
Masa lalu Sarah 8
Tama berjalan ke arah mobilnya, membuka bagasi mobil, membuat Meri penasaran dengan apa yang anaknya tirinya ambil.
Setelah membuka bagasi mobil itu, mengambil sesuatu benda yang membuat Meri syok.
“Palu.”
Tama kini mendekat lagi ke arah mobil ibu tirinya dengan menenteng palu yang sangat besar, saat itu keadaan Jalan sangatlah sepi. Membuat Tama leluasa mengeluarkan sebuah palu, untuk menghancurkan kaca mobil ibu tirinya.
“sial, si Tama itu ternyata tak main-main.”
“Hai ibu tiriku. Jika kamu tidak mau keluar dari mobilmu sendiri, maka dengan terpaksa aku akan menghancurkan kaca mobilmu dengan palu yang aku pegang saat ini.”
Deg ....
“Gila si Tama ini.” Gumam hati Meri.
Tama mulai melayangkan sebuah palu ke arah kaca mobil ibu tirinya, hingga di mana sang ibu berteriak.
“Stop ....”
Tangan Tama terhenti seketika, saat Meri berteriak. Wanita itu mulai membuka kunci mobil. Dan ke luar menghadapi sang anak tiri.
“Apa mau kamu, Tama.”
Tama tertawa melihat ibu tirinya ke luar juga dari dalam mobil, tanpa basa-basi Tama langsung menarik tangan sang ibu tiri untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Tama, apa-apaan kamu ini.” Teriak Meri.
“Diam.” Tegas Tama.
Meri mulai berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Tama,” lepaskan tanganku. Apa kamu sudah gila,” gerutu Meri.
“Ikut denganku, atau kamu akan mati sia-sia di sini?” tanya Tama. Membuat kedua mata Meri seketika sayu, ia seakan takut dengan ancaman anak tirinya.
“Aku tidak mau ikut denganmu.” Cetus Meri.
Pada saat itulah Meri mendorong tubuh anak tirinya, hingga tanpa Tama sadari ia terjatuh ke atas tanah. Di kesempatan itu Meri langsung berlari menghampiri mobilnya, naik dan menutup pintu mobil.
“Meri, jangan pergi kamu.”
Meri langsung memundurkan mobilnya dan melaju pergi dari Tama, “Tama benar-benar keterlaluan, hatinya sudah di rasuki kebencian.”
__ADS_1
Meri dengan terburu-buru, pergi dari daerah sepi itu. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kantor polisi.
“Aku harus cepat, sebelum terlambat.”
Entah kenapa tiba-tiba saja, mobil yang di tumpangi Meri remnya malah blong, membuat ia tak bisa mengerem mobilnya.
“Kenapa lagi ini, tadi masih berfungsi.”
Beberapa kali Meri menekan remnya, tetap saja tak berfungsi membuat ia tak sadar. Mobil besar berada di hadapannya, membuat Meri membelokkan mobil dan ....
Ahkkk ....
Mobil itu menabrak pohon yang besar, sampai di mana kaca depan mobil Meri retak dan hancur. Sedangkan Meri jatuh pingsan dengan luka pada kepalanya.
Tama tersenyum senang melihat semua itu, rencananya berhasil sempurna. Saat ia memberhentikan mobil ibu tirinya, suruhannya yang selalu bersama dia, mencoba memotong kabel rem yang terhubung pada mobil Meri. Di mana Meri tengah lengah.
“ Kita tak usah susah payah membunuh dia, ayo ke luar dari mobil. Lihat apa si Meri itu sudah mati,” ucap Tama kepada suruhannya.
“Baik bos,” balas sang suruhan.
Mereka ke luar mengecek keadaan ibu tirinya, saat mengecek keadaan itu. Ibu tirinya ternyata masih hidup.
“Saya akan membawa ibu ini ke rumah sakit, jadi bapa tak usak bertanggung jawab.” Ucap Tama pada lelaki yang akan bertanggung jawab atas kecelakaan Meri.
“Sudah tak apa, ini hanya kecerobohan ibu saya yang tak bisa mengendarai mobil,” ucap Tama kepada bapak itu.
Mau tidak mau lelaki tua itu langsung berpamitan, kepada Tama dan berkata,” terima kasih. Jika tuan tidak memberatkan kami.”
