
Saat Alan sampai di tepi sungai, Pak Tejo berpura-pura seolah-olah dia tengah menyelamatkan Riri. Di mana Riri Tengah pingsan.
Pada saat itulah akan mulai mendekat ke arah Pak Tejo dan juga Riri.
“Ada apa ini pak?” tanya Alan mendekat ke arah Riri yang terbaring memakai bikini, sebenarnya Alan merasa risi dengan penampilan Riri. Tapi mau tidak mau dia harus menyelamatkan nyawa Riri.
Pak Tejo yang kebingungan takut terkena salah oleh Alan dan juga Dina, ini mencari sebuah alasan agar dirinya tidak pernah salah.
Pak Tejo mulai menjawab dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang mungkin tidak terasa gatal,” Riri pingsan saat mandi di sungai, kemungkinan dia tidak bisa berenang dan hampir hanyut!”
Jawaban Pak Tejo bagi Alan itu tidak masuk akal, Bagaimana bisa Riri hanyut Pada sungai yang memang tidak deras dan tidak cukup dalam. Kalau memang orang tidak bisa berenang mereka akan bisa menyampai pada batu-batu yang saling berdekatan.
“Ya sudah, Dina cepat kamu tutupi tubuh Riri dengan baju. Kasihan dia kedinginan,” pinta Alan pada Dina.
Dina langsung mencari keberadaan baju Riri untuk dipakaikan kepadanya, saat menemukan baju Riri dengan sigapnya Dina memakaikan baju kepada Riri.
Pak Tejo dan juga Alan sedikit menjauh dari Riri yang akan dipakaikan baju oleh Dina, karena mereka tak ingin melihat pemandangan itu lebih dalam lagi.
Sedangkan Alan mulai menatap kearah Pak Tejo dari atas kepala hingga ujung kaki, terlihat sekali gerak-gerik mencurigakan pada Pak Tejo. Lelaki tua itu seakan menyembunyikan sesuatu yang ia takuti.
“Pak Tejo tidak kenapa- napa?” tanya Alan.
Tangan Pak Tejo bergetar, bibirnya berubah menjadi warna hitam. Sepertinya Pak Tejo Tengah kedinginan.
“Saya tidak kenapa-napa hanya perut saya lapar!” jawab Pak Tejo dengan bibir bergetar.
Alan menggeleng-gelengkan kepala mengusap pelan wajahnya, ia mengira Pak Tejo akan pingsan seperti halnya Riri.
Saat itulah lelaki tua itu menunjuk ke arah hewan buruannya yang belum dicuci, dengan Sigap Alan langsung menghampiri buruan yang dibawa Pak Tejo dan langsung mencucinya dengan bersih.
Setelah selesai Alan langsung menyalakan api pada kayu yang menumpuk yang sudah disusun Pak Tejo. Pada saat itulah Pak Tejo mulai menghampiri kobaran api itu menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Setelah hasil buruan Pak Tejo matang, pada saat itulah diri dan Dina mulai menghampiri Alan yang tengah memotong-motong daging.
Terlihat kedua mata Riri yang menatap tajam kesal kearah Pak Tejo, yang tengah duduk sembari menikmati kobaran api dan juga daging yang di bakar oleh Alan.
__ADS_1
Sedangkan dengan Pak Tejo, dia berusaha melupakan kejadian tadi menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa.
Riri yang duduk bersebelahan dengan Dina, menggerutu kesal pada hatinya, rasanya ia ingin sekali menjitak kepala lelaki tua yang sudah berbuat tak senonoh padanya. Walaupun hanya memeluk, tapi itu sangatlah tidak pantas.
“Ayo cepat makan, kita harus melanjutkan perjalanan. Aku takut jika para penjahat itu kembali dan menyergap kita lagi.” Ucap Alan.
Kedua mata Alan henti menatap kearah Riri yang seakan an kesal saat melihat wajah Pak Tejo. Pada saat itulah Alan mulai bertanya kepada Riri,” sebenarnya kamu ini kenapa, Ri?”
Pertanyaan Alan membuat Riri sedikit gugup, ada rasa malu pada hatinya Jika ia berkata jujur. Namun disisi lain Ia juga ingin bercerita bahwa Pak Tejo Sudah berani menyentuh dan memeluk tubuhnya.
