mengusap kasar wajahnya, tak percaya jika Rudi menuduh dirinya menghasut Dodi.
“Aku tidak pernah menghasut anakmu.” Tegas Alan.
“Terus kenapa anakku jadi seperti itu. Dia tak ingin bersama orang tuanya sendiri.” Cecar Rudi yang penuh emosi.
Amarahnya tak terkontrol.
Saat itu obrolan terhenti, saat salah satu suster datang mengabarkan keadaan Ami.
__ADS_1
“Alan obrolan kita belum selesai,” ucap Rudi mematikan sambungan telepon.
“Entah kenapa bisa jadi seperti ini,” gerutu hati Alan.
Alan menghampiri Dodi dan betanya,” siapa yang mengajarkan kamu berkata seperti itu?”
Dodi tak menjawab, dia hanya menundukkan pandangan dan terdiam.
Dodi selalu mengingat perkataan Delia, jika ada yang bertanya tentang perubahan Dodi cukup acuhkan dan diam.
“Om, tanya siapa yang mengajarkan kamu berkata seperti itu?”
Dodi tetap saja diam tak menjawab bentakan sang om.
Apakah Dodi bisa berubah dan bertemu Ami?
Setelah membentak Dodi, Alan langsung mengunci kamarnya. Ia berucap.
“ Tolong, om pinta sama kamu. Renungi apa yang sudah kamu ucapkan, itu salah.”
Bruk ....
Pintu tertutup begitu saja, Dodi malah membayangkan setiap ucapan Diana. Ucapan yang membuat dirinya selalu semangat.
Ucapan itu terlontar ketika Dodi sedang sedih dimana Diana berkata,” kamu anak baik. Kamu tidak pernah salah. Kedua orang tuamu yang salah, tiba-tiba mencampakkan kamu Dodi.”
Pikiran Dodi seakan dikuasai oleh ucapan Diana, dimana setiap hari Diana selalu mengobrol dengan Dodi dan menasihatinya.
@@@@
Dodi mulai mencari cara untuk keluar dari rumah, mencari keberadaan Diana.
Alan yang mengurung Dodi di dalam kamar tak menyadari kepergian anak itu.
__ADS_1