Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 260 Penyesalan Sarah


__ADS_3

Masa lalu Sarah 9


SAMPAI DI RUMAH ....


Tama mulai membawa ibu tirinya masuk ke dalam rumah, menyeret Meri begitu saja seperti binatang. Tidak ada rasa kasihan pada hati Tama, kebencian sudah menyelimuti hatinya. Ia seakan menjadi orang yang benar-benar gelap mata.


“Sarah .... Sarah ...,” teriak Tama, membuat Sarah berlari menghampiri nya saat itu.


“Bisa tidak kamu tidak teriak-teriak, Tama,” cetus Sarah. Menatap ke arah wanita yang ia sered.


“Sudah jangan banyak bicara, cepat kamu bawa wanita ini. Ikat dia di dalam lemari bersama mayat-mayat,” perintah Tama.


Sarah sedikit mendecap kesal, dirinya pasti yang selalu di suruh oleh Tama.


Sedangkan Meri yang berada di atas lantai, kini berusaha bangun untuk lari dari rumah itu. Tapi Sarah dengan sigap menghampiri Meri memegang kerah belakang bajunya.


“Mau, lari ya?” tanya Sarah.


Meri meringis kesakitan, darah tak henti bercucuran. Membuat dia tak sanggup melawan. Kini Sarah menyeret Meri untuk masuk ke dalam kamarnya, mengikat dia di dalam lemari, sampai di mana Meri berucap,” lepaskan aku wanita bodoh.”


Sarah menghentikan langkah kakinya, saat perkataan Meri terlontar begitu saja dari mulutnya.


“Kamu bilang apa sekali lagi?” tanya Sarah dalam rasa kesal yang mendera.


“Wanita bodoh cepat lepaskan aku,” teriak Meri mendekat ke arah telinga Sarah.


Sarah dengan sengajanya menginjak kepala Meri, hingga ia meringis kesakitan,” bagaimana sakit.”


“Ahkkk, kamu akan mendapat ganjaran dari perbuatanmu itu,” ucap Meri. Dalam rasa sakit yang begitu menyiksa.


Sarah malah tertawa dengan ucapan Meri yang seakan menyumpahinya, ia tak peduli dengan semua itu hanya ada rasa dendam yang menggebu.


Saat Meri di seret menuju kamar Sarah, pada saat itulah Sarah berucap,” Asal kamu tahu, aku tidak punya dendam pada kalian semua. Aku punya tujuanku sendiri, sebenarnya malas seperti sekarang kalau bukan karna Tama yang memulai.”


Meri berusaha mencerna ucapan Sarah pada saat itu, ia hanya berkata,” jangan bilang kamu juga adalah korban?”


Sarah tertawa dan menjawab,” entahlah.”


Pada saat itulah Sarah mulai membuka pintu Ruangan Rahasia, yang dibangun oleh Pak Anton. Membuat Meri baru mengetahui ruangan itu, selama menikah dengan pak Anton, Iya baru tahu di dalam kamar suami terdapat Ruangan Rahasia.


Sarah perlahan masuk ke dalam ruangan itu, ia membuka lemari yang sudah mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Membuat dirinya terpaksa memakai masker, sedangkan Meri terus saja batuk. Tak kuat dengan bau busuk menyengat itu. Membuat dirinya menutup hidung.


“Bau apa ini,” ucap Meri.


Sarah mulai menyeret tubuh Meri, memperlihatkan apa yang belum pernah Meri lihat.


“Alda, Naina. Sarah kamu keterlaluan,” ucap Meri.


Sarah langsung memasukkan Meri ke dalam ruangan itu mengantung tangan Meri seperti halnya Alda dan Naina, Meri berusaha meronta.

__ADS_1


“Tak usah memberontak. Percuma, kamu akan mati sama seperti mereka,” ucap Sarah.


Ikatan tali berhasil ya Ikat pada tangan Meri, kini Sarah Mulai mengambil lakban untuk menutup mulut Meri yang tak mau berhenti berbicara dan berteriak.


“Selesai.”


Sarah pergi dari ruangan itu, sedangkan Meri tak kuasa dengan penampakan mayat-mayat Alda dan Naina yang mengenaskan di depan matanya.


“Mayat Alda sudah hampir habis, tinggal mayat Naina dan yang terakhir mayatku,” gumam hati Meri.


Darah terus mengalir dari kepala Meri, membuat bau darah dan bangkai tercium begitu menyengat.


