Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 97


__ADS_3

Disaat Sisi tengah pingsan Bu Ira langsung menghampiri wanita bermata bulat itu,


ia kaget bukan kepalang melihat sisi yang mengintip pada kamarnya dengan menampilkan wajah paniknya. Bu Ira langsung menghampiri Sisi dan berteriak meminta pertolongan pada orang-orang di rumah.


Bu Ira mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Sisi yang terkulai di atas lantai Seraya berkata," sih bangun Sisi ini ibu nak." Wanita bermata Bulat itu sedikit membuka matanya, ternyata Sisi berpura-pura pingsan. Iya bingung harus bagaimana.


Saat itu Arpan datang karena mendengar teriakan Bu Ira." Ya ampun Bu Kenapa dengan Sisi?"tanya lelaki berkulit sawo matang itu kepada Bu Ita. Dan menghampiri sang istri yang terbaring di atas lantai.


" Ibu juga nggak tahu kenapa tiba-tiba nak Sisi pingsan!" jawab Bu Ira.


Arpan yang panik langsung membopong sang istri dan membawa ke kamar tidur, membaringkan Sisi di atas ranjang tidur. Bu Ira langsung mencari minyak hangat. Mendekatkan sedikit pada hidung Sisi.


Sisi terbangun, berpura-pura merasa lemas dan merasa sakit kepala.


" lho Mas kok aku ada disini ini?" tanya Sisi yang baru saja bangun dari pingsannya. Menatap kearah wajah Bu Ira ada rasa takut menghantui hati Sisi.


Bagaimana tidak ia melihat benda tajam yang dimainkan oleh, di dalam kamar tidurnya. ada rasa curiga menghantui Sisi saat ini.


" Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Arpan. mengusap pundak Sisi menenangkan keresahan dalam hati istrinya. Sisi menggeleng-gelengkan kepala berharap sang suami tidak terlalu bertanya kenapa dirinya pingsan tiba-tiba.


" Ya sudah, ibu pamit pergi dulu ya. karena waktu sudah menunjukan malam jadi ibu mau pamit untuk tidur," ujar Bu Ira tersenyum ramah kepada ada Arpan dan Sisi.


sesaat Bu Ira membuka pintu kamar Sisi. Bu Vira dikejutkan dengan Arsyla yang sudah ada di depan pintu.


" Astaga, ngapain kamu ada di sini bikin kaget Ibu saja?" tanya Bu Ira mengelus dada dengan kedua tangan kirinya, wanita tua itu merasakan jantung seakan ingin copot, Arsyla hanya tersenyum melihat ibunya yang kaget.


" Segitu juga kaget," ucap Arsyla. Bibirnya memoyong, membuat Bi Ira mencomot bibir anaknya.


"Kamu ini! Cepat tidur," ketus ibu pada anaknya.


Asyla berjalan semponyongan, menguap beberapa kali, saat itulah ia merebahkan tubuhnya ka atas kasur.

__ADS_1


Brug ....


Suara gebrakan seperti orang jatuh, tengah malam. Arsyla yang baru saja menutupkan kedua matanya kini kembali, telinganya mendengar suara orang yang jatuh dari pohon. Entah suara apa itu?


" Suara apa lagi coba tengah malam gini? Tadi sudah mendengar suara ibu yang berteriak minta tolong, sekarang suara orang yang seperti terjatuh dari atas pohon. Siapa sih? Ganggu orang lagi tidur. Tengah malam begini," Gerutu gadis berhidung mancung itu.


Karena rasa penasaran gadis itu keluar dari dalam kamar tidurnya, Iya ingin mengecek suara apa yang baru saja ia dengar dari arah luar. Dengan hati kesal Arsyla melangkah menghampiri pintu luar, ia mencoba membuka gordeng jendela.


"Siapa sih tengah malam begini?"


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Arsyla, membuat gadis behidung mancung itu nampak kaget, saat itulah ia melihat ke arah belakang dengan pelan memutarkan badannya nya Arsyla nampak sok melihat Bu Ira sudah ada di depan mata.


