
Sarah kini tertidur begitu pulas, Rudi hanya bisa menutupi badannya dengan selimut. Ia duduk di atas ranjang tempat tidur Sarah, menangkan semua hawa panas yang ada pada hatinya.
Tidak mudah bagi seorang lelaki normal menahan hawa nafsu, apalagi di dalam kamar tidur. Yang terbilang tak ada satu orang pun di sana, hanya ada Rudi dan Sarah.
“Hampir saja aku tergoda dengan kemolekan tubuh Sarah.” Gerutu hati Rudi.
Mengusap kasar wajah yang berkeringat, Rudi mulai menenangkan kepalanya sebentar. Tenggorokannya terasa kering kerontang, membuat ia terus menelan ludah.
Dreet ....
Panggilan telepon dari Sisi. Saat itulah Rudi mulai mengangkat panggilan telepon dari Sisi, yang ternyata Sisi sudah berjaga di depan rumah Sarah.
“Halo, Rudi. Bagaimana?” tanya Sisi.
“Semua beres, Sarah kini terkulai lemah di atas ranjang!” balas Rudi.
“Bagus kalau begitu, aku akan segera ke sana,” ucap Sisi.
“Oke, aku akan menyelamatkan dulu Dina dan Riri,” balas Rudi mulai berdiri. Menghadap ke arah pintu rahasia yang sedikit terbuka, ia memegang pintu rahasia itu.
“Rud, Halo.”
Panggilan Sisi terabaikan begitu saja. Ponsel Rudi terlepas dari telinganya. Karna kaget dengan sebuah ruangan yang baru saja ia lihat.
“Halo.”
“Halo.”
Seketika Rudi ingat pada ponselnya yang masih menyala. Dimana masih ada Sisi, saat itu Rudi menempelkan kembali ponsel itu pada telinganya.
“Halo, Si. Sori, aku enggak jawab ucapanmu. Karna kaget melihat ruangan rahasia yang berada di kamar Sarah,” ucap Rudi pada Sisi. Membuat Sisi penasaran dan bertanya?” ruangan rahasia seperti apa?”
“Entahlah, ruangan ini seperti sudah lama ada. Dan aku penasaran dengan isi ruangan rahasia ini!” jawab Rudi.
“Kalau begitu aku akan menyusul ke sana,” ucap Sisi.
“Oke.”
Panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, kini Rudi mulai melangkah mendekat ke arah ruangan itu. Melihat isi dari ruangan itu.
Bau aneh tercium pada hidung Rudi begitu saja, membuat ia sedikit menutup hidungnya.
“Bau apa ini?”
Rudi mulai menelusuri bau itu, hingga di mana ia melihat sebuah mayat yang awetkan terpanjang pada peti mati.
“Siapa dia?”
Rudi mulai mengingat wajah mayat itu, ia seperti pernah melihat wajah lelaki tua itu.
__ADS_1
“Di mana aku pernah melihat lelaki ini?”
Hingga di mana Rudi ingat, saat ia bekerja di kantor Pak Hendra yang sekarang menjadi miliknya.
“Oh ya, ini mayat Pak Ant ....”
Rudi tak meneruskan ucapannya, ia benar-benar kaget bukan kepalang. Selama ini Pak Anton sudah mati, padahal dia masih ingat isu tentang Pak Anton yang hilang dan belum di temukan.
“Apa semua ini ulah Sarah.”
Rudi mulai memvideo mayat itu agar menjadi bukti di kantor polisi nanti, ia melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak lemari.
Bruk ....,” Aw.”
Lemari besar yang baru saja ia lihat, membuat ia membuka lemari itu.
Saat lemari itu terbuka, tengkorak mengantung membuat Rudi membulatkan kedua matanya. Ia membaca tulisan yang berada pada kain yang di pakai tengkorak itu.
“Alda, Meri, Naina, dan ibuku.”
Rudi mulai paham, ternyata Sarah melakukan tindakan pembunuhan dan menyembunyikan mayat-mayat ini di ruangan rahasianya.
“Kenapa Sarah begitu kejam.”
Rudi mulai kembali ke luar dari ruangan itu, ia melihat Sarah masih tertidur. Karna pengaruh obat yang dosisnya tinggi, membuat Sarah akan lama tertidur.
