Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 248 Sarah yang mencari informasi.


__ADS_3

Saat Rudi menunggu taksi datang, ia sempat lupa. Seharunya dirinya membayar biaya Arpan selama di rumah sakit. Jika tidak mungkin Arpan akan terkena masalah dan imbasnya Sarah akan mengetahui semua yang terjadi.


Kini Rudi mulai melangkahkan lagi kakinya, untuk masuk ke dalam rumah sakit. Membayar semua biaya Arpan selama di rumah sakit. Tapi saat Rudi membayar, dia melihat Sarah setelah mengobrol dengan suster.


Dimana suster wanita itu, ialah wanita yang menjadi alat pancing Rudi untuk menjebak Sarah.


“Sial, sepertinya Sarah mulai bertanya tentang apa yang terjadi barusan di ruangan kosong. Gawat ini.” Gerutu Rudi.


Sebelum membayar biaya rumah sakit, Rudi meminjam sebuah buku dan pulpen kepada suster yang berada di hadapan.


Suster itu langsung memberikan kertas kosong dan juga pulpen kepada Rudi, pada saat itulah Rudi mulai menulis sebuah tulisan untuk dibaca oleh suster Alisa.


Setelah selesai menulis, Rudi mulai menerbitkan kepada suster yang melewati dirinya.


“Sus, maaf boleh nitip surat ini, untuk suster cantik yang tengah duduk bersama wanita yang memakai baju berwarna biru.” Pinta Rudi.


Sang suster itu menerima kertas yang di berikan Rudi, ia berjalan menuju suster Alisa yang tengah mengobrol dengan Sarah.


“Sus, ini.”


Suster Alisa menerima surat yang di titipkan Rudi untuknya, ia bertanya pada sahabatnya,” apa ini?”


“Surat cinta,” canda sang sahabat yang berjalan. Pergi menjauh.


Dari kejauhan Rudi, menunggu Suster Alisa membaca surat darinya. Iya Tak sabar ingin melihat reaksi suster Alisa saat membaca surat darinya.


“Bapak Rudi, ini tagihan selama Bapak Arpan di rawat di sini.”


“Iya sus.”


Rudi langsung melihat biaya rumah sakit Arpan, ia dengan sigap merogok saku celananya, mengeluarkan dompet untuk mengambil kartu ATM.


Setelah membayar lunas biaya rumah sakit, Rudi kini kembali memperhatikan suster Alisa. Di mana suster Alisa membuka kertas putih yang diberikan Rudi, kedua mata suster Alisa membulat setelah membaca isi dari surat itu.


(Aku ada di sekitarmu, memperhatikanmu. Jangan sampai kamu memberi tahu apa yang sudah terjadi dengan kita tadi pagi. Pada orang lain, atau kamu akan tahu akibatnya. )


Isi dari pesan itu, ternyata sebuah peringatan untuk suster Alisa, agar berhati-hati menjaga ucapannya. Tidak memberitahu kepada siapapun, kejadian dirinya dengan Rudi.

__ADS_1


Hanya dengan cara mengancam seperti itu, Rudi bisa menutup mulut suster Alisa, agar tidak membeberkan semua kejadian tadi pagi.


Kini suster Alisa mulai menyobek- nyobek kertas yang ia pegang di depan Sarah. Membuat Sarah mengerutkan kedua alis.


“Suster.”


Sarah melambaikan lambaikan tangannya ke arah wajah sang suster, terlihat dada sang suster itu naik turun naik turun, seperti menahan amarah yang tak ia luapkan dari hatinya.


Rudi yang melihat reaksi suster Alisa, kini tersenyum kecil. Dia membalikkan badannya, untuk segera pulang kerumah menemui Dodi sang anak.


Sarah yang masih heran dengan reaksi sang suster yang tiba-tiba berubah, berusaha memanggil-manggil namanya.


“Suster Alisa. Halo apa anda baik- baik saja.”


Suster Alisa tak menjawab panggilan Sarah, Iya berdiri. Dan pergi begitu saja, tanpa satu patah kata pun terlontar dari mulutnya.


Sarah yang belum menggali informasi dari sang suster, kini terdiam menyaksikan kepergian suster Alisa yang sudah menjauh dan tak terlihat lagi oleh kedua matanya.


