
"Apa benar itu, Lita?" tanya Deni.
Ida mulai menyenggol pelan bahu Lita, mengedipkan mata kirinya. berharap Lita menjawab kata Iya. walau dalam kebohongan.
"Emm. Sebenarnya ...."
Lita benar-benar terlihat ragu. Mengatakan kata iya dalam berbohong. Ida sangatlah kesal dengan keraguan Lita pada saat itu.
"Ya ampun, ini anak suruh nyabut Ia juga susah banget sih." gerutu hati Ida.
"Lita, Sebenarnya ada apa yang terjadi pada kamu? Kenapa saat aku bertanya padamu Kamu terlihat begitu gugup dan juga ragu?"
pertanyaan Deni semakin melebar kemana-mana, membuat Lita menelan ludah merasakan kegugupannya yang semakin besar.
"Apa yang harus katakan, apa Iya aku harus berbohong di hadapan Pak Deni. apa nantinya tidak akan ada risiko besar padaku, jujur aku takut sekali." Gumam hati Lita.
"Iya, Pak Deni. Saya sudah menyembunyikan anak Delia dan juga Alan!" jawab Lita terpaksa berbohong menuruti perintah Ida. Ida langsung mengelus dada, merasa tenang dengan jawaban sahabatnya itu Lita.
"Nah gitu, ngomong coba dari tadi," ucap pelan Ida pada telinga Lita.
Deni mengusap pelan dagunya sendiri, menatap kearah Ida dan juga Lita. saat itulah ia menanyakan kepada Lita," bagus. Oh ya, Sekarang kemana bayi yang sudah kamu ambil?"
Deg .....
Jantung ke dua suster itu terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya, di mana tiba-tiba Deni bertanya tentang keberadaan bayi Delia.
"Bagaimana ini, Ida?" bisik Lita bertanya pada Ida.
Deni terus memandangi mereka bedua, berharap mereka langsung menjawab.
"Lita, aku tanya sama kamu. Ke mana bayi yang sudah kamu ambil?"
Ida bingung harus menjawab apa, sampai di mana ia ingat. Jika pak Deni belum melihat wajah bayi Delia, dengan terpaksa ia berbohong. Jika bayi itu berada di rumah Lita.
"Kenapa kalian diam lagi?" tekan Deni.
"Bayi itu sebenarnya ada di rumah Lita," ucap Ida. Membuat Lita syok.
" Kenapa Ida berbohong kembali." Gumam hati Lita. Kedua membulat menatap ke arah Ida.
sedangkan Deni hanya mengerutkan kedua dahinya, tersenyum senang dengan apa yang dikatakan Ida." jadi bayi itu ada di rumah kamu, Lita?' tanya kembali Deni.
Ida terus menyenggol bahu Lita agar berkata iya.
__ADS_1
"Iya Pak Deni."
"Kerja yang bagus, sesuai janjiku aku akan memberikan sesuatu pada kalian berdua." ucap Deni. merogoh saku bajunya. yang di mana Iya ternyata mengambil amplop berwarna coklat.
"Ini untuk kalian berdua."
Deni langsung menyodorkan amplop itu ke hadapan Lita, membuat Lita sedikit ragu. untuk mengambil amplop itu.
"Ayo ambilah, Lita. Kamu pasti senang dengan isi aplop ini." Ucap Deni. terus menyodorkan amplop itu ke hadapan Lita.
"Terima saja, Lita." ucap pelan Ida.
karena dorongan sahabatnya yang menyuruh mengambil amplop itu, pada saat itulah Lita dengan terpaksa mengambil Amplop yang masih berada di tangan Pak Deni.
Ida langsung menyuruh Lita untuk membuka isi amplop itu.
"Ayo buka, Aku penasaran dengan isi amplop itu," bisik Ida pada telinga Lita.
Lita mulai melihat isi dari amplop itu, saat ia melihat isi amplop itu betapa terkejutnya mereka berdua. melihat Uang pecahan berwarna merah yang begitu banyak.
"Uang."
Deni tersenyum kecil melihat reaksi wajah mereka berdua," kalian berdua suka?"
pertanyaan Deni langsung membuat Lita dan juga Ida menganggukkan kepala, seraya berucap bersamaan," Iya."
