
Dengan tenanga kerasnya Bu Ira menggedor-gedor pintu kamar anaknya yang masih tertutup rapat, tapi ternyata pintu itu terkunci rapat. Ada apa dengan Arsyla?
"Bu, biar Arpan saja yang mendobrak pintu kamar Arsyla."
Wanita tua itu mulai menjauh dari pintu kamar anaknya, mendekat kearah Sisi.
Bu Ira menangis terisak-isak Sisi mulai menenangkan wanita tua yang menjadi ibu dari Arsyla. Sedangkan Arpan terus saja mendobrak pintu kamar Arsyla.
"Arsyla kenapa kamu."
Bu Ira terus memanggil-manggil nama anaknya dengan begitu keras menangis sejadi-jadinya.
"Kamu kenapa sayang?"
Sedangkan Sisi terus aja mengusap-ngusap punggung Bu Ira agar bisa tenang.
"Ibu, tenang. Ya."
Arpan dengan sekuat tenaganya terus menggedor-gedor pintu kamar Arsyla, tapi. Pintu kamar Arsyla begitu susah dibuka.
" Arsyla, ibu mohon, nak. Buka kamarnya."
Hingga saatnya pintu kamar Arsyla terbuka lebar karna dobrakan dari badan Arpan, membuat Bu Ira berlari menghampiri anaknya dan melihat keadaan Arsyla saat itu.
Ternyata Arsyla tengah duduk di ujung kamarnya dengan memeluk kedua betisnya, seketika ia berteriak menyebut nama orang yang entah Bu Ira tak kenal Siapa orang yang disebut namanya oleh Arsyla.
Bu Ira mendekat kearah Arsyla dengan berjalan pelan sembari menangis terisak-isak, Bu Ira ingin sekali memeluk tubuh anaknya saat itu.
Kedua tangan Arsyla mulai menjambak rambut kasarnya, membuat Bu Ira sangat syok. Hingga akhirnya Bu Ira memeluk tubuh anaknya agar tetap tenang.
"Sudah jangan jambak lagi rambutmu, itu sakit nak."
Arsyla menangis menjerit, membuat Arpan dan Sisi tak tega melihatnya.
"Arsyla, kamu harus tenang."
Nasehat Sisi terus terlontar untuk Arsyla. Agar wanita yang menjadi saudaranya itu tenang.
Sisi mulai mendekat kearah Arsyla wanita berbulu mata lentik berhidung mancung. Tangan Sisi mulai mengusap perlahan rambut Arsyla saat itu.
"Kamu harus tenang, Arsyla."
Mulut Sisi terus saja terlontar pada Arsyla. Berharap Arsyla bisa tenang dari apa yang kini menimpanya.
Dengan perlahan Sisi mulai bertanya pada Arsyla." Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu seperti ini Arsyla, siapa yang sudah menyakiti kamu?"
Pertanyaan Sisi malah membuat Arsyla menangis terisak-isak. Saat itulah Sisi mulai memeluk tubuh Arsyla.
"Kamu harus tenang, kami selalu ada untuk kamu Arsyla."
__ADS_1
Tangisan Arsyla masih terus mengalir keluar dari pelipis matanya, ia seakan bingung harus mengatakan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ini memang berat, untuk kamu. Ayo coba katakan Arsyla?"
Arsyla menggeleng-gelengkan kepala, ia mengusap setiap air matanya dengan telapak tangan.
ibu yang mana akan tega melihat anaknya seperti itu menangis terus menangis. Tanpa berkata 1 kata patah pun.
"Sakit, rasanya. Melihat kamu seperti ini. Nak."
Ucapan Bu Ira membuat Arpan seketika meneteskan air mata, rasanya begitu menyakitkan jika memang pikiran Arpan tertuju pada Arsyla yang dianianya dan diperkosa.
"Ayo, kamu harus berkata jujur. Nak."
Bibir Asyla seketika keluh ia menatap raut wajah sang ibu dengan mata berkaca-kaca, sesekali air mata itu keluar perlahan mengenai pipi chubbynya.
"Ayo katakan, ibu tidak akan marah."
Bu Ira terus mendesak anaknya, karena Ibu Ira tak yakin dengan perkataan Asyla yang tadi. Iya ingin tahu kejujuran yang sebenarnya dari mulut anaknya itu. Walaupun memang harus menyakitkan tapi ini demi kebaikan Arsyla.
"Sayang, ayolah. Ibu ingin tahu kebenarannya."