"Ahk, sial kenapa dia pergi begitu saja." Gerutu Sarah.


@@@


Rudi yang sudah berada di dalam mobil taksi, kini melihat kepergian Sarah dan juga suruhannya. Rudi tersenyum senang, melihat wajah Sarah yang seakan menyerah mencari keberadaan Arpan.


"Sarah, Sarah. Hanya itu saja."


pada saat itulah Rudi mulai menyuruh sang sopir, untuk menjalankan mobil taksinya menuju pulang ke rumah.


@@@


setengah jam di dalam perjalanan, kini Sarah sampai di depan rumahnya. dia bergegas membuka pintu rumah dengan perasaan kesal. pada saat itulah Sarah mulai meluapkan kekesalannya pada barang-barang antik yang berjajaran dirumahnya.


Sarah seakan memuaskan diri, membanting semua barang antik yang berada di hadapannya. ia tak peduli dengan kerusakan barang yang yang bernilai ratusan juta itu. yang terpenting bagi dirinya adalah emosinya keluar tanpa dipendam sedikitpun di dalam hati.


setelah puas membanting semua barang yang berada di dalam rumah, Sarah kini kembali duduk di sofa. dia Menatap layar ponselnya.


( Sudah menyerah saja Sarah, bertaubatlah sebelum terlambat.)

__ADS_1


isi pesan dari nomor yang tidak dikenal.


"Nomor siapa ini? Sialan lancang sekali dia mengirim pesan murahan kepadaku."


Kini Sarah tak segan-segan melemparkan ponselnya pada tembok yang berada di hadapannya, ia kesal dengan isi pesan yang menurutnya tak jelas.


"Kacau." Teriak Sarah.


Sarah mulai berdiri, berjalan kesana kemari. memikirkan sebuah cara agar dirinya bisa membuat orang-orang yang dekat dengan Ami menderita.


"Bagaimana cara, agar aku bisa meleyapkan mereka semua."


pikiran Sarah benar-benar diselimuti dengan rasa kebencian, Iya terus mencari ide. hingga kepalanya merasakan rasa pusing yang tiba-tiba. membuat tubuhnya seketika lemah, ya sejenak mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


. pembantu yang berada di rumah datang membawakan sebuah minuman segar untuk Sarah.


"Nona maaf aebelumnya, saya baru ingat kejadian tadi pagi," ucapan bantu itu kepada sang nyonya.


Sarah langsung memaafkan pembantu itu, tanpa banyak basa-basi. Iya langsung menyuruh pembantu itu pergi dari hadapannya. karena percuma jika diceritakan. semua sudah terlambat.


setelah rasa tenang menyelimuti hati dan pikirannya, pada saat itulah saran mulai masuk ke dalam ruangan rahasia. dimana ia menghampiri sebuah mayat yang diawetkan bertahun-tahun.


dia menatap mayat itu dengan kebahagiaan, Sarah mulai berucap pada Mayat itu," kamu tahu tidak dendamku belum terbalaskan."


sarah berbicara sendiri pada mayat, memperlihatkan dirinya seperti orang yang sedikit waras.


di tengah ucapannya, tiba-tiba Sarah tertawa sendiri. dia mulai membuka lemari besar yang sudah kumuh dan terlihat tak layak dipakai.


di lemari itu tersusun begitu rapi, tengkorak tengkorak yang sudah lama berada di lemari itu, seakan sebuah pajangan untuk pertunjukan.


keempat tengkorak itu, Sarah tendang habis-habisan. membuat satu retakkan terlihat jelas pada tulang belulang tengkorak itu.


" keempat tengkorak ini sudah mulai Rapuh, Seharusnya aku mengawetkan mereka kembali. agar di rumah ini hidupku tak kesepian."


apalagi mayat suamiku yang begitu tampan, berdiri dengan ikatan tali yang mengikat kuat pada tangan dan kakinya yang sudah memudar.


"Kalau kalian masih hidup, mungkin hidupku tak akan sebebas ini. Maka tetaplah jadi tengkorak yang aku pajang. Agar hidup kalian itu bahagia." Ucap Sarah berbicara sendiri.

__ADS_1


Iya seakan teringat masa lalu, yang menyakitkan hidup.


__ADS_2