"Mengurus." Ucap Ida.
"Ya mengurus. Setelah itu aku akan datang ke rumahmu Lita. setiap Minggu untuk menengok bayi itu. dan kamu jangan kuatir, semua biaya akan aku tanggung. biaya untuk bayi Delia." balas Deni.
Ida begitu tertarik dengan ucapan Deni, apa lagi Deni akan memberikan lagi uang kepada Lita.
"Bapak tenang saja. kami akan mengurus bayi Delia."
" Bagus kalau begitu, aku serahkan tanggung jawab untuk mengurus bayi Delia kepada kalian berdua."
"Baik pak Deni."
"Oh ya, soal video kalian tenang saja. aku akan menghapus video itu dan tidak akan menjebloskan kalian ke dalam penjara."
"Terima kasih, Pak Deni."
saat itu Deni mulai meninggalkan mereka berdua, yang mulai menjalankan kursi rodanya untuk kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
setelah kepergian Deni, Lita langsung memukul bahu Ida sahabatnya itu.
"Aw, sakit Lita. Kamu kenapa sih?" tanya Ida sok polos.
" Kamu ini gimana sih, kenapa kamu malah bicara. kalau bayi Delia itu ada di rumahku. kamu tahu sendiri kenyataan yang sebenarnya, bayi Delia itu tidak ada. hilang oleh orang lain!" jawab Lita.
" aduh, Kamu ini gimana sih Lita. Emang kamu nggak bisa ya pintar sedikit." ucap Ida yang begitu terlihat santai.
"Maksud kamu?" balas Lita dengan sebuah pertanyaan.
Ida, mulai menunjuk kepala Lita." Coba deh berpikir lebih pintar lagi, sekolah tinggi tinggi tapi otakmu masih kayak orang gak bisa berpikir."
"Ida, pleas ya. Aku benar benar tak mengeti dengan apa yang kamu katakan. Langsung ke intinya saja," ucap Lita.
" ya sudah, aku akan mengatakan semua yang aku pikirkan sekarang," balas Ida.
" Jadi apa yang kamu tengah pikirkan sekarang?" tanya Lita.
" kamu ini tahu sendiri kan, Pak Deni itu tidak pernah melihat wajah bayi di Delia dan juga Pak Alan," ucap Ida.
"Lah, terus?" tanya Lita kembali.
"Terus .... terus, Emang aku tukang parkir apa," cetus Ida. yang kesal dengan otak sahabatnya yang lola.
"Nih, ya. kita bisa saja, mengambil bayi yang baru saja dilahirkan di rumah sakit ini, dengan membuang data-data bayi itu. Dan membuat data data bayi itu dengan data sudah mati alias meninggal," ucap Ida.
Lita dengan fokus mendengarkan Ida sahabatnya itu.
"Kalau kita berhasil, otomatis bayi itu bisa jadi milik kita dan kita bisa bicara pada Pak Deni. Kalau bayi hasil curian kita itu bayi Delia yang akan kita urus. Kamu mengerti." Ucap Ida.
Membuat Lita, sedikit ragu.
"Aku ragu, apa bisa kita mengambil bayi orang lain di rumah sakit ini. sedangkan kalau misalkan kita mengalihkan data-data bayi itu ke data bayi meninggal. otomatis Kita juga harus memperlihatkan jasad bayi itu pada ibunya." ucap Lita.
" kamu tenang saja itu urusan yang sangat gampang, aku yang akan mengatur rencana itu. kamu tinggal mencari sasaran seorang ibu muda yang melahirkan." ucap Ida.
" Tapi ...."
Ida mengendus kesal, saat Lita terus merasa ragu.
"Lita, kita itu tidak boleh jadi orang bodoh. pintar sedikit lah. daripada kita di masukin ke dalam penjara oleh Pak Deni. Apa kamu mau?" tanya Ida.
"Eh, nggak mau lah, masa sisa hidupku menjadi perawan terkurung di jeruji besi," balas Lita.
__ADS_1
" makanya itu. Hanya ini rencana kita satu-satunya. jangan sampai gagal!" ucap Ida.
tiba-tiba sosok seseorang datang, dan bertanya" Rencana apa?"