Tama tersenyum dengan keramahannya, ia menyembunyikan sifat jahatnya. Agar bapak itu tak mencurigai dirinya.
Tama menyuruh suruhannya untuk membopong tubuh Meri untuk di angkut ke mobilnya.
Ibu tiri yang sedikit sadar, kini mulai membuka mata. Melihat dirinya sudah berada di dalam mobil. Melihat kedua orang yang berada di depanya tertawa terbahak-bahak.
“Ahhk sakit,” gumam hati Meri menahan rasa sakit pada kepalanya.
Tama membalikkan wajah melihat keadaan Meri saat itu, Meri yang menyadari langsung berpura-pura menutup ke dua matanya lagi,” kenapa aku bisa berada di dalam mobil Tama.” Gumam hati Meri.
Meri mencoba melihat di sekeliling mobil, apakah ada benda yang bisa ia manfaatkan untuk memukul Tama dan suruhannya.
Tangan yang berlumuran darah itu, mulai Meri gerakan walau terasa sangat menyakitkan. Ia melihat palu tergeletak tak jauh dari dirinya, “Sebuah palu. Aku harus mengambil palu itu, agar bisa memukulkannya pada Tama dan temannya.” Gumam hati Meri.
Tuk ....
__ADS_1
Tama yang berada di depan mobil, tidak lah bodoh. Ia melihat gerak gerik ibu tirinya yang ingin mengambil palu pada kaca mobil.
Saat itu Tama hanya terdiam, menyaksikan apa yang di lakukan ibu tirinya, sampai di mana.
“Sudahlah sebaiknya beristirahat, kenapa Ibu Meri memaksakan diri untuk meraih palu yang berada jauh di depanmu,” ucap Tama.
Deg ....
Hati Meri tiba-tiba berdebar kencang, ia tak menyangka jika Tama sedang mengawasinya.
“Sial, anak itu mengetahui apa yang akan aku lakukan,” gerutu hati Meri.
Tama kini membalikkan wajah ke arah Meri, tangannya mulai meraih palu itu.” Kamu mau memukul kami berdua, itu tidak akan bisa. Ibu tiri.”
Tama tertawa, ia langsung meletakan palu itu di depan dirinya.
"Ibu tiriku ini ada-ada ajah."
Meri kini tak tahu harus berbuat apa lagi, tubuhnya begitu lemas kepalanya begitu kesakitan. darah terus keluar dari belakang kepalanya.
"Coba saja kalau ibu Meri tidak lari, mungkin aku sudah membawa ibu ke rumah dalam ke adaan sehat." Ucap Tama.
Meri terdiam, ingin sekali ia berteriak, tapi tubuhnya begitu lemas. Karna menahan rasa sakit dari kepalanya.
"Sudahlah, Ibu Meri Tenang saja ya, Tama pasti akan mengobati ibu di rumah nanti."
"Tama, lepaskan aku. Aku tidak di bawa lagi ke rumah itu," ucap Meri memelas pada Tama.
"Kasihan sekali ibuku ini, kenapa ...? Takut?" tanya Tama.
"Tama lepaskan aku, aku mohon. Jika kamu melepaskan aku, Aku tidak akan membocorkan semua rahasia kamu dan juga Sarah," ucap Meri.
Tama kini menatap tajam ke arah Meri dan bertanya lagi?" jadi ibu tiriku ini sudah mengetahui semuanya?"
"Iya Tama!" jawab Meri.
" Baguslah kalau ibu tiriku ini sudah mengetahui semuanya, Jadi sekarang aku bisa memasukanmu ke dalam lemari agar menemani ibu Naina dan juga ibu Alda," ucap Tama.
"Tama, aku sudah memohon padaMu, tapi kenapa kamu tidak mau melepaskan ku, kamu malah mau mengurungku seperti Ibu kandungmu dan juga ibu tiri mu Alda." pekik Meri.
Tama tertawa kembali saat ibu tirinya sedikit berucap dengan nada tinggi." huuh ternyata Ibu Meri bisa marah juga ya. pasrah saja. Ibuku dan Ibu Alda juga bahagia."
"Kamu gila Tama," teriak Meri.
__ADS_1