"Loh, kok ibu ada di sini?" tanya Asyla yang begitu kaget.


"Harusnya ibu yang tanya kamu ngapain ada di sini?" Bu Ira bertanya balik kepada anaknya yang tengah berdiri di dekat Jendela pintu luar.


"Tadi tuh Arsyla bangun karena mendengar orang yang seakan jatuh dari pohon," ucap arsyila mendengkus kesal.


"Iya. Arsyla juga mau tidur nih! Coba kalau saja tadi tidak ada yang mengganggu mungkin aku udah tidur nyenyak dan bermimpi indah," gerutu arsila.


Gadis manis berhidung mancung Itu berjalan dengan wajah muram dan bibir mengkerut. Bu Ira langsung mengeluarkan nafas leganya, ia pergi menuju kamar tidur.


Disaat itu di kamar Sisi. Wanita bermata Bulat itu merasa ada yang janggal pada hatinya. ada keanehan yang ia pikirkan oleh Bu Ira. Melihat kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kelapanya sendiri.


Apakah mungkin Bu Ira pelaku pembunuhan suaminya sendiri? Sisi terus bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi mana mungkin? Bu Ira itu tidak terlihat seperti orang jahat, dan gerak geriknya tak mencuringakan! Tapi kenapa tadi aku lihat Bu Ira memegang pisau tajam, dan menatap tajam ke arah pisau itu.


Sisi mengigat poto yang di pegang oleh Bu Ira saat itu, ia tak melihat jelas siapa poto yang di pegang oleh Bu Ira waktu itu?


Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam Sisi masih belum tertidur, melelapkan kedua matanya, ia masih mengingat tentang kejadian yang membuat dirinya begitu soyk.


Arpan terbangun melihat istrinya yang masih terjaga malam hari.

__ADS_1


" Kenapa kamu belum tidur sayang? Ini sudah malam loh," ucap Arfan terbangun dari tidurnya.


"Kenapa coba ceritakan sama papa? Apa ada masalah?" tanya Arfan membuat wanita bermata bulat itu seakan ragu.


Sisi masih merasakan hatinya begitu bimbang. Ragu menceritakan apa yang Iya lihat sebenarnya.


Baru saja Sisi ingin menceritakan semua kejadian yang ia lihat pintu kamar diketuk. Arpan langsung menghampiri pintu kamarnya.


"Loh Bu Ira ada apa Bu? Malam-malam begini?"


"Maaf Arfa ibu datang ke sini ini untuk memberikan ini kepada istri kamu. Sepertinya dia tidak bisa tidur nampaknya dia soyk sekali?"


"Ya ampun Bu, repot-repot sekali. Terima kasih ya, kebetulan Sisi juga belum tidur."


" Iya ini susunya jangan lupa diminum ya biar hangat biar enak ke badannya ya."


"Makasih."


"Sama-sama Nak Arpan."


Bu Ira pun berlalu pergi dengan sedikit menatap tajam kearah Sisi. Wanita bermata Bulat itu seakan melihat raut wajah Bu Ira yang tiba-tiba menyeramkan. Membuat kegelisahan pada diri Sisi.


"Sayang nih Bu Ira capek-capek malam-malam gini, coba bikinin kamu susu hangat perhatian banget ya." Sisi sedikit menampilkan senyuman, hatinya ragu dengan susu pemberian Bu Ira. Sisi seakan takut susu itu diberi obat.


"Ayo diminum."


"Eh nanti sajalah pah. Nanti mama minum kok."


"Mending sekarang minumnya biar enak kan badannya, yuk minum."


Dengan terpaksa Sisi meminum susu pemberian dari Bu Ira. Setelah meminum susu pemberian Bu Ira tubuh Sisi merasakan sedikit rileks, pikirannya seakan tenang membuat kedua matanya seakan berat sampai dia tertidur begitu pulas. Arpan yang melihat istrinya mengusap lembut jidatnya Seraya mencium "Selamat tidur bidadariku."

__ADS_1


__ADS_2