
Masa Lalu Sarah 5.
“Ya, bisa saja saat Tante Meri lengah papah langsung membawa Tante Alda ke luar dengan mengendarai mobil. Kan Tante Meri tahu sendiri papah itu duit dan mobilnya banyak dan kekayaannya tak terhitung,” timpal Tama.
Membuat Meri terdiam sejenak.
“Tak mungkin, mana mungkin Pak Anton sampai melakukan hal yang konyol. Membawa Alda begitu saja, sedangkan kita juga masih istri sah pak Anton,” ucap Meri membalas ucapan Tama.
Tama kini duduk di kursi, ia menyenderkan kedua pipinya,” Kenapa tidak mungkin. Hati seseorang siapa yang tahu. Bisa saja kan papah sangat mencintai Tante Alda.”
“ jaga ucapanmu Tama, itu tidak mungkin. Karena Papahmu baru saja menikah lagi dengan Sarah, mana mungkin papahmu kabur bersama Alda,” tegas Meri.
“Tante itu tak tahu ya, papah mungkin menikahi Sarah hanya ingin keaslian mahkotanya. Dan saat malam pertama mahkota Sarah sudah tak asli, jadi papah kesal dan membawa pergi Tante Alda,” ucap Tama mengarang semua kebohongan.
Meri mulai memukul meja, membuat semua orang yang berada di sana tersentak kaget.
“Cukup Tama.”
Tama tersenyum kecil, melihat tingkah ibu tirinya yang pertama begitu keras kepala. Tak percaya dengan kebohongan Tama yang dibuat-buat, membuat Tama mengusap pelan dagunya dan berbisik dalam hati,” aku harus menyingkirkan wanita ini. Seperti aku menyingkirkan Alda.”
Meri yang kesal kini berjalan dengan penuh amarah, ia masih tak percaya dengan surat yang dibuat oleh Alda.
Apalagi Pak Anton yang membawa kabur Alda dari rumah, membuat dirinya mengusap kasar rambut kepala.” Ahkkk, aku sedikit curiga dengan gadis itu.”
Tama yang sengaja mengikuti Meri, hingga wanita itu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Pada saat itulah Tama mulai mendengarkan kekesalan yang diluapkan Meri.
Setelah mendengarkan kekesalan itu, Tama mulai pergi lagi menuju meja makan. Iya mulai menyantap semuah hidangan yang tersusun rapi di atas meja.
Melihat sang ibunda masih mengobrol dengan Sarah.
Naina yang memang memiliki hati yang lembut dan juga rasa Tak Tega, mulai memperhatikan Sarah.
“Ayo makan, Sarah.”
Sarah menggeleng-gelengkan kepala, iya berusaha memperlihatkan dirinya yang bersedih dan berpura-pura tak nafsu makan.
“Apa kamu mau aku ambilkan, makanannya.”
“Ta usah.”
__ADS_1
Kini Sarah mulai berdiri, meninggalkan Naina, berpura-pura menangis masuk ke dalam kamarnya. Naina yang tak tega kini mulai mengejar Sarah.
Namun, Tama yang tak lain anaknya, berusaha mencegah sang Ibu agar tidak mengejar Sarah sampai kamarnya.
“Bu, sudah biarkan saja. Wanita itu mungkin butuh waktu.”
Sang Ibu kini mulai kembali duduk, menggerutu kesal pada meja makan.
“Ha, bisa-bisanya papa kamu melakukan hal yang benar-benar tak masuk akal. Sudah tahu dia menikah, sekarang dia malah meninggalkan rumah dan kabur bersama Alda. Apa sih yang sebenarnya ada di pikiran papa kamu itu.”
Tama mulai mendekat ke arah sang ibunda, memegang punggung tangan ibunya dan berkata,” sudah mama Jangan pikirkan itu lagi. Emang papa orang yang seperti itu, harus bagaimana lagi, mungkin itu yang ia inginkan. Yang terpenting Ibu masih bersamaku sekarang.”
Tama kini mulai menyenderkan kepalanya pada sang ibu, membuat Naina langsung mengusap pelan kepala anaknya,” Kamu memang anak terbaik Ibu, Tama.”
“Ahhk, ibu bisa aja.”
