
Mereka melihat hal yang begitu menjijikkan, di mana Sarah tengah bergulat dengan boneka. Membuat mereka tak menyangka jika Sarah segila itu.
Membuka perlahan pintu rahasia itu, Dina dan Riri ke luar dari ruangan. Sarah yang tengah asik melakukan hal yang tak pantas di atas ranjang, tak menyadari Dina dan Riri, membuka pintu.
Mereka berjalan pelan, di mana Riri begitu penasaran menatap ke arah ranjang Sarah. Ia penasaran dengan wajah boneka itu, seperti mengenal wajah boneka itu. Tapi ia lupa.
Dina yang memegang tangan Riri, membuat Riri tak bisa menyelidiki wajah boneka itu.
“Ayo ri, kamu jangan diam aja di situ. Kita harus segera pergi dari tempat ini.” Bisik Dina, berharap Sarah tak menyadari kepergian mereka.
Akhirnya mereka keluar dari ruangan Sarah, di mana Sarah begitu fokus dengan boneka.
“Sarah itu sinting ya, masa dia bergulat dengan boneka. Memang tak ada laki-laki apa di dunia ini,” ucap Riri bergidik ngeri membayangkan Sarah yang menutup mata dengan bermain gila bersama boneka.
“Sudah, lupakan adegan si Sarah tadi, kita fokus kabur dari sini,” balas Dina.
“Iya,” ucap Riri.
Mereka mulai berjalan pelan, hingga setengah perjalanan di rumah itu mereka tempuh. Kini mereka ada di sebuah ruang tamu, yang di mana mereka bersembunyi di bawah meja.
Suara suruhan terdengar jelas, mereka tengah mengobrol. Dina dan Riri menyadari suara suruhan itu, di mana mereka yang menangkap Dina dan Riri saat di jalan.
“Kamu lihat suruhan si Sarah itu?” tanya Dina menyenggol lengan Riri.
“Ya, mereka yang menangkap kita, dasar si botak dan sijabrig!” jawab Riri mendengkus kesal. Rasanya hatinya ingin sekali membunuh kedua lelaki itu.
Dina dan Riri sengaja berdiam diri di bawah meja, karna mereka takut jika kedua suruhan Sarah menyadari kepergian mereka.
“He, lu tahu enggak. Gua nyesel banget ngelepasin kedua gadis itu ke nona Sarah, harusnya gua Nikmatin tubuh mereka dulu,” cetus lelaki berambut jabrik itu.
“Hahha, lu. Emang yakin mereka masih gadis?” tanya lelaki berkepala botak itu.
Lelaki berambut jabrik itu memukul bahu sahabatnya,” ah lu, liat saja wajah mereka masih fres. Body lumayan aduhai.”
Mereka tertawa dalam kekesalan Riri dan Dina.
“ Kurang ajar mereka, beraninya,” cetus Riri yang ingin sekali menghampiri ke dua lelaki itu.
__ADS_1
“Sabar Ri, jangan gegabah. Kamu tahan dulu hatimu,” balas Dina menenangkan Riri.
Riri yang sudah terlanjur kesal, ke luar dari kolong meja. Menghampiri mereka berdua. Namun Dina dengan sigap meraih tangan Riri dan berucap,” jangan gila kamu.”
Saat itulah, kedua lelaki itu menceritakan tengkorak yang mengantung di ruangan rahasia.
“Lu tahu enggak, saat gua lihat kedua gadis itu di masukan ke ruangan rahasia. Ada tengkorak mengantung di lemari besar, membuat buluk kuduk gua merinding,” ucap si jabrik bercerita.
“Jangan ngasal lu kalau ngomong. Ngapai Nona Sarah majang tengkorak di ruangan rahasia itu,” balas Si botak.
“Kalau menurut cerita, katanya itu tengkorak asli. Dan lu harus tahu. Dari tengkorak itu, ada satu mayat lelaki tua yang seakan di awetkan di dalam peti,” ucap si jabrik.
“Eh lu kalau ngomong bisanya ngaur aja,” cetus si botak.
“Gue penasaran sama tengkorak itu, apa jangan -jangan tengkorak itu istri- istri pak Anton yang hilang bertahun-tahu,” ucap Si jabrik.