Arsyla, langsung memeluk sang ibu menangis terisak-isak membuat Sisi dan juga Arpan ikut merasakan apa yang dirasakan Arsyla saat ini. Sisi mengira Bu Ira tidak mencurigai tentang keadaan anaknya, tapi. Ternyata feeling sang ibu selalu tahu apa yang terjadi dengan anaknya, karena Sisi tidak yakin jika benar Arsyla dianiaya oleh sahabatnya karena masalah hutang.
"Ayo jujur, nak. Ibu tahu ini bukan masalah hutag, pasti ada yang terjadi pada dirimu, apa ada yang kamu sembunyikan."
Bu Ira terus bertanya kepada Arsyla, Iya tak sabar mendengar kejujuran anaknya saat itu.
Bu Ira mulai melepaskan pelukan anaknya, ia mulai menyuruh Arsyla untuk berdiri.
Tapi entah kenapa Arsyla tidak mau berdiri saat itu.
"Kita ke kamar mandi untuk membersihkan diri dulu."
Arsyla malah, mengeleng-gelengkan kepala. Terlihat ia seakan merasakan kesakitan saat itu.
Sisi benar-benar mencurigai Arsyla saat ini. Karna raut wajah Arsyla. Memperlihatkan ia tengah merasakan rasa sakit pada **** *************.
"Ayo berdiri, kamu harus tenang."
Sisi sudah tak sanggup melihat Arsyla seakan kesakitan pada saat itulah, Arsyla langsung dibopong oleh Arpan.
Dengan pasrahnya Arsyla diam menurut, ketika dibopong oleh Arpan saat itu.
"Pelan-pelan, Arpan."
Dengan palan Arpan langsung membawa Arsyla ke kamar mandi, menaruh Arsyla pada bak mandi.
Tinggal Bu Ira yang memandikan anaknya.
__ADS_1
Ia melihat linangan darah pada air, walau sedikit membuat hatinya merasa tak tega.
Arsyla menagis, seakan merasakan rasa kesakitan.
Sisi mulai membantu Arsyla saat itu, melepaskan baju Arsyla secara perlahan.
Wanita berbulu mata lentik itu masih saja terdiam, kedua matanya seakan menatap ke arah satu tempat dengan tatapan mata yang terlihat kosong.
"Arsyla."
Sisi mencoba memanggil Arsyla, hingga saatnya Arsyla malah berteriak-teriak. Membuat Bu Ira dan Sisi seakan panik.
"Kamu kenapa, Arsyla?"
Kedua tangan Arsyla malah menjambak rambutnya sendiri. Membuat Bu Ira mencekram erat tangan Arsyla agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
" Arsyla, kamu harus sadar."
Arsyla terus meronta-ronta, ia seakan tak sadar dengan dirinya sendiri.
Mereka berdua mencoba menahan dengan sekuat tenaga. Kekuatan Arsyla begitu kuat, membuat Bu Ira dan juga Sisi, kewalahan.
Hingga saatnya Sisi berteriak.
"Arsyla, kamu harus sadar."
Plak .... Satu tamparan melayang pada pipi kiri Arsyla, membuat Arsyla terdiam seketika.
Hingga pada akhirnya, Arsyla menangis sejadi-jadinya.
Sisi mulai memelik tubuh Arsyla seraya berkata." Kamu harus tenang, Arsyla."
Bu Ira yang melihat anaknya seperti itu, terduduk di atas lantai dengan isak tangis yang berderai.
"Jelaskan sama Ibu, apa yang telah terjadi padamu. Nak."
"Iya, Arsyla. Ceritakan pada kami, apa yang terjadi padamu, apa ada lelaki yang bertindak senonoh padamu?"
"Iya nak, ceritakanlah pada ibu. Agar kami tahu, siapa yang telah tega melakukan semua ini."
"Arsyla, kami tidak akan memarahimu atau membencimu. Kalau kamu seperti ini, kita yang bingung dan sedih."
"Arsyla. Ayo jujur."
Kedua mata Arsyla berkaca-kaca menatap padaku dan juga Bu Ira. Mulutnya mulai terbuka lebar, ia sudah mulai ingin mengatakan sesuatu padaku dan juga Bu Ira.
"Ayo cerita sayang."
"Maafkan aku, bu ...."
__ADS_1
Perkataan maaf terlontar dari mulut Arsyla.
Seakan semua seperti mimpi, membuat relung hati sang ibu terasa sakit.