Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 296 simbok gelisa


__ADS_3

Si Mbok yang meminta izin tidak bekerja hari ini, di izinkan oleh majikannya. Ia beralasan jika badanya sakit dan meminta beristirahat di rumah sementara waktu.


Padahal Si Mbok, hanya berbohong. Hari ini ia pergi untuk membeli kipas angin yang besar, pesanan Sarah.


Wanita tua itu merasa kasihan dengan Sarah yang tidur di rumah kumuh milik si Mbok. Maka dari itu si Mbok akan memperlakukan Sarah dengan baik, layaknya tuan ratu.


Walau dalam hatinya ada rasa takut, akan terlibat oleh polisi, tapi dirinya yakin Sarah akan aman bila tinggal di rumahnya saat ini.


Sampai setengah jam berlalu, saat itulah Si Mbok pulang. Ia melihat suasana rumah sepi, membuka pintu depan rumah terkunci,” kenapa masih di kunci, apa mereka masih tertidur.”


Si Mbok berniat untuk masuk melalui pintu belakang, karna pintu belakang yang jarang sekali di kunci. Apalagi setiap si Mbok berangkat pulang dari pekerjaannya, ia selalu melewati pintu belakang yang langsung menebus dapur.


Perlahan berjalan, membuka pintu. Si Mbok melihat Sarapan masih sama seperti biasa, belum ada yang menyentuh masakan si Mbok saat itu.


“Mereka belum sarapan, padahal ini sudah jam 9 pagi.”


Terlihat ada bungkus putih yang tak jauh dari tempat minum, membuat Si Mbok penasaran.


“Bungkus apa ini, seperti bekas obat?”


Tiba-tiba saja, si Mbok mendengar suara ******* yang tak biasa. Membuat ia mengerutkan keningnya dan berucap dalam hati,” suara ******* siapa itu?”


Suara itu semakin lama semakin menjadi-jadi, membuat Si mbok benar-benar penasaran ingin melihatnya ke dalam rumah.


Ia berjalan lebih cepat dari sebelumnya, melihat pada pintu kamar Sarah yang terdengar suara ******* itu.


Membuka perlahan kamar Sarah dan betapa kagetnya dirinya saat itu.


“Bapak. Sarah. Kalian.”


Lelaki tua yang tengah menikmati setiap kenikmatan yang ia baru rasakan bersama wanita cantik, hanya tersenyum melihat sang istri yang syok berat.


Bukanya mengakhiri malah semakin menjadi-jadi, lelaki tua itu membulatkan kedua matanya, agar sang istri tak mengganggu apa yang ia lakukan.


Sarah yang tak sadar dengan obat itu, hanya bisa menikmati apa yang di lakukan lelaki tua.

__ADS_1


Si Mbok, ingin sekali mencegah. Namun ia tak kuasa, karna tatapan tajam suaminya.


Beberapa menit kemudian, lelaki tua itu ke luar dari kamar Sarah. Sedangkan Si Mbok masih tak percaya dengan apa yang terjadi, ia duduk di atas lantai dengan wajah syok dan menangis.


Sang suami yang ke luar dari kamar Sarah, membuat si Mbok memukul-mukul badanya yang penuh keringat.


“Kamu kurang ajar, pak. Dia itu majikanku, kenapa kamu melakukan semua itu.”


Pukulan demi pukulan di layangkan, membuat lelaki tua itu memegang erat tangan sang istri agar berhenti memukul dadanya.


“Eh, ini hakku. Kamu tak perlu banyak omong, dia juga menikmati semuanya.”


Lelaki tua itu menghempaskan tubuh rentan Si Mbok, mendorongnya hingga tersungkur jatuh.


“Awas kalau kamu macam- macam kepadaku. Nyawamu dan nyawa wanita itu mungkin tidak akan selamat di tanganku.” Ancam lelaki tua itu kepada si Mbok sembari menunjuk pada wajah si Mbok.


Mengepal erat ke dua tangannya, si Mbok hanya bisa menahan amarah yang meluap-luap, ia ingin sekali membunuh suaminya yang ba*ingan itu. Namun dirinya masih sadar diri, jika membunuh Si Mbok akan masuk penjara.


