Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 345 Alan kebingungan.


__ADS_3

setelah sampai di dalam rumah, raut wajah Delia terlihat murung. Alan merasa ketakutan jika bayi Delia belum juga ditemukan. Alan takut Delia akan kembali depresi seperti dulu. Ia berusaha memikirkan cara, agar sang istri tak terus Murung dan memikirkan bayinya yang belum diketahui keberadaannya ada di mana.


"Sayang, ayolah jangan murung terus. Aku takut kamu sakit."


Delia malah pergi meninggalkan Alan.


"Sayang, Delia kamu mau ke mana?" tanya Alan.


saat itulah Delia mulai membuka pintu kamar, menutupnya kembali dengan begitu keras. Alan sang suami langsung menyusul ke kamar, saat ia mulai membuka pintu, ternyata Delia Mengunci pintu kamarnya.


"Delia. Ayolah. Jangan begini."


Alan mencoba berteriak dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar sang istri, " sayang. Ayolah."


Delia tetap saja duduk di ranjang tempat tidur, menatap ke arah jendela. meneteskan air mata mengenai kedua pipinya. Ia mengabaikan teriakan sang suami yang terus memanggil namanya.


Setengah jam Alan berteriak, dengan keadaan Delia. mengabaikan teriakannya.


saat itulah Alan mulai mendobrak pintu kamar Delia. Membuat Delia berdiri dan menghampiri pintu kamarnya.


"Sudahlah Alan, jangan mendobrak pintu kamar lagi. Aku tidak akan bunuh diri, aku hanya ingin menenangkan diriku saja." Teriak Delia. Membuat Alan menghentikan tubuhnya yang terus mendobrak pintu kamar.


Alan kini kembali berjalan ke arah ruang tengah. yang di mana Iya langsung duduk di atas sofa. mengusap kasar wajahnya, mendengarkan punggungnya pada sofa." hah. Apa yang harus aku lakukan saat ini."


Saat kebingungan melanda pikiran Alan, pada saat itulah suara ponsel berbunyi. yang di mana ia melihat pada layar ponselnya, nama Ami tertera.


"Ami, tuben dia menelepon."


Dengan sigap Alan mulai mengangkat panggilan daru Ami.


"Halo, Ami. Ada apa?" tanya Alan dalam sambungan telepon yang sudah terhubung.


"Alan, apa kabar!?" jawab Ami.


"Kabarku baik Ami, bagaimana dengan kabarmu dan Rudi?" tanya Alan.


"Kabar Rudi dan aku baik baik saja, oh ya. Bagaimana dengan Delia, selamat atas kelahiran anakmu," ucap Ami. Membuat Alan terdiam sejenak.


"Halo."


Ami terus memanggil-manggil Alan di dalam sambungan telepon. membuat Lamunan Alan seketika membuyar.

__ADS_1


"Iya Ami kenapa?" tanya Alan. Mengusap rambut kepalanya.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu tidak baik-baik saja. Apa ada masalah di sana bisa di apa-apa dengan Delia?" tanya Ami dengan rasa kuatir.


"Sebenarnya, Delia sedang tidak baik-baik saja saat ini, bayi Delia hilang begitu saja," ungkap Alan.


Membuat Ami tercengang kaget," Apa. Kenapa bisa?" tanya Ami.


"Entahlah, aku juga bingung sekarang!" jawab Alan.


"Apa kamu sudah melaporkan semua ini kepada polisi?" tanya Ami.


"Sudah, hanya saja belum ada keterangan," ucap Alan.


" sekarang bagaimana keadaan Delia, aku kuatir jika Delia mengalami depresi kembali. karena kehilangan bayi yang baru saja ia lahirkan." balas Ami.


"Aku juga berpikir seperti itu, Ami. sekarang aku tengah memikirkan cara. Bagaimana caranya agar Delia tidak mengalami depresi kembali akan kehilangan bayinya sendiri," ucap Alan.


"Bagaimana jika Delia dan kamu datang ke rumahku. Aku kasihan dengan keadaan Delia, mudah mudahan saja setelah Delia berada di sini keadaanya membaik," balas Ami.


Alan mulai mencerna perkataan Ami, ada baiknya juga. Apalagi di rumah Ami ada Dodi yang mungkin akan membantu Delia untuk jauh dari kata depresi.