“Apa yang harus aku lakukan, sekarang.”


@@@@@


Sarah ke luar menghampiri Tama dan bertanya,” apa sudah puas kamu membuat mereka sengsara?”


Tama yang tengah menikmati cuaca di luar sembari menghembuskan asap roko menjawab,” tinggal satu mayat lagi.”


“Maksud kamu, satu mayat lagi?” tanya Sarah.


“Iya!” balas Tama. Tersenyum licik.


“Siapa?” tanya Sarah dalam rasa penasaran.


Sarah kini terdiam, entah apa maksud dari perkataannya. Satu mayat lagi, siapa itu?


Satu jam berlalu, Tama belum juga kembali. Sarah benar-benar penasaran dengan apa yang di katakan Tama.


“kenapa hatiku tak tenang.” Gumam hati Sarah.


Satu panggilan datang, yang tak lain ialah dari sang ibu.


“Halo, bu.”


“Halo, sayang.”


“Tama? Sedang apa kamu di rumah ibuku.”


“Menurut kamu?”


“Jangan macam-macam kamu pada ibuku, atau aku ...,”


Belum perkataan Sarah terlontar semuanya, Tama langsung berucap,” sudahlah terima nasib.”


Tut ....


Panggilan telepon pun mati, membuat rasa panik pada hati Sarah.

__ADS_1


“ Bagaimana ini, ibu pasti dalam bahaya,”


Sarah begitu kuatir hingga ia, bergegas pergi ke rumahnya sendiri.


“Aku harus cepat sampai ke sana, kalau tidak ibu bisa kenapa-kenapa.”


Menelan ludah, Sarah langsung menancapkan gas mobil dengan kecepatan tinggi. Hatinya gundah pada saat itu, dengan rasa panik.


Setelah sampai di rumah sang ibu, ternyata apa yang di lihat Sarah benar-benar membuat hatinya rapuh. Tubuhnya merosot ke bawah, ia seakan tak menyangka jika Tama sejahat itu.


“Hai cantik, apa sudah puas dengan apa yang kamu lihat.” Ucap Tama.


Sarah merangkak menuju sang ibu dan berkata,” bu.”


“Sarah, jika kamu menginginkan ibu mati bukan dengan cara menyuruh orang tapi datanglah dan bunuh ibu langsung.” Ucap sang ibu.


Sarah menatap ke arah Tama, melihat wajah liciknya begitu terpasang nyata. Tama manipulasi Sarah, membuat sang ibu menyangka bahwa dirinya mati karna Sarah yang menyuruh.


Pisau yang sudah menusuk perut sang ibu, tak berani di cabut oleh Sarah, ia hanya melihat dengan mata kepalanya sendiri kematian sang ibu.


“Ibu ....”


Kini Sarah menghampiri Tama, memukul dada bidangnya dan berkata," kamu tega. Kamu kejam. Tama. kamu membuat hidupku sengsara."


Pukulan Sarah kini dihempas oleh tangan Tama,” ini balasan di mana kamu juga membuat ibuku mati.”


Tama mulai berjalan, menjauhi Sarah. Tapi Sarah mendekat dan memukul punggung Tama dengan sekuat tenaga,” aku benci kamu.”


Tama membalikkan wajah dan berkata,” percuma menangis, tak ada guna. Sarah. kamu masih punya tujuankan untuk membalaskan dendammu pada Ami dan Rudi."


Deg ....


"Memang aku mempunyai tujuan balas dendam terhadap Ami dan juga Rudi, tapi ini tidak seperti yang aku inginkan. Tidak ada dalam rencanaku. Kamu yang membuat semua menjadi kacau. membunuh Pak Anton dan menjerat ke tiga istrinya. Sekarang kamu membunuh ibuku."


PLAKKK


satu tamparan dilayangkan oleh Tama pada pipi Sarah," bisakah kamu diam."


wajah Sarah begitu basah dengan air mata, ia menahan rasa sakit bekas tamparan Tama pada pipi kirinya.


"Jika kamu masih mau hidup, tetaplah bersamaku."


Di tengah pertengkaran itu, kedua adik Sarah berlari mendekat ke arah Sarah, mereka menangis, memeluk tubuh Sarah.


"Kakak Sarah."


Tama menatap pada kedua adik Sarah. Membuat Sarah memeluk ke dua adiknya begitu erat.


"Tenang saja, Sarah. Aku tidak akan melukai adik-adikmu, asal kamu menurut."

__ADS_1


__ADS_2