Suara pintu di ketuk, membuat kepanikan terasa pada hati Rudi.
“Nona ini simbok, mau mengantarkan makanan,” ucap seseorang di luar pintu kamar Sarah.
Rudi mulai bersikap tenang untuk menghadapi pembantu Sarah, membuka perlahan bajunya mengacak rambutnya. Saat itulah Rudi mulai membuka pintu kamar Sarah.
“Tuan, anu .... Nonanya ada?” tanya pembantu di rumah Sarah.
“Ada Mbok, lagi tidur!” jawab Rudi.
Si Mbok menatap ke arah dandanan Rudi yang begitu berantakan, membuat kedua matanya membulat. Saat itulah si mbok melihat gelas pecah berserakan di atas lantai, dan Sarah yang tertidur dalam balutan selimut.
“Ada apa mbok, kok melamun?” tanya Rudi membuyarkan lamunan pembantu itu.
“Maaf tuan, mengganggu. Sekarang sudah jadwal makan nona!” balas Si mbok dengan penuh keraguan.
“Ya, sayang banget mbok. Nonanya tidur pulas. Kalau di bangun in kasihan,” ucap Rudi.
“Oh, gitu ya. Ya sudah si mbok mau kembali bekerja,” balas Si mbok berpamitan pada Rudi. Wanita tua itu berjalan dan pergi begitu saja.
Melipatkan kedua tangannya, Rudi terus menatap pembantu tua itu. Ia takut jika pembantu itu curiga akan rencananya.
@@@@@
__ADS_1
Riri dan Dina sanggatlah ketakutan, mereka di kurung di ruangan yang pengap dan menyeramkan. Dengan di kawal oleh Suruhan Sarah yang tengah asyik minum- minum.
Riri dan Dina takut, suruhan Sarah akan berbuat tak pantas pada mereka berdua. Karna tatapan mereka yang menatap Riri dan Dina penuh nafsu.
Minuman yang terus mereka minum, membuat kepala mereka sedikit pusing. Dan hawa nafsu mereka meningkat.
“Din, aku takut mereka kurang ajar pada kita.”
“ Iya, apalagi sekarang aku tak membawa benda tajam di dalam saku celanaku.”
“Bagaimana donk.”
“Sudah tenang saja, kita yakin jika Rudi akan menyelamatkan kita saat ini juga.”
Dina dan Riri hanya bisa pasrah di dalam ruangan itu, menunggu kedatangan Rudi yang menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Suruhan Sarah kini bangkit dari acara minum-minum mereka, langkah kaki para lelaki itu melangkah mendekat ke arah Dina dan Riri.
“Sepertinya kita dapat kenikmatan baru.”
Tawa menggema, membuat Riri dan Dina ketakutan. Saat suruhan Sarah merayu mereka.
“Eh, lu harus ingat pesan nona Sarah. Jangan dulu, karna pernikahan Nona Sarah belum di gelar.”
Salah satu suruhan Sarah mengamuk,” Alah. Jangan dengarkan apa perkataan Nona, lebih baik kita bersenang-senang saat ini. Bagaimana cantik kalian bersedia.”
Tangan kekar dengan bau alkohol memegang dagu Riri, membuat Riri ingin membunuh lelaki yang berani menyentuhnya.
“Liat dia cemberut, kenapa kamu cantik mau marah.”
Tawa penjaga itu membuat kedua telinga Dina kelas.
“Ayo.”
Mereka mulai merobek celana Dina dan Riri.
Saat itulah kedua gadis itu memberontak, tapi tenaga mereka begitu lemah membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"Ternyata mereka sudah pasrah." Ucap suruhan Sarah. Tertawa terbahak-bahak, melihat Dina dan Riri lemas.
Bagaimana tidak Riri dan Dina tak mendapatkan makanan atau minuman seharian ini, membuat tubuh mereka seketika lemas. para lelaki hidung belang itu mulai melakukan aksi bejatnya.
Dina dan Riri menangis histeris, mereka tak mau jika kegadisan mereka direnggut oleh lelaki-lelaki. bejad itu.
mereka meronta-ronta berusaha lepas dari jeratan lelaki yang tak tahu diri itu.
"Lepaskan kami."
laki-laki itu malah tersenyum dan tertawa mendengar jeritan dan tangisan Dina dan Riri.
__ADS_1