"Bagaimana Alan?" tanya Ami.


saat itulah panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, di mana Rudi mulai menghampiri sang istri.


"Mamah tengah menelepon siapa?" tanya Rudi.


Ami mulai menjawab dengan tenang!" mamah menelpon Alan. Yang ternyata bayi Delia hilang."


"Apa!" jawab Rudi. Yang syok dengan perkataan sang istri.


"Iya, sekarang mamah mengusulkan kepada Alan. untuk membawa Delia ke rumah kita. agar Delia tidak mengalami depresi yang sangat berat, karna kehilangan bayinya," ucap Ami kepada Rudi.


"Ya sudah jika usul kamu bagus, papah setuju. Dan juga papah sekarang butuh bantuan Alan untuk membebaskan Tama," balas Rudi.


@@@@@


Ceklek .....


suara pintu kamar terbuka, yang ternyata Delia keluar dari dalam kamarnya. Alan dengan Sigap menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Delia, akhirnya kamu ke luar dari dalam kamar juga. Aku kuatir dengan keadaanmu, jangan sekali-kali lagi kamu mengurung dirimu sendiri di dalam kamar. aku takut terjadi apa-apa dengan dirimu Delia."


Delia tetap saja diam, tak membalas ucapan Suaminya.


"Delia. Kamu marah kepadaku?" tanya Alan memengang kedua tangan istrinya.


Delia memalingkan wajah seakan tak ingin melihat wajah suaminya, hatinya benar benar kesal. Ia tak mau ada satu orang yang menganggu ketenangannya. Saat ini.


"Delia ayo bicara."


Delia malah mengibaskan tangan Alan, Iya pergi melewati suaminya tanpa berucap satu patah kata pun.


"Besok kita akan pergi dari sini," Ucap tegas Alan. Membuat langkah kaki Delia seketika berhenti, dia membalikkan wajah ke arah Alan.


"Pergi. Untuk apa. Aku tidak mau, aku mau bayiku." Ucap Delia. Air matanya mengalir kembali.


"Aku akan membawamu pergi, dari sini. Ke rumah Ami dan Rudi," balas Alan. Berharap Delia mau menyetujui perkataannya.


"Aku tidak mau," cetus Delia. Ia membalikan lagi badannya, berjalan ke arah dapur.


"Jika kamu tidak mau, aku terpaksa akan membawamu ke rumah sakit," Ucap Alan. Delia merasa Alan mengancam dirinya.


Delia kembali menghentikan langkah kakinya.


"Kamu mengancamku, Alan," hardik Delia. Menatap tajam ke arah suaminya.


"Aku bukan mengancammu, hanya saja aku kuatir dengan keadaanmu yang terus seperti ini," ucap Alan tegas. Berharap Delia mau mengikuti keinginannya.


Alan mulai menghampiri sang istri." kamu mau besok kita pergi dari sini," ucap Alan dengan lembut.


"Aku tidak mau, aku ingin bayiku." Tegas Delia.


Kedua matanya menatap ke arah lantai, seakan tak ingin jika Alan terus membujuknya untuk pergi dari rumah.


"Setelah keadaanmu membaik, pasti bayi kita ketemu." Alan terus merayu sang istri.


"Kapan kita bertemu dengan bayi kita, jika kita pergi dari sini. kita hanya akan mengelur waktu mencari keberadaan bayi kita," hardik Delia.


"Delia, aku mohon. Hanya ini jalan satu satunya." Ucap Alan merayu terus sang istri.


"Maaf Alan, aku ingin di sini. Aku ingin mencari bayiku di sini, aku tidak mau pergi denganmu. Apalagi harus tinggal di rumah Ami dan Rudi," balas Delia. Tetap bersikukuh tak ingin menuruti apa perkataan suaminya.

__ADS_1


Delia kembali lagi berjalan, dengan berucap." Sudah cukup jangan lagi mengajakku ke tempat Ami dan Rudi. Aku akan tetap di sini, untuk mencari anakku."


Alan kesal, ia mengepalkan kedua tangannya. berusaha bersikap tenang menghadapi ucapan istrinya. " Alan kamu harus tenang. Pikirkan cara agar Delia mau ikut denganmu." Gumam hati Alan.


__ADS_2