
Alan terbangun dari mimpi yang mengisahkan dirinya di dalam pesawat, ia tak menyangka jika kejadian waktu di pesawat akan terulang kembali
Mengusap kasar wajahnya, ia sempat menatap ke arah Dodi dan bertanya?” Dodi, saat om tengah tertidur di dalam pesawat. Kamu bergegas pergi ke toilet, apa benar itu?”
Dodi langsung menjawab perkataan Alan pada saat itu, “iya om.”
“Om mau tanya lagi, Apa benar ada seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibumu Dodi, saat kamu selesai dari kamar mandi?” tanya Alan.
“ kenapa Om bisa tahu semuanya?”
Belum pertanyaan Alan dijawab oleh Dodi, Dodi malah bertanya balik kepada Alan.
“ Entahlah ah saat Om tertidur barusan, bayangan di dalam pesawat itu tiba-tiba masuk ke dalam mimpi Om.”
Dodi mulai mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya di dalam pesawat, iya mulai mengingat wanita bermata bulat yang terus mengganggu dirinya akhir-akhir ini.
“Sepertinya, hantu yang mengganggu kita adalah orang yang naik pesawat bersama kita.”
Ucap Dodi, membuat Riri. Terbangun dan bertanya pada Alan,” apa ada urusan yang belum terselesaikan dengan wanita itu?” tanya Riri penasaran.
Karna perjalanan menuju pulang, terus terganggu dengan adanya sosok wanita bermata bulat. Sesekali wanita itu menampakkan sujud yang menyeramkan.
Dodi menggelengkan kepala, urusan dengan wanita itu. Dodi tak tahu, karna dia hanya sebatas anak kecil. Sedangkan Alan tak mengenal sama sekali wanita itu.
“Ini seperti sebuah teka-teki. Di mana wanita itu, mengincar Kamu Dodi.”
Deg ....
Ucapan Riri membuat Alan, memeluk Dodi. ”Mana mungkin.”
Riri langsung bertanya pada Dodi dengan lembut, memegang tangan anak kecil itu. “Apa ibu kamu dulu punya teman atau seorang yang dekat dengannya?”
Dodi mulai mengingat masa lalu di mana Ami, pernah sakit dan buta. Ia mengingat semua wanita yang dekat dengannya.
Yang Dodi ingat hannyalah, Arsyla dan juga Sisi.
“Entahlah tante. Dodi tak mengingat sama sekali wanita itu, hanya saja wanita itu selalu bareng dengan tante Sisi. Sahabat mamah, matanya pun tak jauh berbeda ada kesamaan. Sama-sama mempunyai mata bermata bulat.”
Jawaban Dodi tak bisa di pahami oleh Riri. Ia bingung karna dirinya tak pernah tahu selak beluk Dodi.
__ADS_1
Pak Tejo mulai mendekat ke arah Alan dan bertanya?” Lan. Perjalanan mau kita teruskan sekarang.”
Alan langsung menjawab dengan semangat.” Sebaiknya kita teruskan sekarang. Karna tidak baik jika kita berlama-lama di sini, Alan takut hal yang tak di inginkan terjadi. Karna letak kita dengan pesawat tidak jauh.”
“Benar juga Alan. Aku takut jika, arwah orang-orang yang meninggal di dalam pesawat mengganggu kita.”
“Hus, Ri tidak ada arwah yang gentayangan mereka sudah mati.”
“Mati iya. Tapi belum di kubur, jadi gentayangan deh.”
Dodi mulai mengusap bulu kuduknya, ia benar-benar ketakutan sekali. Rasa trauma masih membekas pada hatinya. Kenapa masih ada arwah yang mengikuti perjalanan mereka.
“Ayo cepat kita harus pergi.”
Semua orang kini bergegas pergi, begitu pun dengan Dina dan Pak Tejo. Mereka berharap tak ada kendala sama sekali.
Karna rasanya lelah sekali bagi mereka jika harus melihat hal-hal mistis yang tak seharusnya terlihat.
Alan mulai tersenyum saat melihat orang-orang tengah berburu burung. Membuat Alan dengan semangat menghampiri mereka.