Kini rencana Tama berhasil, Iya bisa menjadi bos besar di kantor Pak Anton. Papanya sendiri, begitupun dengan Sarah, Iya bisa memiliki Sarah dengan sepenuhnya.
Kini Tinggal menyingkirkan istri pertama Pak Anton, Iyalah Meri.
@@@@
Di mana istri pertama Pak Anton, sedikit membuat Sarah seakan kesal dan muak.
"Wanita itu, aku harus menyingkirkan wanita itu."
Menggenggam kedua tangannya begitu erat, memukulkan pada ranjang tempat tidur.
kini Sarah mulai terbangun kembali, iya penasaran dengan Alda yang berada di dalam ruangan rahasia Pak Anton..
pada saat itulah Sarah mulai membuka pintu rahasia itu, Iya ingin melihat keadaan Alda yang berada di dalam lemari kosong.
saat pintu rahasia itu terbuka, betapa kagetnya Sarah melihat lemari yang ditempati Alda terbuka lebar. pada saat itulah Sarah mulai berlari melihat Apakah Alda masih ada di tempat.
saat dirinya mendekat ke arah lemari itu, penampakan Alda begitu jelas di depan matanya. Alda terus-menerus menggoyangkan tubuhnya, agar lepas dari ikatan tali yang menggantung tubuh dan tangannya.
tanpa Alda sadari, Sarah sudah ada di depan matanya. ia mulai memberontak berusaha berucap dalam keadaan bibir yang tertutup lakban.
Sarah tertawa sembari melipatkan kedua tangannya dan berkata," apa kamu betah di ruangan ini?" Tanya Sarah.
__ADS_1
Alda tak bisa menjawab perkataan Sarah pada saat itu, karena mulutnya yang benar-benar ditutup rapat oleh lakban.
"Uluh ... uluh kasian."
Sarah mulai memegang kedua pipi Alda, menekan begitu erat." andai saja semalam kamu tidak ikut campur masalahku. mungkin keadaanmu tidak akan seperti ini,"
Alda berusaha memberontak, dengan kakinya yang ia ayunkan. berharap kakinya dapat memukul tubuh Sarah pada saat itu. tapi ternyata Sarah bisa menepis setiap ayunan yang dilontarkan untuk dirinya.
"Sial, kenapa gadis sialan ini bisa menepis tendanganku."
"Kamu kenapa Alda? Mau aku pukul wajahmu yang mulus itu." tangan Sarah mulai mengusap lembut pipi kiri Alda, membuat Alda semakin tak nyaman dengan sentuhan Sarah.
Sarah sangat Penasaran sekali, dengan Alda yang sengaja ditutupi mulutnya dengan lakban.
pada saat itulah Sarah mulai memberanikan diri, membuka lakban tebal yang menempel pada mulut Alda. tanpa perasaan Sarah mulai mencabut tempelan perban itu.
. membuat Alda mengoceh tanpa henti..."Dasar wanita s*alan. Harusnya kamu tahu diri, sudah membunuh suamiku."
Sarah malah menekan lagi kedua pipi Alda, berucap," apa kamu ingin aku kurung di sini sampai tubuhmu membusuk. Seperti Pak Anton.
"Kamu benar-benar gila, Sarah."
Sarah tertawa terbahak-bahak, melihat Alda yang terus mengoceh tiada henti
membuat Sarah langsung menampar pipi kiri Alda.
Palk ....
tamparan Sarah membuat pipi kiri Alda memerah, kedua mata Alda terlihat berkaca-kaca, menahan rasa sakit akibat tamparan Sarah yang begitu keras.
" ini belum seberapa Alda, Apa kamu mau, yang lebih parahnya lagi?" tanya Sarah.
jelas Sarah langsung menggeleng-gelengkan kepala, kini ia mulai memohon untuk dibebaskan dari ikatan tali yang mengikat tubuhnya.
Namun, Sarah mengabaikan permohonan itu, Iya Langsung kembali menutup mulut Alda dengan perban yang sangat tebal. membuat Alda kembali seperti semula, yang hanya tergantung di dalam lemari. dengan mulut yang tertutup lakban.
kini Sarah mulai Melambaikan tangannya, pamitan terhadap Alda.
Namun dengan Alda, dia malah menitihkan air mata. Memohon dalam hati untuk di bebaskan.
__ADS_1
..