Hanya saja Riri takut jika Pak Tejo menyangkal semua cerita Riri, menyalahkan Riri bahwa gadis itu menikmati sentuhan yang di layangkan Pak Tejo dengan menganggap bahwa Pak Tejo itu adalah Alan.
“ Tadi aku hampir tenggelam, Untung saja Pak Tejo menyelamatkanku.” ucap Riri berbohong.
Saat itulah Alan mulai berusaha percaya dengan ucapan Riri. Sedangkan Pak Tejo tersenyum, lelaki tua itu bisa bernafas lega. Bahwa Riri berbohong dan tidak mengakui semuanya.
@@@@
Beberapa jam kemudian Alan dan yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk segera mencari jalan keluar hutan itu.
Di saat perjalanan.
Dina mulai menyendir Riri yang fokus berjalan,” aku tak menyangka ternyata kamu suka dengan lelaki tua.”
Deg ....
Ucapan Dina membuat Riri seakan kesal, baru saja Riri menenangkan hatinya kini Dina berulah menyindir Riri secara tiba-tiba.
“Apa maksud kamu Dina?” tanya Riri, yang seketika berhenti berjalan membalikan wajah ke arah Dina.
Dina memajukan Bibir bawahnya, menjawab dengan ucapan yang membuat Riri sangat kesal,” masa kamu tidak mengerti apa perkataanku!”
“ Ya mana mungkin aku mengerti apa yang kamu katakan, tiba-tiba saja kamu berkata seperti itu.” cetus Riri.
“ kamu ini seperti orang bodoh tapi pura-pura mengerti, padahal hati kamu itu mengerti apa yang aku katakan,” ucap Dina. Membuat suasana hati Riri semakin kesal.
__ADS_1
Saat itulah secara spontan, Riri mulai menjambak rambut panjang Dina dengan kedua tangannya.
“ Jangan asal ngomong ya kamu Dina, harusnya kamu juga sadar diri, Kamu itu jangan kecentilan sama suami orang,” ucap Riri. Membuat Dina menjambak balik rambut Riri.
“He, emang kenapa kamu siriknya. Kamu juga suka pada Alan kan,” balas Dina.
Riri seakan tak terima dengan apa yang di katakan Dina, saat itulah kedua tangan Riri mencekram kuat rambut panjang Riri, membuat Riri kesakitan.
“Kurang ajar kamu, Dina.”
“Heh, aku tak akan kalah dengan kamu.”
Perdebatan mereka membuat Alan dan Pak Tejo, menyadari. Jika Riri dan Dina tak ada, saat itulah Alan mulai mencari keberadaan Dina dan Riri.
Dodi dan cucu pak Tejo mulai angkat bicara, bahwa tadi Dina dan Riri seakan berdebat dengan masalah yang tak mereka mengerti.
Alan berlari, hingga saatnya dia melihat pertarungan antara dua gadis yang saling menjambak rambut. Seakan memperebutkan sesuatu.
Saat itulah Alan mendekat ke arah mereka, mencoba membubarkan kedua gadis itu agar berhenti berkelahi.
“Hentikan.” Teriak Alan.
Mereka tetap saja berdebat mengabaikan teriakan Alan.
Saat itulah Alan dan Pak Tejo mulai menarik tubuh mereka masing-masing, agar berpisah dan tak saling menjambak lagi.
Dan benar saja mereka kini tersungkur jatuh bersamaan, membuat tubuh Alan terhempit oleh Riri sedangkan Pak Tejo terhempit oleh Dina.
Dodi dan cucu pak Tejo hanya tertawa melihat pemandangan yang di lakukan orang dewasa di depan kedua mata mereka.
“Dodi kenapa tertawa bantu om berdiri.”
Dodi dengan sigap membantu Riri berdiri dan juga Alan, tapi Riri seakan berpura-pura ingin berlama-lama di pangkuan Alan. Membuat Dina kesal, ia langsung berdiri dan menarik tangan Riri, hingga Riri tersungkur jatuh kepalanya mengenai pohon besar.
Jelas semua tertawa melihat Riri berbalik arah ke hadapan mereka.
__ADS_1