“Walaikum salam! Bisa-bisa, ayo ikut pulang dengan kami, “balas orang-orang yang kurang Alan kenal.
Terlihat orang-orang yang di temui Alan, berwajah baik. Mereka dengan senang hati membantu Alan dan juga yang lainnya, membawa mereka ke kampung halaman yang tak jauh dari hutan belantara itu.
Kini kebahagiaan terpancar dari diri mereka, hati mereka benar-benar lega. Bisa terbebas dari rimbunan hutan yang mungkin membuat mereka tersiksa.
Mereka langsung di bawa masuk ke dalam rumah, untuk segera beristirahat.
Sosok seorang wanita paruh baya datang menyapa mereka, membuatkan minuman hangat dan menyediakan camilan singkong rebus yang masih hangat.
Wanita paruh baya itu duduk, mengerutkan dahi. Bertanya pada Alan.
“Kenapa bisa kalian sampai di hutan?”
Alan mulai menjelaskan kenapa, dirinya bisa tersesat di hutan.
“kami ini korban kecelakaan pesawat yang masih selamat,” ucap Alan. Membuat wanita parah baya itu terdiam.
"Jadi .... kalian sudah lama tersesat di hutan," ucap wanita paruh baya itu.
Riri dan Dina saling menatap satu sama lain, perasaan mereka hanya tiga hari.
__ADS_1
"Tidak, kita hanya tiga hari saja."
"Tiga hari bagaimana ini, sudah mau sebulan. Berita tentang kecelakaan pesawat pun sudah lama di siarkan, dan korban pun sudah di temukan beberapa orang. Begitu pun dengan bakai pesawat. Apa kalian tidak menyadari semuanya?" tanya wanita paruh baya itu.
Alan dan Semua yang ada di sana juga sedikit terdiam, heran. Karna perasaan mereka terjebak di hutan hanya sebentar. Tapi kenapa wanita tua itu berkata sudah sebulan.
Mereka semakin bingung, dengan apa yang sudah terjadi.
" Sudah sekarang kalian mandi, istirahat di sini dulu. kami akan mengabarkan ke tim pencarian. Orang-orang yang hilang dalam pesawat. Karna memang sebagian sudah di temukan."
Wanita paruh baya itu, berdiri dan segera memasak untuk para tamunya. Ia menyediakan berbagai makanan untuk di santap para tamunya.
@@@@@
Berita pesawat sebulan ini sudah di siarkan, tapi Rudi belum berani mengatakan pada Ami. Karna korban masih banyak yang belum ketemu. Begitu pun dengan Dodi dan Alan.
Saat itu Rudi mulai menelepon Sisi, menanyakan tentang kabar Sisi di sana. Begitu pun dengan Arsyla, apa dia sudah menikah.
“Si, apa kabar?” tanya Rudi. Dalam sambungan telepon.
Sisi seakan senang dengan telepon Rudi,” Rud. Alhamdulillah baik. Bagaimana ke adaan Ami yang sekarang.”
Dengan rasa bahagia, Rudi mengatakan kalau Ami baik-baik saja. Tapi ada kendala yang membuat kondisi Ami drop, kendala itu ialah Dodi.
Sisi yang mendengar cerita Rudi, turut bersedih dan hanya bisa menguatkan Rudi.
“Rudi, aku tak menyangka jika korban dalam pesawat itu ada Alan dan juga Dodi," ucap Sisi. Pada sambungan telepon, Rudi yang hanya bisa menjawab dengan pasrah.
"Mungkin ini nasib.”
Sisi mulai mengungkapkan korban pesawat pada Rudi, di mana korban itu adalah masa lalu dirinya dengan Ami.
“Sebenarnya dalam pesawat itu ada korban yang harus kamu tahu," ucap Sisi. Rudi mengerutkan dahi, tak mengerti dengan perkataam Sisi
“Maksud kamu, si.”
Saat itulah Sisi mulai menceritakan, semuanya.
“Kamu ingat Sarah?”
Kini Alan penasaran dengan ucapan Sisi, di mana Sisi membahas tentang wanita bernama Sarah.
“Sarah, Ami pernah bercerita tentang wanita bernama Sarah?”
__ADS_1