“Sudah lah jangan cerita lagi ngeri gua,” balas si botak.
Riri yang kesal, tiba-tiba ketakutan saat melihat di pundak Dina ada hewan kecil yang menggeliat. Membuat kedua mata dan badanya tak tahan lagi, Riri merasa geli.
“Be .... La ... Tung ....”
"Kamu dengan suara tidak?" tanya lelaki berkepala botak itu.
"Ya, aku dengar suara orang yang berteriak!" jawab si jabrik
Kedua suruhan Sarah yang menyadari teriakan itu, bergegas mencari dari mana asal suara itu. Mereka menelusuri setiap ruangan untuk bisa menemukan asal teriakan itu.
Sedangkan Dina dan Riri berlari tergopoh- gopoh, hingga mereka berhenti di sebuah tempat yang tak ada penjaganya. Hati mereka tak karuan merasakan rasa yang tak nyaman.
Membuat Dina menepuk bahu Riri, dengan napas yang masih terlihat terengah- engah.
“kamu kenapa?” tanya Dina.
Dina mencari keberadaan belatung itu, tapi tak ada. Ia mencari ke setiap badan Dina. Saat melihat ke bawah betapa kagetnya Riri, menunjuk ke arah belatung yang menggeliat.
Membuat Dina menginjak- injak belatung itu hingga mati.
__ADS_1
"Aku ngeri liat belatung di pundakmu jadi aku lari," ucap Riri. Dengan tubuh dan gigi seperti orang mengigil.
Dina menepuk jidatnya pelan dan menjawab," astaga aku kira apa?"
"Kenapa sih di pundak kamu ada belatung, padahal kan di dalam ruangan itu hanya ada tengkorak bersih dan mayat yang di awetkan?" tanya Riri penasaran asal belatung itu.
"Entahlah, sudah jangan pikirkan itu lagi, sebaiknya kita pergi dari sini jangan sampai mereka tahu keberadaan kita. Aku takut mereka mencari kita karna teriakan kamu." cetus Dina melipatkan ke dua tangannya.
"Ya, maaf," balas Riri, dengan bibirnya yang sedikit cemberut.
Semenjak ke luar dari ruangan rahasia Sarah, Riri selalu melihat hal yang menjijikkan membuat tubuhnya bergidik ngeri. setiap membayangkan semua itu. Isi dalam tubuhnya seakan ia ingin keluarkan.
Saat itulah Dina mulai menyuruh Riri untuk mengikuti langkah kakinya, tapi saat Riri berada di belakang Dina, seseorang menarik lengan Riri hingga masuk ke dalam ruangan kosong.
“Hus ....”
Kedua mata mereka saling bertatapan, membuat Riri mengerutkan kedua matanya. Lelaki itu memakai masker dan hanya terlihat matanya saja.
“Siapa kamu?” tanya Riri.
Lelaki itu memegang bibir Riri dengan jari tangannya agar tidak berucap.” Kamu diam, aku akan menyelamatkan kamu.”
Dina yang terus berjalan, tak menyadari jika Riri tak berada di belakangannya. Membuat tanganya meraba kebelakang, untuk sekedar meraih tangan Dina. Namun saat berbalik ke arah belakang.
“Loh. Riri ke mana?”
Dina mengaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, membuat ia kebingungan sendiri. “ Ke mana kamu Riri?”
@@@@
Di saat itu Sarah mulai bangun dari ranjang tidurnya, ia menyingkirkan boneka yang sudah menjadi pemuas nafsunya. Perasaannya kini tenang, hanya itu yang bisa membuat hatinya nyaman.
Ia menatap boneka itu pelan-pelan, wajahnya begitu percis dengan apa yang ia harapkan.
“Andai saja kamu ini nyata, mungkin hidupku akan bahagia.”
Kini Sarah melangkah turun dari ranjang tempat tidur, ia melihat ke arah ruangan rahasia, yang ternyata terbuka begitu saja. Membuat ia kaget, “pintunya terbuka.”
__ADS_1
Sarah mulai mendekat ke arah pintu itu, melihat apakah kedua gadis yang ia kurung berada di dalam sana.