Saat itulah wanita tua itu, langsung berdiri. Melihat keadaan Sarah yang masih tak sadarkan diri, tubuhnya yang mulus begitu terlihat semuanya. Membuat Si Mbok langsung membersihkan sisa- sisa bekas suaminya yang mengotori tubuh Sarah.


Si Mbok memasangkan baju yang baru untuk Sarah, dan membuat Sarah seperti orang yang tertidur pada umumnya.


Hingga beberapa jam kemudian, Sarah bangun. Ada rasa tak nyaman pada tubuhnya. Begitu pun daerah yang terlarang, “ pegal sekali.”


Si Mbok masih menunggu Sarah ke luar dari kamarnya dengan membereskan sisa sarapan suaminya.


Ceklek ....


Saat itulah Sarah keluar dari kamarnya, dia langsung menghampiri Si mbok yang berada di dapur. Dengan tubuh yang terlihat lesu.


“Mbok, jam berapa ini?” tanya Sarah.


“Non, sudah bangun! Sekarang sudah jam 12 siang.” jawab Si Mbok berusaha tetap tenang, melupakan kejadian yang terjadi tadi pagi.


“Iya, loh kok udah siang aja. Padahal perasaan tadi bangun pagi, apa aku hanya bermimpi,” ucap Sarah memijit- mijit belakang pundaknya. Ia tak menyadari apa yang telah terjadi padanya saat pagi tadi.

__ADS_1


Sedangkan si Mbok hanya berpura-pura batuk, melupakan apa yang sudah di lakukan suaminya kepada Sarah,” kemungkinan Non. Masuk angin.”


“Mm, iya kali ya,” balas Sarah.


Kedua mata si Mbok membulat, melihat bekas tanda merah ada di leher Sarah, membuat ia sedikit gugup. Saat itulah suami si Mbok masuk ke dalam dapur, dengan rambut yang basah bekas mandi.


“Eh, Non udah bangun. Kita makan bersama yuk,” ajak lelaki tua itu.


Lelaki tua yang bernama Tio, itu duduk di atas kursi. Ia mulai menyantap makanan yang di masak istrinya dengan lahap, sedangkan Sarah seakan tak nafsu dengan apa yang ia lihat.


Ia seakan kelelahan, berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ia duduk, ada rasa ngilu pada daerah ke wanitanya. Membuat ia meringis kesakitan.


“Ahhk, kenapa ya. Kok ngilu begini.” Ucap Sarah mulai menyiuk air dari baskom besar yang tersedia di kamar mandi.


Sarah sama sekali tak mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.


Saat lelaki tua bernama Tio itu melahap makanan, Si Mbok hanya menatap tajam ke arah suaminya. Kesal bercampur aduk menjadi satu, rasanya si Mbok ingin memukul wajah suaminya itu dengan keras. Tapi apa daya, dia hanya seorang wanita paruh baya yang pastinya akan kalah dari kekejaman suaminya.


“Apa kamu liat-liat,” cetus Pak Tio.


“Enggak, pak,” balas si Mbok.


Pak Tio menunjuk istrinya, setelah selesai menyantap sarapan, “ awas ya, jika semua rahasia ini bocor. AKU TIDAK SEGAN-SEGAN MEMBUNUHMU.”


Ancaman itu terus saja terlontar dari mulut suaminya.


Membuat Si Mbok hanya bisa menundukkan pandangan dan tak berani melawan.


Hingga tiba di mana Sarah datang, hanya dengan handuk yang melingkari tubuhnya. Membuat Pak Tio seakan bernafsu kembali.


Tatapan lelaki tua itu tak henti menatap Sarah, ia mengusap pelan wajahnya. Dan berucap dalam hati,” walau sudah aku coba. Tapi wanita itu tetap menggoda.”


Sedangkan Si Mbok nampak gelisah, dengan suaminya yang begitu fokus menatap kemolekan Sarah. Karna suaminya itu tidak akan puas sekali melampiaskan nafsunya, pastilah akan berulang- ulang kali.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah suamiku ini.” Gumam hati Si Mbok.


__ADS_2